Setelah lelah menjalani hidup yang penuh kegagalan, Arga memutuskan berhenti dari pekerjaannya. Namun, ironisnya ia tewas.
Saat membuka mata, ia kembali ke masa SMA, titik awal kehidupan buruknya. Bedanya, kini ia memperoleh Sistem Keuntungan Usaha yang membuat setiap bisnis yang berhasil memberinya hadiah melimpah.
Di kehidupan kedua ini, Arga bertekad mengubah nasib dan membangun kerajaan bisnisnya sejak masih berseragam sekolah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sistem One, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34: Hukuman
Di dalam ruang BK, suasana terasa sangat pekat dan menekan.
Tiga murid bermasalah: Arga, Devan, dan Hendra duduk berjejer di hadapan meja Guru BK.
Beberapa guru lain bahkan tampak berdiri di sekitar pintu, menatap mereka bertiga dengan raut wajah geram sekaligus penasaran ingin melihat akhir dari keributan ini.
"Begini... hanya karena orang tua kalian adalah donatur besar di sekolah ini, bukan berarti kalian bisa seenaknya bersikap seolah tempat ini milik pribadi. Tolonglah mengerti posisi kami," ujar Guru BK sambil menghela napas berat, memijat pelipisnya yang berkedut.
Sementara sang guru berbicara serius, tiga orang di depannya justru sama sekali tidak bisa diam. Mereka saling senggol dan adu siku di atas kursi.
"Kakimu diam kenapa, sih?!" bisik Devan kesal.
"Tanganmu duluan yang nyenggol, bego!" balas Hendra tak mau kalah.
Arga yang duduk di antara mereka langsung menggeser kursinya menjauh. "Jangan dekat-dekat deh, kalian berdua bau minyak angin!"
Guru-guru yang menyaksikan tingkah konyol itu rasanya ingin melempar mereka bertiga ke rawa-rawa untuk jadi makanan buaya.
Guru BK menyipitkan mata, menepuk meja untuk menarik perhatian. "Sudah, cukup! Begini saja. Mulai hari ini, setiap sepulang sekolah, kalian bertiga wajib melakukan kegiatan amal di rumah sakit."
Devan dan Hendra langsung tersentak kaget. "Tapi, Pak...!"
"Tidak ada tapi-tapian! Ini hukuman resmi sekaligus pembelajaran moral bagi kalian. Selama di sana, kalian akan didampingi langsung oleh saya dan Pak Bima."
Berbeda dengan Devan dan Hendra yang tampak sangat keberatan, Arga justru bersikap santai.
Ia hanya menyandarkan punggungnya ke kursi sambil bersedekap dada, menerima keputusan itu tanpa protes.
Beberapa saat kemudian, mereka akhirnya diperbolehkan keluar dari ruang BK. Hendra melangkah lebar-lebar sambil berdecak kasar.
"Akh, sialan! Hidupku jadi apes terus setelah berurusan sama si Arga!" umpat Hendra dengan wajah bersungut-sungut.
Arga yang mendengar umpatan itu langsung berteriak menunjuk punggung Hendra. "Sembarangan banget kalau omong! Hidupku yang gak tenang gara-gara kamu, Hendra!"
Sementara itu, Devan hanya berdiri diam sambil menghela napas panjang. Begitu pandangannya beradu dengan mata Arga, ketegangan mendadak kembali tercipta.
"Apa lihat-lihat?!" bentak Devan sinis.
"Ya apa? Mau kucongkel matamu?!" balas Arga santai sambil memasang wajah menantang.
"Sini kalau berani!" Devan mengepalkan tangan.
Ekhem! Ekhem!
Suara dehaman keras Pak Bima dari balik pintu ruang BK langsung menghentikan adu mulut itu.
Arga dengan sigap berbalik dan berjalan cepat menuju kelasnya, sementara Devan mengurungkan niatnya dan beranjak pergi.
Di tengah perjalanan menuju kelas, Devan merogoh saku dan mengeluarkan ponselnya. Ia menatap layar yang sepi dari notifikasi. "Kok si Reina gak ada chat sama sekali kayak biasanya ya? Ah, baguslah, lagian aku lagi malas meladeni perempuan," batin Devan tanpa curiga sedikit pun.
Arga melangkah santai menuju kantin sekolah yang ramai.
Pandangannya mengedari setiap sudut area makan. "Si Dimas ke mana ya? Kok belakangan ini jarang kelihatan?" pikirnya.
Kehadiran Arga di kantin langsung memancing perhatian.
Murid-murid yang sedang duduk sibuk berbisik-bisik, teringat pada rekaman video Devan yang heboh menyebar tadi pagi dan masalah ribut tadi. Arga berpura-pura tidak tahu dan terus melangkah.
Di salah satu meja pojok, Arga melihat adiknya, Gavin, sedang duduk berkumpul bersama teman-teman sekelasnya.
"Vin, kamu masih pacaran sama Silvia gak?" tanya salah satu teman Gavin.
Gavin menyahut santai sambil mengunyah camilan, "Masih. Memangnya kenapa?"
"Ya kalau udah putus kan aku bisa coba nembak dia, wkwkwk!"
Gavin menggelengkan kepala. "Sialan kamu!"
Tiba-tiba, Arga berjalan mendekati meja mereka. Teman-teman Gavin yang menyadari kedatangan senior bermasalah itu langsung menyenggol lengan Gavin.
"Vin, abangmu tuh..."
"Mau ngapain dia ke sini?"