Alysia percaya pernikahannya adalah jawaban atas doa setelah bertahun-tahun hidup sendiri. Saat Demian datang melamarnya, dia mengira akhirnya menemukan laki-laki yang memilih dirinya, bukan karena belas kasih, bukan karena keadaan, melainkan karena cinta.
Namun kenyataan yang menunggunya jauh lebih menyakitkan. Demian adalah duda muda dengan seorang anak kecil yang kehilangan sosok ibu. Dan Alysia baru menyadari satu hal setelah resmi menjadi istrinya. Dia tidak pernah benar-benar hadir sebagai perempuan yang dicintai. Dia hanya dipilih karena dianggap paling tepat menjadi ibu bagi anak Demian. Arkhasa.
“Aku menikahimu supaya anakku punya ibu.”
Kalimat itu mengubah segalanya.
Untuk pertama kalinya, Alysia memilih berhenti menunggu dicintai. Dia memutuskan pergi, meski harus meninggalkan anak yang sudah dia sayangi seperti darah daging sendiri.
Namun saat Alysia benar-benar menjauh, Demian mulai menyadari sesuatu yang terlambat dia pahami.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yam_zhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Alysia 23
Damian mengambil ponselnya, kemudian memotret setiap lembar dokumen krusial tersebut sebagai cadangan digital, lalu memasukkannya ke dalam sebuah flashdisk terenkripsi. Dia sengaja tidak melibatkan departemen hukum perusahaan, karena dia tahu banyak orang di sana adalah kaki tangan ibunya.
Dia melirik jam di dinding. Sudah pukul dua. Waktunya Arkha pulang sekolah.
"Rian, aku harus menjemput Arkha! Kamu tolong lanjutkan sisanya. Hubungi Firma yang sudah kita pilih. Atur pertemuan nanti malam. Jangan ada yang tahu! Aku akan kembali setelah menjemput Arkhasa!" perintah Damian.
"Baik Pak..." jawab Rian.
Damian keluar dari dalam ruangannya, namun langkahnya di hentikan oleh sang sekretaris. Karena sedari tadi Damian tak mau menerima panggilannya dan juga tak membukakan pintu untuk dirinya.
"Pak..." panggil sekretaris bernama Helen.
"Ya... Ada apa?" tanya Damian dingin membuat nyali Helen menciut seketika.
"Pak, dari tadi Bu Berlian, Pak Kuncoro dan Bu Chintya terus menghubungi katanya nomor anda tak bisa mereka hubungi. Pak Kuncoro... Dia marah dan akan menarik modalnya besok. Beliau berpesan, jika Anda ingin semua baik-baik saja, tolong temui Bu Berlian sekarang di restoran Biasa!"
"Ya..." jawaban yang singkat dari Damian.
"Apa anda juga mau saya pesankan makan siang, Pak? Anda belum makan dari tadi. Ini sudah lewat jam makan siang!" Tanya Helen dengan suara lembut mencoba menarik perhatian.
"Saya akan makan siang dengan istri saya!" jawab Damian, kemudian pergi.
Damian tahu jika Alysia saat ini sedang benar-benar menghukum dirinya dan pasti tak akan menjemput Arkhasa. Apa yang akan dia katakan kepada anaknya nanti. Apalagi dia tahu Arkhasa anak yang cerdas, kritis dan juga peka.
Damian mengambil ponsel dan kembali menghubungi nomor Alysia. Tapi tidak di angkat. Semua pesannya hanya di baca namun tanpa balasan.
Damian memacu mobilnya dengan kecepatan tinggi membelah kemacetan sore itu. Kepalanya berdenyut, namun tekadnya lebih kuat dari rasa sakit apa pun. Fokusnya kini hanya satu, Arkhasa dan Alysia. Dia tahu bahwa di tengah badai kehancuran yang akan dia ciptakan di perusahaannya, Arkhasa dan Alysia adalah satu-satunya pelabuhan yang harus dia selamatkan dari dampak perang ini.
Sesampainya di sekolah, Damian mematikan mesin mobilnya. Halaman sekolah sudah mulai sepi, hanya tersisa beberapa anak yang menunggu jemputan. Di sudut gerbang, dia melihat sosok kecil berseragam sedang duduk di bangku taman, menatap gerbang dengan wajah murung. Arkhasa.
Hati Damian mencelos. Biasanya, Alysia menjemput Arkhasa bahkan sebelum jam sekolahnya selesai, istrinya sudah berada di sini menjemput Arkhasa.
Damian turun dari mobil, langkahnya terasa berat. Saat Arkhasa menyadari kehadiran ayahnya, anak itu tidak langsung berlari menyambut seperti biasanya. Dia hanya berdiri, menatap Damian dengan tatapan kritis yang begitu mirip dengan Alysia. Tatapan yang seolah bisa membaca kebohongan apa pun yang Damian coba sembunyikan.
"Papa?" suara kecil itu terdengar serak.
"Di mana Mama? Kenapa Papa yang jemput?"
"Mama sedang ada urusan mendadak, Sayang," ujar Damian lembut, berusaha menjaga suaranya tetap stabil meski hatinya hancur.
"Makanya Papa yang menjemput Arkha hari ini."
"Mama marah sama Papa, ya?" tanya Arkhasa tanpa basa-basi. Pertanyaan itu telak menghujam jantung Damian.
Damian terdiam sesaat, ia menatap mata polos itu.
"Papa membuat kesalahan, Arkha. Mama sedang... butuh waktu untuk sendiri karena Papa."
Arkhasa menunduk, memainkan tali tasnya.
"Tadi Oma datang. Apa Oma Marah-marah lagi kepada Mama? Sampai membuat Mama akhirnya pergi? Arkha ingin bertemu Mama. Sekarang Mama pasti sedang menangis setelah kena marah Oma lagi. Apa Mama ke rumah Uti? Tolong antarkan Arkha ke rumah Uti, Papa... Kasihan Mama..." ucapnya sambil terisak, Damian sedikit mengerutkan keningnya saat mendengar ucapan polos sang anak.
"Arkha, tenang dulu sayang. Papa mau tanya, tapi Arkha jawab jujur sama Papa, janji?" tanya Damian. Arkha mengangguk sambil terisak.
"Apa Oma sering bertemu Mama dan memarahinya? Dan Arkha tahu?" tanya Damian dan Arkha mengangguk sambil mengangkat tiga jemari mungilnya.
"Tiga kali, dua kali di restoran, satu kali di sekolah. Setelahnya Mama akan sedih dan nangis diam-diam di rumah setelah pulang. Arkha tahu... Huaaaaa.... Oma jahat sama Mama... Arkha mau ketemu Mama..." teriak Arkha pada akhirnya.
Damian merasa dunianya seakan runtuh mendengar pengakuan polos putranya. Rasa bersalah yang selama ini sudah begitu berat kini berubah menjadi api kemarahan yang membakar dadanya. Selama ini dia begitu buta dan pengecut, membiarkan istrinya menderita sendirian dalam diam, bahkan hingga melibatkan trauma bagi putranya sendiri.
Dia berlutut, membawa Arkhasa ke dalam pelukannya yang hangat dan erat, berusaha meredam isak tangis anak itu.
"Maafkan Papa, Arkha. Papa benar-benar minta maaf," bisik Damian dengan suara bergetar, air matanya sendiri kini tak mampu lagi dia bendung.
"Papa tidak tahu selama ini Mama menanggung semuanya sendirian. Papa adalah Papa yang bodoh."
Damian melepaskan pelukannya sebentar, menangkup wajah Arkhasa yang basah dengan kedua tangannya. Dia menatap mata anaknya dalam-dalam, penuh tekad.
"Arkha dengar, ya? Papa akan menjemput Mama. Papa tidak akan membiarkan Mama sedih lagi. Papa akan membuat semuanya menjadi lebih baik, janji," ucapnya dengan nada tegas, namun penuh kasih.
Tanpa membuang waktu lagi, Damian menggendong Arkhasa menuju mobil. Dia menyalakan mesin mobil, memutar kemudi dengan mantap menuju rumah orang tua Alysia. Di sampingnya, Arkhasa menatapnya dengan pandangan penuh harap. Damian mengangguk pelan, memberikan senyuman tipis yang meyakinkan.
"Kita jemput Mama, Arkha. Kita pulang bersama-sama," gumamnya pelan.
Mobil SUV mewah milik Damian melaju tenang membelah jalanan kota yang mulai gelap. Suasana di dalam mobil terasa begitu kontras dengan hatinya yang berkecamuk. Arkhasa yang biasanya banyak bicara, kini hanya duduk diam di sampingnya, matanya sesekali melirik Damian dengan tatapan penuh tanya, seolah-olah dia bisa merasakan bahwa ayahnya sedang membawa mereka menuju sebuah perubahan besar.
Setelah menempuh perjalanan sekitar satu jam, mobil itu akhirnya berbelok memasuki halaman rumah sederhana yang terasa jauh lebih hangat dibanding rumah besar milik keluarga Damian. Itu adalah rumah orang tua Alysia. Dia tahu jika orang tua Alysia adalah orang-orang yang sangat baik. Tapi dia sudah membuat anaknya sakit hati. Damian menghela napas panjang beberapa saat memandang ke arah pintu yang tertutup.
biar dy juga merasakan apa yg km rasakan Selama 6th Alysia ,,
cowok yg kayak gini nich...yg berpotensi menghancurkan rumah tangga sendiri,usia boleh dewasa tapi sifatnya yg masih belum dewasa....cerai aja sich alysia,di luar sana masih banyak laki-laki yg lebih dari si Damian,ngapain kamu masih mempertahankan laki laki yg masih belum selesai sama masa lalunya...cuman buang waktu juga nyakitin dirimu sendiri aja.
bukti kan dg tindakan mu
6th sia sia buang waktu.
cerai trus upgrade diri ntar semoga dpt jodoh yg lebih Dr Damian. yg penting gk di setir ortu plus laki yg terbuka dng masa lalu serta yg sdh moveon.
jika km tlah melihat kesungguhan serta bukti bahwa Damian bnr2 berubah ,, baru deh kesempatan mau km kasih atau gx ,,
terlalu takut kehilangan harta Dunia ,,
skraaang yg perlu km lakuin hanya memperbaiki semua ny Damian sblm bnr2 terlambaat