Arya Mahendra, seorang Kaisar Immortal dari Alam Semesta Atas, dikhianati saat melewati Kesengsaraan Surgaw. Alih-alih mati, jiwanya terlempar kembali ke masa lalu, masuk ke dalam tubuhnya sendiri saat ia masih menjadi mahasiswa miskin berusia 19 tahun di Bumi yang sering ditindas dan kehilangan keluarganya karena konspirasi konglomerat lokal.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Petir Menyambar Semut, Kematian Tuan Muda
Di luar Formasi Ilusi Pengunci Surga, belasan pria berotot yang mengenakan seragam tempur hitam dengan lambang harimau besi berdiri mengepung gerbang. Mereka memancarkan aura tenaga dalam yang ganas, menekan udara di sekitar hingga terasa berat.
Di tengah mereka, Tuan Muda Jin—pemuda arogan dengan pakaian sutra mahal dan kipas lipat di tangannya—menatap kabut putih di depannya dengan ketidaksabaran yang memuncak.
"Hancurkan kabut sialan ini! Beraninya seekor kura-kura daerah bersembunyi dari Aliansi Bela Diri Ibukota!" perintah Jin, menendang kerikil di dekat kakinya.
Dua anggota Pasukan Harimau Besi melangkah maju, memusatkan tenaga dalam ke telapak tangan mereka, dan menghantamkan pukulan ke arah kabut. Namun, alih-alih meledak, pukulan mereka seolah ditelan oleh rawa tak berdasar. Tidak ada suara, tidak ada getaran.
"Tuan Muda, formasi ini agak aneh. Energi kita diserap mentah-mentah," lapor salah satu pengawal dengan dahi berkerut.
"Minggir, kumpulan sampah tak berguna!" Jin mendengus kesal. Ia baru saja hendak mencabut pedang pusaka di pinggangnya ketika tiba-tiba kabut di depan mereka bergulung hebat dan membelah menjadi dua.
Sesosok pemuda berpakaian usang melangkah keluar dari dalam kabut dengan tangan bertaut di belakang punggung. Langkahnya pelan, ekspresinya setenang air di danau mati.
Tuan Muda Jin menyipitkan matanya, mengamati Arya dari ujung rambut hingga ujung kaki. Tidak ada fluktuasi tenaga dalam, tidak ada aura master. Hanya terlihat seperti mahasiswa miskin yang kebetulan lewat.
"Hei, Gembel! Di mana Shen Yueru dan pria tua cacat yang bersamanya?!" bentak Jin, menunjuk Arya dengan kipas lipatnya. "Panggil majikanmu keluar dan serahkan Kayu Petir itu! Jika kau lambat, aku akan memotong lidahmu!"
Arya berhenti tepat dua meter di hadapan Jin. Ia memiringkan kepalanya sedikit, tatapannya sedingin es abadi.
"Kau berisik sekali," ucap Arya pelan. Suaranya tidak keras, tetapi entah bagaimana membuat gendang telinga semua orang di sana berdengung menyakitkan.
"Lancang!" Seorang kapten pengawal berteriak marah. "Kau berani berbicara seperti itu pada Tuan Muda Jin dari Aliansi Ibukota?! Berlutut dan tampar wajahmu sendiri seratus kali!"
Sang kapten melesat maju, tangan besarnya membentuk cakar elang yang mengincar tenggorokan Arya. Serangan ini sangat mematikan; di dunia fana, cakar itu bisa merobek pelat baja tipis dengan mudah.
Namun, Arya bahkan tidak meliriknya. Ia hanya mengulurkan telunjuk kanannya dan mengetuk ruang kosong di udara.
Tap.
Seketika, energi spiritual di udara meledak. Sebuah riak tak kasatmata meluas dari ujung jari Arya.
BUMMM!
Sang kapten pengawal bahkan tidak sempat berteriak. Tubuhnya yang sedang melayang di udara tiba-tiba meledak menjadi kabut darah, seolah baru saja dihantam oleh peluru meriam tak kasatmata. Daging dan tulang hancur lebur tanpa sisa, membasahi wajah Tuan Muda Jin dan sisa pasukan dengan darah segar.
Keheningan yang mematikan seketika mencekik lereng gunung itu.
Kipas lipat di tangan Jin terjatuh ke tanah. Matanya membelalak ngeri, seluruh arogansinya hancur berkeping-keping digantikan oleh teror murni. Ia baru saja menyaksikan pengawal tingkat Grandmaster-nya diuapkan hanya dengan satu jentikan jari!
"M-Monster... Bunuh dia! Cepat bunuh dia!!" jerit Jin histeris, melangkah mundur hingga tersandung kakinya sendiri.
Belasan anggota Pasukan Harimau Besi yang tersisa menggertakkan gigi menahan takut. Mereka mencabut senjata bermata tajam mereka dan menerjang secara bersamaan, membentuk jaring pembunuhan dari segala arah.
Arya menghela napas panjang. "Karena kalian sangat menyukai petir, biarkan aku mengajari kalian bagaimana petir yang sesungguhnya bekerja."
Arya tidak menggunakan Qi keemasannya. Ia meminjam setitik aura dari Inti Kayu Petir Berusia Seribu Tahun yang baru saja ia masukkan ke dalam Dantian-nya. Ia mengangkat tangannya ke arah langit.
"Hukum Dao: Pemusnahan Guruh Surgawi."
Langit pagi yang cerah tiba-tiba menggelap. Awan hitam pekat berkumpul tepat di atas Vila Naga Langit dalam hitungan detik.
JDERRRR!
Belasan kilatan petir biru yang sangat tebal menyambar turun dari langit secara bersamaan, menghantam tepat di atas kepala para pengawal Harimau Besi. Tidak ada jeritan. Tidak ada perlawanan. Tubuh mereka seketika hangus menjadi abu hitam yang tersapu angin sebelum tubuh mereka menyentuh tanah.
Hanya dalam satu tarikan napas, belasan ahli bela diri elit Ibukota musnah dari muka bumi.
Tuan Muda Jin kini berlutut di tanah, celananya basah kuyup. Tubuhnya gemetar hebat layaknya daun tertiup badai. Ia menatap pemuda berpakaian usang di depannya seolah sedang menatap Dewa Kematian yang turun ke dunia.
"T-Tolong... jangan bunuh aku..." Jin meratap, menempelkan keningnya ke aspal. "Kakekku adalah Tetua Emas! Aliansi Bela Diri Ibukota menguasai setengah negara ini! Jika kau membunuhku, mereka akan memburumu sampai ke ujung dunia!"
"Menguasai setengah negara fana?" Arya melangkah mendekat, suaranya dipenuhi nada meremehkan yang absolut. "Di Alam Atas, sekte yang menguasai jutaan tata surya pun akan bersujud di bawah kakiku. Aliansi kalian hanyalah kumpulan semut yang kebetulan menemukan remah roti."
Arya menunduk, menatap Jin dengan Niat Membunuh yang membekukan jiwa.
"Kau bisa tenang. Aku tidak akan membiarkan kakekmu repot-repot memburuku."
Arya mengangkat telapak tangannya.
"Karena aku sendiri yang akan datang ke Ibukota untuk memenggal kepalanya."
Pft!
Sebuah jarum Qi melesat, menembus tepat di antara alis Tuan Muda Jin, memadamkan nyawanya seketika. Mayat pemuda arogan itu ambruk ke tanah.
Arya berbalik, melangkah kembali ke dalam kabut ilusi.