Milly, seorang pelayan hotel yang polos dan akan berubah menjadi mimpi buruk. Saat membersihkan Penthouse mewah milik Arkananta Mahendra presdir muda yang terkenal kejam, perfeksionis, dan tak tersentuh ia justru menemukan sang Presdir tergeletak tak berdaya akibat racun, tepat di bawah ranjangnya.
Sialnya, Milly memegang gelas beracun itu tepat saat pengawal masuk. Dituduh sebagai pembunuh bayaran, Milly disekap oleh Arkan yang selamat dari masa kritis. Namun, alih-alih menyerahkannya ke polisi, Arkan yang paranoid terhadap musuh bisnisnya justru memanfaatkan kecerobohan Milly.
"Kau punya dua pilihan, Gadis Ceroboh. Membusuk di penjara atas tuduhan pembunuhan, atau menjadi istri kontrakku untuk memancing musuhku keluar."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Maya sabir, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 3
Milly mengira penderitaannya malam itu sudah cukup setelah dipaksa menandatangani kontrak "pemerasan" berwujud kertas pernikahan. Namun, tepat pukul enam pagi satu jam lebih cepat dari yang dijanjikan pintu kamarnya sudah digedor seperti ada kebakaran.
"Nona Milly, tim desainer dan penata rias sudah menunggu di ruang tengah," suara Bara terdengar datar dari balik pintu.
Milly mengerang, menyeret tubuhnya yang masih lemas ke kamar mandi. Setengah jam kemudian, ia melangkah turun ke ruang utama mansion dengan wajah setengah mengantuk. Langkahnya langsung terhenti saat melihat ruang tengah mansion kini berubah seperti butik kelas atas. Puluhan gaun pengantin putih mewah berpayet mutiara tergantung di gantungan beroda, dan lima orang asing sibuk menata kuas rias serta aksesori berkilau di atas meja kaca.
Di ujung ruangan, Arkan sudah duduk tegap. Ia mengenakan setelan jas formal abu-abu gelap yang melekat sempurna di tubuh tegapnya. Begitu melihat Milly turun, mata elang pria itu langsung memindai penampilannya yang berantakan dengan tatapan menilai.
"Kau terlambat lima menit," sambut Arkan dingin, melirik jam tangan miliarannya. "Dan lihat rambutmu. Seperti sarang burung."
"Saya baru bangun, Tuan. Lagipula ini masih jam setengah tujuh!" balas Milly jengkel, membetulkan letak kacamata bulatnya yang longgar.
Arkan tidak memedulikan protesnya. Ia menoleh ke arah desainer utama, seorang wanita paruh baya berpenampilan nyentrik. "Madam Clarissa, ubah gadis ceroboh ini menjadi wanita paling anggun dalam waktu satu jam. Kita ada konferensi pers dadakan jam sembilan."
"Konferensi pers?!" Milly memekik panik. "Tuan, saya belum siap mental jadi artis!"
"Kau bukan jadi artis, Milly. Kau sedang mengumumkan bahwa kau adalah milikku, agar musuhku tahu siapa yang harus mereka incar," ucap Arkan kejam dengan senyum tipisnya yang mematikan. "Bawa dia, Madam."
Sebelum Milly sempat kabur, tiga asisten Madam Clarissa sudah menarik lengannya dengan gesit, mendudukkannya di kursi rias, dan mulai bekerja dengan kecepatan penuh. Rambutnya disanggul modern dengan menyisakan beberapa helai membingkai wajah, kacamatanya disita membuat pandangannya sedikit buram dan wajahnya dipoles riasan flawless yang natural namun memikat.
Saat gaun putih pilihan Arkan dipasangkan ke tubuhnya, Milly hampir tidak mengenali dirinya sendiri di cermin. Gaun itu bermodel off-shoulder satin yang pas di pinggang rampingnya, menjuntai indah hingga ke lantai.
"Luar biasa... Anda sangat cantik, Nona," puji Madam Clarissa tulus.
Milly tersenyum canggung. Ia melangkah keluar dari balik tirai pembatas dengan sangat hati-hati, mengingat gaun ini panjang dan ia dilarang keras menambah masa kontrak pernikahannya karena merusak barang.
Arkan, yang sedang memeriksa beberapa berkas di tabletnya, mendongak. Untuk pertama kalinya, mata elang yang biasanya dingin dan tak tersentuh itu melebar sesaat. Tatapannya terkunci pada sosok Milly. Di bawah sapuan riasan dan gaun mewah, pelayan ceroboh yang mengesalkan itu tampak... sangat memikat.
Namun, kekaguman tersembunyi itu hanya bertahan tiga detik.
Kreeek.
Milly lupa bahwa ia memakai sepatu hak tinggi setinggi tujuh senti. Ujung gaun panjangnya terinjak oleh hak sepatunya sendiri saat ia mencoba melangkah mendekati Arkan.
"Eh—eh! Copot! Copot!" Milly memekik panik, tubuhnya kehilangan keseimbangan dan terhuyung maju ke depan.
"Nona Milly!" Bara berseru, refleks ingin menangkapnya.
Namun, tubuh Milly telanjur meluncur deras ke arah Arkan.
Bruk!!!
Alih-alih jatuh mencium lantai marmer, Milly jatuh tepat di atas pangkuan Arkan. Kedua tangannya refleks mengalung kuat di leher kokoh sang Presdir untuk mencari pegangan, sementara wajahnya terkubur di ceruk leher pria itu, menghirup aroma maskulin mint yang pekat.
Suasana ruangan seketika hening. Seluruh penata rias menahan napas berjamaah. Bara bahkan memalingkan wajahnya, bersiap melihat bosnya mengamuk karena aturan "jaga jarak satu meter" dilanggar secara tragis.
Milly membuka matanya perlahan, menyadari posisi mereka yang teramat dekat. Jantungnya berdegup kencang seperti mau copot saat merasakan detak jantung Arkan yang konstan di dada bidangnya.
Ia mendongak pelan, menatap rahang tegas Arkan yang mengeras. "T-Tuan Arkan... maaf, sepatu ini sepertinya punya dendam pribadi dengan saya..." bisik Milly dengan senyum meringis yang super polos.
Arkan menatap mata bulat Milly yang kini tanpa kacamata. Tangan kekar Arkan yang semula berada di pinggang Milly untuk menahan agar gadis itu tidak jatuh, perlahan mencengkeramnya sedikit lebih erat. Napasnya berembus hangat di kening Milly.
"Aturan pertama melanggar, satu tahun tambahan," bisik Arkan rendah, suaranya terdengar serak di telinga Milly. "Dan karena kau berani memelukku di depan umum... aku tambahkan satu tahun lagi."
Milly membulatkan matanya. "Hah?! Empat tahun?! Tuan, ini murni kecelakaan!"
Arkan tidak menjawab. Ia justru mengangkat tubuh kecil Milly dengan mudah, mendudukkannya dengan benar di kursi sebelah, lalu berdiri sambil merapikan jasnya yang sedikit kusut.
"Waktu habis. Bara, siapkan mobil. Panggung sandiwara kita sudah siap dimulai," perintah Arkan dingin, berbalik pergi menyembunyikan telinganya yang entah sejak kapan berubah sedikit memerah.
Milly hanya bisa merengut di kursinya, meratapi nasibnya yang kini entah bagaimana sudah terikat empat tahun penuh dengan sang iblis perfeksionis.
Konferensi pers dadakan diadakan di aula utama Mahendra Group. Puluhan wartawan dari berbagai media papan atas sudah memenuhi ruangan, saling berbisik spekulatif mengenai pengumuman darurat yang akan disampaikan oleh sang Presdir yang terkenal antipati terhadap pers. Kilatan lampu flash kamera mulai menyala bergantian, menciptakan atmosfer yang riuh sekaligus menegangkan.
Dari balik pintu samping panggung, Milly meremas buket bunga mawar putih di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Tanpa kacamata bulatnya, semua lampu di depannya tampak seperti piringan cahaya besar yang buram dan menakutkan. Kakinya yang dipaksa berdiri di atas hak tujuh senti masih terasa goyah.
"Tuan, saya mual. Boleh saya pingsan saja sekarang?" bisik Milly panik, menoleh ke arah Arkan yang berdiri di sampingnya dengan wajah tenang tanpa beban.
Arkan melirik Milly dari sudut matanya. Melihat bahu gadis itu yang gemetar kecil, ia menghela napas pendek. Tanpa diduga, Arkan mengulurkan tangan kekarnya, melingkarkan jemarinya yang hangat dan kokoh di pinggang ramping Milly, lalu menarik tubuh gadis itu agar lebih merapat ke sisinya.
"Ingat kontrakmu, Milly. Jika kau pingsan dan mengacaukan ini, aku akan menambahkan dua tahun lagi," ancam Arkan dengan suara baritonnya yang rendah, namun anehnya, kehangatan tangannya di pinggang Milly justru memberikan sedikit rasa aman. "Tegakkan kepalamu. Tersenyum."
Sebelum Milly sempat memprotes penambahan tahun yang semena-mena itu, pintu panggung terbuka.
Jepret! Jepret! Jepret!
Ratusan kilatan kamera langsung membombardir mereka begitu mereka melangkah masuk. Gemuruh suara bisik-bisik wartawan langsung memenuhi ruangan. Mereka semua syok melihat sang Presdir kejam yang biasanya tak tersentuh, kini berjalan dengan tangan yang mendekap posesif pinggang seorang wanita asing.
Arkan menuntun Milly duduk di kursi panjang di balik meja konferensi. Bara berdiri siaga di belakang mereka bersama beberapa pengawal bertubuh kekar.
Seorang wartawan senior langsung berdiri, mengarahkan mikrofon. "Tuan Arkananta! Siapa wanita di sebelah Anda? Apakah rumor yang mengatakan Anda menyembunyikan seorang wanita di mansion Anda itu benar?"
Arkan memajukan tubuhnya sedikit ke arah mikrofon, wajahnya tetap datar namun memancarkan otoritas yang mutlak. "Dia bukan sekadar wanita yang ku sembunyikan. Perkenalkan, dia Millyanta, calon istriku."
Ruangan langsung heboh. Suara jepretan kamera semakin menjadi-jadi.
"Tapi Tuan Arkan, latar belakang Nona Milly sama sekali tidak terdeteksi di kalangan silsilah keluarga terpandang! Bagaimana bisa Anda memutuskan menikah secara mendadak?" cecar wartawan lain.
Milly menelan ludah dengan susah payah. Pertanyaan itu mulai memojokkannya. Di duniaku yang biasa, pelayan hotel yatim piatu mana mungkin bersanding dengan penguasa bisnis sedunia?
Tiba-tiba, tangan Arkan yang berada di bawah meja meraih tangan Milly yang dingin dan gemetar, menggenggamnya dengan sangat erat. Sentuhan itu tegas, seolah sedang menyalurkan seluruh kekuatannya pada Milly.
"Aku tidak menikahi silsilah keluarga, aku menikahi wanita yang kuinginkan," jawab Arkan dengan nada dingin yang langsung membungkam seluruh ruangan. "Milly adalah satu-satunya wanita yang berhasil menarik perhatianku. Pernikahan kami akan digelar secara privat minggu depan. Dan siapa pun yang mencoba mengusik atau mengorek kehidupan pribadinya..." Arkan menjeda kalimatnya, matanya menatap tajam ke arah kamera dengan kilat mengancam. "...akan berhadapan langsung denganku."
Milly menoleh, menatap profil samping wajah Arkan dari jarak dekat. Di bawah sorot lampu panggung, ketegasan rahang pria itu dan binar protektif di matanya membuat jantung Milly berdesir aneh. Dia... hanya sedang bersandiwara untuk memancing musuhnya, kan? Tapi kenapa rasanya senyata ini?
Di tengah riuhnya pertanyaan wartawan yang kembali memberondong, di sudut belakang aula, seorang pria bertopi hitam tampak menurunkan pelatuk ponselnya setelah mengambil foto kedekatan Arkan dan Milly. Pria itu berbisik pada alat komunikasi di telinganya. "Bos, umpan sudah terpasang. Arkananta benar-benar membawa gadis pelayan itu ke mansionnya dan menjadikannya tameng."
Dari seberang sana, sebuah suara parau tertawa licik. "Bagus. Kalau begitu, kita mulai permainan yang sesungguhnya. Habisi gadis itu malam ini."