Asha dijodohkan oleh keluarga dengan tuan muda dari keluarga Rahardi. Keluarga nomor satu di kota mereka. Pria itu tampan, mirip aktor luar negara, bahkan terlihat bak anime hidup. Hanya saja, itu saat ia tidak bergerak saja. Jika ia bergersk atau berbicara, dia berbeda dari yang kaum hawa harapkan. Pria itu gemulai, kemayu, pria bertulang lunak atau apapun lah itu sebutan untuk dia yang berbeda dari pria pada umumnya.
Perjodohan itu karena hutang budi papa Asha pada keluarga Irza. Namun, dibalik itu semua, ada hal tersembunyi yang Asha tidak ketahui. Apakah hal tersembunyi itu? Yuk! Ikuti kisah mereka sekarang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps*35
Irza mondar-mandir di depan pintu kamar mandi dengan wajah cemas. Sha sudah menghabiskan waktu lebih dari satu jam berdiam diri di dalam sana. Irza bahkan sudah berulang kali memohon pada Asha agar mau keluar dari kamar mandi tersebut, tapi Sha tidak mau mendengarkannya.
"Sha .... "
"Aduh, ya Tuhan. Kenapa Sha tidak mau keluar juga," gerutu Irza dengan wajah yang mulai terlihat panik.
Lalu ... cekrek. Bunyi kenop pintu di putar. Irza langsung menoleh. Dan benar saja, Asha muncul di depan pintu yang terbuka dengan seluruh tubuh yang masih sangat basah. Air rambutnya turun dengan deras.
Irza langsung menyambar handuk dengan cepat, lalu membawanya mendekat. Namun, Sha mundur beberapa langkah untuk menjauh.
"Jangan mendekat!" Bentak Asha dengan manik mata yang menatap Irza dengan tatapan tajam.
Seketika, gerakan Irza langsung terhenti. Pria itu langsung menundukkan wajahnya.
"Asha .... Maaf," ucapnya dengan berlinangan air mata. Bahkan, air mata itu sudah sangat siap untuk jatuh.
Suasana di ruangan itu terasa sangat hening. Bahkan, terlalu hening sampai terasa seperti waktu sedang terhenti saat ini. Irza terus saja menunduk, buliran bening itu benar-benar jatuh melintasi pipi mulusnya.
"Aku salah, Sha. Maafkan aku."
Asha tau suaminya kini sedang sangat terbebani oleh apa yang telah ia lakukan. Tapi luka itu terasa nyata. Sangat perih. Sha menarik napas dalam-dalam, menahannya sesaat, lalu melepasnya secara perlahan.
Susah payah Asha tahan air mata agar tidak jatuh. Karena saat ini, dia juga ingin menangis.
"Kata maaf tidak akan mengembalikan segalanya, Za. Tidak akan," ucap Sha dengan nada agak tinggi penuh dengan penekanan.
"Aku tau, Sha. Aku salah," ucap Irza kini tergugu. "Aku sudah nyakitin kamu. Nyakitin hati mu. Aku .... "
Irza menggantung kalimatnya. Sontak, pria itu langsung menjatuhkan tubuhnya ke lantai. Berlutut di depan sang istri dengan air mata yang mengalir sangat deras.
"Maafkan aku, Sha .... " ucapnya lirih. "Maaf .... "
Air mata Asha jatuh secara perlahan. Susah payah ia tahan, tapi pada akhirnya, jatuh juga.
"Aku tau kau punya hak atas diriku, Irza. Aku tahu aku halal untukmu. Singkatnya, aku tau aku ini milikmu. Tapi, aku bukan alat untukmu membuktikan sesuatu, Za. Aku bukan alatmu. Aku punya hati, aku punya perasaan. Aku juga tau kamu terluka, kamu lelah dengan dunia ini yang terus merendahkan dirimu, yang menganggap kamu berbeda dengan lelaki pada umumnya. Tapi-- "
Sontak, ucapan Asha terpotong karena Irza yang langsung menghambur, lalu memeluk kaki Asha dengan erat. "Sha aku tahu aku salah. Aku salah ... maafkan aku." Tangis Irza benar-benar pecah.
"Aku salah, Sha ... aku salah."
Asha mengigit bibir bawahnya dengan kuat untuk menahan isak tangis agar tidak ikut-ikutan pecah. "Kamu tau kamu salah. Tapi apakah kamu bisa mengembalikan semuanya, Za? Enggak kan," ucap Asha dengan nada pelan. "Semuanya gak akan kembali seperti semula, Za. Gak akan."
"Hatiku yang luka akan tetap luka, Irza."
Suasana hening lagi. Hanya isak tangis Irza yang terdengar nyata. Isak tangis yang penuh akan penyesalan. Beberapa saat kemudian, Sha melepas napas berat lagi. Setelahnya, kembali berucap. "Yang paling aku sesalkan sekarang, bukanlah tentang kamu yang telah mengambil hak mu atas diriku, Za. Melainkan, tentang kamu yang menjadikan aku sebagai alat pembuktian pada dunia, kalau kamu mampu. Kamu normal atau apalah itu. Aku sangat menyesalinya. Itu sangat menyakitkan hatiku."
Suara tangisan Irza semakin mengeras.
"Sha ... aku tidak begitu. Aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya-- "
"Kamu hanya ingin membuktikan kalau kamu normal."
"Enggak, Sha. Enggak. Aku gak mikir begitu. Aku hanya takut kehilangan kamu. Kamu milik ... maafkan aku, Sha. Aku salah ... ku mohon, maafkan aku. Jangan tinggalkan aku. Aku gak mau, Sha. Gak mau."
Asha langsung memejamkan matanya rapat-rapat. Rasa sakit itu terlalu nyata. Tapi entah kenapa, rasanya tiba-tiba saja sedikit berkurang. Lebih ringan dari pada sebelumnya.
Kini, mereka berdua sama-sama terdiam. Irza masih tetap memeluk kaki Asha sambil menangis. Sementara Asha sedang berusaha keras untuk membangun hatinya agar tidak membenci pria yang ada di dekatnya saat ini.
"Sha ... jangan pergi. Aku mohon, jangan tinggalkan aku. Aku tau aku salah." Akhirnya, Irza berucap. Tapi kata yang ia ucapkan adalah kata yang sama seperti sebelumnya. Kata yang ia ulang-ulang sejak tadi.
Sementara itu, Sha bisa merasakan dengan sangat jelas ketakutan yang sedang Irza rasakan saat ini. Entahlah. Tapi yang jelas, dia tahu kalau suami gemulainya ini benar-benar sedang merasakan perasaan takut di tinggalkan. Dia juga terlihat sangat menyesal dengan apa yang telah ia lakukan.
Sha kembali menghirup udara dengan berat. Menarik napas dalam-dalam, lalu melepasnya secara perlahan. "Za. Beri aku waktu untuk membangun hati kembali. Beri aku jarak aman agar bisa memperbaiki luka yang telah tercipta. Bisakah?"
Irza mendongak. Dia tatap wajah Asha dengan penuh kesedihan. Lalu, anggukan pelan ia berikan. "Iya ... baiklah. Aku akan berikan jarak aman. Tapi berjanjilah, jangan tinggalkan aku. Ku mohon, Sha .... "
"Akan aku usahakan, Za."
...
Karena permintaan itu, Irza benar-benar memberikan apa yang Asha butuhkan. Memberikan jarak aman untuk Asha. Malamnya, mereka masih makan di meja makan yang sama. Tapi tidak duduk berdampingan. Melainkan, duduk berhadapan dengan batasan meja.
Lalu, saat tidur malam, Irza tidak lagi tidur di sofa dalam kamar. Dia tidur di sofa ruang tamu agar Sha tidak risih dengan kehadirannya. Obrolan yang biasanya panjang lebar, sekarang jadi lebih singkat. Kehangatan yang biasanya tercipta, kini mendadak menghilang.
Irza tidak ingin hal itu sebenarnya. Tapi ia sadar, kejadian itu adalah salahnya. Dia yang terbawa perasaan terlalu besar sampai bisa hilang kendali. Dan rasa bersalah itu sangat besar.
Setelah malam mereka lalui dengan tidak baik, paginya, Irza kembali bangun pagi seperti biasa. Ia siapkan sarapan untuk mereka berdua. Tapi saat waktu sarapan tiba, Sha malah masih tidak keluar kamar.
Dia ingin memanggil, tapi ia sadar, janji menjaga jarak aman yang telah ia sepakati, tidak bisa ia langgar. Karena dia tidak ingin Sha semakin merasa risih akan kehadirannya.
Irza pun hanya bisa menunggu si istri keluar di meja makan. Memainkan ponsel yang sama sekali tidak terasa menarik. Lalu memainkan jam tangan yang sama sekali tidak bisa mengalihkan perhatian dari apa yang sedang ia nantikan.
Dua puluh menit waktu berlalu, Irza masih setia menunggu dengan sabar. Lalu, tiga puluh menit, Sha masih belum keluar kamar. Hatinya mulai merasa cemas. Pikiran buruk malah langsung melintas dalam pikiran.
ga salah juga ya Thor secara melambai 🤭🤭😂
🤣🤣🤣🤣