NovelToon NovelToon
PACAR PALSU, JODOH ASLI

PACAR PALSU, JODOH ASLI

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikah Kontrak / Romansa / Perjodohan
Popularitas:967
Nilai: 5
Nama Author: Althea Shalmaira

Pacar Palsu, Jodoh Asli

Almira Valencia Pradipta, pewaris Pradipta Corporation, selalu menolak gagasan perjodohan. Baginya, cinta harus dipilih sendiri. Namun hidupnya berubah ketika ia terus-menerus dipertemukan dengan Reynard Arsenio Mahardika, pewaris Mahardika Holdings yang arogan, menyebalkan, dan selalu berhasil memancing emosinya. Lelah menghadapi tekanan keluarga dan gosip yang beredar, mereka sepakat berpura-pura menjadi pasangan agar semua orang berhenti ikut campur. Awalnya hanya sandiwara tanpa perasaan, tetapi semakin lama bersama, batas antara pura-pura dan kenyataan mulai menghilang. Saat benih cinta tumbuh, sebuah rahasia besar terungkap: keluarga mereka ternyata telah menjodohkan mereka sejak lahir. Kini Almira dan Reynard harus memilih, melawan takdir yang telah diatur atau mengikuti suara hati yang tak lagi bisa berbohong.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Althea Shalmaira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

7. Grup Rahasia

Malam setelah sesi diskusi di Ruang Anggrek terasa berbeda bagi Almira Valencia Pradipta.

Biasanya, setelah menghadiri acara bisnis atau menyelesaikan sebuah presentasi penting, ia akan langsung melanjutkan aktivitas lain.

Membaca laporan perusahaan, menjawab surel yang menumpuk, atau menyusun agenda kerja untuk hari berikutnya.

Namun malam ini, pikirannya terus kembali pada satu hal yang sangat ingin ia abaikan.

Reynard Arsenio Mahardika.

Pria menyebalkan itu.

Pria yang merebut tempat parkirnya.

Pria yang entah bagaimana selalu muncul di tempat yang sama dengannya.

Pria yang baru saja kalah voting darinya.

Almira meletakkan tablet di atas meja ruang tamu apartemennya.

Ia sudah mencoba membaca laporan proyek selama hampir dua puluh menit.

Hasilnya?

Tidak satu halaman pun benar-benar masuk ke kepalanya.

Setiap kali membaca, ia justru teringat suasana diskusi sore tadi.

Cara Reynard menyampaikan pendapat.

Cara pria itu membantah argumennya.

Cara ia tetap tenang bahkan ketika mereka berdebat cukup panas.

Dan yang paling mengganggu...

Pria itu ternyata memang pintar.

Sangat pintar.

"Kenapa aku memikirkan ini?" gerutunya.

Almira mengambil bantal sofa lalu memeluknya.

Ia tidak menyukai kenyataan bahwa dirinya mulai mengakui kemampuan Reynard.

Karena selama ini jauh lebih mudah menganggap pria itu hanya seorang pewaris kaya yang arogan.

Namun setelah sesi diskusi tadi, ia tahu kenyataannya tidak sesederhana itu.

Pria itu benar-benar kompeten.

Dan fakta tersebut membuatnya sedikit kesal.

Ponselnya bergetar.

Nama yang muncul membuatnya langsung menghela napas.

Nadia.

Sahabatnya sejak kuliah.

Sumber utama kekacauan dalam hidupnya selama dua hari terakhir.

Almira membuka pesan itu.

Nadia:

"Masih hidup?"

Almira:

"Sayangnya iya."

Balasan datang hanya beberapa detik kemudian.

Nadia:

"Bagaimana kencanmu hari ini?"

Almira langsung mengetik dengan cepat.

Almira:

"Itu bukan kencan."

Nadia:

"Aku lihat foto kalian."

Almira:

"Itu rapat bisnis."

Nadia:

"Aku lihat videonya juga."

Almira:

"Itu diskusi kelompok."

Nadia:

"Kalian lucu."

Almira menatap layar ponselnya dengan ekspresi datar.

Kadang-kadang ia bertanya-tanya mengapa masih berteman dengan wanita itu.

Di sisi lain kota, seseorang sedang mengalami malam yang hampir sama.

Reynard duduk di ruang kerjanya yang luas.

Lampu kota terlihat berkilauan dari balik jendela kaca besar.

Di depannya terdapat beberapa dokumen penting yang harus ditinjau malam ini.

Namun fokusnya tidak berada di sana.

Ia membaca satu halaman.

Lalu menyadari bahwa dirinya tidak benar-benar memahami apa yang baru saja dibaca.

Sial.

Ini tidak biasa.

Reynard terkenal karena kemampuannya berkonsentrasi.

Namun malam ini pikirannya justru berulang kali kembali ke diskusi tadi sore.

Ke Almira.

Ke perdebatan mereka.

Ke cara wanita itu dengan percaya diri menentang hampir semua usulannya.

Dan yang lebih menjengkelkan lagi...

Sebagian besar argumen Almira memang masuk akal.

Ia mengusap wajahnya pelan.

"Aku mulai terdengar seperti Raka."

Itu bukan pertanda baik.

Seolah dipanggil oleh semesta, ponselnya langsung bergetar.

Nama yang muncul:

Raka.

Reynard menatap layar itu selama beberapa detik.

Lalu memutuskan untuk tidak mengangkatnya.

Ponsel kembali bergetar.

Dan lagi.

Dan lagi.

Akhirnya ia menyerah.

"Apa?"

Tawa keras langsung terdengar dari ujung telepon.

"Jadi benar."

"Apa yang benar?"

"Kamu sedang memikirkan dia."

Klik.

Reynard langsung mematikan panggilan.

Sementara itu, beberapa kilometer dari sana, di sebuah rumah mewah yang telah menjadi saksi perjalanan keluarga Mahardika selama puluhan tahun, Arman Mahardika sedang menikmati secangkir teh hangat.

Di sampingnya duduk Vania.

Suasana malam itu tenang.

Sampai sebuah notifikasi muncul di ponsel Vania.

Wanita itu tersenyum.

"Oh."

Arman mengangkat alis.

"Ada apa?"

"Sudah dibuat."

"Apa?"

Vania menunjukkan layar ponselnya.

Arman langsung tertawa.

Di sana terlihat sebuah grup percakapan baru.

Nama grupnya membuatnya menggeleng geli.

PROYEK MASA DEPAN

"Nama yang sangat mencurigakan."

"Aku tahu."

"Siapa yang membuatnya?"

"Gilang."

"Tentu saja."

Arman tidak terkejut sedikit pun.

Sahabat lamanya itu memang selalu berlebihan dalam memberi nama.

Tak lama kemudian, pesan pertama muncul.

Gilang:

"Selamat malam, para konspirator."

Arman tertawa.

Vania langsung membalas.

Vania:

"Kedengarannya ilegal."

Gilang:

"Secara teknis memang begitu."

Pesan berikutnya datang dari Raina.

Raina:

"Aku harap tidak ada yang menyadap grup ini."

Arman:

"Kalau Mira melihat isi grup ini, dia akan memblokir kita semua."

Vania:

"Rey juga."

Keempat orang tua itu langsung sepakat.

Itulah alasan grup tersebut harus tetap rahasia.

Percakapan mulai mengalir.

Awalnya ringan.

Tentang video viral.

Tentang acara bisnis.

Tentang bagaimana anak-anak mereka tanpa sadar terus dipertemukan.

Namun perlahan topiknya berubah.

Menjadi sesuatu yang jauh lebih menarik.

Gilang:

"Jadi?"

Arman:

"Jadi apa?"

Gilang:

"Menurutmu bagaimana perkembangan mereka?"

Beberapa detik berlalu sebelum balasan muncul.

Arman:

"Mereka masih saling kesal."

Raina:

"Mira mengeluh tentang Rey selama hampir lima belas menit tadi."

Vania:

"Rey juga membicarakan Mira."

Gilang:

"Nah."

Arman:

"Nah."

Vania:

"Nah."

Raina:

"Kenapa kalian bertiga terdengar sangat puas?"

Karena mereka memang puas.

Bagi orang tua lain, mendengar anak mereka mengeluhkan seseorang mungkin terdengar buruk.

Namun tidak bagi mereka.

Karena mereka tahu satu hal sederhana.

Orang tidak akan menghabiskan banyak energi untuk membicarakan seseorang yang benar-benar tidak penting.

Vania meletakkan ponselnya sesaat.

Pandangannya tertuju pada sebuah foto keluarga yang berada di rak dekat ruang tamu.

Foto itu diambil hampir dua puluh tahun lalu.

Di sana terlihat dua keluarga.

Keluarga Mahardika.

Dan keluarga Pradipta.

Masih muda.

Masih penuh mimpi.

Masih membawa anak-anak kecil yang belum mengerti apa pun.

Vania tersenyum tipis.

Waktu benar-benar berjalan cepat.

Dulu Almira dan Reynard hanyalah anak-anak yang bahkan belum bisa mengikat tali sepatu sendiri.

Kini mereka telah tumbuh menjadi pewaris perusahaan besar.

Dan tanpa sadar sedang berjalan menuju takdir yang sudah lama disiapkan.

Ponselnya kembali berbunyi.

Percakapan grup berlanjut.

Raina:

"Menurut kalian kita perlu membantu?"

Jawaban langsung bermunculan.

Arman:

"Sedikit."

Gilang:

"Sangat sedikit."

Vania:

"Sedikit sekali."

Raina:

"Aku tidak percaya kalian."

Mereka semua tertawa sendiri di rumah masing-masing.

Karena mereka tahu arti "sedikit" versi mereka mungkin berbeda dengan arti sebenarnya.

Keesokan paginya, Indonesia Future Business Summit memasuki hari ketiga.

Almira tiba lebih awal dibanding biasanya.

Ia membawa kopi favoritnya dan berniat menghabiskan hari dengan tenang.

Hari ini tidak ada diskusi kelompok.

Tidak ada debat.

Tidak ada alasan untuk bertemu Reynard.

Atau setidaknya itulah harapannya.

Namun baru beberapa menit berada di hotel, sesuatu menarik perhatiannya.

Seorang panitia berlari tergesa-gesa di lorong.

Tumpukan berkas di tangannya hampir jatuh.

Secara refleks, Almira membantu menangkap beberapa lembar yang terlepas.

"Terima kasih banyak!"

"Sama-sama."

Panitia itu terlihat sangat lega.

Namun saat membereskan berkasnya, sebuah map terjatuh ke lantai.

Beberapa lembar dokumen keluar.

Salah satunya berisi daftar penempatan kursi untuk gala dinner malam nanti.

Tanpa sengaja mata Almira membacanya.

Dan langsung berhenti.

Nama peserta disusun dalam bentuk tabel.

Di sana tertulis jelas:

Almira Valencia Pradipta

Di sebelahnya:

Reynard Arsenio Mahardika

Almira berkedip.

Lalu membaca ulang.

Masih sama.

"Tidak mungkin."

Panitia itu buru-buru mengambil kertas tersebut.

"Oh, maaf."

"Tunggu."

"Ya?"

"Kenapa aku duduk di sebelah Reynard Mahardika?"

Wajah panitia langsung berubah gugup.

"Itu... hasil sistem."

"Sistem apa?"

"Sistem penempatan peserta."

Almira menyipitkan mata.

Jawaban itu terdengar sangat mencurigakan.

Namun sebelum ia sempat bertanya lebih lanjut, panitia tersebut sudah meminta izin pergi.

Di sisi lain hotel, Reynard sedang berjalan menuju ruang konferensi ketika seorang staf acara menghampirinya.

"Pak Reynard, ini kartu tempat duduk untuk gala dinner malam nanti."

"Terima kasih."

Ia menerima kartu itu.

Membacanya sekilas.

Lalu berhenti berjalan.

Nama peserta yang duduk di sebelahnya membuatnya menghela napas panjang.

Almira Valencia Pradipta.

Lagi.

Selalu lagi.

Berapa kali mereka harus dipertemukan dalam tiga hari terakhir?

Tempat parkir.

Ballroom.

Wawancara media.

Diskusi kelompok.

Dan sekarang gala dinner.

Reynard mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.

Kemungkinannya terlalu kecil.

Terlalu sering.

Terlalu kebetulan.

Dan Reynard bukan orang yang percaya pada terlalu banyak kebetulan.

Jauh di tempat lain, empat orang tua sedang menikmati kopi pagi mereka sambil memeriksa ponsel.

Grup PROYEK MASA DEPAN kembali aktif.

Gilang:

"Operasi berjalan lancar."

Raina:

"Aku tidak suka cara kamu mengatakannya."

Vania:

"Aku juga."

Arman:

"Tapi aku menyukainya."

Mereka semua tersenyum.

Karena untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun menunggu, rencana lama itu mulai bergerak.

Pelan.

Hati-hati.

Hampir tidak terlihat.

Namun cukup untuk membuat dua orang keras kepala terus dipertemukan.

Dan baik Almira maupun Reynard belum menyadari bahwa mereka sedang menjadi bagian dari permainan yang jauh lebih besar.

Sebuah permainan yang dirancang oleh orang-orang yang paling mereka percaya.

Orang tua mereka sendiri.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!