Sembilan belas tahun lalu, Ryuichi Soryu ditemukan tewas dengan cara yang mengguncang jagat dunia bisnis Indonesia.
Berita kematiannya menjadi tajuk utama di seluruh kanal media pada saat itu, memicu kepanikan massal hingga membuat saham-saham di bawah naungan Soryu Group terjun bebas ke titik terendah.
Polisi menutup kasus itu dengan dalil "perampokan biasa" sebuah narasi yang tak masuk akal bagi siapa pun yang mengenal konglomerat berdarah Jepang itu.
Yang membuat kasus pembunuhan itu semakin terlihat jangal adalah tak ada satupun barang berharga yang hilang, tak ada satu pun saksi mata dikejadian perkara, seolah nyawa sang konglomerat hilang begitu saja.
Bagi sang putra, kematian ayahnya itu bukan sekadar tragedi. Itu adalah luka yang membekas di hidupnya selamanya.
Sekarang dirinya sedang mencari sang pelaku dan menyeretnya menuju kehancuran yang setimpal dengan apa yang dia dan ayahnya rasakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AzhuraAstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
𖣂|Bab 21 Keluarnya Sang Mahasiswa Gadungan|
...|Legacy of Soryu|...
......· · ─ ·𖥸· ─ · ·......
Ruang Bimbingan Konseling universitas ini tidak terlalu besar. Disana hanya terdapat satu sofa panjang berwarna coklat, meja kayu dengan tumpukan berkas, dan poster motivasi di dinding dengan tulisan "KESUKSESAN DIMULAI DARI KENYAMANAN KELUAR DARI ZONA NYAMAN" yang ironis mengingat Bara bukan tipe orang yang pernah punya zona nyaman.
Bara duduk di kursi yang sudah di sediakan di depan meja. Disisi lain, Ibu Siti berdiri di sampingnya, ia tidak ikut duduk.
Di belakang meja, seorang wanita paruh baya dengan kemeja putih dan blazer hitam duduk dengan posisi tegak. Namanya Ibu Rosa, wajahnya bulat dengan rambut disanggul rapi. Ketika Bara masuk matanya seperti sedang membaca kepribadian Bara, meskipun Bara belum membuka mulut.
"Mas Bara," Ibu Rosa memulai, suaranya tegas, seperti seorang guru SD yang sudah tidak sabar menghadapi murid nakal.
"Saya panggil Mas karena saya dengar Mas sudah lulus S1. Apakah itu benar?"
"Benar."
"Umur Mas?"
"23."
"Lulusan mana?"
"University College London."
Ibu Rosa mengangguk. "Lalu kenapa Mas kuliah lagi di sini? Apalagi dengan prosedur yang... tidak biasa?"
Bara tidak menjawab.
Ibu Rosa menatapnya beberapa saat. Lalu batuk kecil. "Baik. Saya tidak akan tanya itu dulu. Saya akan tanya yang lain."
Dia mengeluarkan sebuah ponsel dari laci mejanya. Membuka galeri dan menunjukkan video itu ke Bara.
Sebuah video diputar. Disana ada Bara dan Nana sedang berdiri berdua, walaupun tidak ada yang terjadi, tapi dari sudut pandang kamera—terlihat seperti mereka sedang... melakukan sesuatu.
Video itu tidak ada suaranya. Tapi visualnya sudah cukup untuk membuat orang berimajinasi yang tidak-tidak.
Bara menatap layar itu dengan wajah datar.
"Mas tahu video ini?" tanya Ibu Rosa.
"Tidak."
"Mas tahu sudah tersebar di grup WhatsApp mahasiswa? Bahkan sudah dilihat ratusan kali?"
"Tidak."
Ibu Rosa meletakkan ponselnya di atas meja. "Mas Bara, saya tidak tahu latar belakang Mas. Saya tidak tahu kenapa Mas ada di kampus ini. Tapi yang saya tahu, video ini—" dia menunjuk layar ponsel, "—telah mencoreng nama baik universitas ini. Dan melibatkan salah satu mahasiswi kami. Nabhila Hera Adama. Yang hari ini tidak masuk karena... malu. Saya tidak tahu penyebabnya. Tapi yang jelas, dia korban dalam situasi ini."
"Dan Mas," Ibu Rosa melanjutkan, "Mas secara tidak langsung adalah biangnya."
Kata 'biang' menggantung di udara.
Bara menatap Ibu Rosa, tidak berkedip sama sekali.
"Saya tidak melakukan apa-apa," kata Bara. "Kami hanya bicara."
"Di tangga darurat? Tempat sepi? Saat jam makan siang? Kenapa harus disana, Mas?!"
"Saya hanya ingin bicara dengannya."
"Bicara tentang apa?"
"Hal-hal pribadi," kata Bara akhirnya.
Ibu Rosa menghela napas. Dia menoleh ke Ibu Siti yang masih berdiri di samping dengan tangan disilangkan. Ibu Siti mengangguk kecil, seperti memberi isyarat bahwa dia setuju dengan apa pun yang akan Ibu Rosa lakukan pada Bara.
"Mas Bara," Ibu Rosa kembali menatap Bara. "Saya tidak tahu siapa Mas. Tapi saya tahu apapun yang Mas cari di kampus ini, itu tidak baik. Saya bisa merasakannya. Saya sudah bekerja sebagai konselor selama 10 tahun. Saya tahu ketika seseorang membawa masalah dari luar ke dalam lingkungan akademik."
"Mas akan saya beri peringatan tertulis," lanjut Ibu Rosa. "Satu kali lagi Mas terlibat dalam insiden apapun—baik berkelahi, mengganggu mahasiswi, atau membuat kegaduhan, saya akan rekomendasikan Mas untuk di-drop out."
Bara menatap Ibu Rosa.
"Drop out," ulang Ibu Rosa, seperti Bara tidak mendengar ucapannya yang pertama kali. "Dikeluarkan. Tidak bisa melanjutkan kuliah di sini. Apapun latar belakang Mas dan siapapun yang memasukkan Mas ke sini—saya tidak segan-segan mengeluarkan. Karena bagi saya, integritas akademik lebih penting daripada sumbangan."
"Baik," katanya.
Ibu Rosa mengerjap. Sedikit terkejut, mungkin dia mengharapkan bantahan, atau alasan, atau setidaknya ekspresi bersalah.
Tapi Bara hanya mengatakan "baik".
"Mas mengerti konsekuensinya?" tanya Ibu Rosa.
"Saya mengerti."
"Mas tidak punya pembelaan?"
"Tidak."
Ibu Rosa menatap Bara untuk waktu yang lama. Lalu menghela napas. "Baik. Mas boleh kembali ke kelas."
Bara berdiri. Membungkuk sedikit. Sebelum keluar Bara kembali berkata sambil menatap Ibu Rosa. "Saya akan keluar, terimakasih telah menerima saya di universitas ini."
Kalimat itu membuat udara di ruangan berubah.
Ibu Rosa tidak langsung menjawab. Alisnya sedikit terangkat, seolah memastikan ia tidak salah dengar. "Mas... bilang apa?"
Bara masih berdiri tegak di depan meja. "Saya akan keluar."
Ibu Siti yang sejak tadi diam akhirnya bergerak sedikit, langkahnya maju setengah langkah.
"Mas Bara, maksudnya... keluar kelas sekarang atau—"
"Keluar dari universitas."
Ibu Rosa menyandarkan punggungnya ke kursi, matanya menyipit. "Mas baru dua hari di sini."
"Saya tahu."
"Dan Mas memutuskan berhenti hanya karena satu video?"
Bara menggeleng pelan. "Bukan karena video."
"Lalu karena apa?"
Bara tidak langsung menjawab. Ia menarik napas pendek, lalu mengeluarkannya perlahan.
"Karena saya tidak akan menunggu sampai situasi seperti ini terulang dan berdampak lebih jauh, apalagi untuk Nabhila."
Ibu Rosa mengetukkan jarinya pelan di meja, sembari berpikir. "Mas sadar keputusan ini terlalu ekstrem?"
"Saya sadar."
"Mas juga sadar ini akan tercatat? Bahwa Mas keluar, bukan karena pindah biasa?"
"Iya."
Ibu Siti menyela, nadanya lebih lembut tapi jelas seperti menahan sesuatu. "Mas Bara, ini bisa diselesaikan. Tinggal klarifikasi saja ke pihak kampus. Anak-anak juga biasanya cepat lupa."
Bara menoleh sedikit ke arah Ibu Siti, lalu kembali ke depan. "Masalahnya bukan di mereka."
"Lalu?"
Bara terdiam sepersekian detik. "Di saya."
"Mas tidak mau mempertimbangkannya lagi?"
"Tidak."
"Minimal tunggu beberapa hari. Saya bisa bantu meredakan situasi ini." bujuk Ibu Rosa, mencoba menahan Bara untuk tidak membuat keputusan implusif.
Bara menggeleng. "Tidak perlu."
Ibu Rosa akhirnya menghela napas panjang, lalu mengambil pulpen di mejanya, ia butuh sesuatu untuk dipegang. "Baik. Kalau itu keputusan Mas, saya tidak bisa menahannya."
Ia berhenti sejenak, lalu menambahkan dengan nada lebih rendah, "Tapi saya harap Mas tahu, kabur bukan solusi dari semua masalah."
Bara tidak tersinggung. Tapi juga tidak membela diri. "Saya tidak kabur."
"Lalu?"
"Saya memilih." kalimat itu datar, tapi tegas.
Ibu Rosa terdiam. Kali ini benar-benar tidak punya balasan cepat untuk membantah argumen pria muda di depannya. Beberapa detik berlalu sebelum akhirnya ia mengangguk pasrah.
"Baik. Administrasi pengunduran diri bisa diurus di bagian akademik."
"Terima kasih."
Bara membungkuk. Ia berbalik, melangkah ke arah pintu. Tangannya menyentuh gagang, ia membukanya hampir tanpa suara.
Sebelum keluar, suara Ibu Siti memanggilnya dari belakang.
"Bara."
Bara berbalik.
"Nabhila anak baik," kata Ibu Siti. "Jangan rusak masa depannya karena apapun yang sedang kamu cari."
Bara menatap Ibu Siti, lalu mengangguk perlahan.
"Saya tidak akan menyakiti Nabhila," katanya.
Ibu Siti mengangguk kembali.
Bara keluar, dan sejak saat itu, statusnya sebagai mahasiswa gadungan di universitas tersebut berakhir—bahkan sebelum menyelesaikan tugas yang diberikan oleh Ibu Siti.
Komen pertama , like + bunga🌹 , semangat😉