NovelToon NovelToon
Jangan Harap Cintaku Lagi

Jangan Harap Cintaku Lagi

Status: tamat
Genre:Slice of Life / Mengubah Takdir / Balas dendam dan Kelahiran Kembali / Tamat
Popularitas:67.5k
Nilai: 5
Nama Author: 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒

Setelah mengorbankan kuliah, rumah warisan, dan masa mudanya demi membuat Daril sukses, Vira malah dibunuh oleh suami yang dicintainya itu.

Lebih menyakitkan lagi, sepupu yang ia tampung ternyata berselingkuh dengan suaminya. Hatinya makin hancur saat tahu, suami, sepupu dan ibu mertua yang selama ini ia rawat dengan baik, ternyata sudah lama menantikan kematiannya.

Takdir memberinya kesempatan kedua: kembali ke masa lalu. Ia bertekad tidak akan pernah menikahi Daril.

Namun saat ia mengubah satu keputusan untuk selamat, rahasia demi rahasia keluarga terbuka. Rahasia yang mengubah arti cinta dan memaksa Vira memilih antara balas dendam atau memaafkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon 𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

21. Di Balik Toko yang Kian Sepi

Arvin terdiam saat mendapati orang yang berada di balik etalase bukan Vira. Ia menyapukan pandangan ke sekeliling toko, tetapi tak menemukan sosok gadis itu.

"Permisi," sapanya pelan.

Yanti yang sejak tadi sibuk menatap layar ponsel akhirnya mengangkat wajah. Ia langsung mengenali pemuda di depannya. Bukankah ini orang yang beberapa waktu lalu berbicara cukup lama dengan Vira?

"Mau beli apa?" tanyanya datar.

"Setengah liter beras yang biasa aja."

Yanti mengangguk singkat, lalu mengambil beras dan menakarnya.

"Yang lain?"

"Itu aja."

Yanti mengangkat sebelah alis. "Cuma beli setengah liter beras?"

"Iya."

Tanpa berkata apa-apa lagi, Yanti menuang beras ke dalam plastik, lalu meletakkannya di atas etalase.

"Delapan ribu."

Arvin mengeluarkan uang dari saku celananya. Ia menghitung beberapa lembar uang kecil dan recehan dua ribuan, seribuan, hingga lima ratusan sebelum menyerahkannya kepada Yanti.

Yanti memandangi tumpukan uang receh itu sambil berdecak pelan.

"Ya ampun... zaman sekarang masih belanja pakai recehan begini."

Meski ucapannya lirih, nada meremehkan itu terdengar jelas.

Arvin tidak menanggapi. Wajahnya tetap tenang. Setelah menerima kantong beras, ia tetap berdiri di depan etalase. Sesekali matanya melirik ke arah rumah, berharap Vira keluar.

Yanti mulai merasa risih. "Masih ada perlu?"

Arvin mengangguk pelan. "Aku mau ketemu Vira."

"Vira lagi sibuk." Yanti kembali memainkan ponselnya seolah pembicaraan mereka telah selesai.

"Tolong bilangin ada Arvin."

Yanti menghela napas kasar, lalu menatap Arvin dari ujung kepala hingga kaki.

"Kamu tahu gak?" katanya sinis. "Kalau kamu berdiri di sini lama-lama malah bikin toko kelihatan gak enak dipandang."

Arvin terdiam.

"Udah pakaianmu lusuh, dekil, miskin pula." Bibir Yanti melengkung sinis. "Cepat pergi sana."

Rahang Arvin mengeras. Seumur hidup ia memang sering dipandang rendah karena kemiskinannya.

Namun, baru kali ini seseorang menghina dirinya terang-terangan seperti itu.

Melihat Arvin tetap bergeming, Yanti semakin kesal.

"Masih gak pergi juga?" bentaknya. "Aku gak mau ketularan aroma kemiskinanmu."

"Yanti!"

Suara Vira terdengar dari dalam rumah.

Yanti dan Arvin sama-sama menoleh.

Vira berjalan cepat menuju toko. Tatapannya langsung tertuju pada Arvin yang berdiri kaku, lalu beralih kepada Yanti.

"Apa begini caramu memperlakukan pembeli?" tanyanya tajam.

Wajah Yanti langsung berubah panik.

"Bukan begitu, Ra." Ia buru-buru menggeleng. "Dia sudah selesai belanja, tapi masih berdiri di sini. Aku pikir dia mau bikin masalah."

Vira menatap Arvin. "Vin, benar begitu?" tanyanya meski ia sangat yakin Arvin bukan orang yang seperti itu.

Arvin menggeleng pelan. "Aku cuma mau ketemu kamu."

"Kenapa gak dipanggilin?" Vira kembali menatap Yanti.

Yanti langsung gugup. "A-aku... kupikir gak penting."

Sorot mata Vira berubah semakin dingin. "Gak penting menurut siapa?"

Yanti menunduk. Bibirnya terkatup rapat.

Vira mengembuskan napas pelan, lalu menoleh kepada Arvin. "Maaf ya, Vin."

Arvin buru-buru menggeleng. "Gak apa-apa."

Vira tetap menatapnya dengan rasa bersalah. "Kalau ada tamu yang mencariku lagi, panggil aku," ucapnya tanpa mengalihkan pandangan dari Yanti. "Siapa pun orangnya."

"Iya, Ra," jawab Yanti lirih, meski tangannya perlahan mengepal.

"Jadi dia lebih membela pengemis itu daripada aku...?"

"Kamu cuci piring dulu," titah Vira. "Biar aku yang jaga toko."

Tanpa membantah, Yanti keluar dari toko lalu masuk ke dalam rumah. Meski wajahnya tampak patuh, di dalam hati ia menggerutu.

"Orang miskin aja dibelain. Memangnya dia istimewa apa?"

Sementara itu, kini Vira berdiri di balik etalase, berhadapan dengan Arvin. "Ada apa, Vin?" tanyanya lembut.

Arvin tampak ragu. "Ra..."

"Iya?"

"Aku... sebenarnya mau ngomong sesuatu."

"Ya sudah, bilang aja."

Arvin menarik napas pelan. "Kamu tahu gosip yang lagi beredar di desa?"

Vira mengernyit. "Gosip apa?"

"Gosip tentang kamu."

"Tentang aku?"

Arvin mengangguk pelan. "Kamu digosipin... udah..." Ia menggantung ucapannya.

"Udah apa?"

Arvin menundukkan kepala. Bahkan ia tak sanggup menatap mata Vira. "Katanya... kamu udah gak perawan."

Vira membeku. "Hah?"

Raut wajah Vira dipenuhi kebingungan.

Arvin kembali berkata pelan, "Katanya hubungan kamu sama Daril dulu udah kelewat batas."

Vira masih terdiam seolah berusaha mencerna setiap kata yang terlontar dari mulut Arvin.

"Bahkan..." Arvin kembali ragu.

"Bahkan apa, Vin?"

"Orang-orang juga ngomong... tiap malam kamu sering masukin laki-laki ke rumah."

Mata Vira membelalak. "Apa?!"

Tanpa sadar suara Vira meninggi.

"Tapi aku gak percaya!" Arvin buru-buru menambahkan. "Aku kenal kamu. Kamu perempuan baik. Gosip itu pasti dibuat orang yang iri sama kamu."

Vira tidak langsung menjawab. Lebih tepatnya ia tak tahu harus berkata apa. Ia hanya berdiri mematung. Namun perlahan, kepingan-kepingan kejadian beberapa hari terakhir mulai tersusun di kepalanya.

Pantas saja...

Beberapa pelanggan selalu mencuri pandang ke arah lehernya. Tatapan mereka terasa berbeda. Ada yang sinis, ada yang jijik, ada pula yang seperti sedang menghakiminya.

Dan... Lehernya.

Lehernya yang memerah akibat tomcat. Hari itu ia menjelaskan dengan jujur penyebabnya. Namun ternyata, bercak merah itu justru dianggap sebagai bukti yang menguatkan fitnah.

Lalu Vira teringat sesuatu. Tokonya mulai sepi tepat setelah bekas tomcat itu muncul di lehernya. Ia menggenggam ujung etalase erat-erat.

"Jadi... selama ini penyebabnya ini?" Suara Vira terdengar lirih.

Arvin mengangguk pelan. "Maaf... aku baru berani bilang sekarang."

Vira menggeleng. "Bukan salahmu."

Ia menarik napas panjang, berusaha menenangkan diri. Dadanya terasa sesak. Ia hidup seorang diri sejak kedua orang tuanya meninggal. Kesehariannya hanya berputar antara rumah, toko, dan sesekali pergi membeli stok barang.

Ia bahkan hampir tak pernah ikut berkumpul dengan warga jika tidak ada keperluan penting.

Lalu...

Siapa yang begitu membencinya hingga tega menyebarkan fitnah sekeji itu?

Fitnah yang bukan hanya menghancurkan nama baiknya. Tetapi juga perlahan menghancurkan mata pencahariannya.

Tatapan Vira perlahan berubah. Kesedihan di matanya mulai tergantikan oleh ketegasan.

"Siapa pun orangnya..." Jemarinya mengepal pelan. "...aku akan menemukan dia."

Arvin menatap Vira dengan penuh kekhawatiran. "Ra... kamu baik-baik aja?"

Vira mengulas senyum tipis, meski matanya masih menyimpan luka. "Aku baik-baik aja."

Namun, jauh di dalam hatinya, "Aku harus menjaga tokoku, dan memperjuangkan nama baik kedua orang tuaku yang telah tiada. Aku gak mau nama mereka hancur karena fitnah."

 

...✨"Fitnah bukan hanya melukai hati seseorang, tetapi juga dapat merampas kepercayaan, mata pencaharian, bahkan masa depannya."...

..."Orang baik sering kali tidak kalah oleh kesalahannya, melainkan oleh kebohongan yang dipercaya banyak orang."...

..."Kepercayaan dibangun dalam waktu yang lama, tetapi gosip mampu menghancurkannya hanya dalam hitungan hari."✨...

.

To be continued

1
fii 🤩
👍👍👍
anonim
Arvin setia mendampingi Ibunya yang mentalnya terganggu. Masa lalunya menjadikan Arvin tulus dalam merawat Ibunya.

Ayahnya sebagai penyebab dari penderitaan yang mereka alami.

Sebagai suami selingkuh, sebagai seorang Ayah perlakuannya sangat biadap.

Mereka diusir. Menghina Ibunya. Ayahnya membawa perempuan yang katanya istri barunya.

Ibunya kena mentalnya. Arvin menjadi pincang.

Arvin akan menjaga Ibunya, yang menjadi tameng hidup baginya ketika angkara murka merasuki Ayahnya.

Arvin pergi ke warung untuk membeli obat flu. Tiba di warung langkahnya terhenti ketika ia mendengar pembicaraan di dalam warung.

Lagi-lagi gosip tentang Vira ??
anonim
Pak Kades dan istrinya sudah mendengar gosip tentang Vira.

Hartato juga sudah mendengar. Dia tidak percaya. Vira bukan perempuan seperti yang digosipkan.

Pak Kades juga belum tentu percaya.

Mengingat Bapaknya Hartato masih menjabat sebagai kepala desa, setiap keputusan yang di ambil pasti menjadi perhatian banyak orang.

Kebenaran dari gosip itu belum terbukti. Niat lamaran di tunda.

Hartato hanya bisa berdoa, semoga gosip tentang Vira hanya fitnah. Dia lebih baik menunggu daripada mempercayai gosip tanpa bukti.
anonim
Dasar Ibu dan anak sama-sama bejatnya. Keduanya masih menginginkan Vira tapi dengan cara yang salah.
anonim
Kebetulan sekali leher Vira di gigit tomcat. Jadi semakin meyakinkan ibu-ibu dengan apa yang telah dikatakan Tari.

Sembarangan Tari bicara dengan mengatakan Tuhan pun membantuku. Mana ada Tuhan membatu orang jahat.

Jadi orang jahat itu pilihanmu, Tari. Tuhan itu memberi pilihan - mau menjadi orang baik atau menjadi orang jahat. Nantinya tinggal menunggu mau mendapat karma baik atau karma buruk.

Jangan senang dulu Tari. Ditunggu saja karma menjemputmu.
anonim
Daril ini lekaki pecundang. Menambah omongan yang sudah gak benar, dengan bicara bohong.

Memang Daril ini tidak pantas menjadi suami Vira. Hidupnya seperti benalu, juga pengkhianat.

Di kesempatan kehidupan kedua Vira, jangan sampai menjalin hubungan dengan Daril lagi.
A.R
mau bangun usaha kok minta dana sama org lainn,,, gadaikan saja tuhh rmh ibu mu
Anitha
Alhamdulillah akhir bahagia Vira dan Arvin...

Terimakasih kak Nana...semoga sehat selalu
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Kembali kasih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
fii 🤩
mampir kk
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Makasih, Kak 🤗🙏🙏
total 1 replies
abimasta
terimakasih thor
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Sama-sama KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Saatnya Vira menanyakan skincare yang hilang.

Yanti langsung tersedak mendengarnya.

Dia mengelak, tidak tahu.

Begitu Vira mau lapor polisi, Tari melarang. Vira tanya kenapa. Salah taruh katanya.

Tari mengelak tidak mengambil. Melarang Vira melihat lemarinya. Tetap kekeh tidak mengambil.

Tari langsung panik ketika Vira mau panggil Ketua RT. Baru mempersilahkan Vira mencari di lemarinya.

Vira nenemukan empat kotak skibcare miliknya.

Tari mengaku itu miliknya.

Ditanya beli di mana, harganya berapa.

Kebohongannya sudah tak ada obatnya ini Tari.
anonim
Tari semakin parah kebohongannya. Ia sekaligus memfitnah Vira.

Tari menolak usulan salah satu ibu-ibu untuk melaporkan ke polisi. Ya jelas menolak. Orang dia berkata bohong.

Baru mendengar sepihak, semoga ibu-ibu itu ada yang bertanya baik-baik pada Vira kebenaran yang sesungguhnya. Benar menurut cerita bohong Tari atau benar Tari bohong 😄.

Es kelapa muda sudah di tangan masing-masing satu.
anonim
Yanti baru memarkirkan motornya di tempat penjual buah. Iya mendengar suara beberapa ibu sedang membicarakan Vira yang sudah tidak perawan lagi.

Bukannya merasa prihatin mendengar sepupunya di gibahin, ini bocah malah punya ide licik.

Waduuuuuh...Tari malah bikin fitnah, mengarang bebas tentang Vira. Berapa laki-laki yang tidur sama Vira, Tari ? Kok bisa ngomong suara laki-lakinya tidak sama. Fitnah yang sungguh amat kejam. Pakai nangis segala untuk meyakinkan kebohongannya.

Ibu-ibu, cari bukti dulu ya. Jangan percaya begitu saja.
anonim
Vira masih mau memberikan kesempatan sekali lagi.

Ucapan terima kasih cuma di bibir. Hatinya tetap busuk.

Naah ketahuan Tari telah mencuri krim siang, krim malam, pelembap, juga serum milik Vira.

Vira tidak sembarangan menuduh Tari yang mencuri. Dia butuh bukti.

Disuruhnya Tari membeli dua es kelapa muda.

Yanti pergi naik motor.

Vira masuk ke kamar Yanti. Ia menemukan barang-barang yang telah raib dari meja rias di kamarnya. Beberapa kotak skincare tersusun rapi di laci paling bawah lemari pakaian.

Vira masih bersabar untuk tidak menuduh Tari. Masih butuh bukti yang tidak bisa dibantah.
mery harwati
Terimakasih karyanya yang sudah menghibur readers yang author 🙏
Sehat selalu untuk author, lancar rejekinya juga 😘🤲
Semangat selalu bikin karya² yang baru 💪
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Masih KK 🤗🙏🙏🙏
total 1 replies
anonim
Nah bingung kan Yanti mau tinggal di mana kalau Vira benar-benar mengusirnya.

Ujung-ujungnya Yanti minta diberi kesempatan. Dia bakal belajar masak yang benar.

Di depan Vira memelas pasti wajahnya. Coba nanti di belakangnya Vira. Ngedumel.
anonim
Yanti banyak akalnya untuk bisa menjaga tokonya Vira. Tapi Vira juga bisa mematahkan setiap omongan Yanti yang akal-akalan kekeh menjaga toko biar bisa ngutil uangnya Vira.

Yanti dasar perempuan tidak tahu diri. Setiap masak disengaja tidak enak supaya Vira tidak menyuruhnya masak lagi.

Vira jadi curiga dengan Yanti yang tidak pernah ikut makan. Alasannya sudah makan lebih dulu.

Sukurin gajinya dipotong. Kalau tidak sanggup masak yang benar, berhenti kerja sama Vira. Dan pergi dari rumah Vira.

Sepupu mau enak numpang tanpa bekerja. Maunya jaga toko biar bisa ngutil uang. Itu maunya Yanti.

Vira tidak membiarkan Yanti hidup gratis di rumahnya.
LibraGirls
Selalu suka sama karya author Nana banyak pelajaran tentang kehidpan yg baik bisa di ambil yang tidak baik jagan di ambil ⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️⭐️😍😍😍😍😍😍
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Terima kasih KK 🤗🤗🙏🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
LibraGirls
Makasih Nana yang selalu menyuguhkan cerita² bagusnya 🤩 sukses selalu menciptkan karya² bagus yang lainya 🤩🤩🤩🤩🙏🙏🙏
𝕯𝖍𝖆𝖓𝖆𝖆𝟕𝟐𝟒: Aamiin. Terima kasih kembali KK 🤗🙏🙏
total 1 replies
anonim
Gosip Hartato mau melamar Vira cepat sekali diketahui Ibu-ibu. Di warung tempat paling pas untuk ngerumpi sambil berbelanja.

Mirna langkahnya terhenti ketika mendengar dari dalam warung beberapa ibu sedang mengobrol tentang Hartato yang mau melamar Vira.

Dia mendengar semua pembicaraan ibu-ibu itu. Pikiran liciknya timbul demi kepentingan pribadi.

Mirna mulai beraksi dengan bicara bohong bahkan cenderung memfitnah Vira.

Mirna mengatakan Vira sudah tidak perawan. Itu terjadi sebelum pacaran sama Daril.

Gawat nih Mirna, cari masalah. Perlu di lakban sama Vira nih mulutnya.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!