NovelToon NovelToon
Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Mahar 1 Miliar: Menikahi Pria Tuli

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Perjodohan / Orang Disabilitas
Popularitas:43.5k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Dara Calya Sania, seorang gadis pincang yang hidupnya penuh dengan penderitaan. Dara dijual pamannya untuk menikahi Gavin Mahardika Abyakta, pria tuli cucu dari pemilik perkebunan teh, Juragan Darmawan, dengan mahar satu miliar rupiah.

Dara yang sejak kecil sudah yatim-piatu, tidak bisa menolak. Terlebih lagi uang mahar itu untuk bayar biaya hidupnya selama tinggal bersama Rama dan Tina.

Bagaimana reaksi Dara ketika tahu Gavin adalah orang yang pernah ditolongnya dahulu dan membuat kakinya pincang?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 13

Dara tampak penasaran. Selama ini ia selalu mengira Gavin memang terlahir dengan keterbatasan pendengaran.

"Selama ini aku kira Aa sudah tuli sejak lahir," ucapnya sambil menatap Gavin.

Gavin menggeleng pelan. "Tidak."

Sherly mengembuskan napas panjang. Tatapannya perlahan beralih ke luar jendela, seolah kembali mengingat peristiwa yang telah mengubah kehidupan keluarganya.

"Ini kejadian waktu Gavin berusia sepuluh tahun," tutur Sherly dengan suara pelan. "Suatu hari, suamiku, Arkana, mengajak Gavin ikut meninjau proyek di luar kota."

Juragan Darmawan yang sejak tadi menikmati buburnya perlahan meletakkan sendok. Tatapannya jatuh pada secangkir teh hangat di depannya. Wajah pria tua itu berubah sendu, seolah kenangan lama kembali menghampiri.

"Dalam perjalanan pulang mobil yang mereka tumpangi ditabrak sebuah truk." Suara Sherly mulai bergetar.

Dara spontan menutup mulutnya. Di sudut hatinya muncul rasa terkejut, takut, dan kasihan.

Ruangan seketika hening. Sherly menelan ludah sebelum melanjutkan ceritanya. "Sopir yang mengemudi meninggal di tempat." Ia berhenti sejenak, berusaha mengendalikan emosinya. "Begitu juga suamiku."

Tak seorang pun menyela. Bahkan suara sendok yang beradu dengan mangkuk pun tak lagi terdengar.

"Gavin berhasil diselamatkan," lanjut Sherly. "Tapi benturan keras di bagian kepala membuat pendengarannya rusak. Dokter mengatakan kerusakan itu bersifat permanen."

Mata wanita paruh baya itu mulai berkaca-kaca saat menoleh ke arah putranya. "Setelah kecelakaan itu, Gavin berubah. Dia menolak bertemu siapa pun. Dia marah, kecewa, dan terus menyalahkan dirinya sendiri. Berkali-kali dia bertanya kenapa justru ayahnya yang meninggal, sementara dirinya masih hidup."

Dara menatap Gavin dengan hati yang terasa sesak. Selama ini, yang ia dengar dari orang-orang kampung hanyalah julukan "si tuli". Tak pernah sekalipun ia membayangkan bahwa di balik julukan itu tersimpan luka yang begitu dalam—kehilangan seorang ayah sekaligus sebagian besar pendengarannya dalam satu hari.

"Maaf, aku benar-benar tidak tahu," ucap Dara lirih.

Gavin menggeleng pelan. "Tidak perlu minta maaf."

Tatapan mereka bertemu.

"Kamu juga tidak pernah memilih mengalami kecelakaan yang membuat kakimu seperti sekarang." Gavin berhenti sejenak, lalu melanjutkan dengan suara tenang, "Sama seperti aku yang tidak pernah memilih kehilangan Ayah."

Kalimat sederhana itu membuat dada Dara kembali terasa sesak. Baru saat itulah ia menyadari bahwa mereka memiliki luka yang hampir serupa. Keduanya sama-sama menjadi korban kecelakaan. Bedanya, Dara kehilangan langkah normalnya, sedangkan Gavin kehilangan sosok ayah yang sangat dicintainya sekaligus sebagian besar kemampuan mendengar.

Juragan Darmawan mengembuskan napas panjang. Keriput di wajahnya tampak semakin dalam ketika ia memandang cucu dan cucu menantunya secara bergantian.

"Kakek selalu percaya," ucapnya pelan, "Tuhan tidak pernah mengambil sesuatu dari hamba-Nya tanpa meninggalkan pelajaran yang berharga."

Pria tua itu tersenyum tipis, meski sorot matanya masih dipenuhi kesedihan. "Kalian berdua sama-sama pernah terluka. Karena itu, mulai hari ini Kakek berharap kalian saling menjaga, saling menguatkan, dan menjadi tempat pulang satu sama lain."

Dara dan Gavin saling berpandangan. Tak ada kata yang terucap. Untuk pertama kalinya sejak pernikahan mereka berlangsung, keduanya menyadari bahwa takdir mempertemukan dua orang yang sama-sama pernah kehilangan.

Mungkin bukan tanpa alasan. Karena terkadang, orang yang paling mampu memahami luka kita adalah mereka yang pernah terluka dengan cara yang berbeda.

Sinar matahari pagi masuk melalui jendela kamar, menerangi ruangan yang kini mulai terasa hidup. Setelah sarapan bersama selesai, Dara kembali ke kamar untuk membereskan barang-barang pribadinya. Ia membuka tas kain berwarna biru yang sudah tampak kusam di beberapa bagian. Lalu, mengeluarkan isinya.

Gavin yang baru selesai mengganti pakaian sempat melirik ke arah istrinya. Awalnya ia tidak terlalu memperhatikan. Namun semakin lama, dahinya mulai berkerut. Isi tas itu sangat sedikit, hanya beberapa potong baju kaus yang warnanya sudah memudar. Dua celana panjang yang kainnya mulai menipis. Sehelai sweter yang bagian lengannya sudah berbulu. Bahkan sandal yang diletakkan di sudut pun tampak sudah dijahit sol.

Gavin memperhatikan saat Dara melipat pakaian-pakaian itu dengan begitu hati-hati, seolah barang-barang lusuh tersebut adalah harta yang sangat berharga.

"Semua pakaianmu hanya itu?"

Pertanyaan Gavin membuat Dara menghentikan tangannya. "Iya, Aa."

"Apa tidak ada yang lain?"

"Dulu ada beberapa lagi. Tapi sudah robek, jadi saya jadikan lap." Dara tersenyum kecil.

Gavin terdiam. Tatapannya kembali menyapu isi tas yang akan dipindahkan ke lemari. Tak sulit baginya menebak. Sebagian besar pakaian itu jelas bukan pakaian yang dibeli baru.

"Itu pakaian bekas?"

Dara mengangguk pelan. "Iya."

"Bekas siapa?"

"Kiara," jawab Dara jujur tanpa sedikit pun rasa malu. "Kalau Kiara sudah bosan atau bajunya kekecilan, biasanya diberikan ke aku."

Gavin mengembuskan napas perlahan. Entah mengapa, dadanya kembali terasa sesak.

Laporan Pak Rahmat beberapa hari lalu ternyata belum menggambarkan seluruh kenyataan. Bahkan pakaian yang dikenakan Dara selama ini pun hanyalah sisa milik sepupunya.

Dara kemudian mengambil beberapa stel pakaian baru yang masih tersimpan rapi di dalam kotak. Ia tersenyum tipis. Tangannya mengusap lembut kain berwarna krem itu.

"Kalau yang ini pemberian Aa waktu seserahan. Bagus sekali." Ada binar bahagia di mata Dara. "Seumur hidup saya belum pernah punya baju sebagus ini."

Kalimat itu terdengar sederhana. Namun, membuat Gavin semakin tidak nyaman. Ia membuka lemari pakaian yang telah disediakan untuk Dara. Lemari itu begitu besar, tetapi ketika semua pakaian Dara selesai disusun, isinya bahkan tidak memenuhi satu rak. Masih banyak ruang kosong yang menganga.

Gavin menutup pintu lemari perlahan. "Dara."

"Iya, Aa."

"Siap-siaplah."

Dara berkedip bingung. "Mau ke mana?"

"Belanja."

"Belanja?" Mata Dara berkedip-kedip, rasanya sedang mimpi.

"Iya." Gavin menjawab singkat. "Pergilah bersama Rina atau siapa pun yang bisa menemanimu. Nanti Mang Kodir yang mengantar."

Dara masih tampak kebingungan. "Kalau Aa?"

"Aku harus mengecek gudang bersama Pak Rahmat." Gavin mengambil jam tangan dari atas meja. "Masih banyak pekerjaan yang harus kulihat."

Dara mengangguk pelan. "Iya."

"Tapi ...." Dara tampak ragu. "Aku masih punya pakaian."

Gavin menggeleng. "Itu tidak cukup. Kamu sekarang istriku." Nada suaranya tetap datar, tetapi terdengar tegas.

"Dalam beberapa hari ke depan akan banyak orang datang ke rumah. Relasi bisnis, pengurus perkebunan, orang-orang yang mengenal keluarga ini." Gavin menatap Dara dengan tenang. "Aku tidak ingin kamu merasa rendah diri."

Dara menundukkan kepala. Kalimat itu membuat hati Dara menghangat.

"Aku juga tidak ingin orang lain meremehkanmu hanya karena pakaian yang kamu kenakan."

Dara memahami maksud Gavin. Bukan karena suaminya gengsi. Melainkan karena kini ia membawa nama keluarga Abyakta. Sebagai istri, ia juga harus belajar menjaga penampilan. Bukan untuk pamer, tetapi sebagai bentuk menghargai dirinya sendiri dan keluarga yang telah menerimanya.

"Baik, Aa." Kini panggilan itu terdengar lebih alami keluar dari bibir Dara.

Gavin mengangguk pelan. "Oh, ya. Ada satu lagi."

Dara menoleh.

"Beli ponsel baru."

Dara refleks menyentuh ponsel lamanya yang tersimpan di saku rok. "Ponsel ini masih bisa dipakai."

"Layarnya retak. Baterainya juga cepat habis. Model lama yang enggak bisa pasang banyak aplikasi," ujar Gavin. "Waktu pertama kali kita bertemu, aku sempat melihatnya."

Dara tersenyum malu. "Masih bisa menyala. Itu sudah cukup bagiku."

"Beli yang baru!" ujar Gavin tanpa memberi kesempatan untuk membantah.

Gavin melihat layar ponsel sebentar, lalu memasukkannya kembali ke saku. "Aku sudah mentransfer tiga puluh juta rupiah ke rekeningmu."

Dara membelalakkan mata. "Ti-ga puluh ju-ta?"

1
Sribundanya Gifran
lanjut
Risma Hye Chan
sudah aku ksih vote yaa kak aku bacanya sampe nangis
Ummee
Dara dan Gavin poloosss sekaliii, ya Allah lucunya...
Ummee
suruh bulan madu aja Ma...
Aditya hp/ bunda Lia
rasain kau anak lampir berasa jadi korban padahal kamu penjahatnya
Ita rahmawati
mantab dara,, orang seperti Kiara SM ortunya emang harus dikasih faham walaupun GK akan berubah sih tp segknya mereka harus dibantah biar GK makin makin 😏
Ita rahmawati
ucul bgt sih mereka berdua 🤣🤣
Ita rahmawati
payah lah kalo masih sm2 polos mah,,harusnya lgsg tubruk kan 🤣🤣
Mutaharotin Rotin
gitu Dara,balas ucapan Kiara biar tau rasa 👍👍👍
Mutaharotin Rotin
laaannjjuut 🥰🥰🥰🥰🥰🌹🌹🌹
Risma Hye Chan
lucu banget mrka brdua sumpah wkwkwk
Nar Sih
istri kecil mu yg polos pinter kan ,jdi kmu bnr,,beruntung dan pilihan jodoh yg tepat untuk mu gavin👍🥰
Mutaharotin Rotin
🌹🌹🌹🌹🥰🥰🥰🥰
Nar Sih
hahaha😂😂kencan ala internet sedang di mulai
Sugiharti Rusli
semoga cakrawala berpikir kamu semakin bertambah dengan melihat siapa Dara sekarang yah,,,
Sugiharti Rusli
kamu benar Vin, kamu ga salah pilih istri, karena di balik kepolosan dan sifat sederhana Dara, dia pribadi yang kuat dan pantang menyerah oleh keadaan,,,
Nar Sih
psngn yg bnr,,bikin ngakak ,gavin dan dara yg sama,,msih polos
Sugiharti Rusli
jadi sebetulnya sejak kecil Dara sudah struggle sendiri, dan mereka hanya mendampingi kan sebagai orang dewasa
Sugiharti Rusli
dan sejak dulu Dara bahkan tidak pernah menikmati hasil kerjanya sendiri dan diberikan oleh paman dan bibinya kan,,,
Sugiharti Rusli
rumah itu milik kakeknya, jadi dia juga memiliki hak yang sama buat tinggal sebagai pengganti ortunya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!