Kakaknya bunuh diri setelah gagal menikah karena foto skandal dirinya dengan pria asing.
Naira yang tak terima dengan kematian kakaknya, lantas mencari pria asing itu untuk membalas dendam.
Namun, setelah menemukannya, dia malah terjebak dalam cinta yang tak perlu. Hingga sebuah kenyataan pun terbongkar dan mengubah semuanya.
Bagaimanakah kisahnya?
Jangan lupa follow Instagram @yenitawati24
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yenita wati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bonus Chapter - 2
Keesokan harinya.
"Ayah, bagaimana? Apakah semua lancar?" tanya Naira pada sang ayah.
"Lancar. Kami makan sampai habis, ayah membayar setelahnya, dan mengantarnya pulang." Anggara menanggapi ucapan putri bungsunya.
"Ayah, aku serius," ucap Naira dengan tatapan sedikit kesal.
"Ayah, kami kan ingin tahu apakah Ayah cocok atau tidak dengan ibunya Mely?" Kini gantian Sarah yang berkomentar.
Anggara menarik nafas panjang, lalu mengeluarkannya secara perlahan.
"Entalah, sepertinya Ayah tidak bisa meneruskan ini. Sepertinya dia memiliki trauma mendalam."
"Trauma? Trauma apa, Ayah?" tanya Naira dan Sarah hampir berbarengan. Mereka cukup penasaran dengan apa yang dikatakan oleh ayah mereka mengenai Mita.
"Saat Ayah masuk ke mobil dengannya. Semua terlihat baik-baik saja. Tapi, ketika Ayah mau mengambil sesuatu di dekatnya, dia langsung menghindar seperti sedang melindungi dirinya. Gelagatnya seperti orang yang takut dipukul."
"Apa? Sampai begitu?"
"Iya, dan lagi. Saat Ayah membenarkan kaca spion tengah? Dia juga menutupi kepalanya dan menjauh. Jelas sekali sepertinya dia mengalami kekerasan dari seseorang selama ini," ucap Anggara sambil menghembuskan nafas panjang. Padahal, dibanding wanita-wanita yang pernah dikenalnya, hanya Mita lah yang paling cocok untuknya.
Naira pun tertegun dengan ucapan sang ayah. Akhirnya dia memutuskan untuk menemui Mely, selaku anak dari Mita. Mereka pun bertemu di sebuah restoran. Naira membawa Vinny karena sang suami sedang bekerja. Dia sudah berhenti sementara dari perusahaan karena ingin mengurus rumah tangga. Sedangkan perusahaannya kini dikelola oleh ayahnya yang sudah pulih seutuhnya.
"Kenapa, Nai?" tanya Mely dengan tatapan penasaran.
"Mel, memangnya dulu, ibumu dan ayahmu seperti apa?"
"Seperti apa bagaimana? Ya seperti pasangan suami istri pada umumnya, lah." Mely mengernyitkan dahinya. Dia sama sekali tak mengerti ucapan Naira.
"Mereka romantis tidak?"
"Sangat romantis. Bahkan kalau ada acara keluarga, semua orang pasti iri dengan mereka karena keharmonisan mereka. Ayah begitu memperlakukan ibuku dengan baik. Dia sangat mencintainya dengan sepenuh hati. Makanya, aku sangat sulit waktu membujuknya untuk berkenalan dengan ayahmu."
Naira yang mendengar ucapan Mely merasa heran dan tak mengerti mengapa ayahnya menganggap bahwa ibunya Mely mengalami kekerasan dari seseorang. Atau, bukan suaminya yang melakukannya?
"Nai, kenapa? Sepertinya kau bimbang." Mely melihat wajah Naira yang terlihat bingung.
"Maafkan aku, Mel. Tapi, ayahku bilang, dia menemukan gelagat aneh pada ibumu. Katanya, ibumu seperti memiliki trauma dengan seseorang. Dia seakan-akan takut dipukul oleh seseorang yang bersamanya." Naira terpaksa menceritakan semuanya agar Mely mengetahui tentang hal ini.
"Apa? Masa begitu? Tapi, ibuku tidak pernah bercerita pada siapapun. Maksudku, ketika bersama almarhumah ayahku, dia sangat bahagia." Mely mengingat kenangannya bersama almarhum ayahnya yang dikenal sangat baik.
Ayahnya terkenal sangat ramah dan dermawan. Suka menolong orang dan setia pada ibunya. Bahkan banyak tetangganya yang iri dengan keharmonisan mereka. Tak pernah sekalipun dia melihat sang ibu menangis. Setiap hari, hanya senyuman kebahagiaan yang terpancar dari wajah ibunya.
"Entahlah, Mel. Padahal, ayahku menyukai ibumu. Dia mengatakan bahwa ibumu adalah wanita yang paling cocok untuknya. Tapi, Ayah tidak mau membuat ibumu ketakutan dengan keberadaannya." Naira menghela nafas pasrah. Padahal dia ingin sekali melihat ayahnya berdampingan dengan seorang wanita. Namun, itu hanyalah angan-angan saja karena pada kenyataannya, mereka harus kalah dengan trauma yang dialaminya.