Alena Rahmawati tidak pernah menyangka bahwa menemukan dompet seorang pria asing di tengah bioskop tengah malam yang akan akan mengubah kehidupannya.
Demi biaya sekolah adiknya Dimas, Alena menerima tawaran aneh dari Arven Alfarizi, seorang CEO muda yang tampak memiliki segalanya. Sebagai imbalan sejumlah uang, Alena harus membuat Arven jatuh cinta kepada dirinya dalam waktu tiga puluh hari.
Awalnya semua hanya kesepakatan. Namun seiring berjalannya waktu, batas antara sandiwara dan perasaan yang sesungguhnya mulai menghilang. Saat Alena benar-benar jatuh cinta, ia baru mengetahui rahasia yang selama ini Arven sembunyikan.
Mampukah Alena membuat Arven jatuh cinta ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon @Caramel_Machiato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32 ( Saling Cemburu )
Pagi ini Alena datang dengan membawa makanan dan juga obat untuk Arven.
Namun saat Alena keluar dari dalam lift, Alena melihat Arven yang sedang berbicara dengan seorang perempuan.
Perempuan itu cukup cantik bagi Alena.
Arven tersenyum kepada perempuan itu, begitu juga dengan perempuan itu yang terus tersenyum kepada Arven.
Bayu tanpa sengaja melihat keduanya..
" Ada perang nih kayaknya "
Ucap Bayu yang kemudian memilih untuk menghilang sejenak.
Setelah perempuan itu pergi, Alena pun langsung kembali melangkahkan kakinya menuju ruangan Arven.
" Pagi sayang "
Sapa Arven begitu Alena masuk kedalam ruangannya.
" Hmm "
Gumam Alena tanpa membalas sapaan Arven.
" Harusnya jawabannya pagi juga arven sayang, gitu dong Al "
Alena tak menjawab, ia justru sibuk dengan ponselnya saat ini.
" Alena ?? "
Panggil Arven
" Hmm "
" Kenapa ? "
" Berarti ada apa apa ini "
Alena tak menjawab, dan Arven mulai merasa curiga kepada kekasihnya itu.
Bayu masuk kedalam ruangan Arven untuk memberikan berkas.
Ia melihat Alena dengan raut wajah yang tidak seperti biasanya.
Bayu bisa menebaknya jika saat ini Alena sedang cemburu kepada Arven karena perempuan tadi yang Alena lihat.
" Alena.. "
Alena mengangkat kepalanya, dan melihat Bayu yang duduk tak jauh dari dirinya.
Alena pun akhirnya memiliki ide untuk membalas Arven tadi.
" Eh Mas Bayu, tumben ganteng hari ini "
Arven yang sedang fokus membaca berkas pun langsung mengalihkan pandangannya.
Sedangkan Bayu, ia pun mulai menikmati drama yang Alena ciptakan.
" Iyah dong, lo juga cantik hari ini Alena "
" Wih makasih loh mas Bayu "
" Mas Bayu orang pertama yang bilang gue cantik "
" Oh ya ? "
" hmm "
Alena mengangguk sambil tersenyum.
" Mas Bayu, single ? "
" Single, kenapa Alena ? "
" Tipe cewek Mas Bayu kayak gimana emangnya ? "
" Cantik, lucu, imut ya kayak lo lah Al "
Arven mendengarkan semuanya, ia terus menatap Bayu dan Alena dengan tatapan sinis.
Tak lama pintu kembali terbuka, Reza dan ikut bergabung bersama dengan lainnya.
" Loh ada Alena ? "
" Pagi Dokter Reza "
" Pagi, Alena. "
" Dokter Reza hari ini ganteng ya "
Reza sempat bingung, hingga akhirnya Bayu memberikan sebuah kode.
" Ohh iya dong, Alena juga cantik hari ini "
" Makasih Dokter, Dokter orang kedua yang bilang saya cantik "
" Masa sih ? Yang pertama siapa ? "
" Mas Bayu "
" Kirain Arven "
" Arven ? Siapa dia ? Ga kenal "
Bayu menahan tawanya, terlebih melihat Arven yang sudah panas saat ini.
" Kalian mending keluar deh "
Ucap Arven dengan tegas
" Yaudah ayo mas kita keluar " kata Alena
" Kecuali lo Alena "
" Ga mau, mau sama Mas Bayu sama Dokter Reza "
Alena pun menarik tangan Bayu untuk keluar dari ruangan Arven begitu juga dengan Reza yang ikut keluar dari ruangan Arven.
" Emang enak, sukurin biar tau rasa "
Ucap Alena begitu keluar dari ruangan Arven
" Cemburu ya sama cewek tadi ? "
Goda Bayu begitu mereka di luar ruangan
" Engga biasa aja "
" Masa ? "
" Iyah "
Disaat Alena sedang berbicara dengan Bayu, Arven keluar dari ruangannya dan menarik tangan Alena.
" Masuk Alena "
Kata Arven dengan wajah dinginnya
" Engga mau, mau disini aja "
" Alena.."
Akhirnya Alena pun menuruti, ia pun masuk kedalam ruangan Arven kembali.
Arven mengajak Alena untuk duduk di sofa, namun Alena terus menjauh dari dirinya.
" Kenapa sih ? "
" Ga apa apa "
" Astaga Alena, pacar lo ini bukan psikolog yang tau masalah lo tanpa lo ngomong "
Alena pun akhirnya bertanya mengenai wanita yang Alena lihat tadi.
" Lo aja tadi ngobrol sama cewek ga apa apa, masa gue ngobrol sama temen lo ga boleh "
Arven pun tau dimana letak masalahnya.
" Lo cemburu ? "
" Engga "
" Bohong "
" Dikit "
Arven pun tertawa kecil
" Ga lucu, ngapain ketawa "
Kata Alena ketus
" Dia cuma karyawan sayang, bukan siapa-siapa "
Arven pun mendekati Alena
" Alena.. "
" Kalau gue senyum sama orang lain itu artinya gue menghargai"
" Tapi kalau gue senyum sama lo, artinya itu gue cinta sama lo Alena "
Perlahan-lahan Alena pun mulai tersenyum.
" Lo juga tadi cemburu kan ? "
Ucap Alena
" Lumayan "
" Banyak ?? "
" Iyah "
" Walaupun sama temen lo ? "
" Temen bisa nikung Alena "
" Ohh iya "
Arven menarik pinggang Alena, hingga jarak keduanya pun semakin dekat
Alena merasakan jantungnya yang berdebar dengan kencang, begitu juga dengan Arven yang ikut merasakan hal yang sama.
Arven mengusap pipi Alena dengan lembut.
" Masih cemburu ? "
Tanya Arven
" Sedikit "
" Masih Marah ? "
" Masih dikit "
" Masih sayang ? "
Alena tersenyum
" Banyak "
Arven tak bisa menahan senyumnya
Arven semakin mendekat..
Kali ini Alena tidak menghindar
Ia justru menggenggam kerah kemeja Arven
Arven mencium bibir Alena dengan lembut
Berbeda dari sebelumnya
Kali ini tidak terlalu singkat
Tidak terburu-buru
Dan tidak ada rasa gugup seperti sebelumnya
Hanya ada mereka berdua
Alena memejamkan matanya
Sedangkan Arven mengusap lembut rambut Alena
Alena melingkari tangannya di tengkuk leher Arven.
Beberapa saat kemudian, keduanya menjauh perlahan lahan.
Wajah Alena pun merah saat ini
" Arven.. "
" Ya ?? "
" Kayaknya lo harus tanggung jawab "
" Kenapa ? "
" Karena gue semakin jatuh cinta sama lo "
Arven tersenyum senang, sedangkan Alena menunduk malu
Diluar Reza dan Bayu mengintip dari celah kaca..
" Wih akhirnya berani juga si Arven " ucap Bayu
" Iyah, sembuh itu kayaknya "
Kedua sahabat itu merasa bahagia atas hubungan Alena dan Arven.
Karena hal itu menjadi motivasi semangat untuk Arven tetap hidup.
....
Malam hari Alena memegangi bibirnya..
Ciuman Arven masih terasa di bibir Alena..
Alena terus tersenyum, ia bahkan tak bisa melupakan wajah Arven saat ini
" Arven.. Lo harus tanggung jawab "
Alena menutup wajahnya dengan bantal miliknya
...
Dikamar Arven sedang menatap langit kamarnya sambil tersenyum bahagia..
Ia memegangi bibirnya dan terus tersenyum lebar.
" Gue berani juga ternyata " ucap Arven sambil tersenyum
Ting.. !!
Sebuah pesan masuk kedalam ponselnya
Pesan itu dari Alena, orang yang ada di pikiran Arven saat ini.
[Alena : Besok gue kosong jadi bisa temenin lo kontrol ]
[Alena : Jangan mati dulu, lo harus nikahin gue dulu Arven]
Arven tersenyum membaca pesan dari Alena, namun perlahan senyumnya hilang mengingat penyakitnya.
" Nikah.. "
" Lo yakin mau nikah sama gue Alena ? "
Arven menoleh keatas meja, disana ada beberapa obat yang baru saja ia minum.