"Saya terima nikahnya Yuna bin Adnan..."
Suara berat Labib saat mengucapkan kalimat itu tadi malam masih terngiang jelas di telinga Yuna. Pernikahan mendadak ini adalah wasiat terakhir almarhum ayahnya, sahabat karib Labib meskipun usia mereka terpaut jauh. Ayah Yuna tahu hidupnya tak lama lagi karena sakit, dan ia memercayakan putri tunggalnya pada satu-satunya pria yang ia tahu punya integritas tinggi: Labib.
"Yuna Anindya."
Suara berat itu memecah lamunan Yuna. Ia tersentak, mendongak, dan mendapati seisi kelas kini tengah berbalik menatapnya. Di depan sana, Labib sedang memegang daftar absensi, menatapnya lurus tanpa ekspresi ragu sedikit pun. Profesional. Seolah tadi malam ia tidak menyematkan cincin di jari manis Yuna.
"Ya, Pak. Hadir," sahut Yuna pelan, mengangkat tangannya sedikit.
Labib mengangguk sekilas, lalu beralih ke nama berikutnya tanpa jeda. Tidak ada perlakuan khusus. Memang itu yang Yuna inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Layar Hp Yang Menyayat Hati
Alunan musik bergenre upbeat langsung menyambut kedatangan Yuna dan Dinda begitu mereka melangkah masuk ke dalam area private room kafe yang telah disewa oleh Meysa. Ruangan itu tampak meriah dengan dekorasi balon-balon hitam-emas dan lampu temaram yang estetik.
"Yuna! Dinda! Akhirnya kalian datang juga!" seru Meysa dengan wajah berbinar ceria, langsung menghampiri kedua temannya itu dengan gaun glitter-nya yang menawan.
"Happy birthday ya, Mey! Makin sukses dan berkah umurnya," ucap Yuna tulus sambil menyerahkan sebuah paperbag hadiah berwarna cokelat yang sudah ia siapkan bersama Dinda sejak kemarin.
"Makasih banyak ya, kalian berdua emang sahabat terbaik gue! Yuk, langsung gabung ke meja tengah, anak-anak kelas kita udah pada ngumpul semua di sana," ajak Meysa sambil menunjuk ke arah sofa melingkar yang sudah dipenuhi oleh wajah-wajah familiar dari fakultas arsitektur.
Yuna dan Dinda pun ikut bergabung, larut dalam obrolan seru, tawa, dan sesi foto bersama teman-teman sekelas mereka. Atmosfer pesta yang bebas dan santai membuat Yuna sejenak melupakan beban pikiran tentang kelas struktur bangunan ataupun ketegangan rumah tangganya.
Namun, keceriaan itu mendadak terusik saat pelayan kafe datang mengantarkan beberapa sloki gelas kecil berisi cairan bening dan botol-botol minuman berlogo khusus ke meja pojok atas pesanan beberapa teman cowok kelas mereka.
Dinda yang duduk tepat di sebelah Yuna mendadak menyenggol lengan Yuna dengan agresif. Matanya melirik penasaran ke arah gelas-gelas sloki tersebut, lalu ia mendekatkan bibirnya ke telinga Yuna, berbisik dengan nada setengah bersemangat dan setengah takut.
"Yun... liat deh ke meja pojok. Mumpung lagi di sini dan nggak ada yang kenal kita, kita coba alkohol yuk? Penasaran banget gue rasanya kayak gimana," bisik Dinda dengan mata berbinar nakal.
Kata-kata Dinda seketika membuat jantung Yuna mencelos. Ia menatap sloki-sloki itu dengan rasa ngeri yang mendadak menyerang kesadarannya. Pikiran Yuna langsung melayang pada sosok suaminya, Labib. Jangankan menyentuh alkohol, membayangkan bagaimana murkanya sang profesor dingin jika mengetahui istri kecilnya berada di pesta malam-malam dan mencoba minuman terlarang seperti itu saja sudah membuat lutut Yuna terasa lemas.
"Jangan gila deh, Din!" cicit Yuna panik. Jantungnya mendadak maraton, membayangkan kalau sampai ia mencicipi setetes saja cairan itu, tamat sudah riwayatnya.
Yuna langsung menarik lengan Dinda agak menjauh dari kerumunan teman-temannya yang mulai riuh. "Nggak boleh lah! Lagian kita kan ke sini cuma mau ngerayain ulang tahun Meysa, bukan buat yang aneh-aneh. Kalau sampai ketahuan..." Yuna menggantung kalimatnya, hampir saja keceplosan menyebut nama Labib. "...kalau ketahuan ibuku, bisa dikunciin di luar rumah aku, Din!" alibinya cepat-cepat.
Dinda mengerucutkan bibirnya, tampak kecewa tapi juga tidak berani membantah ketakutan Yuna. "Ya elah, Yun, kan ibumu nggak bakal tahu. Tapi... iya juga sih, ngeri kalau sampai pusing terus besok nggak bisa masuk kuliah. Bisa habis kita diamuk di kelas struktur bangunan."
Mendengar nama mata kuliah suaminya disebut, Yuna hanya bisa tersenyum kecut sambil mengelus dadanya lega. Jangankan nunggu besok di kampus, Din. Kalau haram ini sampai ketahuan pria itu malam ini, singa kampusnya bisa langsung berubah jadi naga, batin Yuna menjerit.
"Udah, kita minum jus atau soda yang di sebelah sana aja yuk," ajak Yuna cepat-cepat, berusaha mengalihkan perhatian Dinda sebelum sahabatnya itu kembali tergoda oleh lingkaran pergaulan malam yang berbahaya tersebut.
Dinda tidak menyerah begitu saja. Ia justru menahan lengan Yuna yang hendak berbalik menuju meja jus, lalu memasang wajah memelas yang dibuat-buat.
"Ayolah, Yun... dikit aja. Satu sesapan doang, cuma buat tahu rasanya," bujuk Dinda setengah berbisik, matanya melirik ke arah teman-teman cowok kelas mereka yang mulai menuangkan minuman sambil tertawa riuh. "Nggak bakal bikin mabuk kok kalau cuma setitik. Lagian, kapan lagi kita bisa lepas dari penatnya tugas maket? Sekali-sekali ngerasain jadi anak gaul, yuk?"
Yuna menatap lekat-lekat wajah sahabatnya itu. Detak jantungnya berdegup makin kencang, berkejaran dengan dentuman bas musik kafe yang seolah ikut memprovokasi benaknya. Ada secercah rasa penasaran yang mendadak ikut menyusup di sudut hatinya. Di usia yang baru 21 tahun dan selalu hidup dalam aturan ketat, godaan untuk mencoba hal baru yang "terlarang" terasa begitu kuat malam ini, apalagi di tengah atmosfer pesta yang bebas.
Namun, tepat saat jemari Dinda menariknya selangkah lebih dekat ke meja pojok itu, bayangan wajah Labib mendadak melintas begitu saja di kepala Yuna.
Yuna teringat bagaimana tatapan mata elang suaminya yang tegas saat di depan kelas, dan bagaimana lembutnya pria 31 tahun itu saat mendekapnya di bawah selimut hangat sambil berbisik penuh kesabaran, "Saya akan tunggu sampai kamu siap." Kesabaran dan kepercayaan yang diberikan Labib seketika menampar kesadaran Yuna.
Mas Labib lagi berjuang sendirian ngadepin ibunya demi aku, masa aku di sini malah mau macam-macam? batin Yuna berteriak, rasa bersalah langsung menghantam dadanya dengan telak.
Yuna menarik napas dalam-dalam, lalu dengan lembut namun tegas, ia melepaskan cekalan tangan Dinda di lengannya.
"Nggak, Din. Kamu kalau mau coba sendiri silakan, tapi aku beneran nggak bisa," ucap Yuna pelan namun mantap, menggelengkan kepalanya. "Aku nggak mau ngerusak kepercayaan yang udah dikasih ke aku malam ini."
Dinda tertegun melihat keseriusan di mata Yuna. Belum sempat Dinda merespons, suara riuh tepuk tangan dari tengah ruangan mendadak memotong pembicaraan mereka. Meysa sudah berdiri di depan kue ulang tahunnya yang besar, siap untuk meniup lilin.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya sekarang juga...!"
Suara sorak-sorai riuh bergemuruh di dalam ruangan saat Meysa berhasil meniup lilin ulang tahunnya. Tepuk tangan dan tawa bahagia memecah ketegangan yang sempat terjadi antara Yuna dan Dinda. Namun, di tengah keriuhan itu, Dinda tiba-tiba menarik lengan Yuna menjauh dari kerumunan, matanya terpaku pada layar ponselnya yang menyala terang.
"Yun! Yun, coba liat ini deh!" seru Dinda setengah berbisik, nadanya terdengar sangat heboh. Ia langsung menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Yuna. "Gila, ini fyp Instagram gue! Lo harus liat!"
Yuna mengerutkan kening, mencoba memfokuskan pandangannya pada layar ponsel Dinda. Di sana, sebuah unggahan cerita (story) dari salah satu akun kerabat atau kolega menunjukkan sebuah foto suasana makan malam yang sangat mewah dan formal di sebuah restoran VIP.
Jantung Yuna rasanya seperti berhenti berdetak detik itu juga.
Di dalam foto itu, tampak jelas sosok Labib. Pria itu duduk tegap mengenakan kemeja rapinya, berada di samping ibunya yang tersenyum lebar. Dan yang membuat dada Yuna mendadak sesak luar biasa, tepat di seberang meja mereka, duduk Bu Citra dengan gaun yang sangat anggun, berdampingan dengan keluarga besarnya. Itu bukan sekadar makan malam biasa. Itu adalah acara pertemuan keluarga besar yang tampak begitu terencana dan intim.
"Astaga, Yun... liat deh!" ucap Dinda tanpa menyadari perubahan drastis di wajah sahabatnya. "Keknya gosip di kampus itu beneran bukan sekadar angin lalu. Pak Labib sama Bu Citra beneran bakalan nikah deh kayaknya! Liat tuh, keluarganya udah pada ngumpul semua. Serasi banget ya, yang satu dosen berwibawa, yang satu lagi selevel."
Kata-kata Dinda berdengung di telinga Yuna bagaikan hantaman gada yang sangat keras.
Air mata Yuna mendadak menggenang di pelupuk matanya, membuat pandangannya kabur. Rasa bersalah karena tidak bisa memenuhi kewajibannya selama tiga bulan ini, ketakutannya sebagai istri yang belum siap, berbaur dengan rasa cemburu dan sakit hati yang teramat sangat.
Jadi, ini alasan Labib menyuruhnya untuk tidak menunggu? Ini urusan keluarga yang dimaksud suaminya?
Di saat Labib memintanya untuk sabar dan menunggu Yuna siap, di luar sana, pria itu justru menghadiri acara makan malam keluarga bersama wanita lain yang direstui oleh ibunya. Di tengah dentuman musik pesta Meysa yang masih riuh, Yuna merasa dunianya runtuh seketika. Tubuhnya mendadak lemas, dan ia hanya bisa menatap layar ponsel Dinda dengan hati yang patah berkeping-keping.