Wang Hao, Kaisar Tertinggi Dunia Dou Li, mati secara misterius di puncak kejayaannya. Murid muridnya bersumpah mencari pelaku. Namun jiwa Wang Hao justru bangkit di tubuh pemuda lemah bernama Chen Nan di tempat lain. Kematiannya sendiri adalah misteri terbesar. Siapa yang mampu membunuh sosong sepertinya? Atau ada rahasia lebih kelam di balik kematiannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zerro One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 11. Jimat dan Utusan
Wang Hao mulai menggambar dengan pelan, setiap goresan kuas di atas kertas jimat dilakukan dengan ketelitian yang hanya dimiliki oleh seseorang yang telah menguasai formasi selama puluhan ribu tahun. Tinta hitam mengalir dari bulu kuas membentuk pola-pola rumit yang saling bertautan, menciptakan alur energi yang hanya bisa dibaca oleh mereka yang memahami seni formasi tingkat tinggi.
Ia menanamkan beberapa formasi untuk menyimpan niat pedangnya. Setiap jimat yang selesai digambar akan menyala samar selama beberapa detik, lalu kembali redup ketika energi pedang yang terkandung di dalamnya tersegel sempurna. Proses itu berlangsung berulang-ulang, satu jimat demi satu jimat, dari pagi hingga matahari mulai condong ke barat.
Karena kultivasinya masih lemah, ia hanya mampu membuat sepuluh jimat. Masing-masing mengandung niat pedang dengan kekuatan yang bisa menghancurkan seorang kultivator Pendirian Fondasi tahap akhir. Itu bukan kekuatan yang besar menurut standarnya di kehidupan sebelumnya, tetapi cukup untuk berjaga-jaga jika sesuatu yang buruk terjadi.
Menjelang sore, Wang Hao menyelesaikan jimat terakhir. Ia segera menyimpan sisa kertas jimat, tinta, dan kuas ke dalam cincin ruang. Wajahnya pucat, peluh dingin mengucur dari pelipisnya, dan napasnya sedikit tersengal. Menggambar formasi dengan energi spiritual sekecil ini benar-benar menguras tenaga dan energinya.
Ia mengeluarkan sisa arak dari kemarin, lalu merebahkan diri di kursi rotan. Tangannya yang sedikit gemetar membawa kendi arak ke bibirnya, meneguknya perlahan, merasakan cairan hangat itu mengalir melalui tenggorokannya.
Pikirannya melayang pada murid-murid yang ia tinggalkan di Dunia Dou Li. Gu Xuan, Yue Ning, Tuo Sen... tiga murid yang telah mengikutinya selama ribuan tahun. Wang Hao tidak merasa sedih. Ia hanya berharap saat ia kembali ke Dunia Dou Li nanti, mereka masih tetap dengan karakter yang sama seperti terakhir kali dia mengenal mereka.
Tiga jam berlalu dalam keheningan. Malam turun menyelimuti Kota Lanyu, dan Wang Hao tetap di kursi rotannya dengan mata terpejam, memulihkan energi spiritualnya.
Ketika bulan sudah naik cukup tinggi, suara langkah kaki yang tergesa-gesa memecahkan keheningan. Wang Hao membuka matanya. Gu Yan muncul dari arah toko depan dengan napas terengah-engah, wajahnya pucat dan dipenuhi kecemasan yang jauh lebih buruk dari sebelumnya.
"Tuan Muda!" Gu Yan berhenti tepat di depan Wang Hao sambil memegangi lututnya. "Klan Sheng mengirim utusan untuk mengundang Tuan Muda. Dan mereka menangkap Lao Fan!"
Wang Hao tidak langsung menjawab. Ia tetap duduk di kursi rotannya, menatap Gu Yan dengan ekspresi tenang yang tidak berubah sedikit pun. Hanya matanya yang sedikit menyipit.
"Kapan Lao Fan ditangkap?"
"Siang tadi! Aku baru tahu sekarang karena salah satu pelangganku melihat Lao Fan diseret oleh beberapa orang berjubah hitam di sekitar pasar. Aku sudah mencoba mencari informasi, dan ternyata... ternyata Klan Sheng memang mengirimkan undangan ini setelah menangkapnya."
"Di mana utusan itu sekarang?"
"Di depan toko." Gu Yan menyeka keringat di dahinya dengan lengan baju. "Dia bilang Patriark Sheng ingin bertemu langsung dengan Tuan Muda. Dia tidak mau bicara denganku."
Wang Hao bangkit dari kursi rotannya. Gerakannya tenang dan terukur, tidak menunjukkan ketergesaan sedikit pun. Ia melipat kursi rotan itu dan memasukkannya ke dalam cincin ruang, lalu melangkah menuju toko depan.
Gu Yan mengikuti di belakangnya. "Tuan Muda, ini jelas jebakan. Mereka sudah menangkap Lao Fan, sekarang mereka ingin menangkapmu juga. Aku tidak tahu apa yang mereka inginkan, tapi..."
"Dia hanya utusan," potong Wang Hao. "Kita lihat dulu apa yang dia katakan."
Di dalam toko, seorang pria berjubah hitam dengan emblem pedang bersilang di dadanya berdiri di dekat pintu. Wajahnya keras dengan rahang persegi dan mata yang memancarkan aura seseorang yang terbiasa memaksakan kehendak. Di pinggangnya terselip pedang pendek dengan sarung berwarna merah tua. Kultivasinya berada di Kondensasi Qi lapis kedelapan.
Begitu Wang Hao muncul dari balik pintu belakang, pria itu langsung menatapnya dengan sorot meremehkan.
"Kau pasti pemuda yang disebut-sebut sebagai pembuat resep pil pencahar itu," katanya dengan suara berat. "Aku utusan dari Klan Sheng. Patriark Sheng ingin bertemu denganmu."
Wang Hao menatap pria itu dengan ekspresi datar. "Untuk apa?"
"Itu urusan Patriark, bukan urusanku." Pria itu menyilangkan tangannya. "Kau diminta datang sekarang juga, jangan membuat Patriark menunggu."
"Dan jika saya menolak?"
Pria itu tersenyum dingin. "Lao Fan, si alkemis tua itu, sudah lebih dulu menunggu di kediaman Klan Sheng. Aku yakin kau tidak ingin terjadi sesuatu padanya."
Gu Yan mengepalkan tangannya dengan marah, tetapi Wang Hao tetap tenang. Ia sudah menduga seseorang akan melakukan sesuatu seperti ini. Menculik seseorang yang penting bagi operasi Balai Ramuan Giok Hijau, lalu memaksa pihak lain untuk datang.
Itu taktik yang sangat umum yang sudah dia lihat ribuan kali.
"Baiklah," kata Wang Hao singkat. "Saya akan ikut."
"Tuan Muda!" Gu Yan melangkah maju dengan cemas. "Ini berbahaya! Setidaknya biarkan aku ikut..."
"Tidak perlu." Wang Hao menoleh ke arah Gu Yan. "Anda tetap di sini jaga toko."
Gu Yan ingin membantah, tetapi sorot mata Wang Hao menghentikannya. Mata itu bukan mata pemuda biasa. Mata itu adalah mata seseorang yang tahu persis apa yang sedang ia lakukan.
Utusan itu mendengus. "Cepat. Aku tidak suka menunggu."
Ia berbalik dan melangkah keluar dari toko. Wang Hao mengikutinya dengan langkah tenang, sementara Gu Yan berdiri di ambang pintu dengan tangan gemetar.
Di luar, malam sudah sepenuhnya gelap. Lentera-lentera minyak di sepanjang jalan batu memberikan cahaya redup yang berkedip-kedip diterpa angin malam. Jalanan masih ramai oleh para pedagang malam dan kultivator yang berlalu-lalang, tetapi tidak ada yang memperhatikan dua orang yang berjalan ke arah utara.
Mereka melewati tiga persimpangan, lalu berbelok ke sebuah jalan lebar yang dipenuhi oleh bangunan-bangunan besar. Di ujung jalan itu berdiri sebuah gerbang batu tinggi dengan dua patung singa batu di sisinya. Di atas gerbang tergantung papan kayu besar dengan tulisan "Klan Sheng" dalam karakter emas.
Dua penjaga berdiri di depan gerbang dengan pedang di pinggang. Ketika mereka melihat utusan itu, mereka langsung membuka gerbang tanpa bertanya.
Wang Hao mengikuti utusan, dan melangkah masuk.
Setelah di dalam, dia melihat halaman depan Klan Sheng yang sangat luas. Lentera-lentera merah menggantung di sepanjang dinding, menerangi jalan setapak dari batu yang mengarah ke bangunan utama. Di kiri dan kanan jalan berdiri beberapa kultivator berjubah hitam yang semuanya memandang Wang Hao dengan sorot waspada.
Utusan itu terus berjalan menuju aula utama. Wang Hao mengikutinya tanpa mengubah kecepatan langkahnya. Kedua matanya bergerak cepat, mengamati setiap detail di sekitarnya: jumlah pengawal, posisi mereka, tingkat kultivasi mereka, dan jalur keluar yang tersedia.
Setelah sampai di depan Bangunan utama Klan Sheng, Wang Hao masuk dengan langkah ringan. Di dalam aula besar terdapat pilar-pilar kayu merah yang menjulang tinggi. Di dalamnya, deretan lilin menyala di sepanjang dinding, memberikan cahaya yang cukup untuk menerangi seluruh ruangan.
Di tengah aula, duduk seorang pria tua berjubah sutra hitam dengan sulaman emas di bagian lengan. Rambutnya sudah seluruhnya putih, tetapi wajahnya masih terlihat muda seperti pria paruh baya, yang memancarkan wibawa tajam seperti pedang. Kedua matanya yang abu-abu menatap Wang Hao dengan sorot yang sulit diartikan.
Kultivasinya berada di Pendirian Fondasi tahap awal.
Di sebelahnya, berlutut Lao Fan dengan tangan terikat di belakang punggung. Jubah abu-abunya robek di beberapa bagian, dan ada memar di pipinya, tetapi ia masih hidup dan sadar. Ketika ia melihat Wang Hao, matanya membelalak lebar.
"Tuan Muda! Jangan...!"
Seorang pengawal yang berdiri di sampingnya segera membungkam mulut Lao Fan dengan kain.
Patriark Sheng mengangkat tangannya pelan, memberi isyarat kepada utusan itu untuk mundur. Pria itu membungkuk hormat, lalu berjalan keluar dari aula, meninggalkan Wang Hao yang berdiri sendirian di depan Patriark Sheng.
Keheningan menggantung di antara mereka selama beberapa saat. Patriark Sheng menatap Wang Hao dengan sorot yang penuh perhitungan, seolah-olah sedang menimbang-nimbang nilai pemuda di hadapannya.
"Aku sudah mendengar banyak tentangmu," katanya akhirnya. "Pemuda misterius yang muncul entah dari mana, memberikan resep pil pencahar berkualitas tinggi, dan mengajari Lao Fan metode alkemis yang belum pernah terlihat sebelumnya. Menarik... sangat menarik."
Wang Hao tetap diam.
Patriark Sheng menyandarkan punggungnya ke kursinya. "Aku akan bicara terus terang. Aku ingin resep dan metode itu. Berikan padaku, dan aku akan melepaskan Lao Fan. Aku bahkan akan memberimu posisi di Klan Sheng sebagai penasihat alkemis. Kau akan hidup berkecukupan dan tidak perlu khawatir tentang apa pun lagi."
Ia mencondongkan tubuhnya ke depan. "Tolak, dan Lao Fan akan mati. Setelah itu, kau akan menyusulnya. Pilihan ada di tanganmu."