NovelToon NovelToon
Kali Ini, Aku Yang Menyerah

Kali Ini, Aku Yang Menyerah

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Pelakor jahat / Selingkuh
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Floravest

Perubahan signifikan dari sikap suami, membuat Azalea curiga dan mulai menaruh perhatian pada gerak-gerik Ramdan.

Biasanya yang pulang kerja menyambut dengan senyuman hangat, kini cuek dan mengabaikannya. Azalea mulai meneliti setiap kelakuan suaminya.

Ia yang di cap mandul oleh mertua, membuatnya memilih mengakhiri pernikahan 2 tahun ini. Dan pulang ke rumah. Namun di rumah pun ia ditolak, alhasil ia luntang-lantung di jalanan.

Bagaimana kisah Azalea kelanjutannya? Kita kuak balik ceritanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Floravest, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Dewa seperti predator

Tubuh Aza menegang hebat. Ia palingkan wajah cepat saat nafasnya hampir putus Dewa buat, menarik selimut menutupi mulut. Dewa usap sudut bibirnya yang basah, tersenyum tipis, lalu mengecup pipi Aza singkat. Menatap lekat wajah yang malu-malu di bawahnya itu.

"Maafkan aku, Lea. Tapi diriku sudah sangat tidak tahan." bisik Dewa di telinganya, menghembuskan nafas lirih di tengkuk leher Aza hingga wanita itu meremang, memejam kuat.

Kenapa Dewa jadi seberani ini? Mana sikap lembut dan sedikit pemalu itu?! Sekarang dia lebih mirip predator daripada pria lembut yang manis!

"De-Dewa aku mohon." cicit Aza gemetar.

Jika Dewa tak segera menghentikan aksinya. Mungkin Aza akan kehilangan kewarasan dan berakhir melakukan hal bodoh yang akan ia sesali.

Dewa sendiri sudah amat menahan selama ini. Menahan segala gejolak pria dalam dirinya.

Dewa akhirnya mengalah, pria itu bangkit perlahan saat melihat Aza gemetar ketakutan dibawah rengkuhannya.

pria itu kini duduk dengan tegap. Mengangkat tubuh Aza dengan mudahnya ke posisi tidur yang benar. Ia tarik selimut menutupi hingga sedada Aza. Lalu tidur di sampingnya menghadap ke arahnya, dengan kepala bertumpu pada tangan.

Satu tangannya terulur, merengkuh pinggangnya Aza, lalu menariknya mendekat ke dalam pelukannya. Ia dekatkan wajahnya di bawah leher Aza, membenamkan wajahnya di leher wanita itu hingga tubuhnya menegang.

"Dewa....kamu sebenarnya mau ngapain?" cicit Aza.

Jujur ia masih ketakutan. Meski Dewa sudah menghentikan aksinya. Tetap saja tangannya tidak bisa diam. Apalagi wajahnya, sangat dekat. Aza sampai tahan nafas berkali-kali ia buat.

"Tidurlah, Aza. Jangan bertingkah, karena aku tidak menjamin aku akan terus menahannya seperti ini."

Jantung Aza rasanya ingin berhenti berdetak. Tubuhnya sangat tegang, Dewa merasakan otot-otot Aza menegang dan kaku. Membuat sudut bibirnya tertarik tipis.

"Ak-aku akan tidur." balasnya gugup, segera memejamkan mata dengan cepat.

Dewa membuka matanya perlahan, menatap wajah yang kentara sekali sedang ketakutan itu. Tersenyum tipis. Ia kecup lagi pipi Aza lembut, "Tidurlah yang nyenyak, sayang."

***

Esoknya, Dewa berangkat ke kantor lebih awal karena ada miting dengan kolega luar negeri. Akhirnya Aza bisa bernafas lebih lega. Ia tatap mobil Dewa yang meluncur keluar dari gerbang. Menjatuhkan tubuhnya pada sofa.

"Syukurlah dia sudah pergi. Dia benar-benar menakutkan." desis Azalea gemetar, merinding hebat saat membayangkan pamitan tadi.

Dimana saat Dewa sudah bersiap. Ia yang membantu memasangkan dasi di ruang tengah. Dewa terus menatapnya dengan intens. Senyuman tipis itu, entah kenapa seperti belenggu yang menyita seluruh pengawasannya. Seolah jika Aza meleng sedikit. Bibirnya mungkin sudah Jontor Dewa buat.

Dewa masukkan kedua tangan ke dalam saku celana, lalu mencondongkan wajahnya ke bawah, hingga jarak hidung mereka hanya beberapa centi.

Aza relfeks membola, menatap kosong dasi yang sedikit lagi selesai itu. Tak berani mendongak.

"Kenapa tak menatap wajahku, Lea. Apa kau takut?"

"Jangan bertanya untuk hal yang sudah pasti, Dewa." dengus Aza kesal, merunduk dan menarik dasi cepat sebatas kerah.

Aza buru-buru mundur, memberi jarak. Membuat Dewa tersenyum miring, menegakkan kembali punggungnya perlahan.

"Ahh sial, setidaknya aku harus mendapatkan morning kiss bukan?"

Semburat merona muncul di pipi Aza. Wanita itu buru-buru merunduk, menutup pipinya yang memerah karena malu.

"Sebaiknya kamu cepat berangkat!" ketua Aza lantas berjalan ke belakang Dewa. Lalu mendorong tubuh kekar itu untuk segera pergi dari rumah.

Sana pergi! Aku benar-benar dibuat merinding jika kau terus disini!

Aza terus menggerutu dalam hati. Mendorong dengan susah payah tubuh besar yang sengaja menahan kakinya itu. Membuat wanita di belakangnya terengah-engah.

"Ahh sudahlah! Serahmu saja sana!" ketua Aza malas, berbalik cepat.

Dewa tertawa kecil, berjalan dengan langkah tenang mendekat Aza. Lalu mendekapnya dengan cepat dari belakang. Membuat Aza refleks melotot, menatap sekeliling dimana para maid dan pengawal berlalu lalang sembari merunduk tegang itu.

"Dewa lepasin....!" bisik Aza merasakan malu yang amat sangat. Mencoba mendorong kuat tangan Dewa ke bawah.

Pria itu tersenyum tipis. Ia hidu wangi leher Aza yang begitu menggoda imannya itu. Lalu mengecup bawah telinga Aza hingga wanita itu refleks menjerit, menutup mulutnya cepat.

Aza lantas berbalik, menggeplak bahu Dewa kesal, "Kamu ngapain! Malu dilihat orang!" gerutu Aza berbisik, bibirnya maju lima centi.

Bukannya merasa bersalah. Dewa justru tergoda dengan bibir Aza. Matanya langsung berubah sayu, bibirnya terbuka tipis sebelum akhirnya ia raih dagu Aza. Lalu mengecupnya dengan rakus.

Aza melotot, memejam kuat sambil mendorong-dorong dada bidang yang begitu kokoh dan tangguh itu. Namun nihil, tenaganya tidak sebanding dengan tenaga pria bringas di depannya. Aza benar-benar malu setengah mati. Apalagi banyak maid yang berlalu lalang. Melihat bosnya begitu gragas di ruang tengah. Pasti mereka berfikir macam-macam.

"Hufttt astaga....capenya..." desah Aza sembari mengipasi wajahnya dengan tangan, menyandarkan punggungnya pada sofa.

"Aku tidak mengira Dewa akan seberani itu sekarang. Apa memang dia aslinya seperti itu? Tapi aku ingat betul Dewa dulu cukup cuek dan pemalu. Mana mungkin Dewa bisa menjadi sebringas itu.

"Hmm....apa mungkin dia sudah berpengalaman dengan wanita lain?"

Kata-kata itu meluncur bebas dari mulutnya. Yang justru malah menimbulkan overthinking baru di otaknya. Aza tepuk kepalanya cepat, mencoba mengusir kecurigaan itu cepat.

"Ngga, Aza. Kamu harus berfikir positif." imbuhnya, meyakinkan diri.

Sepanjang jalan Dewa tersenyum menatap jalanan yang lumayan padat. Menatap kosong pemandangan yang berlalu lalang di depannya.

Otaknya justru memutar memori beberapa menit lalu. Dimana ia melihat wajah Aza begitu merah hingga rasanya ia ingin melahapnya sekarang juga.

"Sial, sekarang aku lebih mirip predator."

***

Seharian ini Aza begitu bahagia. Ia bisa bernafas dengan lega karena Dewa tidak mengganggunya dan mengusik jantungnya itu. Ia berjalan mengelilingi rumah besar nan megah. Ia bahkan baru tau jika di belakang ada rusa-rusa yang memenuhi taman. Rusa bertanduk indah yang seharusnya menjadi hewan dilindungi. Namun begitu sehat dan gemuk dibawah naungan Dewa.

Aza melongo menatap luasnya Padang rumput serta pohon-pohon rindang yang mengelilinginya. Banyak rusa bertanduk cantik berlalu lalang. Ada juga burung merak, lapangan kuda, dan lapangan golf di samping.

"Kenapa aku baru tau ada tempat seindah ini?!" pekik Aza syok.

Selama di rumah Dewa. Ia hanya berjalan di tempat-tempat terdekat dengan ruang tamu dan kamar. Ia belum pernah berkeliling hingga ke belakang rumah. Baru kali ini lah dia berani karena tidak ada Dewa yang mengawasinya dua puluh empat jam itu. Membuat bisa bernafas lebih lama.

"Ahh Dewa sialan itu. Dia asik menggodaku sambil menyembunyikan tempat seindah ini. Mengebalkan." Dengus Aza kesal, bibir bawahnya maju dengan pipi yang mengembung itu. Begitu imut.

"Padahal aku hendak memberi kejutan. Tapi sudah ketahuan duluan."

Bisik Dewa tepat di telinga Aza. Membuat wanita itu membola, refleks terjingkit, berbalik. Mendapatkan start. Dewa langsung menarik tubuh Aza ke dalam pelukannya. Menyatukan tubuh mereka hingga tak ada jarak yang tersisa.

Ia lumat bibir Aza lembut. Lalu berbisik, "Rasanya aku benar-benar gila tidak melihatmu seharian ini. Tapi sepertinya kau cukup senang tidak ada aku yah?"

1
anggita
ikut ng👍like, kasih iklan☝aja. moga novelnya lancar.
Floravest🔥: aamiin makasih kakak🤗
total 1 replies
anggita
di novel, tiap pintu dibuka pasti... ceklek😅, ora tau grobyak, bruuak dll
Floravest🔥: nanti jadi aneh😂
total 1 replies
Dynhz
bagus bgt🔥
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!