Aku sibuk mengurus ibumu di atas pembaringan, sedangkan kamu sibuk menggoyang bosmu yang haus belaian. -Wulan-
Seperti cahaya purnama yang tertutup mega, semua kebaikan dan juga bakti yang sudah diberikan oleh Wulan untuk keluarganya sama sekali tak nampak di mata Awan. Wulan yang sudah dengan sabar merawat sang mertua yang lumpuh karena stroke di sela-sela kewajibannya menjadi seorang ibu muda sampai membuat wanita itu tidak memiliki waktu untuk dirinya sendiri tidak lantas membuat wanita itu mendapatkan balasan kesetiaan.
Wulan memilih untuk berpisah saat memergoki Awan berselingkuh. Wanita itu rela menjanda daripada batinnya selalu tersiksa karena Awan telah terpikat pada seorang janda kaya yang merupakan bos di tempat sang suami bekerja.
Lantas, bagaimanakah Wulan menjalani hari-harinya sebagai seorang janda? Dan bagaimana kehidupan Awan setelah kepergian Wulan? Apakah istri baru Awan bisa menjadi sosok istri dan menantu yang sempurna atau justru durhaka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Laviolla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PTM 35. Ditarik Kembali
Awan mengemudikan mobilnya dengan perasaan yang campur aduk. Setelah diarak keliling komplek dan di sepanjang jalan raya, lelaki itu seakan kehilangan muka. Mulai saat ini ia yakin menjadi salah seorang yang terkenal. Terkenal bukan karena prestasi tapi karena kepergok kumpul kebo dan berbuat mesum.
Setelah ini pulanglah. Papa ingin membuat perhitungan kepadamu!
Mega yang duduk di kursi samping kemudi juga sedari tadi nampak terdiam membisu. Ucapan Broto sejak tadi terus berputar di otaknya. Ucapan yang cukup membuatnya pesimis dengan masa depannya.
"Mas, sepertinya Papa benar-benar marah. Aku takut jika semua yang takutkan terjadi," ucap Mega di sela-sela perjalanannya menuju rumah.
"Aku juga takut Meg. Tapi mau bagaimana lagi? Semua sudah terjadi dan ini harus kita hadapi sama-sama."
"Kalau Papa sampai menarik semua yang ada padaku bagaimana Mas?" tanya Mega dengan tatapan menerawang ke luar jendela mobil. "Aku sungguh belum siap untuk hidup susah."
Awan ikut tersentak kala mendengar yang diutarakan oleh Mega. Namun ingatannya tertuju pada satu hal. "Meskipun semua fasilitas ditarik oleh Papa, tapi kamu masih punya aset dari hasil gono-gini mantan suamimu kan? Itu bisa gunakan untuk hidup kita, Meg."
"Entahlah Mas. Saat ini aku benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Semoga Papa tidak sampai membuang kita dari dealernya."
Suasana di dalam mobil kembali hening. Dua orang itu larut dalam pikiran masing-masing. Tak berselang lama, mobil yang dikemudikan oleh Awan tiba di rumah Mega. Di ruang tamu, Broto sudah terlihat menunggu di sana dengan raut wajah yang nampak mengerikan.
Dengan wajah yang menunduk dan langkah gontai, Awan dan Mega masuk ke ruang tamu, menghampiri Broto.
"Pa..."
"Jadi prasangkaku selama ini benar, bahwa ternyata kalian ini memulai sebuah hubungan dengan cara yang salah?" tembak Broto dengan pertanyaan yang seketika membuat Mega juga Awan melongo.
"Pa... Aku..."
"Aku benar-benar tidak menyangka jika anakku menjadi wanita penggoda dan menjadi perusak rumah tangga wanita lain." Broto menghirup napas dalam, membuang rasa sesak yang menghimpit dada. "Sungguh sangat menjijikkan."
"Pa.. Aku minta maaf. Aku khilaf," ucap Mega dengan kepala menunduk semakin dalam.
"Khilaf tapi berbulan-bulan kalian lakukan, itu namanya kecanduan," timpal Broto gemas. "Kamu seharusnya paham apa yang akan dialami oleh anak Awan ketika kamu merebut ayahnya karena anakmu pun juga mengalami hal yang sama. Tapi kenapa justru saat ini kamu yang menjadi tokoh antagonisnya? Merenggut kebahagiaan anak Awan yang tidak memiliki keluarga utuh."
Tubuh Mega terperanjat seketika setelah mendengar ucapan Broto. Ia yang dulu pernah diselingkuhi oleh sang mantan suami hingga membuat Tasya kehilangan keluarga yang utuh, kini ia justru menjadi perebut suami orang yang telah menghancurkan keluarga wanita lain. Bibir Mega terkatup, tak tahu lagi harus berkata apa.
"Aku sudah memutuskan satu hal, Meg."
"K-keputusan apa Pa?" Mega sedikit panik.
"Karena kamu sudah membohongiku, aku memutuskan untuk mengambil alih kembali dealer yang saat ini kamu pegang."
"T-tapi Pa..."
"Tenang saja, aku tidak akan pernah mengganggu semua aset yang sudah kamu beli dengan hasil keringatmu. Tapi untuk dealer, aku mau mulai besok kamu dan Awan tidak perlu lagi datang kesana untuk meng-handle semua."
Mega dan Awan terperangah seketika. Bibir keduanya juga menganga lebar. Jika mereka dikeluarkan dari dealer, itu artinya tidak ada lagi sumber penghasilan dari yang mereka dapat.
"Pa... Aku mohon jangan lakukan ini. Aku masih membutuhkan dealer itu untuk menyambung hidup Pa," rengek Mega dengan wajah yang memelas.
"Itu bukan lagi menjadi urusanku Meg. Silakan kamu cari jalan keluar sendiri untuk menyambung hidupmu. Atau kamu bisa minta tanggung jawab kepada Awan untuk menghidupimu karena saat ini dia sudah resmi menjadi suamimu."
"T-tapi aku mau menggelar acara pernikahan yang megah dulu Pa. Aku harap Papa mempertimbangkannya lagi."
"Untuk apa kalian menggelar acara pernikahan megah? Toh saat ini kalian sudah dikenal banyak orang sebagai pasangan kumpul kebo. Hanya bikin malu saja jika sampai semua relasi bisnisku tahu. Pokoknya aku sudah tidak mau mengeluarkan uang untuk semua rencanamu. Jika kamu ingin menggelar acara yang megah, silakan pakai uangmu sendiri."
Perlahan, tungkai kaki Broto terayun. Pria paruh baya itu melangkah pergi meninggalkan rumah Mega. Meninggalkan Mega dan Awan yang masih berdiri mematung di tempatnya. Keputusan yang diambil oleh Broto, sukses membuat keduanya memutar otak untuk merencanakan bagaimana masa depan mereka nanti.
****
Semua berita yang terjadi di negeri ini memang cepat tersebar melalui media sosial. Terlebih berita mengenai perselingkuhan yang mana dengan sekali tekan pilihan 'posting' akan sangat cepat menjadi tranding topik. Yang mengajak para netizen untuk turut memberikan komentarnya.
Wulan menatap lekat satu kanal berita gosip melalui gawainya. Proses arak-arakan yang dua hari lalu dialami oleh Awan, hari ini sukses menjadi hot news di beberapa kanal berita. Wajah Awan dan Mega benar-benar terpampang nyata di sana.
"Ternyata skenario Tuhan tidak ada yang tahu ya Lan. Awan yang sebelumnya menyembunyikan rapat-rapat tentang perselingkuhannya di depanmu kini malah seluruh rakyat di negeri ini tahu."
Risma yang tengah bertandang di rumah Wulan, turut memberikan pendapatnya mengenai berita yang sedang viral. Ia sungguh tidak menyangka jika mantan suami dari temannya ini akan mengalami hal yang begitu sial seperti ini.
"Ya.. Seperti itulah rencana Tuhan, Ris. Selama ini aku hanya bisa menangis dalam diam ketika mengetahui mas Awan berselingkuh. Ternyata diamku menjadi sebuah karma yang menimpa mas Awan dikemudian hari. Dan ini mungkin salah satunya."
Risma menatap lekat wajah Bagas yang ada di pangkuannya. Mendadak hatinya seakan terenyuh melihat bayi kecil yang sudah akan merangkak ke fase toodler ini.
"Semoga kelakuan Bapakmu tidak menurun kepadamu ya Nak. Jadilah lelaki yang kelak bisa memuliakan istrimu seperti kamu memuliakan ibumu."
Wulan mengalihkan pandangannya. Ia yang sebelumnya fokus ke gawai yang ada di telapak tangan, kini beralih kepada Risma. Wulan tersenyum tipis.
"Ini amanah yang sangat berat untukku Ris. Aku harus bisa mendidik anakku untuk bisa menjadi lelaki yang kelak memuliakan istrinya. Semoga satu saat nanti Bagas bisa mengambil satu pelajaran dari yang aku alami."
"Aku percaya kamu mampu Lan. Aku yakin Bagas akan tumbuh menjadi lelaki yang sifatnya jauh berbeda dari Awan."
"Semoga Ris."
"Oh iya, kamu tidak ke pabrik?" tanya Risma mencoba mencari topik obrolan lain.
"Tidak, tidak setiap hari aku ke pabrik. Hanya saat ada meeting dengan para direksi saja aku datang ke sana atau saat QC produk yang akan mulai dipasarkan. Jadi, waktuku jauh lebih banyak di rumah."
"Ah iya, aku lupa ngasih tahu kamu Lan," ucap Risma tiba-tiba sembari menepuk jidatnya.
"Apa Ris?"
"Kata mas Toni, Awan dan Mega tidak lagi meng-handle dealer. Pak Broto menarik kembali otoritas Mega untuk memimpin kantor."
Wulan terkesiap. "Sungguh Ris? Itu artinya Mas Awan kembali menjadi sales biasa?"
"Bukan Lan. Awan dan Mega benar-benar sudah keluar dari kantor. Sepertinya pak Broto marah besar melihat anaknya viral di sosial media. Bagaimanapun juga itu semua akan menyeret nama pak Broto dalam pusaran ke viralan berita Awan dan Mega."
"Ya Tuhan... Ternyata sampai seperti itu ya."
Risma mengangguk pelan. "Ya, sepertinya karma untuk suami sedang dicicil satu persatu, Lan."