NovelToon NovelToon
The CEO'S Private Doctor

The CEO'S Private Doctor

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Cinta Seiring Waktu / Penyelamat
Popularitas:7k
Nilai: 5
Nama Author: neyrfly

​"Saya bayar Anda mahal bukan cuma untuk mengobati fisik saya, Dok. Tapi juga untuk tanggung jawab karena sudah membuat jantung saya berdegup tidak karuan."

​Menjadi dokter pribadi seorang Arkananta Pradipta—CEO arogan yang hobi mengatur—adalah bencana terbesar dalam hidup Ayana. Alih-alih fokus menyembuhkan trauma masa lalu Arka, Ayana malah terjebak dalam pusaran kontrak profesional yang fana, komedi situasi di luar nalar, dan perasaan terlarang yang perlahan mengoyak hatinya.

​Saat rahasia kelam masa lalu Arka mulai terkuak, sanggupkah jas putih Ayana bertahan menghadapi dosis cinta yang terlalu mematikan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neyrfly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

1. Pasien Seratus Miliar

"Dokter Ayana! Tolong, Dok! Ada pasien VIP ngamuk di UGD! Dok, plis jangan malah nambah cilok lagi ke mulut!"

Ayana Sheenaz yang saat itu sudah mangap lebar, sukses mengatupkan mulutnya kembali. Pentol cilok bumbu kacang super pedas yang sudah nempel di bibirnya terpaksa ia turunkan lagi ke dalam mangkok plastik. Dengan tatapan merana, Ayana menoleh ke arah Suster asistennya yang mukanya sudah pucat seolah baru saja melihat hantunya menteri kesehatan.

"Suster Nisa, kamu tahu kan hukumnya memotong kebahagiaan orang yang lagi makan aci?" tanya Ayana dengan nada dramatis, tangannya masih memegang tusuk sate. "Ini cilok legendaris depan RS. Kalau dingin, kenyalnya hilang!"

"Aduh, Dok, lupakan dulu urusan per-acian duniawi ini!" Suster Nisa menarik napas pas-pasan, bersandar di kusen pintu ruang poli internal. "Ini pasiennya Pak Arkananta Pradipta! Pemilik Pradipta Group yang bulan lalu baru beli setengah saham rumah sakit kita. Beliau kolaps di mobilnya tadi, tapi pas mau diperiksa Dokter residen, malah residennya yang mau dituntut pasal perbuatan tidak menyenangkan!"

Mendengar nama 'Arkananta Pradipta', kantuk dan hasrat makan cilok Ayana langsung menguap seketika. Siapa yang tidak kenal pria itu? Di umur yang baru kepala tiga, mukanya sudah sering nampang di majalah Forbes, punya rahang setajam silet cukur, tapi kelakuannya dikenal minus kalau menyangkut kesabaran. Intinya: kaya raya, tampan, tapi galak mirip herder.

"Kenapa dia menolak diperiksa?" Ayana berdiri, buru-buru mengelap bibirnya dengan tisu, lalu menyambar jas putihnya dari sandaran kursi.

"Katanya Dokter residennya terlalu muda dan baunya kayak minyak telon, Dok. Beliau minta dokter spesialis senior yang paling berpengalaman. Masalahnya, Dokter Spesialis yang lain lagi di ruang operasi semua!"

Ayana mendengus pelan sambil mengancingkan jas putihnya, lalu mengalungkan stetoskop di leher dengan gerakan cekatan. Di usianya yang masih dua puluh delapan tahun, Ayana sering dikira anak magang karena wajahnya yang imut-imut lokal. Tapi jangan salah, otaknya encer dan dia salah satu lulusan spesialis penyakit dalam termuda di angkatannya.

"Oke, mari kita lihat seberapa rewelnya pasien seratus miliar kita ini," ujar Ayana, melangkah keluar ruangan diikuti Suster Nisa yang komat-kamit berdoa.

Begitu Ayana menyibak tirai tebal bilik VIP UGD, hawa di dalam sana terasa langsung drop seperti masuk ke dalam freezer daging. Tiga orang pria berjas hitam berbadan tegap berdiri kaku mengelilingi brankar, sementara di atas brankar, sang objek utama sedang bersandar dengan posisi setengah duduk.

Arkananta Pradipta. Kemeja kerja mahalnya sudah terbuka tiga kancing teratas, memperlihatkan dada bidang yang naik-turun dengan tidak teratur. Rambut hitamnya yang biasa klimis kini agak berantakan, basah oleh keringat dingin. Wajahnya yang biasa angkuh terlihat pucat basi, tapi matanya yang tajam langsung menusuk ke arah Ayana saat wanita itu masuk.

"Keluar. Saya bilang panggil dokter senior, bukan bawa anak SMA pakai jas kedodoran ke sini," suara Arka terdengar serak, berat, namun penuh intimidasi yang mutlak.

Ayana sempat melirik jas putihnya sendiri—*hellow, ini ukuran M dan pas banget di badan gua ya!* batinnya emosi. Namun, sebagai dokter profesional, ia menahan diri untuk tidak melempar stetoskop ke muka tampan pria itu.

"Selamat siang, Pak Arka. Saya Dokter Ayana Sheenaz, Spesialis Penyakit Dalam yang bertanggung jawab di shift ini," ucap Ayana dengan senyum rumah sakit—senyum ramah yang standarnya sudah diatur SOP tapi aslinya palsu. "Kalian bertiga, tolong keluar dulu. Ruangan ini butuh sirkulasi udara, bukan kontes bodyguard."

Ketiga pengawal itu saling pandang, tidak berani bergerak sebelum ada perintah dari bos mereka.

"Saya bilang keluar, budeg ya?" suara Ayana mendadak naik satu oktav, auranya langsung berubah tegas khas dokter yang tidak bisa dibantah. "Pasien Anda sedang kekurangan oksigen. Kalau kalian mau bos kalian ini pingsan karena kalian menutupi jalur AC, silakan tetap berdiri di situ."

Arka memberikan isyarat lemah dengan lambaian tangannya. Ketiga pengawal itu akhirnya membungkuk hormat lalu mundur teratur keluar dari bilik tirai, menyisakan Ayana dan Arka berdua.

Ayana menarik kursi besi, duduk di samping brankar dengan santai. Ia meraih tensimeter digital, bersiap memasangnya ke lengan kiri Arka. Namun, baru saja ujung jarinya menyentuh kulit pergelangan tangan Arka untuk mencari denyut nadi, pria itu langsung menarik tangannya dengan kasar.

"Jangan sentuh saya dengan tangan sembarangan," desis Arka, matanya menyipit penuh permusuhan. "Saya mau dirujuk ke rumah sakit di Singapura sekarang juga. Siapkan ambulans."

Ayana menghela napas panjang. Ia melipat tangannya di dada, menatap Arka dengan pandangan menilai. "Pak Arka yang terhormat, jangankan ke Singapura, Anda jalan ke toilet depan UGD saja mungkin sudah ambruk duluan. Denyut nadi Anda terlalu cepat, napas Anda pendek-pendek, dan Anda berkeringat dingin. Sekarang, diam dan biarkan saya periksa, atau saya suntik obat tidur dosis tinggi biar Anda diam?"

Arka tertegun. Sepanjang hidupnya, dari jajaran direksi hingga model papan atas, semua orang bicara dengan nada memuja dan hati-hati di depannya. Baru kali ini ada perempuan mungil, wangi bumbu kacang tipis-tipis, yang berani mengancam akan menyuntik mati dirinya.

"Kamu..." Arka hendak membalas, tapi dadanya mendadak terasa dihantam oleh godam besar. Ia meringis keras, tangannya mencengkeram kemejanya tepat di area jantung. Napasnya makin tersengal, matanya mulai membelalak panik.

Melihat serangan itu datang lagi, sisi komedi Ayana langsung hilang, digantikan oleh mode dokter darurat. Tanpa permisi, ia menyambar lengan Arka, memasang manset tensimeter dengan cepat, lalu menempelkan bagian logam stetoskopnya ke dada kiri Arka yang terekspos.

Deg-deg-deg-deg-deg!

Suara jantung Arka berpacu gila-gilaan, seperti mobil F1 yang sedang ngebut di sirkuit. Tapi anehnya, suara katup jantungnya bersih. Tidak ada murmur, tidak ada suara cairan di paru-parunya. Ayana menatap layar tensimeter: 140/90, nadinya 125 kali per menit. Tinggi, tapi tidak mematikan untuk ukuran serangan jantung koroner.

Ayana memperhatikan wajah Arka lebih dekat. Pria itu memejamkan mata rapat-rapat, rahangnya mengeras, dan seluruh tubuhnya gemetar hebat. Ini bukan cerminan orang sakit fisik. Ini cerminan orang yang jiwanya sedang ditarik paksa ke dalam sebuah ketakutan yang amat sangat.

"Pak Arka, lihat saya," ujar Ayana, suaranya melembut, kehilangan seluruh nada judesnya yang tadi.

Arka tidak merespons, dia masih bergelut dengan ilusi sesak di dadanya. Di dalam kepalanya, suara decitan ban mobil yang mengerem mendadak dan suara ledakan tangki bensin belasan tahun lalu kembali menggema, membakar warasnya.

"Pak Arkananta, buka matamu!" Ayana sedikit menepuk pipi pria itu.

Sentuhan hangat di pipinya membuat Arka terpaksa membuka mata. Fokus matanya buram karena air mata cemas yang menggenang. Hal pertama yang ia lihat adalah sepasang mata bulat milik Ayana yang menatapnya dengan binar penuh keyakinan dan kedamaian.

"Tarik napas dari hidung... satu... dua... tiga... tahan... buang lewat mulut pelan-pelan," tuntun Ayana, ikut memperagakan gerakan napas dalam. "Ikuti saya. Anda aman di sini. Ini UGD, tidak ada bahaya. Tarik lagi..."

Arka mencoba mengikuti instruksi itu. Setelah melakukan siklus napas itu sebanyak lima kali, perlahan-balance tubuhnya yang kaku mulai mengendur. Cengkeramannya di kemeja melemah. Dadanya yang tadi terasa berbobot kuintal kini mulai terasa ringan kembali.

Ayana tersenyum tipis, menjauhkan stetoskopnya. "Bagus. Jantung Anda tidak apa-apa. Anda baru saja mengalami panic attack atau serangan panik."

Arka memalingkan mukanya ke samping, menghapus keringat di pelipisnya dengan kasar menggunakan punggung tangan. Sisa-sisa keangkuhannya buru-buru ia pungut kembali dari lantai. "Jangan sok tahu. Saya cuma kelelahan karena kurang tidur."

"Kelelahan tidak membuat orang dewasa gemeteran kayak anak kecil kehilangan ibunya di pasar malam, Pak," skakmat Ayana santai sambil merapikan alat-alatnya. "Akar masalah Anda ada di kepala dan mental Anda. Ada trauma yang belum selesai, kan?"

Pertanyaan Ayana membuat Arka membeku. Tepat saat itu, tirai UGD kembali tersibak. Paman Arka, pria paruh baya bertubuh tambun berjas parlente masuk bersama Direktur RS yang mukanya sudah penuh keringat.

"Arka! Ya ampun, kamu tidak apa-apa?" tanya pamannya panik. "Dokter Hendra, bagaimana keponakan saya? Dia ini aset negara! Bisnis Pradipta Group bisa mandek kalau dia kenapa-kenapa!"

Direktur RS langsung membungkuk. "Tenang Pak Handoko, Dokter Ayana adalah salah satu spesialis terbaik kami—"

"Dia tidak apa-apa fisik, tapi mentalnya butuh penanganan privat," potong Ayana berani, membuat Direktur RS melotot memberi kode 'jangan-cari-mati-kamu-Ayana'.

Paman Arka terdiam, lalu menatap Direktur RS dengan serius. "Kalau begitu, kami butuh dokter pribadi yang bisa memantau Arka dua puluh empat jam. Berapa pun biayanya, perusahaan yang bayar. Dokter Hendra, siapkan dokter senior terbaik Anda."

"Saya sudah ketemu dokternya," suara berat Arka memotong pembicaraan.

Semua orang di dalam bilik menoleh ke arah Arka. Pria itu kini sudah duduk tegak, merapikan kemejanya dengan ekspresi dingin nan angkuh yang sudah kembali seratus persen. Jari telunjuknya yang kokoh terangkat, menunjuk lurus ke arah wajah Ayana yang sedang memegang pulpen dengan cengo.

"Saya mau dia," ucap Arka dengan seringai tipis di sudut bibirnya. "Dokter Ayana Sheenaz. Dia yang akan jadi dokter pribadi saya mulai besok pagi."

"HAH?!" Ayana melotot sempurna. Pulpen di tangannya sukses tergelincir jatuh ke lantai, menggelinding tepat di bawah brankar Arka.

Dokter pribadi? Dua puluh empat jam sama singa arogan ini? Yang benar saja! Nasib cilok gua gimana?! batin Ayana menjerit histeris. Bersama dengan jatuhnya pulpen itu, takdir hidup tenang Ayana resmi dinyatakan berakhir.

.

.

Bersambung.....

1
Susilawati Susilawati
up lagi thor
Wardah Wilda
up nya yg banyak dong thor..biar semangat baca nya... please...🙏🙏
Hennyy exo
thor pliss up yg banyak ya🤭
💪💪
Hennyy exo
suka banget sama alur ceritanya😍
Hennyy exo
ahh suka banget sama alurnya thor
Hennyy exo
awas ya Arka nanti kamu jatuh cinta loh sama dokter aya🤣🤣
Hennyy exo
awal yg bagus thor
Wardah Wilda
awas ya Thor..klau up nya lama..🤭🤭🤭
neyrfly: siap kakk😍🤭
total 1 replies
Sri Rahayu
baru baca seru cerita na
neyrfly: makasi kakk🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!