"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kamar 309
Dentuman musik edm dari lantai bawah kelab malam The Eclipse terasa sampai ke dinding-dinding lorong VIP di lantai tiga. Namun, bagi Rayyan wijaya (32 tahun), suara itu terdengar samar di balik rasa pening yang luar biasa yang tiba-tiba menyerang kesadarannya.
Sebagai CEO Wijaya Group sekaligus konglomerat terkaya di kota ini, Rayyan sangat waspada. Tapi malam ini, dia kecolongan.
"Brengsek... Bagas benar-benar memasukkan sesuatu ke minumanku," desis Rayyan, mencengkeram kerah kemejanya yang sudah setengah terbuka.
Saingan bisnis terbesarnya itu sengaja menjebaknya dalam perayaan proyek malam ini. Rayyan tahu, Bagas pasti sudah menyiapkan wartawan atau skandal untuk menjatuhkan reputasi besar Wijaya Group. Dengan sisa-sisa kesadaran yang kian menipis dan tubuh yang mendadak terbakar gairah aneh, Rayyan berhasil lolos dari ruang privat dan memesan kamar suite di kelab tersebut untuk bersembunyi.
Di dalam kamar yang remang-remang, Rayyan ambruk di atas ranjang king size, berjuang melawan efek obat bius yang membakar darahnya.
Sementara itu, di lorong yang sama, seorang gadis berjalan terhuyung-huyung sambil memegangi kepalanya. Aira Kirana (20 tahun), seorang mahasiswi semester 3 jurusan Akuntansi, malam ini merasa dunia begitu kejam padanya.
Aira adalah gadis polos yang terbiasa hidup mandiri sejak orang tuanya bercerai saat ia masih berusia 5 tahun. Dia jarang keluar rumah, apalagi ke tempat seperti ini. Namun malam ini, beberapa teman kampusnya menjebaknya. Mereka berpura-pura merayakan ulang tahun salah satu teman, lalu diam-diam memasukkan alkohol berkadar tinggi ke dalam jus jeruk Aira.
"Aira, kamar kamu nomor 306 ya, di ujung lorong. Masuk aja, kunci layarnya udah dibuka," bisik salah satu temannya tadi sebelum meninggalkannya sendirian.
Mereka berniat mengerjai Aira secara kejam dengan memasukkannya ke kamar yang sudah disewa untuk beberapa preman bayaran.
Namun, pandangan Aira sudah mengabur. Efek alkohol membuat matanya tidak bisa membaca angka dengan jelas. Angka 309 terlihat seperti 306 di matanya. Dengan tangan gemetar, Aira mendorong pintu kamar nomor 309 yang kebetulan tidak terkunci rapat karena Rayyan terlalu lemas saat masuk tadi.
Cklek.
Suasana kamar itu gelap gulita, hanya diterangi lampu kota dari balik jendela kaca besar. Aira menutup pintu, lalu meraba-raba dinding. Tubuhnya terasa sangat panas, dan kepalanya berputar hebat.
"Dingin..." gumam Aira saat kakinya menyentuh karpet tebal. Dia melepaskan tas selempang kecilnya dan berjalan asal menuju ranjang, mencari tempat untuk merebahkan diri.
Namun, begitu tubuhnya menyentuh kasur, dia tidak mendarat di atas seprai empuk, melainkan di atas dada bidang seseorang yang terasa seperti batu membara.
"Siapa?!" Sebuah suara berat, serak, dan penuh ancaman terdengar di kegelapan.
Rayyan langsung mencengkeram pergelangan tangan Aira. Napas pria itu memburu, aroma maskulin yang bercampur dengan hawa panas menguar dari tubuhnya. Obat bius di dalam tubuh Rayyan bergolak hebat saat merasakan kulit halus seorang wanita menyentuhnya.
"S-sakit... panas..." Aira tidak menjawab pertanyaan Rayyan. Gadis itu justru meracau, air matanya menetes karena rasa tidak nyaman yang asing di sekujur tubuhnya. Sentuhan tangan Rayyan yang dingin di pergelangan tangannya justru terasa seperti penawar.
Rayyan, yang awalnya mengira ini adalah wanita bayaran utusan Bagas, tertegun saat melihat sekilas kepolosan di wajah gadis di bawahnya ini. Aroma tubuh Aira bukan wangi parfum mahal yang menggoda, melainkan aroma manis vanila yang menenangkan.
"Kau... siapa yang mengirimmu?" tanya Rayyan dengan suara rendah, menahan diri dengan sekuat tenaga di atas tubuh Aira.
"Mamah... Papah... kenapa tinggalin Aira..." gumam Aira lirih, kesadarannya telah hilang sepenuhnya, digantikan oleh trauma masa kecil yang selalu muncul saat dia merasa tidak berdaya.
Mendengar racauan itu, jantung Rayyan berdegup kencang. Namun, efek obat di tubuh Rayyan sudah mencapai batasnya. Logika sang CEO Wijaya Group bertekuk lutut di hadapan insting purba yang membakar jiwanya.
"Maafkan aku... kau sendiri yang masuk ke kamarku," bisik Rayyan serak.
Malam itu, di dalam kamar nomor 309, dua takdir yang berbeda arah dipertemukan oleh kesalahan fatal. Di bawah pengaruh obat dan alkohol, sang CEO yang dingin dan mahasiswi akuntansi yang polos itu melewati malam yang akan mengubah seluruh hidup mereka selamanya.