NovelToon NovelToon
Kebangkitan Naga Astral

Kebangkitan Naga Astral

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:19.9k
Nilai: 5
Nama Author: Syahriandi Purba

Seorang murid sekte luar yang dihina karena akar spiritualnya yang cacat secara tidak sengaja membangkitkan sebuah pusaka kuno di lembah terlarang. Pusaka tersebut tidak memberinya kekuatan instan, melainkan sebuah metode kultivasi purba yang memungkinkannya menyerap dan memurnikan Qi dari garis keturunan binatang buas mitologis. Untuk mencapai puncak, ia harus menempuh jalur yang penuh darah dan memburu eksistensi terkuat di langit dan bumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Syahriandi Purba, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hancurnya Kesombongan

​BOOOOOOOOOOM!

​Suara ledakan tumpul dari benturan itu terdengar seperti godam raksasa yang menghantam genderang kulit naga.

​Di tengah Panggung Utama yang kini dipenuhi retakan, waktu seolah berjalan sangat lambat bagi Zhao Lie. Matanya yang membelalak menangkap pemandangan yang akan menghantuinya hingga ke alam baka: pedang perak fana tinggi miliknya hancur menjadi debu logam, dan di balik debu itu, sebuah kepalan tangan bercahaya tembaga menembus sisa-sisa pertahanan Qi elemen logamnya layaknya jarum panas menembus mentega.

​KRAK! KRAK! KRAK!

​Rentetan suara tulang patah terdengar mengerikan. Tinju kanan Lin Tian mendarat telak di dada Zhao Lie.

​Gelombang Qi ungu keemasan yang membawa esensi buas dari Teratai Api Berdarah dan Beruang Punggung Besi meledak ke dalam tubuh sang murid sekte dalam. Lautan meridian Zhao Lie yang dibanggakannya sebagai kultivator tingkat tujuh puncak, terkoyak dan hancur lebur dalam sekejap mata.

​"GAAARRGHHH!"

​Kabut darah segar menyembur dari mulut Zhao Lie. Tubuhnya terangkat dari tanah, terlempar ke belakang layaknya layang-layang yang putus benangnya. Ia melesat melintasi udara sejauh lima puluh meter, melewati batas Panggung Utama, sebelum akhirnya menabrak salah satu pilar naga dari batu giok di pinggir alun-alun dengan bunyi BAM yang memekakkan telinga.

​Pilar raksasa itu bergetar hebat, merontokkan debu dari langit-langit. Tubuh Zhao Lie merosot jatuh ke lantai alun-alun, meninggalkan jejak noda darah panjang di pilar putih tersebut.

​Dada pemuda jenius dari faksi Zhao itu mencekung ke dalam. Napasnya tersengal-sengal layaknya ikan sekarat. Matanya yang memutar ke atas menunjukkan bahwa ia telah kehilangan kesadaran sepenuhnya. Ia masih hidup, namun kultivasinya telah musnah total. Seorang jenius sekte dalam kini telah berubah menjadi cacat seumur hidup.

​Satu pukulan.

​Tidak ada sepuluh jurus. Tidak ada adu teknik bela diri yang panjang. Hanya satu pukulan murni yang absolut.

​Angin berhembus menyapu sisa debu di atas Panggung Utama. Di tengah panggung yang setengah hancur itu, Lin Tian berdiri tegak tanpa bergeser satu sentimeter pun dari posisi awalnya. Ia menarik kembali tangan kanannya, membiarkan sisa uap panas mengepul dari kulit lengannya yang sama sekali tidak tergores.

​Keheningan yang menyelimuti alun-alun sekte luar begitu pekat hingga suara jarum yang jatuh pun akan terdengar. Puluhan ribu murid luar duduk mematung dengan rahang terjatuh. Empat Penjaga Gerbang lainnya di atas panggung menelan ludah dengan susah payah, kaki mereka tanpa sadar mundur selangkah menjauhi pemuda berjubah putih itu.

​Di paviliun melayang, para Penatua Sekte Dalam yang biasanya tenang dan berwibawa kini berdiri kaku. Beberapa bahkan menjatuhkan cawan teh mereka.

​"Hanya... hanya tingkat lima..." gumam Penatua berjanggut abu-abu, suaranya bergetar. "Menghancurkan senjata fana tinggi dan menumbangkan tingkat tujuh puncak dengan satu pukulan tangan kosong... Monster macam apa yang disembunyikan sekte luar kita?!"

​Lin Tian tidak memedulikan tatapan ngeri dari seluruh penjuru arena. Ia berjalan perlahan menuruni tangga Panggung Utama, melangkah mendekati tubuh Zhao Lie yang tergeletak tak berdaya di dasar pilar naga.

​Melihat Lin Tian mendekat, dua orang diaken medis yang hendak menolong Zhao Lie secara otomatis melangkah mundur, ketakutan melihat aura sedingin es dari pemuda itu.

​Lin Tian berjongkok di samping Zhao Lie. Tanpa ragu, ia merogoh jubah pria yang tak sadarkan diri itu dan menarik keluar sebuah kantong spasial berlambang awan perak. Lin Tian memecahkan segel rapuh kantong itu, merogoh ke dalam, dan mengeluarkan sebuah Batu Roh yang memancarkan cahaya biru murni.

​Itu adalah Batu Roh tingkat menengah yang dirampas Zhao Lie dari Lin Chen.

​"Aku sudah mengatakan bahwa aku tidak menginginkan ini kembali," ucap Lin Tian pelan, suaranya mengalun dingin di tengah keheningan. "Tapi melihat kau tidak lagi bisa menggunakannya, anggap saja ini sebagai biaya perawatan adikku."

​Lin Tian menyimpan kembali batu roh itu ke dalam cincinnya. Ia lalu bangkit berdiri dan mendongak, menatap lurus ke arah wasit utama—sang Penatua ranah Earth—yang melayang di udara.

​"Penatua," panggil Lin Tian datar. "Lawan saya tidak bisa lagi melanjutkan. Apakah pertarungan ini sudah berakhir?"

​Pertanyaan sederhana itu akhirnya menyentak sang Penatua dari keterkejutannya. Sang wasit berdeham, berusaha menutupi kegugupannya, lalu mengalirkan Qi ke suaranya agar terdengar ke seluruh arena.

​"P-Pertarungan berakhir! Pemenangnya adalah Lin Tian!" seru sang Penatua.

​Seketika, seluruh alun-alun meledak dalam sorak-sorai yang menggetarkan bumi. Para murid luar yang tidak memiliki ikatan dengan faksi Zhao berteriak memanggil nama Lin Tian layaknya memuja seorang dewa perang yang baru lahir.

​Sang wasit mengangkat tangannya untuk menenangkan massa, lalu melanjutkan dengan nada yang jauh lebih hormat. "Sesuai aturan Turnamen Promosi, karena Lin Tian berhasil mengalahkan seorang Penjaga Gerbang, ia tidak hanya lolos ke Sekte Dalam, tetapi langsung dianugerahi status Murid Elit Sekte Dalam!"

​Pengumuman itu semakin memicu badai keriuhan. Status Murid Elit berarti Lin Tian akan mendapatkan paviliun pribadinya sendiri di Puncak Dalam, jatah bulanan yang sepuluh kali lipat lebih banyak, dan akses ke lantai tiga Paviliun Seni Bela Diri yang menyimpan teknik-teknik tingkat Bumi!

​Di tribun penonton, Lin Chen menangis haru. Wajah pucatnya kini digantikan oleh rona kebanggaan yang luar biasa. Kakaknya bukan lagi murid pelayan buangan. Kakaknya adalah naga yang sedang membumbung tinggi.

​Lin Tian mengangguk sopan ke arah sang wasit. Matanya kemudian menyapu ke arah paviliun melayang, menatap beberapa Penatua yang diketahui terafiliasi dengan faksi Zhao. Sorot mata Lin Tian jelas memberikan sebuah peringatan bisu: Jika kalian ingin bermain-main, kirimkan seseorang yang setidaknya bisa menahan satu pukulanku.

​Tanpa menunggu upacara penutupan yang basa-basi, Lin Tian berbalik dan berjalan menuju tribun untuk menjemput Lin Chen.

1
Didi h Suawa
💪
Didi h Suawa
mantap
Didi h Suawa
simpel ,🙏
Didi h Suawa
awal yg baik,
Aman Wijaya
jooooz kotos kotos pooolll Thor lanjut terus semangat semangat semangat terus dalam berkarya
Aman Wijaya
saatnya pembantaian dimulai Lin Tian klan Lei telah menunggu kalian berdua.babat habis semua dan ambil kekayaan di gudangnya klan Lei
Heri Victor Purba
gas terus 👍
Aman Wijaya
sebentar lagi Lei jue terkencing kencing melihat aksi Lin Tian
Aman Wijaya
mantull Thor lanjut
Aman Wijaya
lanjut terus Thor
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor 🔥🔥🔥
Aman Wijaya
gaaas terus sampai njeduk pooolll Thor 💪💪💪
Aman Wijaya
jooooz jiiizz Thor semangat semangat terus
Aman Wijaya
lanjutkan aksimu Lin Tian 🔥🔥🔥🔥🔥
Aman Wijaya
mantab Thor lanjut terus
Heri Victor Purba
💪
Heri Victor Purba
👍
Dewa Naga 🐲🐉
mantap...💪
Jojo Shua
🫰✅️
Jojo Shua
🫰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!