NovelToon NovelToon
Penyesalan Sang CEO

Penyesalan Sang CEO

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Yuni Denara

Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rencana di Balik Layar

Langkah kaki Devan Alister terdengar begitu berat dan bergema di sepanjang lorong tangga semen rumah susun tersebut. Setiap anak tangga yang dipijaknya seolah membawa beban amarah dan luka emosional yang kian menumpuk di dalam dadanya. Di lobi bawah yang sepi, Leon sudah berdiri tegap di samping pintu mobil limosin hitam yang terbuka, wajah asisten pribadi itu langsung menegang saat melihat gurat frustrasi yang sangat pekat di wajah tampan tuannya.

Devan masuk ke dalam kabin mobil dengan hentakan kasar, langsung mengempaskan punggungnya di atas jok kulit mewah yang empuk. Pria itu memejamkan matanya rapat-rapat, namun bayangan bagaimana jemari lembut Keyra memeriksa pundak dokter muda bernama Elian itu justru kian tercetak jelas di benaknya, membakar sisa-sisa kewarasannya.

"Tuan Muda..." ucap Leon dengan sangat hati-hati sembari mulai melajukan mobil membelah jalanan kota yang ramai. "Apakah kita perlu mengerahkan divisi keamanan tingkat dua untuk mengusir dokter muda itu dari wilayah distrik barat secara paksa?"

Devan perlahan membuka sepasang mata elangnya. Kilatan kemarahan yang tadinya meledak-ledak kini telah berganti menjadi sebuah tatapan yang teramat dingin, tajam, dan penuh dengan kalkulasi bisnis yang matang. Pria itu telah kembali menguasai emosinya; ia sadar bahwa tindakan kasar di depan Keyra hanya akan membuat wanita itu semakin membencinya dan berlari menjauh.

"Tidak, Leon," jawab Devan, suara baritonnya yang berat terdengar begitu datar namun mutlak. "Keyra baru saja mengancam tidak akan sudi melihat wajahku lagi jika aku menggunakan kekerasan pada orang-orang di sekitarnya. Aku tidak akan sebodoh itu untuk mengulangi kesalahan yang sama. Jika kita ingin menyingkirkan dokter tikus itu, kita harus melakukannya dengan cara yang paling bersih, legal, dan tidak akan pernah bisa dilacak oleh Keyra."

Devan membetulkan posisi kerah kemeja hitamnya yang sempat kusut, lalu mengeluarkan sebatang cerutu mahal dari kotak kompartemen mobil. "Bagaimana dengan data internal rumah sakit pusat yang mengelola puskesmas tempat Elian bekerja?"

"Saya sudah menyiapkan laporannya, Tuan Muda," jawab Leon sembari menyerahkan sebuah tablet pintar ke kursi belakang. "Puskesmas distrik barat saat ini sedang mengajukan program bantuan sukarelawan medis untuk wilayah perbatasan konflik di pulau luar. Program ini membutuhkan dokter muda yang belum berkeluarga dan memiliki catatan akademik yang bersih. Dan kebetulan, Elian adalah kandidat yang paling sempurna di dalam daftar mereka."

Sudut bibir Devan tertarik ke atas, membentuk sebuah senyuman kejam yang sangat menakutkan. "Sempurna. Donasikan dana sebesar lima puluh miliar rupiah atas nama Alister Group untuk mendanai seluruh fasilitas medis di program pulau luar tersebut. Tapi berikan satu syarat mutlak kepada kepala dinas kesehatan: nama Dokter Elian harus berada di urutan pertama sebagai ketua tim sukarelawan yang berangkat minggu depan, dengan masa tugas minimal dua tahun tanpa opsi penundaan."

"Baik, Tuan Muda. Dengan cara ini, Elian akan pergi dari kota ini demi tugas negara dan kariernya sendiri, tanpa ada alasan untuk mencurigai intervensi dari pihak kita," sahut Leon mengangguk patuh, mengagumi taktik licik nan jenius dari sang CEO yang selalu mampu memanipulasi situasi demi mendapatkan apa yang diinginkannya.

"Dan satu lagi, Leon," tambah Devan, matanya menatap tajam ke luar jendela, ke arah gedung-gedung pencakar langit yang berjejer di pusat kota. "Beli seluruh kompleks rumah susun tempat Keyra tinggal saat ini melalui perusahaan cangkang kasta ketiga. Setelah resmi menjadi milik Alister Group, ganti seluruh sistem keamanan, pasang ratusan kamera CCTV tersembunyi di setiap sudut koridor, dan tempatkan sepuluh pengawal wanita terlatih yang menyamar sebagai penghuni baru untuk menjaga keselamatan Keyra selama dua puluh empat jam. Aku tidak mau ada celah sekecil apa pun yang bisa membahayakan wanitaku lagi."

Sementara itu, di koridor lantai tiga rumah susun, suasana setelah kepergian Devan masih menyisakan kecanggungan yang mendalam bagi Keyra dan Elian. Keyra berdiri mematung sembari meremas pelan kotak kue kering di tangannya, wajahnya dipenuhi rasa bersalah yang amat sangat atas ketidaknyamanan yang harus dialami oleh tetangga barunya itu.

"Elian... aku benar-benar minta maaf atas tindakan kasar Devan tadi," ucap Keyra dengan nada suara yang teramat tulus dan penuh penyesalan. "Pria itu memang selalu merasa bisa mengatur dan mengendalikan segalanya dengan uang dan kekuasaannya. Aku berharap kamu tidak terluka."

Elian tersenyum lembut, merapikan kembali kerah kemeja putihnya yang sempat berantakan akibat cengkeraman Devan. Tatapan matanya tetap memancarkan kehangatan yang menenangkan, seolah insiden mengerikan tadi tidak memengaruhi mentalnya sedikit pun. "Aku tidak apa-apa, Keyra. Jangan merasa bersalah. Sebagai seorang dokter, aku sudah biasa menghadapi berbagai macam karakter orang yang emosional. Tapi..."

Elian menjeda kalimatnya sejenak, menatap lurus ke dalam sepasang mata jernih Keyra. "...pria bernama Devan Alister itu, dia menatapmu seolah-olah kamu adalah seluruh dunianya yang berharga, Keyra. Kemarahannya tadi bukan karena dia ingin pamer kekuasaan, melainkan karena dia teramat ketakutan jika ada orang lain yang mengambil posisinya di dekatmu. Apakah... dia adalah pria yang ada di dalam lembaran masa lalumu yang rumit itu?"

Keyra tersentak mendengar analisis yang begitu tepat dari Elian. Ia menundukkan kepalanya, tidak mampu memberikan jawaban kepastian. Hubungannya dengan Devan sudah terlalu jauh melampaui batas rumit; ada cinta yang mendalam, namun ada pula benteng rahasia darah masa lalu yang memisahkan mereka.

"Kamu tidak perlu menjawabnya sekarang jika itu membuat hatimu tidak nyaman," ucap Elian ramah, mencoba mencairkan suasana. Ia menerima kotak kue kering dari tangan Keyra dengan senyuman lebar. "Wah, kue buatanmu bau aromanya enak sekali! Ini akan menjadi sarapan terbaikku sebelum berangkat ke puskesmas pagi ini. Terima kasih banyak ya, Tetangga Kamar 302."

Keyra akhirnya bisa mengulas senyuman tipis, merasa sedikit terhibur oleh keramahan Elian. "Sama-sama, Elian. Semoga harimu menyenangkan di tempat kerja."

Setelah Elian melangkah pergi menuruni tangga, Keyra kembali masuk ke dalam kamarnya yang sepi. Ia menyandarkan tubuh rampingnya di balik pintu kayu yang terkunci, menarik napas panjang demi menenangkan badai di dalam hatinya. Keyra tahu betul bahwa ketenangan di rumah susun ini hanyalah sebuah fatamorgana sementara. Devan Alister tidak akan pernah benar-benar menyerah, dan jaringan kekuasaan pria itu kini perlahan-lahan sedang bergerak di balik layar untuk menjeratnya kembali ke dalam takdir yang telah digariskan.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!