NovelToon NovelToon
PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

PEWARIS RAHASIA SANG MAFIA JEBAKAN MANIS SANG PENGASUH

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / CEO / Anak Genius
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: gendiz

Aline terpaksa menyamar sebagai pengasuh polos demi menyelidiki kematian misterius kakaknya di kediaman seorang leader mafia kejam sekaligus CEO, bernama Adrian. Di sana, ia harus mengurus anak kembar Adrian yang sangat genius namun manipulatif. Masalah rumit muncul ketika anak-anak tersebut justru sengaja menjebak Aline dan Adrian agar menikah, sementara Adrian mulai mencurigai identitas asli Aline yang ternyata memegang kunci rahasia masa lalunya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon gendiz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10: Napas yang Terikat

Bab 10: Napas yang Terikat

​Waktu seolah berhenti berputar di dalam kegelapan perpustakaan lantai tiga. Posisi mereka saat ini teramat intim dan berbahaya. Aline terduduk di atas lantai dengan punggung yang bersandar sepenuhnya pada dada bidang Adrian yang berbalut kemeja putih tipis, sementara kedua lengan kokoh pria itu melingkar erat di sekeliling pinggang kecil Aline dari arah belakang untuk menahan bobot tubuhnya agar tidak terjatuh lebih dalam.

​Aline bisa merasakan dengan sangat jelas detak jantung Adrian yang beritme konstan, kuat, dan tenang di balik punggungnya. Jarak yang sedekat ini membuat hawa panas tubuh Adrian mengalir melewati pakaian mereka, membakar kulit Aline.

​Aline membeku sepenuhnya. Kali ini, insting bela dirinya tidak berteriak untuk menyerang, melainkan tubuhnya menolak untuk bergerak karena sebuah kejutan emosional yang tak terduga.

​Adrian tidak langsung melepaskan cengkeramannya pada pinggang Aline. Pria itu tetap menahan posisi tersebut di bawah kegelapan yang pekat.

​Perlahan, Adrian menundukkan kepalanya, mendekatkan wajahnya ke arah tengkuk leher Aline yang terbuka karena rambut pendeknya yang terikat ke atas. Pria itu menarik napas dalam-dalam melintasi hidungnya, menghirup aroma tubuh yang menguar dari kulit leher sang pengasuh baru.

​Itu bukan aroma parfum murah atau bau sabun batangan desa seperti yang tertera di profil palsunya. Di balik lapisan samaran itu, aroma alami tubuh Aline memancarkan wangi samar bunga melati putih liar yang berpadu dengan keharuman hujan asam yang sangat khas—sebuah kombinasi aroma yang sangat langka, sangat spesifik, dan seketika memicu sebuah memori kuno yang terkunci rapat di dasar otak Adrian selama lebih dari lima belas tahun.

​Aroma ini... batin Adrian berdesir hebat, matanya yang hitam kelam melebar di tengah kegelapan.

​Ingatan Adrian melesat kembali ke masa lalunya, saat ia masih berusia lima belas tahun dan nyaris tewas dieksekusi oleh klan mafia saingan di sebuah hutan pinggiran kota yang diguyur hujan deras. Malam itu, seorang gadis kecil dengan penglihatan yang tajam dan aroma tubuh melati liar yang persis seperti ini telah menyeret tubuhnya yang bersimbah darah, mengobati lukanya di dalam sebuah gubuk tua, dan menyelamatkan nyawanya sebelum anak buah ayahnya menemukan mereka. Gadis kecil yang selama lima belas tahun ini terus ia cari ke seluruh penjuru negeri namun tidak pernah ia temukan jejaknya.

​Cengkeraman tangan Adrian di pinggang Aline mendadak mengencang, bukan lagi untuk menahan jatuh, melainkan sebuah gerakan posesif yang menuntut kepemilikan. Pria itu seolah enggan melepaskan sosok di dekapannya ini, takut jika ia membuka lengannya, aroma dan kehadiran gadis ini akan menguap kembali seperti mimpi di malam hari.

​Aline bisa merasakan perubahan intensitas cengkeraman Adrian di pinggangnya. Ia juga menyadari bahwa napas Adrian yang menerpa kulit lehernya terasa lebih berat dan penuh emosi—sesuatu yang sangat tidak biasa bagi seorang mafia berdarah dingin yang terkenal mati rasa.

​Kenapa dia tidak melepaskanku? Apa dia mencurigai sesuatu dari bentuk tubuhku? Atau dia menyadari pisau yang terikat di pahaku? batin Aline mulai panik. Ia harus segera mengakhiri posisi intim yang berbahaya ini sebelum Adrian menyadari detak jantungnya yang mulai tidak beraturan karena kedekatan mereka.

​"T-Tuan Besar..." Aline membuka suara dengan nada bergetar, kembali memasang akting cicit ketakutannya yang canggung. "M-Maafkan saya... posisi ini... b-bisa tolong lepaskan saya? Saya sangat lancang telah menabrak Anda..."

​Sebelum Adrian sempat menjawab atau memproses suara cicit Aline yang merusak memorinya tentang gadis kecil masa lalu itu...

​Cklek!

​Suara kunci pintu yang diputar dari luar terdengar sangat nyaring di keheningan ruangan. Pintu kayu ek besar itu terbuka lebar, membiarkan cahaya benderang dari lampu koridor luar merangsek masuk ke dalam perpustakaan yang remang-remang. Bersamaan dengan itu, sistem listrik ruangan tiba-tiba menyala kembali dengan normal berkat Kenzo yang telah mengembalikan saklar dayanya.

​Di ambang pintu, berdiri Kenzo dan Keira berdampingan. Keira tampak memegang sebuah senter mainan berwujud kepala kelinci berwarna merah muda, sementara Kenzo memegang ponselnya dengan kamera yang sudah menyala.

​Melihat pemandangan di depan mereka—di mana Adrian sedang memeluk erat pinggang Aline dari belakang di atas lantai—si kembar seketika bersorak riang dengan senyuman yang sangat lebar dan licik.

​"Wah! Lihat, Ken! Daddy dan Kak Aline sedang berpelukan di dalam kegelapan!" seru Keira dengan suara lantang yang menggema di seluruh lantai tiga, sengaja membuat beberapa pelayan yang lewat di koridor luar menengok dengan mata terbelalak.

​"Kerja bagus, Dad," tambah Kenzo datar namun penuh kepuasan sembari menurunkan ponselnya setelah berhasil mengambil beberapa jepretan foto dokumentasi sebagai bukti otentik. "Ternyata Misi: Mencari Ibu Baru berjalan jauh lebih cepat dari estimasi sistemku."

​Adrian langsung melepaskan cengkeramannya dari pinggang Aline dengan gerakan yang sangat cepat, seolah-olah ia baru saja menyentuh besi panas. Pria itu berdiri dengan tegak, membetulkan letak kemeja putihnya yang sedikit kusut dengan wajah yang mendadak salah tingkah—sebuah ekspresi langka yang belum pernah dilihat oleh anak buahnya maupun musuh-musuhnya di dunia bawah selama bertahun-tahun. Rona merah tipis bahkan sempat melintasi telinga sang mafia sebelum ia kembali memasang wajah sedingin esnya.

​"Keluar dari sini. Kalian berdua, kembali ke kamar sekarang juga," perintah Adrian dengan suara bariton yang teramat berat dan penuh penekanan, matanya menatap tajam ke arah si kembar untuk menyembunyikan kegugupan internalnya.

​Aline buru-buru bangkit berdiri dari lantai, merapikan rok plisket panjangnya yang berantakan dan membetulkan posisi kacamatanya yang miring dengan wajah yang merona merah padam—setengah karena malu akibat sorakan si kembar, dan setengah lagi karena rasa curiga yang teramat besar yang mendadak muncul di dalam hatinya.

​Aline melirik ke arah Adrian yang kini berjalan pergi meninggalkan perpustakaan dengan langkah tergesa-gesa tanpa menoleh ke belakang lagi.

​Reaksi pria itu tadi... itu bukan reaksi seorang predator yang terganggu oleh mangsa bodoh, batin Aline menganalisis dengan tajam, matanya menyipit penuh selidik di balik kacamata tebalnya. Dia mengenal aroma tubuhku. Ada sesuatu di masa lalu pria ini yang berhubungan denganku... dan aku harus mencari tahu apa itu sebelum aku menghujamkan belatiku ke lehernya.

​Permainan di Istana Berdarah kini tidak lagi sekadar tentang membalas dendam kematian sang kakak, melainkan telah bergeser menjadi sebuah labirin misteri masa lalu yang melibatkan benang merah di antara sang pengasuh palsu, sang mafia kejam, dan dua monster kecil yang siap mengacaukan segalanya.

1
M. T🌻
aku mampir ya thor, semangat. jangan lupa mampir juga👍☺
gendiz: terimakasih 🙏 aaasiiiaaappp
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!