Selama tiga tahun Keyra berkorban demi mendukung karier Arkan dari nol hingga sukses menjadi CEO. Namun setelah berada di puncak, Arkan justru mencampakkannya demi wanita kaya. Di tengah keterpurukannya, Keyra dipertemukan dengan Devan, konglomerat papan atas yang mengubahnya menjadi wanita bersinar tak tergapai. Saat Arkan menyadari berlian yang telah dibuangnya kini milik pria yang paling ditakutinya, penyesalan pun tiba. Apakah pintu maaf Keyra masih terbuka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni Denara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Detik-detik Hilangnya Sang Ratu
Keesokan paginya, langit di atas langit distrik barat tampak diselimuti mendung tipis, menciptakan atmosfer yang terasa begitu dingin dan pengap. Sesuai dengan rencana yang sudah ia susun semalam, Keyra melangkah keluar dari kamar nomor 302 dengan membawa sebuah tas jinjing besar yang berisi belasan kotak kue kering pesanan toko swalayan.
Saat melewati koridor lantai tiga, ia sempat melihat salah satu tetangga barunya yang merupakan pengawal wanita samaran Devan sedang menyapu lantai. Wanita itu memberikan anggukan hormat yang sangat tipis kepada Keyra. Keyra membalasnya dengan senyuman canggung sebelum akhirnya melangkah menuruni anak tangga menuju lobi bawah.
Keyra tahu betul bahwa di dalam kompleks rumah susun ini, ia dilindungi dengan sangat aman oleh barisan pasukan elit Alister Group. Namun, egonya yang terluka membuat ia menolak untuk terus hidup seperti burung di dalam sangkar emas. Ia membutuhkan ruang bebas, dan ia ingin membuktikan pada dirinya sendiri—serta pada Devan—bahwa ia bisa berdiri di atas kakinya sendiri tanpa harus terus bergantung pada kemegahan nama Alister yang dibangun di atas penderitaan masa lalu ibunya.
Dengan tekad yang bulat, Keyra melangkah keluar melewati gerbang utama rumah susun. Ia sengaja tidak naik angkutan umum yang biasa melintas di depan gerbang, melainkan memilih untuk berjalan kaki menyusuri jalanan pintas melalui sebuah gang perumahan tua yang cukup sepi guna menghindari kemacetan total di pasar induk distrik barat.
Keyra tidak pernah menyadari bahwa keputusan kecilnya untuk mengambil jalan pintas tersebut adalah awal dari sebuah petaka besar yang sudah mengintipnya dari balik kegelapan.
Di ujung gang sepi yang dikelilingi oleh bangunan-bangunan tua yang telantar, sebuah mobil van berwarna abu-abu kusam dengan plat nomor palsu sudah terparkir dalam kondisi mesin yang menyala halus. Di dalam kabin kemudi, dua orang pria berwajah garang dengan tato ular di sepanjang lengan mereka sedang mengawasi ujung gang melalui kaca spion dengan pandangan mata yang penuh dengan kepicikan.
"Target sudah masuk ke dalam gang sendirian, Bos," ucap salah satu preman bayaran tersebut melalui sambungan telepon seluler. "Tidak ada satu pun pengawal berseragam hitam atau pengawal wanita yang mengikutinya dari belakang. Situasinya sangat bersih."
Dari seberang saluran telepon, suara Arkan Kenneth terdengar bergetar hebat karena kombinasi rasa takut dan keserakahan yang memuncak. "Bagus! Lakukan sekarang dengan sangat cepat dan senyap! Ingat, jangan sampai ada darah yang menetes pada tubuhnya. Devan Alister bisa menjadi iblis yang sangat mengerikan jika wanitanya terluka. Cukup culik dia, ikat tangannya, dan bawa dia langsung ke gudang kosong di wilayah pelabuhan mati timur!"
"Dimengerti, Bos. Serahkan pada kami," jawab preman itu sembari memutus sambungan telepon.
Keyra terus melangkah dengan terburu-buru, merapatkan jaket rajut kremnya karena hawa dingin yang kian menusuk kulit. Langkah kakinya mendadak melambat saat ia melihat sebuah mobil van abu-abu kusam yang terparkir aneh di tengah jalan gang yang sempit, menghalangi jalur jalannya. Sebelum insting waspadanya sempat memerintahkan tubuhnya untuk berbalik arah dan berlari kembali ke arah rusun, pintu geser mobil van tersebut mendadak terbuka dengan satu sentakan keras.
Sret!
Dua orang pria berbadan besar melompat keluar dengan gerakan yang sangat kilat. Salah satu dari mereka langsung mencengkeram kedua lengan kecil Keyra dari arah belakang, mengunci pergerakannya sepenuhnya hingga tas jinjing berisi kotak-kotak kue kering buatan Keyra jatuh terhempas ke atas aspal, hancur berantakan tanpa sisa.
"Lepaskan! Siapa kalian?! Tolong—"
Teriakan histeris Keyra seketika teredam di udara saat pria kedua dengan kejam membekap mulut dan hidung Keyra menggunakan selembar kain sapu tangan tebal yang sudah dibasahi oleh cairan obat bius kloroform dosis tinggi.
Keyra memberontak dengan sisa kekuatan fisiknya yang rapuh. Ia mencoba menendang kaki preman di hadapannya, namun pengaruh obat bius yang sangat kuat itu bereaksi hanya dalam hitungan detik. Pandangan mata jernih Keyra perlahan-lahan mulai mengabur, kabut hitam pekat seketika merayap naik menutupi kesadarannya, dan seluruh persendian tubuh rampingnya mendadak lemas tak bertulang. Sebelum tubuhnya jatuh menghantam tanah, kedua preman itu sudah lebih dulu mengangkat tubuh pingsan Keyra ke dalam kabin mobil van, lalu menutup pintu geser dengan rapat dan melesat pergi meninggalkan gang sepi itu dalam kecepatan tinggi.
Sementara itu, di lantai teratas gedung pencakar langit Alister Group yang megah di pusat kota, suasana di dalam ruang kerja CEO tampak sangat sunyi dan dipenuhi aura dingin yang mengintimidasi. Devan Alister duduk di balik meja kerja marmernya, menatap tumpukan dokumen audit keuangan perusahaan dengan pandangan mata yang tidak fokus. Pikirannya benar-benar tidak berada di sana; fokusnya sepenuhnya tersita oleh sosok wanita yang kini berada di rumah susun distrik barat.
Brak!
Pintu ruang kerja mewah itu mendadak didorong terbuka secara kasar dari luar tanpa ada ketukan sama sekali. Leon melangkah masuk dengan wajah yang sangat pucat pasi, peluh dingin mengalir deras di pelipisnya, dan kedua tangannya yang memegang sebuah tablet pintar tampak bergetar hebat karena ketakutan yang teramat sangat.
Melihat kelancangan asisten pribadinya yang tidak biasa, Devan mendongak perlahan dengan sepasang mata elang yang berkilat tajam memancarkan amarah. "Leon, sejak kapan kamu kehilangan sopan santunmu untuk mengetuk pintu ruanganku?"
"Tuan Muda... mohon ampun..." ucap Leon dengan suara yang teramat serak dan tercekat di tenggorokan, seolah kata-kata yang akan ia ucapkan adalah sebuah vonis mati bagi mereka semua. "Ini... ini tentang Nona Keyra, Tuan Muda..."
Mendengar nama Keyra disebut, Devan seketika menegakkan posisi duduknya. Seluruh bulu kuduknya meremajang tajam, dan sebuah firasat buruk yang sangat mengerikan mendadak menghantam dadanya. "Ada apa dengan Keyra?! Bukankah aku sudah menempatkan sepuluh pengawal wanita terbaik untuk menjaganya di rusun?!"
"Satu menit yang lalu... divisi keamanan siber kita mendeteksi bahwa sinyal GPS pelacak tersembunyi yang tertanam di dalam logo jaket rajut Nona Keyra mendadak mati total, Tuan Muda," lapor Leon dengan kepala yang tertunduk deeply, tidak berani menatap mata tuannya. "Pengawal wanita kita di rusun melaporkan bahwa Nona Keyra sempat keluar melalui gerbang utama untuk mengantarkan kue, namun mereka kehilangan jejak visual saat Nona Keyra memasuki gang perumahan tua di luar wilayah radius pengawasan kita. Tim kami baru saja memeriksa lokasi gang tersebut... dan mereka hanya menemukan kotak-kotak kue kering Nona Keyra yang hancur berserakan di atas jalanan aspal."
Brak!!!
Devan Alister bangkit berdiri dengan satu sentakan gila yang sangat bertenaga, menghantam meja marmer tebalnya hingga retak di bagian sudut. Wajah tampan sang penguasa kota seketika berubah menjadi sangat merah padam, dipenuhi oleh kombinasi antara rasa panik yang luar biasa, ketakutan yang teramat dalam, serta murka yang sanggup membakar seluruh isi kota hingga menjadi abu. Aura membunuh yang sangat pekat, hitam, dan mencekam seketika meledak keluar dari tubuh tegap Devan, memenuhi seluruh ruangan hingga membuat Leon merasa seolah pasokan oksigen di sekitarnya mendadak hilang lenyap.
"Kalian kehilangan jejak wanitaku?!" raung Devan, suara baritonnya yang menggelegar dahsyat bagai petir di siang bolong, membuat seluruh kaca jendela tebal ruang kerjanya bergetar hebat. Devan melangkah lebar, mencengkeram kerah kemeja Leon dengan kedua tangannya, mengangkat tubuh asistennya itu hingga kakinya sedikit terangkat dari lantai. "Aku membayar kalian miliaran rupiah bukan untuk mendengar kalimat tidak berguna seperti itu, Leon! Jika sampai ada seujung kuku pun tubuh Keyra yang terluka, aku bersumpah aku sendiri yang akan menguliti semua orang yang terlibat dalam sistem keamanan hari ini!"
Devan melepaskan cengkeramannya dengan kasar, membuat Leon terhuyung mundur. Devan langsung menyambar jas abu-abu gelapnya di atas kursi, matanya menyala merah dipenuhi oleh kegilaan posesif yang tidak lagi bisa dibendung oleh akal sehat apa pun.
"Kerahkan seluruh pasukan elit Alister Group divisi satu, dua, dan tiga sekarang juga, Leon! Kunci seluruh gerbang perbatasan kota, tutup semua akses pelabuhan, bandara, dan jalan tol keluar!" perintah Devan dengan nada suara mutlak yang teramat kejam dan dingin, bagaikan seorang raja iblis yang siap memaklumatkan perang suci. "Gunakan satelit militer swasta kita untuk melacak setiap pergerakan kendaraan yang melintasi distrik barat dalam waktu sepuluh menit terakhir! Siapa pun keparat yang berani menyentuh ratuku... aku akan memastikan bahwa kematian akan menjadi hadiah paling indah yang pernah mereka impikan di dunia ini!"