Enam tahun pernikahan yang terlihat sempurna ternyata menyimpan luka yang tak pernah diketahui siapa pun.
Selama enam tahun, Alena dan suaminya, Rendra, terus berjuang untuk mendapatkan buah hati. Berbagai cara telah mereka lakukan, mulai dari pengobatan hingga program kehamilan yang menguras tenaga dan air mata.
Namun, hasilnya tetap sama tidak ada tangisan bayi yang hadir di tengah rumah tangga mereka.
Di saat Alena masih berusaha bertahan dan berharap, Rendra justru memilih jalan yang paling menyakitkan.
Ia berselingkuh dengan sekretaris pribadinya sendiri.
Pengkhianatan itu semakin menghancurkan ketika Alena mengetahui bahwa wanita tersebut sedang mengandung anak suaminya.
Dunia Alena seakan runtuh dalam sekejap. Pria yang selama ini dicintainya ternyata telah memberikan semua yang ia impikan kepada wanita lain.
Saat Alena memilih pergi dan membangun hidup baru, Rendra mengira dirinya akan bahagia bersama selingkuhannya. Namun, semakin jauh Alena melangkah, semakin ia menya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yani 11, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 30_Ancaman baru
"Kalau begitu..." ucap Edgar sambil menyandarkan tubuhnya ke kursi. Senyumnya mengembang hangat, tetapi tatapannya penuh keseriusan.
"Mulai sekarang, tidak ada lagi yang boleh membuat adikku menangis." lanjutnya tegas. Rahangnya mengeras menunjukkan tekadnya.
Nathan mengangguk mantap.
"Aku janji." balasnya pelan. Tatapannya lurus ke arah Edgar dengan wajah penuh kesungguhan. "Selama aku masih ada, aku akan menjaga Elvara sebaik mungkin." lanjutnya tulus.
Elvara yang mendengar itu langsung menundukkan kepalanya.
"Kalian membuatku malu..." gumamnya lirih. Pipi putihnya kembali memerah, sementara senyumnya tak mampu ia sembunyikan.
Edgar terkekeh kecil.
"Memang seharusnya begitu." godanya sambil menyeringai jahil. "Aku sudah lama menunggu ada pria yang benar-benar pantas berdiri di sampingmu."
Nathan langsung salah tingkah.
"Gar..." protesnya pelan sambil mengusap tengkuknya yang terasa panas. Senyumnya canggung.
Elvara menatap kakaknya.
"Kak, jangan menggoda terus." ucapnya pelan. Bibirnya mengerucut manja.
Edgar justru tertawa semakin keras.
"Aku hanya berkata jujur." balasnya santai. Bahunya terangkat ringan.
Nathan menghela napas panjang.
"Kalau begini, aku tidak tahu harus membela diri bagaimana." katanya sambil tertawa kecil. Wajahnya dipenuhi rasa malu.
Mereka bertiga kembali tertawa bersama. Suasana yang selama ini hilang dari kehidupan Elvara kini perlahan kembali.
Tak ada lagi bayang-bayang Arsenio.
Pria yang pernah menghancurkan hidupnya itu kini harus menjalani hukuman di balik jeruji besi atas semua kejahatan yang telah dilakukannya.
Bahkan Celine, wanita yang dulu begitu membanggakan Arsenio, kini telah meninggalkannya begitu saja setelah seluruh harta dan kekuasaannya lenyap. Hubungan yang dibangun karena ambisi akhirnya runtuh dengan cara yang menyedihkan.
Sementara itu...
Ponsel Elvara tiba-tiba berdering.
Tring... Tring...
Elvara tersenyum saat melihat nama yang muncul di layar.
"Mommy." ucapnya pelan. Matanya langsung berbinar bahagia.
Edgar ikut tersenyum.
"Angkat." katanya lembut. Wajahnya terlihat rindu.
Elvara segera menekan tombol video call.
Tak lama kemudian wajah kedua orang tuanya muncul di layar.
"Mommy... Daddy..." sapa Elvara penuh haru. Senyumnya begitu manis hingga kedua matanya ikut menyipit.
"Sayang..." balas sang Mommy dengan mata yang langsung berkaca-kaca. Senyumnya bergetar menahan rasa rindu.
"Princess Daddy." sapa Daddy sambil tersenyum lebar. Tatapannya penuh kasih sayang.
Elvara tak mampu menahan air matanya.
"Aku kangen sekali..." bisiknya lirih. Bahunya sedikit bergetar.
Mommy ikut mengusap sudut matanya.
"Mommy juga sangat merindukanmu." balasnya lembut. Senyumnya penuh kehangatan.
Daddy kemudian melihat ke arah samping layar.
"Itu Edgar, kan?" tanyanya sambil tersenyum.
Edgar langsung mendekat.
"Halo, Daddy... Mommy." sapanya hangat. Senyumnya tulus.
"Kalian sedang makan malam?" tanya Mommy penasaran. Alisnya sedikit terangkat.
"Iya." jawab Edgar.
"Lalu..." Daddy memperhatikan seseorang yang duduk di samping Elvara. "Kami sepertinya mengenal pria itu."
Nathan yang mendengar namanya disebut langsung duduk lebih tegak.
"Selamat malam, Om... Tante." sapanya sopan sambil sedikit menundukkan kepala. Senyumnya ramah.
Mommy langsung tersenyum lebar.
"Nathan." ucapnya senang. Wajahnya tampak lega.
Daddy tertawa pelan.
"Sudah lama sekali tidak bertemu." katanya hangat.
Nathan mengangguk hormat.
"Benar, Om." jawab Nathan pelan.
Mommy memperhatikan Nathan dan Elvara bergantian. Senyumnya perlahan berubah penuh arti.
"Kalian terlihat serasi." ucap Mommy sambil tersenyum usil. Kedua matanya berbinar menggoda.
Deg.
Nathan langsung membeku. Sedangkan Elvara menundukkan wajahnya hingga rambutnya menutupi pipinya yang memerah.
"Mommy..." protes Elvara lirih. Senyumnya malu-malu.
Daddy ikut tertawa.
"Sepertinya kami menelepon di waktu yang tepat." godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Edgar langsung tertawa puas.
"Akhirnya ada teman menggoda selain aku." ujarnya sambil menepuk pelan bahu Nathan.
Nathan hanya bisa tersenyum kaku.
"Saya..." ucapnya gugup. Napasnya sedikit memburu.
Mommy memotong dengan senyum lembut.
"Nathan." panggilnya pelan. Tatapannya berubah serius namun hangat.
"Iya, Tante?" jawab Nathan sopan.
"Terima kasih." ucap Mommy dengan senyum hangat.
Nathan tampak bingung.
"Terima kasih karena sudah menemani Elvara." lanjut Mommy. Senyumnya dipenuhi rasa syukur.
Nathan menggeleng pelan.
"Saya justru merasa beruntung bisa berada di dekat Vara." jawabnya tulus. Sorot matanya penuh ketulusan saat menatap Elvara.
Elvara kembali menatap Nathan. Tatapan mereka bertemu. Senyum kecil kembali terukir di wajah keduanya.
Daddy mengangguk puas.
"Kalau begitu, Daddy titip Elvara padamu." ucapnya penuh makna. Wajahnya terlihat tenang.
Nathan langsung mengangguk mantap.
"Dengan senang hati, Om." jawabnya tanpa ragu. Tatapannya penuh keyakinan.
Mendengar jawaban itu, jantung Elvara kembali berdegup lebih cepat.
Belum sempat suasana haru itu berlanjut...
Tiba-tiba ponsel Edgar bergetar keras.
Bzzztt... Bzzztt...
Edgar melihat layar ponselnya.
Nama kepala tim keamanan perusahaan muncul. Senyumnya perlahan menghilang.
"Nathan..." panggil Edgar pelan. Wajahnya berubah tegang.
Nathan langsung menyadarinya.
"Ada apa?" tanyanya serius. Alisnya berkerut.
Edgar mengangkat panggilan itu.
"Halo." Suara panik terdengar dari seberang telepon.
"Wakil Direktur Edgar! Ada seseorang yang mencoba masuk ke ruang arsip perusahaan malam ini!" lanjutnya
Edgar langsung berdiri.
"Apa?" serunya dengan wajah terkejut.
Nathan ikut bangkit dari kursinya.
"Siapa pelakunya?" tanyanya cepat.
Suara di seberang telepon terdengar tergesa-gesa.
"Wajahnya tertutup masker. Tapi sebelum melarikan diri, dia sempat mengatakan satu kalimat." jelas tim keamanan cepat.
Edgar mengepalkan tangannya.
"Kalimat apa?" tanyanya tajam.
Petugas keamanan menarik napas panjang.
"Dia berkata... "Permainan ini belum selesai. Arsenio memang sudah masuk penjara... tapi masih ada orang yang akan menyelesaikan dendamnya.'" jawab tim keamanan perusahaan.
Seketika...
Wajah Nathan, Edgar, dan Elvara berubah pucat.Mereka saling berpandangan.
Siapa sebenarnya orang yang masih ingin menghancurkan Elvara?
nunggu karma pelakor celline gimana karma nya.