NovelToon NovelToon
Bima & Bopo Muda

Bima & Bopo Muda

Status: sedang berlangsung
Genre:Epik Petualangan / Fantasi
Popularitas:361.4k
Nilai: 5
Nama Author: Fernanda Syafira

Novel ini adalah sequel dari Novel karya author yang berjudul Perjalanan Istimewa.

Novel ini berkisah tentang Shima Killa Danurdara, Adik bungsu dari Bopo Arjuna dan juga Bahuraska Adiwangsa, putra Arjuna yang merupakan Bopo Muda Desa Banyu Alas.

Tak hanya itu, di Novel ini juga menceritakan mengenai Bima, adik angkat Aka yang menjadi orang paling dekat dengan Aka dan selalu menemani setiap langkah Aka.

Bagaimanakah perjalanan masa kecil mereka?
Ikuti kisah Shima dan Bahuraska (Aka) juga Bimantara di Novel ini.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

4. Kemampuan Baru

"Mbak Ara pelan - pelan aja jalannya." Kata Aka sambil memegang tangan saudara sepupunya.

Sepupunya itu tampak takut saat hendak melewati jembatan kecil yang terbuat dari dua batang bambu petung yang melintang di atas sebuah sungai kecil.

"Ayo Ara! Bentar lagi sampe." Kata Shima yang sudah menyebrang.

"Iya, Mbak Ara! Jangan takut, ada Mas Aka." Timpal Bima yang menyemangati.

"Alhamdulillah!" Ucap Ara yang nampak lega setelah berhasil meniti jembatan bambu itu.

"Yeeeyy!" Seru Bima yang tampak riang saat semua sudah berhasil menyebrang.

"Ini beneran kita nanti gak di marahin sama Paklik Juna? Tadi kan pamit sama Bulik Awa mau ke sawah Opa." Kata Ara yang sedikit takut.

"Ini emang sawah siapa kalau bukan sawah Bopo? Ini kan sawah Bopo juga." Kata Shima.

"Iya, Mbak. Ini kan sawah Opa juga. Kita gak bohong kok." Timpal Bima.

Mendengar itu, Ara pun kini menjadi lebih tenang. Ia tampak lebih ceria sekarang dan ikut berjalan di pematang sawah dengan riang.

"Aku sama Ara cari keong, kalian berdua yang cari belut ya." Shima mulai membagi tugas.

Mereka berempat pun segera menjalankan tugas masing - masing. Shima dan Ara mengumpulkan keong yang banyak terdapat di sawah. Sementara Aka dan Bima memancing belut dengan peralatan yang sudah mereka siapkan.

Keempatnya tampak asyik melakukan kegiatan mereka. Ketika keong dan belut sudah banyak terkumpul, mereka segera kembali ke pondokan.

"Waah! Belutnya besar - besar. Dek Aka sama Dek Bima keren!" Puji Ara.

"Iya dong! Mas Aka hebat kan." Kata Bima dengan bangga.

"Aka yang nyari?" Tanya Shima yang di jawab anggukan oleh Bima.

"Terus kamu ngapain, Bim?" Tanya Shima lagi.

"Aku yang pegangin embernya. Terus kalau ada belut yang naik - naik tak turunin." Jawab Bima dengan polosnya.

"Ealah, bocah!" Gemas Shima yang kemudian tertawa setelah mendengar jawaban Bima.

"Di bakar di sini, enak nih." Kata Ara.

"Mbak Ara mau makan di sini aja?" Tanya Aka.

"Iya, dibakar kayak waktu kita cari belut sama Kung - Kung itu." Jawab Ara.

"Tapi gak ada bumbunya." Ujar Aka.

"Nty bawa kecap!" Kata Shima yang memang membawa kecap sachet dari rumah.

"Yaudah, aku bersihin dulu belutnya." Kata Aka.

"Emangnya bisa, Ka?" Tanya Shima saat Aka mengeluarkan pisau lipat dari tas yang berisi alat memancingnya.

"Bisa! Aku sering perhatiin Romo waktu bersihin belut." Jawab Aka dengan yakin.

Mereka berempat kemudian menuju ke aliran sungai yang ada du dekat sawah. Aliran sungai itu sangatlah jernih dan biasa di gunakan untuk mengairi sawah.

Shima dan Ara mencuci satu persatu keong yang mereka dapatkan. Sementara Aka tampak sibuk membersihkan belut.

Meskipun sulit karena licin, namun bocah empat tahun yang lincah dan kreatif itu tak menyerah. Ia berusaha membelah tubuh belut yang licin hingga akhirnya menemukan cara untuk mempercepat pekerjaannya.

Aka membaluri tangannya dengan pasir sebelum memegang belut hingga membuat tubuh belut itu tak terlalu licin dan ia bisa lebih mudah membelah tubuh belut.

"Dek Bima, jangan main air terus. Nanti kalau basah, di marahin Mbun." Kata Aka yang sesekali mengawasi adiknya.

"Bima cuma cuci tangan sama kaki kok, Mas." Jawab Bima.

"Tangan sama kakimu ada berapa lho, Bim? Lama banget cuci tangan sama kakinya." Cicit Shima.

"Kan jarinya ada banyak. Jadi lama karena di cuci satu - satu." Jawab Bima.

"Dari pada main air, mending ikut Mbak Ara cari godong (daun) jati, sana. Untuk tempat belut yang sudah bersih." Titah Aka.

"Iya, Mas Aka." Jawab Bima dengan patuh.

"Sekalian cari ranting kering, ya." Seru Shima.

"Iya, Nty!" Sahut Ara.

Ara dan Bima segera menuju ke kebun jati yang ada di dekat sawah. Mereka berdua mengumpulkan ranting kayu dan daun jati yang masih hijau untuk di jadikan alas.

"Pegangin ini, Bim. Aku mau ambil daun jatinya. Itu ada yang pendek." Kata Ara sambil memberikan ranting yang ia kumpulkan pada Bima.

Setelah mengumpulkan apa yang mereka perlukan, Ara dan Bima segera kembali ke tempat Shim dan Aka berada.

"Bakar di sana aja, biar gak jauh - jauh kalau perlu air." Kata Shima sambil menunjuk ke arah tanah datar yang sedikit lebar.

"Tapi kita gak ada yang bawa korek." Ujar Shima.

"Iya ya! Gimana caranya mau ngidupin api?" Timpal Ara.

"Pake batu aja." Kata Aka yang juga pernah melihat cara ini di lakukan oleh Romonya.

Aka kemudian mencari dua buah batu di tepi sungai. Ia lalu mengadu sambil menggesek dua batu itu hingga batu memercikkan api.

"Wah! Ada apinya." Kata Bima sambil menunjuk percikan api yang keluar dari batu.

"Agak susah kalau langsung pakai ranting." Kata Aka yang sudah mencoba berkali - kali menghidupkan api, namun gagal.

"Coba pakai daun kering dulu." Kata Shima. Ia kemudian mengambil daun pisang kering di sekitarnya.

"Nih, Ka. Coba bakar ini." Kata Shima sambil memberikan daun kering pada Aka.

Aka kembali mencoba hingga beberapa saat kemudian, api berhasil menyala. Namun, Shima, Ara dan Bima justru terbengong saat api itu menyala.

"Mas, tadi apinya keluar dari jari Mamas." Kata Bima.

"Gak mungkin lah, Bim! Apinya ini dari batu." Sergah Aka.

"Iya, Ka. Apinya dari telunjukmu. Nty Ncim lihat." Timpal Shima.

"Mbak Ara juga lihat." Kata Ara juga.

Mereka bertiga sama - sama diam dan terbengong sambil berpikir keras. Namun, perhatian mereka langsung teralih ketika mendengar suara tangisan Bima.

"Dek Bima kenapa nangis?" Tanya Ara.

"Tangan Mamas kebakaran. Nanti kalau gosong, gimana?" Kata Bima sambil menangis.

"Cup... Cup... Tangan Masmu gak apa - apa lho, Le. Lihat tuh, gak gosong." Kata Shima sambil mengusap kepala Bima.

"Iya, udah jangan nangis. Lihat ini, Mamas bakarin belutnya. Ini apinya udah jadi." Ujar Aka sambil menyusun ranting - ranting kayu yang perlahan mulai terbakar.

Mereka kembali sibuk membakar belut dan juga keong yang mereka dapatkan. Pikiran mengenai jari telunjuk Aka yang mengeluarkan api pun kini teralihkan.

Mereka berempat kembali riang menikmati belut dan keong yang panas dengan di cocol kecap manis.

"Emang gak panas, Ka? Itu belut sama keongnya masih keluar asap." Tanya Ara.

"Nanti tanganmu melepuh lho, Ka." Timpal Shima yang juga mengkhawatirkan keponakannya.

"Gak apa - apa. Orang gak panas." Jawab Aka sembari menunjukkan tangannya yang baik - baik saja setelah memegang cangkang keong yang masih mengepulkan asap.

"Udah, Nty, Mbak Ara sama Bima makan aja. Aku keluarin keongnya dari cangkang." Kata Aka sambil melanjutkan kegiatannya.

"Gusti Allah paringono sabar!" Seru Arsha yang membuat empat orang bocah itu terjingkat kaget.

"Ngaget - ngagetin aja sih, Yah! Untung gak keselek belut. Cicit Shima.

"Kalian berempat kok main sampe sini?" Tanya Arsha sambil berkacak pinggang.

"Tadi udah pamit kok, Kung. Mau main di sawahnya Opa." Jawab Aka.

"Ya tapi kalo di sini, jauh banget, Nang. Kirain yang deket rumah." Ujar Arsha.

"Ayo pada pulang." Ajak Arsha.

"Delengo kuwi, rupomu doan. Ngasi kelawu mbladus ngono. (Lihatlah itu, penampilan kalian. Sampai abu - abu buluk seperti itu.)" Omel Arsha sambil menggiring anak dan cucunya pulang.

1
Santi
makasi kak oleh2 ya, double up, 🙏🙏pasti tahu lah mamas, bopomu kan bopo istimewa,
Munas Tuti
ayoo oleh2 apa yg yg dibawa Aka..
Santi
syukurlah ratunya baik, jadi ga terjadi masalah besar
Munas Tuti
belum tau ajaa walu kelas Aka klo anak remaja itu seorg bopo.. .alhamdulillah temens Aka kembali
Mulyani Asti
Alhamdulillah gak sampe kejadian kaya Arjuna dulu waktu acara kampus,untung nya nyai nya baik sama aka aku udah deg2 an padahal
Nur Wakidah
oleh2 dari Nyi Ratuuuuuu , , ,
lhah gimna Romo mu gk tau Mas 🤭🤭🤭 wong Romo juga sakti mandra guna 😀😀😀 tp sok ben luweh sakti Mas Aka ✌️✌️✌️ piihhhh Mas Jun jangan marah 😀😀😀
Alah2 Bima leh so sweetttt 🤭🤭🤭 padine kangen Mas Aka 3 dino ora kepetuk ora ng sg dijarak i 🤣🤣🤣
Murti Puji Lestari
ya Allah.. irisan bawangnya sampai sini😭😭😭
amilia amel
kamu salah Ka kalo nanya sama romo-mu
wong romo-mu bopo istimewa
tapi masih istimewa dirimu kok Ka
Munas Tuti
sopo yoo sing nyeloi Aska mau bengii..
Rahmawati
oleh oleh nya apaan tuh
Rahmawati
pak wali kelas gk tau ya kalo aka itu calon bopo😂
Munas Tuti
Yaa Allah melas banget Arjuna...ikutan mrebes mili ikiii
Kristiana Subekti
up lagi thor 😁🤭
Atik Kiswati
sesuatu yg berbau mistis tu bagiku mengerikan.....gk bisa di nalar ama otak kt,hrs pake hati....kalau hatinya baik / bersih sih gpp tapi kalau hatinya jahat / kotor mlh tambah berabe.....
syora
kira kira oleh" apa ya
apapun itu semoga bermanfaat tnpa ada efek berbahayanya
lah mama's mama's aneh bin ajaib romomu kuwi titisan bopo pertama loh
ryriz: semuanya kan titisan... tp yg mewarisi batu panca warna milik bopo cokro manggala kan mamas aka...
total 1 replies
Cica Aretha
allhamduliah di kasih doble up..makasih thor ..semangattttt💪😍
TS
mas Aka dapet apa ya,,,,.semangat Thour Up yang banyak
Nuri 73749473729
alhamdulillah.... bs double2 up Thor semangat thor lanjut
💗 AR Althafunisa 💗
Lanjut ka 🥰🥰🥰❤️❤️❤️
Kasandra Kasandra
double up
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!