Seorang gadis cantik bernama Arun yang memiliki kisah hidup rumit dan penuh lika-liku. Seorang anak tunggal yang dibesarkan oleh sang nenek yang sangat menyayanginya melebihi kasih sayang orang tuanya sendiri. Arun berpikir kehidupan pernikahan menjadi salah satu solusi untuk memperbaiki cerita hidupnya. Bio, laki-laki yang lebih tua empat tahun dari dirinya menjadi suami Arun atas dasar sebuah perjodohan. Mungkin harusnya Arun sadar diri sejak awal, mereka bukan ditakdirkan tapi dipaksakan meski mereka merasa tidak ada perasaan keterpaksaan dalam mmenjalaninya. Akankah ada keajaiban dari sebuah rasa yang terasa dipaksakan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon citaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DUAPULUHSATU
"Shuttt, suami lo tuh!"
Tia menyenggol lengan Arun saat mereka sedang berdiri di wastafel sambil mencuci tangan dan beberapa alat makan yang sebenarnya tidak kotor itu.
"Apasih! Biarin aja lah" balas Arun dengan nada tidak suka.
"Arun?" panggil Bio.
Arun yang mendengar itu harus menarik napasnya dulu baru menghadap ke arah Bio yang berada di bekangnya, "iya, kenapa?" balas Arun.
"Udah gue bilangin juga, ngeyel sih!" gumam Tia yang masih bisa di dengan oleh Arun.
Saat mencuci tangan tadi Tia memang sesekali melihat ke arah Bio yang berdiri sambil menatap Arun. Tidak ada maksud apapun hanya Tia merasa sedikit aneh dengan perilaku Bio.
"Saya mau balik ke cafe lagi" ucap Bio yang bermaksud berpamitan pada istrinya tersebut.
"Lah tumben?" ucap Arun sambil mengerutkan keningnya.
Mendengar jawaban Arun membuat Bio memberi isyarat dengan matanya seolah menunjukan pada Arun siapa yang berada di sampingnya. Arun yang mengerti langsung melihat ke arah Arun sekilas, "Ohhh, iya mas. Hati-hati ya" ucap Arun sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.
Bio yang mendengar panggilan 'Mas' langsung terdiam tanpa membalas kembali perkataan Arun hingga lama. Namun saat sadar, Bio langsung menggelengkan kepalanya.
"Tia?" panggil Bio.
Tia yang sedang fokus menguping seketika tersentak dan mematikan keran air tersebut lalu menatap Bio dengan salah tingkah, "iya p--ak" jawab Tia dengan ragu sambil melihat ke arah Arun dan Bio secara bergantian.
"Panggil aja Bio, saya titip Arun ya" ucap Bio menitipkan istrinya.
Tia tidak lagi menjawab hanya menganggukan kepala menyetujui perkataan Bio karena setelah itu ia langsung pergi meninggalkan mereka berdua.
"Suami lo pulang cuma mau nganterin makanan doang buat lo? Perfect banget sihh" puji Tia masih dengan menatap tempat dimana Bio tadi berdiri meski orangnya sudah pergi.
Arun yang masih dibuat bingung dengan kelakuan Bio pun hanya bisa terdiam sambil memutar-mutar piring yang ada ditangannya.
Merasa tidak mendapat jawaban dari Arun, Tia langsung melihat dan menatap kesampingnya sambil menggerakan tangannya didepan wajah Arun, "piring lo jatuh jangan salahin gue ya Run" ucap Tia tepat di telinga Arun namun dengan nada yang sangat kecil seolah berbisik.
Arun langsung mengembalikan kesadarannya sambil menggelengkan kepalanya secara cepat dan kembali menghadap wastafel tersebut melanjutkan kegiatannya. Tia yang melihat itu langsung kembali mengikuti Arun dan senyuman jailnya mulai menghiasai wajah, "ciee, baper ya lo?" ledek Tia.
"Apaan sih! Gue itu cuma lagi mikir dia itu kayaknya lagi kesambet deh" ucap Arun.
"Mana ada orang kesambet ngomongnya jelas begitu. Gue yakin si Bio sadar ngelakuin ini semua" jelas Tia.
"Sok tau lo!"
"Emang gue tau, malah gue tau alasan dibalik kelakuan dia yang kayak gitu. Lo mau tau?" tanya Tia dengan menaik turunkan alisnya.
"Apa?"
Tia tersenyum devil ke arah Arun, "karena lo udah kasih dia malam pertama, iya kan?" tebak Tia dengan ekspresi bangganya.
Saat mendengar hal itu, Arun langsung mencipratkan air pada wajah Tia menggunakan tangannya yang baru saja selesai mencuci tangan, "Apa kata gue, lo itu SOK TAU!" ujar Arun penuh penekanan sambil melangkah menuju meja makan.
"Lohh, lo gak bisa bohongin gue Run. Hari ini lo keramas dan Bio mendadak baik sama lo. Udah lahh, gimana malam pertamanya? Lo gak mau ada yang di ceritain?" goda Tia dengan setengah berbisik.
"Ti, gue siram ya lo pake air minum!" ancam Arun sambil mengangkat gelas ditangannya.
Tia mundur beberapa langkah mencoba menghindari ancaman Arun jika benar nantinya, "kalo gak mau cerita gak papa kali Run" gumam Tia.
"Mending pulang aja deh lo!" ucap Arun sambil meletakan kembali gelasnya dimeja.
"Ishh! Sorry-sorry. Gue kan cuma bercanda Run"
Arun memutuskan untuk memasuki kamarnya. Sedangkan Tia tanpa disuruh sudah mengikuti Arun dari belakang. Arun langsung naik ke atas kasurnya sambil membuka handuk yang masih menutupi rambut basah nya.
Tia melihat sekeliling ruangan tersebut, tidak terlihat barang laki-laki dalam kamar ini. Hanya barang-barang Arun yang tersusun rapi, "ini kamar lo orang?" tanya Tia masih berdiri dan melihat-lihat.
"Ini kamar gue, kamar Bio ada di atas" balas Arun.
"Lo berdua pisah kamar?"
Arun menatap Tia yang sudah menatap dengan wajah kebingungan. Sedangkan Arun hanya menjawabnya dengan anggukan kepala yang sangat santai.
Tia langsung mendekat bahkan naik ke atas kasur Arun, "kok bisa?" tanya Tia.
"Bisalah. Gue kasih tau ya, sikap Bio kayak tadi itu cuma karena ada lo doang. Mungkin dia kira gue gak cerita sama lo soal rumah tangga ini" jelas Arun.
"Pasti lo ya yang minta buat pisah kamar?" tuduh Tia.
"Dia yang mau! Pertama kali masuk ke rumah ini. Dia yang atur semuanya!" Ucap Arun dengan sedikit emosi.
"Lo kan tau sendiri, pernikahan ini tanpa cinta. Jadi stop berharap rumah tangga ini akan normal, karena itu mustahil" Arun kembali mengatakan hal tersebut agar Tia tidak lagi berpikiran hal-hal yang aneh.
Tia hanya bisa terdiam sambil terus menatap Arun, "kenapa lo mau jalaninnya Run?".
"Emang gue punya pilihan?" ujar Arun langsung hingga mampu membuat Tia hanya bisa kembali terdiam tak bersuara.
🍒🍒🍒
Saat ini waktu menunjukan pukul sembilan malam, namun belum ada tanda-tanda mobil Bio memasuki pekarangan rumah tersebut. Arun baru saja selesai menyiapkan masakan untuk makan malam mereka nanti. Jujur Arun tidak tahu apakah Bio sudah makan atau belum.
Suara mobil baru saja terdengar memasuki garasi rumah mereka. Arun yang sejak tadi duduk di meja makan langsung berlari masuk kedalam kamar dan menutup pintunya.
Bio masuk lalu berjalan menuju meja makan, tangan kanannya digunakan untuk memijat keningnya sedangkan yang kiri untuk memegang tas kecil miliknya. Perhatiannya berhenti saat melihat masakan yang sudah tersaji dengan rapi. Kebetulan malam ini Bio belum makan, saat ini cafe sedang membutuhkan banyak perhatian lebih darinya.
Baru saja Bio membalikan piring untuk makan tiba-tiba terhenti dan mengalihkan pandangannya pada kamar Arun yang tidak terlihat adanya kegiatan.
Tok
Tok
Tok
Suara ketukan tersebut membuat Arun terlonjak kaget.
Prang!
Botol yang berisi skincare Arun jatuh begitu saja ke lantai. Saat ini Arun berniat untuk menggunakan skincare malamnya sebelum beranjak tidur. Namun suara ketukan pintu membuatnya tidak sengaja menjatuhkan hingga pecah.
Suara pecahan benda dari kamar Arun membuat Bio kelimpungan bukan main, "Arun? Lo gak papa?" teriak Bio dari balik pintu.
Arun yang mendengar itu sekita langsung menatap pintu, "lo? Balik ke setelan pabrik ternyata" gumam Arun.
Lama tidak mendapat jawaban membuat Bio frustasi. Kenapa Arun tidak kunjung menjawab panggilannya? Atau sesuatu yang buruk sedang terjadi pada Arun?.
"LO DENGER GUE RUN?"
"KELUAR DARI KAMAR LO RUN KALO LO BAIK-BAIK AJA"
Teriakan Bio tampaknya memang tidak dihiraukan oleh Arun.
Brak!
Pintu kamar Arun dibuka paksa oleh Bio. Terlihat Arun yang sedang berjongkok sambil membersihkan sisa skincare yang berceceran di atas lantai tersebut.
Arun langsung mengangkat kepalanya dan pandangannya bertemu dengan Bio. Terlihat Bio menghembuskan napasnya dengan kasar sambil menyugar rambutnya kebelakang.
"LO GAK PUNYA MULUT?"
"LO TULI? ATAU BISU? HAH!"
Bio langsung menodong Arun dengan pertanyaan tersebut menggunakan nada suara yang meninggi. Arun yang tidak terima langsung berdiri dan menatap Bio dengan perasaan marah didalam dadanya.
"Maksud lo apa?" tanya Arun dengan sengit.
"Kenapa lo gak jawab waktu gue panggil-panggil lo tadi?"
"Emang apa peduli lo?"
Bio terdiam seolah menohok hatinya, "lo emang manusia yang gak pernah tau terima kasih ya" ujar Bio.
"Ngaca! Lo itu manusia yang gak punya hati tau gak lo".
"Kalo gue gak punya hati, gue gak akan pulang tadi siang cuma buat bawain makan buat lo. Kalo gue gak punya hati! Gue gak akan pura-pura seolah menjadi suami yang baik didepan teman lo" ujar Bio.
"Kalo gue gak tau terima kasih! Gue gak akan capek-capek masak makan malam buat lo!" balas Arun.
Bio terdiam, "satu hal lagi, gue gak butuh sandiwara lo! ternyata gue salah. Lo bukannya gak punya hati, ada tapi busuk! Keluar lo dari kamar gue" usir Arun dengan mata berkaca-kaca.
Arun maju dan perlahan mendorong tubuh Bio untuk keluar dari kamarnya. Tubuh Bio yang tidak menahan perlahan mundur, namun saat Arun akan melepaskan tangannya Bio langsung menahannya.
"Makan malam dulu, lo pasti belum makankan?" ucap Bio dengan nada suara lembut.
"GUE UDAH BILANG! GUE GAK BUTUH SANDIWARA LO!" teriak Arun di depan wajah Bio.
Bio yang masih menggenggam tangan Arun langsung menariknya dan memeluknya dengan erat. Ada rasa bersalah di hati Bio saat melihat air mata Arun yang mengalir membasahi pipinya.
"LO JAHAT TAU GAK! LO BENTAK-BENTAK GUE. LO NGATAIN GUE SEGALA MACEM, GUE BENCI SAMA LO!"
Arun mengatakan apa yang membuat hatinya sakit dan menyebabkan air matanya jatuh. Arun mengatakan hal tersebut sambil memukul dada Bio meski mulutnya terus mengeluarkan isakan.
"Gue minta maaf" ujar Bio.
Tbc.