Melalui dinding yang seolah lenyap itu, Chen bisa melihat dengan sangat jelas interior kamar Mei. Dan yang membuat jantungnya hampir melompat keluar dari dada adalah, ia bisa melihat area kamar mandi kecil di dalam sana. Pintu kamar mandinya pun tembus pandang.
Di dalam sana, Mei sedang berdiri di bawah kucuran air shower. Tanpa sehelai pakaian pun.
Chen terpaku di tempatnya, tenggorokannya mendadak kering. Setiap lekuk tubuh tetangganya itu, bulir-bulir air yang mengalir di kulitnya, bahkan warna rambutnya yang basah terlihat dengan detail yang luar biasa jernih. Kemampuan matanya seolah menembus batas ruang dan privasi yang ada.
Chen buru-buru menutup kedua matanya dengan telapak tangan, napasnya memburu, dan wajahnya memerah padam sampai ke telinga.
“A-apa yang terjadi dengan mataku?!” batin Chen menjerit panik sekaligus tidak percaya. “Apakah kakek semalam… benar-benar nyata?”
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Markario Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31: Puncak Kejayaan Palsu dan Jatuhnya Kekaisaran Wang
Lampu aula lelang internasional meredup, menyisakan sorot lampu tajam yang mengarah ke tengah panggung megah. Sesi lelang pertama resmi dimulai. Dua petugas bertubuh kekar mendorong sebuah kereta besi yang membawa batu mentah misterius berukuran raksasa. Kulit luarnya kasar, guratan mineralnya sangat pekat, memancarkan aura kuno yang memikat perhatian seluruh taipan di dalam ruangan.
Long Wang yang sudah tidak sabar langsung menggunakan tim ahli terbaiknya untuk menganalisis cepat. Mengikuti instingnya yang sedang menggebu-gebu, ia langsung memasang harga tinggi dan berhasil memenangkan batu pertama tersebut.
Saat batu dibelah langsung di atas panggung... Wush! Kilatan hijau zamrud pekat langsung mencuat. Batu itu berisi Giok Kelas Tinggi dengan nilai yang melonjak dua kali lipat dari harga belinya!
Melihat hasil tersebut, Long Wang seketika berdiri dari kursinya dan tertawa terbahak-bahak. Kegelisahannya seminggu ini menguap sepenuhnya. Wajahnya berubah menjadi sangat sombong dan arogan. Ia menoleh ke arah bangku Chen dan Liu dengan tatapan menghina yang sangat sadis.
"Hahaha! Lihat itu, Tuan Muda Liu! Dewa Keberuntungan berada di pihak Keluarga Wang malam ini!" seru Long Wang dengan nada mengejek yang bergema di aula. "Kau dan bocah ingusan di sebelahmu itu hanyalah sampah yang tidak tahu apa-apa tentang bisnis ini! Master Feng memujinya setinggi langit, tapi nyatanya dia hanya bisa diam membisu seperti orang bodoh! Hari ini, aku akan mengubur kalian berdua bersama kemiskinan kalian!"
Liu mengepalkan tinjunya erat-erat, wajahnya memerah menahan amarah karena hinaan sadis itu. Namun, Chen tetap duduk tenang dengan kaki menyilang. Mata ajaibnya berdesir hangat, menatap batu pertama yang memang sengaja ia biarkan dimenangkan oleh Long Wang agar bajingan tua itu masuk ke dalam jebakan rasa percaya diri yang semu.
"Biarkan dia tertawa sejenak, Liu," bisik Chen dingin. "Sesi kedua adalah peti matinya."
Perjudian Gila di Sesi Kedua
Pembawa acara kembali naik ke panggung, mengumumkan dimulainya sesi lelang kedua. Kali ini, tirai merah besar terbuka menampilkan batu mentah yang jauh lebih besar—hampir setinggi manusia dewasa. Batu itu memiliki corak urat emas yang langka mengitari seluruh permukaannya, sebuah tampilan fisik luar biasa yang seolah menjamin bahwa isinya adalah
Giok Kaisar Tiada Dua.
Long Wang yang merasa hari ini adalah hari keberuntungan mutlaknya, langsung berdiri dengan mata yang dipenuhi keserakan dan kegilaan. Tanpa menganalisis lebih lama, ia langsung berteriak, "Lima puluh juta yuan!"
Melihat Long Wang begitu percaya diri setelah kemenangan pertamanya, banyak taipan kaya dari luar kota yang ikut terpengaruh. Mereka mengira Long Wang telah menemukan rahasia batu tersebut dan mulai ikut menaruh tawaran gila-gilaan, membuat harga batu itu meroket hingga menyentuh angka dua ratus juta yuan!
"Dua ratus lima puluh juta yuan! Plus seluruh sertifikat tanah dan sisa aset komersial milik Keluarga Wang!" raung Long Wang dengan mata merah, mempertaruhkan sisa napas terakhir keluarganya demi memenangkan batu raksasa tersebut.
Para taipan lain langsung mundur, tidak berani mengikuti kegilaan Long Wang yang mempertaruhkan seluruh hidupnya.
Sementara itu, di bangkunya, Chen mengaktifkan mata ajaibnya seutuhnya. Aliran energi hangat membedah struktur batuan raksasa di panggung hingga menembus ke inti terdalam. Di balik retina Chen, pemandangan laboratorium mistisnya menunjukkan kenyataan yang mengerikan: batu raksasa itu zonk seutuhnya. Lapisan giok indah itu hanya berupa kulit luar setebal satu milimeter hasil rekayasa alam, sedangkan sisanya ke dalam hanyalah batu kali hitam yang rapuh dan tidak berharga sepeser pun.
Chen melirik Liu dan mengangguk pelan. Pertunjukan selesai.
Kehancuran Mutlak sang Musuh
"Dua ratus lima puluh juta yuan... Sah! Batu jatuh ke tangan Tuan Besar Wang!" ketuk palu juru lelang bergema.
Long Wang berjalan ke panggung dengan tawa kemenangan yang angkuh, memerintahkan pemotong batu untuk segera membelah kemenangan mutlaknya. Namun, begitu mata pisau mesin memotong bagian tengah batu raksasa tersebut...
Krek!
Batu itu terbelah, dan yang tampak di layar monitor raksasa aula hanyalah bongkahan batu kali abu-abu yang kering dan keropos. Tidak ada giok, tidak ada emas, tidak ada apa pun. Zero. Zonk total.
Wajah Long Wang yang awalnya sombong dan penuh tawa seketika berubah menjadi pucat pasi bak mayat. Matanya melotot hampir keluar, tubuhnya bergetar hebat hingga ia jatuh berlutut di panggung. "T-tidak mungkin... Ini tidak mungkin! Periksa lagi! Potong lagi!" jeritnya histeris.
Namun, dipotong berapa kali pun, hasilnya tetap sama. Dalam satu kedipan mata, seluruh kekayaan, sisa aset, dan nama besar Keluarga Wang musnah tak bersisa. Mereka bangkrut total di hadapan publik internasional.
Menyadari dirinya telah tamat dan akan menghadapi kejaran para lintah darat, Long Wang yang panik berusaha bangkit dan berlari menuju pintu belakang panggung untuk kabur. Namun, sebelum ia sempat melangkah keluar, beberapa pria berbadan tegap dengan setelan hitam langsung menghadangnya dengan bar-bar dan mengunci pergerakannya. Mereka adalah pasukan keamanan Liu yang sedari awal sudah diperintahkan oleh Liu untuk berjaga-jaga di setiap sudut.
"Mau ke mana, Tuan Besar Wang?" sindir Liu yang berjalan mendekati panggung bersama Chen, menatap Long Wang yang kini sudah seperti anjing kehilangan majikan. "Urusan utang asetmu belum selesai, dan tanah tambang lama keluargaku... sekarang resmi kembali ke tanganku sebagai jaminan kebangkrutanmu."
Nama yang Mengguncang Aula
Suasana aula lelang yang tadinya riuh oleh kepanikan seketika berubah menjadi keheningan yang sarat akan kekaguman saat mata semua orang tertuju pada Chen. Para taipan internasional yang hadir di sana bukanlah orang bodoh. Mereka menyadari satu hal yang mengerikan: sejak awal sesi kedua dimulai, pemuda bernama Chen itu sama sekali tidak menaruh penawaran dan hanya menatap Long Wang dengan senyuman tenang.
Chen sudah tahu. Pemuda itu bisa melihat kegagalan batu tersebut sebelum pisau mesin menyentuhnya!
Dalam sekejap, nama Chen meledak dan menjadi buah bibir di seluruh penjuru aula lelang internasional tersebut. Kehebatannya yang berhasil menghancurkan Keluarga Wang hanya dengan diam, membuat statusnya naik kasta menjadi sosok yang teramat disegani.
Begitu sesi lelang ditutup, puluhan taipan kaya berkantong tebal, miliarder properti, hingga kolektor kelas kakap dari berbagai negara langsung berbondong-bondong mengurung meja Chen. Mereka mengabaikan ego mereka, mengantre dengan hormat hanya untuk memberikan kartu nama, menyalami Chen, dan mencoba mencari muka agar bisa berteman serta bekerja sama dengan sang Dewa Giok baru yang misterius ini.