"Aku akan menjadi perisaimu, meski seluruh dunia menentang kita."
Menjadi satu-satunya manusia di antara kawanan serigala membuat hidup Luna selalu terancam. Tapi berada di dekapan sang Alpha tampan berhati dingin, dia menemukan perlindungan yang tak pernah ia duga. Akankah cinta mereka bertahan di tengah kutukan dan perebutan kekuasaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dunia Seleb, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhir dari Sang Pemberontak
Tanah Lembah Kabut bergetar saat kedua serigala raksasa itu terus berguling dengan brutal. Hendra, dengan kelicikan serigala tua yang kenyang akan pertempuran jalanan, berhasil mengatupkan rahangnya di bahu kiri Yudha. Gigi-gigi tajamnya menembus kulit, membuat darah segar berwarna merah pekat mengalir membasahi bulu perak sang Alpha sejati.
Luna yang jauh di menara selatan mendadak tersentak dari duduknya, meremas dadanya yang tiba-tiba berdenyut nyeri seolah ikatan takdir mereka sedang mengirimkan sinyal rasa sakit.
Namun di medan laga, rasa sakit itu justru menjadi pematik bagi kegilaan serigala Yudha.
*Grrr...!*
Mata emas Yudha menyala lebih terang dari sebelumnya, memancarkan kilatan magis purba yang mengerikan. Mengabaikan gigitan di bahunya, Yudha menggunakan cakar depannya yang bebas untuk mencengkeram rahang atas dan bawah Hendra secara paksa. Dengan kekuatan mutlak seorang Alpha sejati, Yudha menyentak cengkeramannya.
*Krak!*
Hendra melengking dahsyat saat rahangnya dipaksa terbuka lebar hingga engselnya bergeser. Gigitannya di bahu Yudha terlepas seketika. Tubuh serigala hitam besar itu terhempas ke tanah, terbatuk-batuk memuntahkan darah segar dengan napas yang mulai tersengal-sengal. Satu mata merahnya yang tersisa menatap Yudha dengan ketakutan instan yang teramat sangat. Dia baru menyadari bahwa kekuatan Alpha muda ini jauh di luar kalkulasinya.
Yudha tidak memberikan kesempatan sedikit pun bagi musuhnya untuk bernapas lagi.
Serigala perak raksasa itu melompat tegak di atas tubuh Hendra, mengunci dada sang lawan dengan kedua cakar depannya yang kokoh hingga tulang rusuk Hendra terdengar retak menahan beban masif tersebut. Yudha mendongak sejenak ke arah bulan setengah di atas langit, lalu melayangkan gigitan maut terakhirnya tepat di urat nadi leher Hendra.
*Sreeett!*
Hening seketika merayap di area perkemahan pusat saat tubuh Hendra mengejang hebat untuk terakhir kalinya, sebelum akhirnya terkulai lemas tak bernyawa di bawah cakar sang Alpha. Pemimpin kaum *Rogue* yang telah meneror perbatasan selama bertahun-tahun itu akhirnya tewas dengan cara yang paling mengenaskan.
Melihat pemimpin mereka telah tumbang, sisa-sisa kaum *Rogue* yang masih bertarung langsung kehilangan nyali. Mereka menjerit ketakutan, menjatuhkan diri ke tanah sebagai tanda menyerah, sementara sebagian lainnya melarikan diri kocar-kacir ke dalam kegelapan hutan yang paling dalam, tak lagi memiliki keberanian untuk menatap *Silver Moon*.
Panglima Genta melangkah mendekat dengan wujud manusianya, menundukkan kepala dalam-dalam di depan Yudha.
"Pertempuran selesai, Alpha. Lembah Kabut telah sepenuhnya berada di bawah kendali kita."
Yudha perlahan melepaskan gigitannya, membiarkan jasad Hendra tergelosor di tanah. Cahaya keperakan menyelimuti tubuh raksasanya saat dia kembali ke wujud manusianya. Yudha berdiri tegak di tengah medan pembantaian itu. Bahu kirinya robek dan bersimbah darah, napasnya naik-turun memburu dengan peluh yang membasahi seluruh tubuh tegapnya.
Dia memegang bahunya yang terluka, namun seringai puas terukir di wajah tampannya yang dingin.
Ancaman terbesar bagi wilayahnya dan bagi gadis manusia yang dicintainya telah runtuh malam ini. Tanpa membuang waktu untuk merayakan kemenangan bersama pasukannya, Yudha berbalik memunggungi lembah yang kini dipenuhi abu kekalahan musuh. Pikirannya hanya terarah pada satu tujuan: kembali ke kastil dan menunjukkan pada belahan jiwanya bahwa badai luar telah resmi berakhir.
---
#Luka yang Menyembuh di Pelukan#
Gemuruh derap langkah pasukan yang kembali dari Lembah Kabut terdengar lamat-lamat dari kejauhan, memecah keheningan menara selatan. Luna yang sejak sore tidak bisa tenang, langsung berdiri dari kursi dekat perapian begitu mendengar suara langkah kaki yang tergesa-gesa di koridor luar.
*Cklek.*
Pintu kamar cadangan itu terbuka lebar. Yudha melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit memburu.
Jantung Luna serasa berhenti berdetak melihat kondisi pria itu. Yudha datang tanpa jubah kebesarannya. Kemeja hitamnya robek parah di bagian bahu kiri, menyingkap luka cabikan taring yang dalam dan masih mengalirkan darah segar berwarna merah pekat. Wajah tampannya pucat, namun sepasang mata gelapnya langsung mengunci sosok Luna dengan binar lega yang teramat sangat.
"Yudha!" Luna menjerit kecil, air matanya spontan meleleh. Tanpa memikirkan apa pun lagi, dia berlari kencang dan langsung menghambur ke pelukan pria itu.
"Akh..." Yudha mendesis pelan saat tubuh mungil Luna menabrak dadanya, memicu rasa berdenyut perih pada luka di bahunya. Namun, alih-alih menjauh, lengan kanan Yudha yang bebas justru mendekap pinggang Luna dengan sangat erat, menenggelamkan wajahnya di antara rambut lavender manis milik gadis itu.
"Aku kembali, Luna... Hendra sudah mati. Semuanya sudah selesai," bisik Yudha dengan suara parau yang bergetar. Aroma hutan malam dan anyir darah yang menguar dari tubuhnya tidak membuat Luna gentar kali ini.
Luna melonggarkan pelukannya, menatap horor pada luka di bahu kiri Yudha. "Kamu terluka parah... Duduklah, biar kupanggil Maya untuk mengambil obat!"
"Tidak perlu," tahan Yudha lembut, menuntun Luna untuk duduk di tepi ranjang bersamanya. Tangannya yang besar menggenggam jemari kecil Luna yang gemetar.
"Gigi *Rogue* memang mengandung sedikit racun yang memperlambat regenerasi serigalaku. Tapi sentuhanmu... ikatan kita... itu jauh lebih efektif dari obat mana pun."
Luna menatap mata gelap Yudha yang menatapnya penuh pemujaan. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, Luna perlahan mengulurkan jarinya, menyentuh pinggiran luka robek di bahu Yudha dengan sangat hati-hati.
Keajaiban itu terjadi lagi. Begitu kulit halus Luna bersentuhan dengan luka tersebut, seulas cahaya keperakan lembut mendadak berpendar dari telapak tangan Luna. Rasa perih yang membakar di bahu Yudha perlahan sirna, digantikan oleh rasa hangat yang menenangkan. Darah yang mengalir mulai berhenti, dan jaringan kulit yang robek perlahan-lahan merapat dengan kecepatan yang menakjubkan.
Yudha memejamkan matanya, menikmati pasokan energi kehidupan yang disalurkan oleh belahan jiwanya. Serigala di dalam dirinya melenguh puas, merasa utuh sepenuhnya.
"Lihat? Kamu adalah penawarku, Luna," bisik Yudha, perlahan membuka mata dan mengecup punggung tangan Luna yang masih menempel di bahunya.
"Tanpa kamu di sisiku, aku hanyalah monster yang akan hancur oleh amarahku sendiri."
Luna tersenyum tipis di antara sisa air matanya, merasakan kehangatan yang menjalar ke dalam dadanya. Badai besar dari luar maupun pengkhianatan dari dalam telah berhasil mereka lewati. Di atas ranjang menara selatan itu, di bawah temaram cahaya perapian, ikatan batin antara sang Alpha sejati dan gadis manusianya kini telah mengakar begitu dalam, siap menghadapi lembaran baru kawanan *Silver Moon* yang jauh lebih damai.
---