Setelah sang ayah—ketua mafia legendaris—tewas misterius, Livana ikut terlempar ke dunia novel dan menjadi Bellamy, si antagonis manja yang ditakdirkan mati tragis.
Kejutan besar menantinya! Jiwa sang Papa ternyata ikut bertransmigrasi menjadi ayah Bellamy. Namun, sang Papa terikat Sistem Novel yang akan mengurangi umurnya jika ia berani mengubah alur cerita.
Untungnya, jiwa barbar Livana adalah sebuah glitch yang kebal dari hukuman Sistem!
Menggunakan celah ini, duet maut ayah-anak mafia ini kompak bekerja sama mengacak-acak plot, menendang parasit manipulatif, dan memikat Dallas—si penguasa bayangan yang dingin.
Dua jiwa mafia vs satu Sistem Novel. Siapa yang akan menang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Jalinan Benang yang Kusut
Suasana di dalam kamar utama mansion Guinevere mendadak membeku. Keheningan yang mencekam merayap, mengikis sisa-sisa suara sirine alarm yang perlahan mulai mati di lantai bawah. Diane masih menatap Dallas dengan napas tertahan, sementara James yang merasakan ketegangan istrinya langsung mempererat pelukannya di pinggang Diane.
"Diane? Ada apa?" tanya James, sepasang mata mafianya menyipit, bergantian menatap istrinya dan Dallas yang masih berdiri di ambang pintu. "Kenapa kau menatap Dallas seolah-olah kau baru saja melihat hantu?"
Diane menggelengkan kepalanya pelan, jemarinya meremas kemeja James dengan erat. "James... pria itu... anak itu..."
Bellamy melepaskan pelukannya dari Diane, lalu menoleh ke arah Dallas dengan kening berkerut. Ia melangkah mendekati Dallas, menggenggam tangannya yang besar. "Mama mengenal Dallas? Skenario macam apa ini? Seingatku, Dallas belum pernah bertemu langsung dengan Mama seserius ini."
Dallas menarik napas dalam. Ia menundukkan kepalanya sedikit, memberikan penghormatan formal yang sangat sopan. "Selamat malam, Nyonya Guinevere. Maaf jika kehadiran saya di waktu sekacau ini mengejutkan Anda. Saya hanya memastikan Bellamy tiba dengan aman."
Suara bariton Dallas yang berat dan rendah itu seketika membuat Diane tersentak. Suara itu... persis sama dengan suara pria yang berbisik di depan makamnya di dalam mimpi gila itu.
"Kau... kau yang membawakan mawar putih ke makamku, bukan?" kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Diane.
"Hah? Mama bicara apa?" Bellamy membelalakkan matanya, menatap ibunya dengan pandangan cegil yang penuh kebingungan. "Makam? Mama masih hidup dan segar bugar di depan kami! Jangan bicara yang aneh-aneh!"
"Aku bermimpi... mimpi itu sangat nyata, Bellamy! James!" air mata mendadak menggenang di pelipis Diane. Ia menatap Dallas dengan tatapan yang sarat akan rasa terima kasih sekaligus rasa bersalah yang tak beralasan. "Di saat seluruh dunia mencampakkan kita, di saat rumah ini hancur, anak ini... anak dari Diego Costa ini yang berdiri sendirian membalaskan dendam untukmu, Bellamy! Dan dia yang menjaga makamku!"
Deg.
Mendengar nama ayahnya disebut dengan begitu gamblang oleh Diane, Dallas langsung menegakkan tubuhnya. Rahangnya mengeras. Langkah kakinya maju satu langkah, menuntut kejelasan.
"Nyonya Guinevere," suara Dallas mendalam, dipenuhi nada selidik yang tajam. "Bagaimana Anda bisa tahu nama asli ayah saya, Diego Costa? Dan mimpi apa yang sebenarnya Anda maksud?"
Dallas tentu tahu siapa ayahnya—dia baru saja bertarung bersama Diego di jalan lingkar luar. Namun, fakta bahwa Diane, istri dari James Guinevere yang tidak pernah berhubungan dengan masa lalu ayahnya, bisa mengetahui nama rahasia itu dan memimpikan masa depan alternatif novel asli... itu adalah hal yang tidak masuk akal bagi Dallas.
Bellamy bergantian menatap ibunya dan Dallas dengan otak yang bekerja cepat. 'Tunggu... jadi ingatan novel asli... juga merembes ke dalam mimpi Mama? Tapi kenapa harus Dallas yang muncul?' gumam Bellamy sangat rendah, hampir berupa bisikan.
James—atau Sylvester—melangkah maju, memposisikan dirinya di antara Dallas dan Diane. Rambutnya yang memutih pekat di bagian pelipis bergoyang sedikit.
"Dallas, kau ingin tahu kenapa istriku bisa tahu nama Diego Costa dan memimpikan hal itu?" James bersuara, menatap keponakan rahasianya itu dengan senyuman tipis yang sangat misterius. "Karena hubungan antara keluarga kita jauh lebih rumit daripada yang kau bayangkan. Dan mengenai mimpimu, Diane... itu bukan sekadar bunga tidur. Itu adalah sisa-sisa dari takdir sialan yang sudah resmi kuhancurkan malam ini."
"Apa maksud Anda, Tuan James?" Dallas menyipitkan matanya. "Ayahku bilang... Anda tahu apa maksudnya saat dia menyebut Anda 'Paman' di jalan tadi. Siapa sebenarnya Diego Costa bagi Anda?"
James terkekeh rendah, sebuah tawa bariton yang terdengar sangat berbahaya namun sarat akan kepuasan. "Kau ingin jawaban dari mulutku, atau dari mulut ayahmu sendiri? Pria tua itu sekarang sedang berdiri di gerbang depan mansionku bersama pasukannya. Dia sudah menunggumu, Dallas."
"Ayah... ada di bawah?" Dallas mengepalkan tangannya.
"Ya. Pergilah menemui dia," James menepuk pundak Dallas dengan keras—sebuah tepukan yang terasa seperti pengakuan darah seorang paman kepada keponakannya. "Bawa Bellamy bersamamu. Urusan di kamar ini adalah urusanku dengan istriku."
Bellamy menatap ayahnya, melihat perubahan warna rambut James yang memutih drastis membuat matanya menyipit curiga. "Papa... rambutmu... apa yang sudah Papa tukarkan dengan sistem malam ini?"
James hanya memberikan tatapan tajam yang mengisyaratkan Bellamy untuk diam di depan Diane. "Pergi, Bellamy. Jaga suamimu."
Bellamy menghela napas panjang, lalu kembali menjadi sosok cegil-nya. Ia menarik lengan Dallas dengan manja. "Ayo, Sayang. Papa Mertua sepertinya ingin mengobrol denganmu di bawah. Kita biarkan dua orang tua yang sedang lengket ini menyelesaikan urusan romantis mereka."
Dallas melirik Diane untuk terakhir kalinya. Sorot mata wanita itu benar-benar mengusik nuraninya. Di dalam mimpi itu... apakah dia benar-benar sedekat itu dengan keluarga Guinevere? Dallas memberikan anggukan hormat yang dalam, sebelum membiarkan dirinya ditarik oleh Bellamy keluar dari kamar utama.
Begitu pintu kamar kembali tertutup rapat, James langsung berbalik dan duduk di tepi ranjang, menggenggam kedua tangan Diane yang masih gemetar.
"James... tolong katakan padaku apa yang sebenarnya terjadi," bisik Diane, menyentuh rambut putih James dengan mata berkaca-kaca. "Kenapa kau berubah menjadi setua ini dalam semalam? Dan kenapa perasaan mimpi itu... terasa begitu nyata hingga dadaku sesak?"
James menarik tubuh Diane ke dalam pelukannya lagi, mengecup puncak kepala istrinya dengan penuh perasaan posesif yang tidak lagi bisa ia sembunyikan. "Jangan pikirkan mimpi itu lagi, Diane. Di sini, di dunia yang sekarang... kau tidak akan mati, Bellamy tidak akan hancur, dan aku... aku akan selalu ada di sini untuk mengunci pergerakanmu agar kau tidak bisa pergi ke mana-mana. Mengerti?"
"Kau egois, James..." gumam Diane di dalam dada James, meskipun ia membalas pelukan itu dengan sangat erat, merasakan detak jantung suaminya yang berdegup hanya untuk melindunginya.
"Aku memang egois," sahut James dengan seringai tipisnya yang tampan. "Dan kau harus terbiasa dengan keegoisanku ini sampai sisa umurku habis."
keren nih othor...
jadi alasan Sylvester masuk ke dunia novel untuk menyelamatkan ponakannya kali yaa... tapi belum tentu pasti plot twist lagi ah nanti... 🤣
ah di othor nih... bikin penasaran aja.. dibuat nama-namanya huruf depannya D semua lagi🤣
lagi tegang gini malah ngelawak Bellamy sama Dallas mah..🤣🤣
cerita nya seru, like + bunga🌹 , semangat😉