NovelToon NovelToon
Dihamili Adiknya Dinikahi Kakaknya

Dihamili Adiknya Dinikahi Kakaknya

Status: sedang berlangsung
Genre:Hamil di luar nikah / Pengantin Pengganti
Popularitas:99.6k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

Diana yang masih duduk di bangku SMA merasa sedih,karena dia dinyatakan hamil.

Diana tak tahu jika cinta satu malam yang terjadi antara dirinya dengan Gaga,teman sekelasnya karena pengaruh minuman keras,bisa menghasilkan benih yang tumbuh di rahimnya.

Diana dan orangtuanya meminta pertanggung jawaban dari Gaga,tetapi Gaga menolak,karena dia tak ingat apapun yang terjadi dengan Diana malam itu, Gaga malah memojokkan Diana dan menghinanya,seolah Diana adalah gadis murahan.

Dengan hati yang sakit, Diana dan keluarganya pulang ke rumah mereka,mengubur harapan untuk bisa mendapatkan keadilan untuk Diana.

Tetapi Devan 29 tahun,Kakak kandung Gaga datang dan bersiap untuk menikahi Diana,dia juga bersedia untuk menjadi Ayah dari anak benih adiknya sendiri.

Seperti apa kelanjutan hubungan mereka?
Akankah Devan mencintai Diana dan sebaliknya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

Devan benar-benar menepati janjinya. Setiap malam, tanpa gagal, ia datang ke kamar Diana. Meskipun dengan cara sembunyi-sembunyi agar orang tua Diana tidak tahu, kehadirannya selalu memberikan kehangatan tersendiri bagi Diana.

Mereka menghabiskan waktu berbicara, terkadang hanya dalam hening, namun hening yang nyaman. Perlahan, Diana mulai merasa lebih baik. Senyum yang jarang terlihat kini sering menghiasi wajahnya. Meskipun terkadang kesedihan masih menyelinap, keberadaan Devan mampu mengusir sepi dan membuatnya merasa lebih hidup lagi.

Di malam-malam berikutnya, Devan sering membawakan sesuatu untuk menghibur Diana. Entah itu bunga kecil yang ia beli sejak siang, atau sekadar lelucon bodoh yang membuat Diana tertawa kecil.

Diana terkejut melihat sisi Devan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya—sisi yang perhatian, yang selalu berusaha membuatnya tersenyum. Devan, yang dulu dikenal dingin dan cuek, perlahan menunjukkan bahwa ia bisa berubah demi Diana.

Malam-malam itu berubah menjadi momen yang ditunggu-tunggu oleh Diana. Ia mulai menanti kedatangan Devan setiap malam, dan perasaan rindu yang dulunya menyakitkan kini berubah menjadi sesuatu yang hangat.

Devan akan bercerita tentang harinya, tentang bagaimana ia mencoba meyakinkan keluarganya, terutama ibunya, untuk berhenti menghalangi hubungan mereka. Diana akan mendengarkan dengan saksama, meskipun hatinya masih dibebani oleh satu hal yang besar: larangan ayahnya.

Setiap kali mereka berbicara, bayang-bayang larangan Tuan Riddick selalu menghantui Diana. Ayahnya sudah dengan tegas melarangnya untuk berhubungan lagi dengan Devan, dan Diana tahu, tak peduli seberapa besar ia ingin bersama Devan, ia tidak bisa mengabaikan perintah ayahnya.

Tuan Riddick bukanlah sosok yang mudah diajak bernegosiasi, dan Diana tahu bahwa jika ayahnya mengetahui Devan masih datang, hubungan mereka bisa berakhir lebih buruk.

*

*

*

Suatu malam, setelah mereka bercengkrama dan tertawa, Diana akhirnya memberanikan diri untuk membicarakan hal yang selama ini menghantui pikirannya.

“Kak, aku nggak tahu harus bagaimana,” ucapnya, suaranya bergetar. “Papa nggak akan pernah setuju kita bersama lagi. Aku takut kalau kita lanjut seperti ini, semuanya akan semakin sulit.”

Devan menatap Diana, wajahnya berubah serius. “Saya tahu, Diana. Saya tahu ini nggak mudah, tapi saya yakin, kalau kita bersama-sama, kita bisa menemukan jalan keluarnya. Saya akan bicara lagi dengan Papa kamu di waktu yang tepat. Saya akan buktikan kepadanya kalau saya serius sama kamu.”

Diana menggeleng pelan. “Aku takut, Kak. Papa terlalu keras. Aku nggak ingin kamu terluka, dan aku juga nggak mau membuat keluargaku kecewa.”

Devan menggenggam tangan Diana erat, mencoba memberikan rasa aman. “Kita nggak perlu buru-buru. Saya akan terus datang, terus berusaha. Kalau Papa kamu masih nggak setuju, saya akan tetap menunggu. Saya nggak akan pergi dari kamu, Diana. Saya janji.”

Meskipun kata-kata Devan menenangkan, hati Diana masih belum sepenuhnya yakin. Ia sangat mencintai Devan, namun rasa hormat dan takut kepada ayahnya membuatnya merasa terjebak di antara dua pilihan yang sulit.

Meskipun begitu, Diana tak bisa memungkiri bahwa kedekatannya kembali dengan Devan telah mengobati banyak luka yang dulu terasa tak mungkin sembuh.

*

*

*

[Beberapa Hari Kemudian]

Di malam yang dingin, Devan datang lagi ke kamar Diana. Mereka duduk berdua di tepian ranjang dan mengobrol.

Setelah itu, keheningan menyelimuti mereka beberapa saat, Diana mengumpulkan keberanian untuk membuka topik yang selama ini membebaninya. Ia menggigit bibirnya, ragu, sebelum akhirnya berkata, "Kak Devan... aku nggak tahu sampai kapan kita bisa terus seperti ini."

Devan menoleh, tatapannya serius. "Maksud kamu apa, Diana?"

Diana menarik napas panjang, menunduk menatap tangannya yang saling menggenggam erat. "Papa... Papa nggak akan pernah setuju, Kak. Setiap kali kamu datang, aku selalu khawatir. Bagaimana kalau Papa tahu? Bagaimana kalau ini semua ketahuan?"

Devan mendekat, duduk di samping Diana di tepi ranjang, lalu menggenggam tangannya. "Saya paham kamu takut, Di. Tapi kamu nggak perlu menghadapi semua ini sendirian. Saya di sini buat kamu. Saya janji, saya akan terus berusaha meyakinkan Papa kamu."

Diana menatap mata Devan, matanya berkilat cemas. "Tapi... sampai kapan, Kak? Kamu tahu Papa keras kepala. Dia nggak akan berubah pikiran semudah itu. Aku juga nggak mau kamu terluka. Aku nggak mau semuanya semakin rumit."

Devan menghela napas, menyentuh pipi Diana dengan lembut. "Saya akan terus datang, Di. Saya nggak peduli sekeras apa pun Papa kamu. Yang penting, saya tahu saya nggak mau kehilangan kamu lagi. Saya akan bicara sama beliau, lagi dan lagi, kalau perlu. Saya akan tunjukkan kalau saya pantas buat kamu."

Diana menggigit bibirnya, merasa terharu sekaligus takut. "Tapi, bagaimana kalau... kalau semuanya malah berakhir buruk? Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Kak, tapi aku juga nggak bisa melawan Papa."

Devan menatap Diana dengan lembut, lalu menariknya ke dalam pelukan. "Kita nggak perlu buru-buru, Di. Saya nggak akan memaksa kamu buat ambil keputusan sekarang. Kita akan cari jalan keluarnya bersama. Tapi satu hal yang pasti, saya nggak akan pergi ke mana-mana. Saya akan tetap ada di sini buat kamu (selalu ada dalam hati)."

Diana menghela napas dalam pelukan Devan, merasa sedikit lebih tenang. "Aku hanya takut... takut kalau pada akhirnya kita nggak akan bisa bersama."

Devan mengeratkan pelukannya. "Saya nggak akan menyerah, Di. Selama kamu masih mencintai saya, kita pasti bisa melewati ini. Kita kuat kalau bersama."

Diana terdiam sejenak, merenung. "Aku... aku mencintai kamu, Kak. Itu nggak pernah berubah. Tapi aku juga nggak mau melukai Papa. Kalau saja Papa bisa melihat kamu seperti aku melihat kamu... mungkin semuanya akan berbeda."

Devan tersenyum tipis, lalu mengangkat dagu Diana agar menatapnya. "Saya percaya, suatu saat nanti Papa kamu akan melihat saya dari sisi yang berbeda. Tapi sampai saat itu tiba, kita akan hadapi ini pelan-pelan, oke?"

Diana mengangguk pelan, lalu membalas senyuman Devan dengan senyum yang lemah namun tulus. "Oke, Kak. Aku akan coba percaya sama kamu, sama kita."

Diana dan Devan duduk bersebelahan di tepian ranjang, suasana malam yang tenang membuat hati mereka berdegup lebih kencang. Setelah beberapa waktu bercengkerama dan berbagi cerita, Devan merasakan ada sesuatu yang menggebu dalam dirinya. Ia menatap Diana dengan lembut, matanya penuh rasa sayang yang mendalam.

“Di, aku merindukanmu,” ucap Devan, suaranya lembut namun tegas. Diana merasakan kehangatan yang meluap dari tatapan Devan, membuat hatinya bergetar.

Diana membalas tatapan Devan, merasakan cinta dan kerinduan yang sama. “Aku juga, Kak. Setiap malam tanpa kehadiranmu terasa kosong.”

Mendengar jawaban itu, Devan mendekat. Ia menyentuh pipi Diana dengan lembut, jari-jarinya yang hangat membuat Diana merasa nyaman. Tanpa sadar, mereka berdua semakin dekat, hingga bibir mereka nyaris bersentuhan.

Dengan hati-hati, Devan menyentuhkan bibirnya ke bibir Diana dalam sebuah ciuman lembut. Awalnya hanya sebuah ciuman singkat, namun keduanya merasakan getaran yang menyentuh di antara mereka. Diana membalas ciuman itu dengan lembut, dan dalam sekejap, dunia di sekitar mereka lenyap.

Devan merasakan kelembutan bibir Diana, dan ciuman mereka pun semakin dalam, penuh rasa cinta dan kerinduan yang telah lama terpendam. Saat itu, semua ketakutan dan kekhawatiran seolah menghilang, digantikan oleh kehangatan yang membara antara mereka.

Setelah beberapa saat, Devan menarik sedikit wajahnya, masih memegang pipi Diana. “Aku akan selalu berjuang untuk kita, Di,” bisiknya dengan tulus.

Diana menatap mata Devan, merasakan ketulusan dan komitmen yang dalam. “Aku percaya padamu, Kak. Kita akan melewati semua ini bersama.”

Dengan ciuman lembut yang terukir di bibir mereka, keduanya merasa terhubung lebih dari sebelumnya, seolah semua beban yang mereka pikul seolah terangkat, dan malam itu menjadi saksi cinta mereka yang tulus dan abadi.

Devan kembali mengecup bibir Diana, memberikan sentuhan hangat yang mendebarkan pada wanita muda yang sangat dicintainya. Diana tak menolak, dia justru sangat bahagia karena Devan sangat mencintainya.

Bersambung...

1
Elmi Varida
ceritanya bagus, buat kita penasaran recomen banget. nyesel yg blm baca.
Elmi Varida
ya...susul dong...masa gitu aja mesti diajarin.😤
Retno Harningsih
lanjut
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
dev kamu harus jaga diana,gimana caranya,jangan sampai mama mu mengambil alih kekuasaan,sehingga kau berpisah dengan istrimu
Retno Harningsih
lanjut
Naufal Affiq
semangat diana,suami mu menunggu mu
Retno Harningsih
lanjut
Naufal Affiq
dengar dulu tuan,yang mau di omongin gaga lho,jangan langsung emosi
Naufal Affiq
jangan keras kepala dev,mau sampai kapan kamu ingin menyembunyikan ini sama diana,biar dia tau keadaan mu sekarang,biar diana tidak berpikiran yang aneh -aneh tentang lho dev
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
semangat dev,ingat ada istri mu yang menunggu kehadiranmu
Naufal Affiq
Devannnnnnn,dimana dirimu sekarang
Naufal Affiq
mana suami mu di,kenapa gak muncul,kamu lagi hamil,suami mu gak ada di sisi mu
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
kak sampai lupa ceritanya,perlu di ulang lagi kak,karena sudah lama gak up lho
Lisdaa Rustandy: maaf ya sayang, aku sibuk di pf sebelah soalnya
total 1 replies
mimin
lanjutannya
Lisdaa Rustandy: nanti aku coba lanjut lagi ya kalo sempet🙏
total 1 replies
mimin
aku suka karya yha kak..
Naufal Affiq
kak kapan up nya,sudah lama menunggu cerita selanjutnya.
Liyan Damiyanti
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!