NovelToon NovelToon
Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Ramuan Ajaib: Bangkitnya Bumi

Status: sedang berlangsung
Genre:Dikelilingi wanita cantik / Anak Genius / Mengubah Takdir
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Asep agustian

Diusir dari desa karena fitnah kemiskinan, Bumi terdampar di kerasnya ibu kota sebagai kuli panggul pasar yang kerap. Satu-satunya alasan ia bertahan hidup adalah Alya, gadis sederhana yang tulus merawat luka-lukanya.

Nasib Bumi berubah total setelah ia di beri ramuan ajaib oleh kakek misterius yang membuat perubahan pada tubuh dan otaknya. Terbangun dengan kecerdasan mutlak sekelas superkomputer, Bumi bertransformasi menjadi The Ghost Trader—raja saham baru yang ditakuti di dunia bisnis. Ia bahkan berhasil menyelamatkan perusahaan milik Kirei, seorang CEO wanita dingin yang akhirnya jatuh hati pada harga diri Bumi.

Namun, berdiri di puncak takhta berarti mengundang badai. Adrian, konglomerat kejam sekaligus rival asmaranya, siap menghancurkan Bumi lewat sabotase berdarah. Di tengah perang bisnis yang mematikan, hati Bumi juga terkoyak dalam dilema pelik antara ketulusan Alya dari masa lalunya, atau pengorbanan Kirei yang mempertaruhkan nyawa demi masa depannya.

Mampukah mantan ku

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asep agustian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20. Belajar... Belajar... Dan Belajar...

Malam pun tiba menggantikan jingganya sore di kawasan pasar induk. Setelah memantapkan tekadnya di kamar kos, Bumi memutuskan untuk tidak pergi ke tempat Mandor Badrun untuk mencari giliran kerja malam. Malam ini, ia punya agenda yang jauh lebih penting untuk masa depannya. Dengan kaos oblong bersih yang sedikit pudar dan celana jins lusuh, Bumi melangkah keluar dari gerbang pasar, memulai penjelajahannya menyusuri jalanan ibu kota yang belum pernah ia jamah sebelumnya.

Sambil berjalan santai, Bumi mulai mengaktifkan kemampuan otaknya. Ia sengaja mempelajari topografi daerah itu secara mendetail. Matanya dengan cepat merekam setiap plang nama jalan, persimpangan, gang-gang tikus, hingga rute dan nomor trayek kendaraan umum, mulai dari angkot, bus kota, hingga jalur trans yang melintas di sana. Otaknya memetakan semuanya layaknya sebuah GPS canggih, menyerap informasi spasial itu tanpa ada yang terlewat sedikit pun.

"Kalau gua tahu semua seluk-beluk jalanan dan jalur transportasi di kota ini, nanti bakal gampang buat memperluas pengetahuan dan pergerakan gua," gumam Bumi dalam hati, merasa langkah awalnya ini sudah sangat tepat.

Saat sedang berjalan menyusuri trotoar di emperan deretan ruko tua yang sebagian besar sudah tutup, pandangan mata Bumi mendadak tertuju pada sebuah kios yang lampunya masih menyala terang. Di depannya terpasang papan kayu bertuliskan “Toko Buku Bekas & Langka Berkah”. Papan itu sudah agak usang, namun tumpukan buku di dalamnya terlihat sangat melimpah.

Seketika itu juga, dada Bumi berdegup kencang karena rasa tertarik yang luar biasa. "Nah, ini dia tempat yang gua cari. Gua harus baca buku apa aja malam ini, pokoknya yang kira-kira bakal berguna buat kedepannya."

Bumi melangkah masuk ke dalam toko buku bekas tersebut. Suasana di dalam ruko itu cukup ramai. Tampak ada beberapa kelompok mahasiswa dan mahasiswi yang penampilannya rapi dan modis, sedang asyik memilah-milah buku sambil sesekali berdiskusi kecil. Bumi tak memedulikan mereka, ia langsung membaur dan ikut melihat-lihat rak kayu yang berjejer rapat.

Koleksi di toko ini ternyata sangat lengkap. Mulai dari buku ilmu ekonomi, hukum tata negara, kamus berbagai bahasa, hingga buku-buku tebal tentang teknologi komputer terbaru. Bumi berjalan ke pojok rak teknologi, lalu mengambil sebuah buku tebal berjudul “Advanced Network Security and System Architecture”.

Begitu ia membuka halaman pertama dan mulai membaca lembar demi lembar dengan kecepatan membalik halaman yang sangat cepat, bisik-bisik bernada miring dari gerombolan mahasiswa di dekatnya langsung terdengar jelas oleh telinga super tajam Bumi.

"Eh, lihat deh cowok yang di pojok itu. Penampilannya lecek banget kayak gembel pasar, mukanya juga lebam-lebam gitu habis berantem ya?" bisik seorang mahasiswi berambut sebahu kepada temannya.

"Iya, gaya-gayaan banget megang buku arsitektur jaringan komputer tingkat dewa. Palingan dia cuma iseng doang itu, cuma mau ngelihat gambar-gambar diagramnya atau nyari tempat ngadem," sahut mahasiswa berkacamata di sebelahnya sambil tertawa sinis.

Mendengar kasak-kusuk itu, pemilik toko buku, seorang pria paruh baya yang sedang duduk di balik meja kasir, juga ikut menatap Bumi dengan pandangan skeptis. Ia berdeham keras, "Ehem! Mas yang pake kaos oblong... kalau bukunya cuma mau dilihat-lihat gambarnya aja jangan lama-lama ya, nanti halamannya lecek gak bisa dijual."

Bumi yang mendengar semua nyinyiran dan teguran itu sama sekali tidak merasa sakit hati atau emosi. Ia tetap bersikap cuek, fokus membalik halaman buku di tangannya dengan kecepatan konstan. Di dalam pikirannya, otaknya sedang sibuk bekerja luar biasa cepat, memindai, menghapal, dan menyerap semua ilmu sistem keamanan komputer, kode-kode pemrograman, dan jaringan digital yang tertera di sana. Informasi rumit itu langsung melekat sempurna di memorinya seperti file yang selesai diunduh.

Sret... sret... sret...

"Biarin aja mereka ngomong apa, yang penting ilmu ini masuk ke otak gua secara gratis," batin Bumi sambil tersenyum tipis.

Saat Bumi sedang asyik menamatkan buku teknologi komputer keduanya, suasana hening di bagian tengah toko mendadak pecah oleh suara keluhan frustrasi dari seorang mahasiswa berjaket almamater biru. Mahasiswa itu tampak mondar-mandir sambil memegangi kepalanya di depan sebuah meja bundar kecil. Di atas meja tersebut, berserakan kertas-kertas tugas dan sebuah buku bersampul cokelat tua dengan tulisan beraksara unik yang sangat asing.

"Duh, mampus gua! Ini tugas musti dikumpul besok subuh via email ke dosen, tapi bab referensinya malah pakai bahasa Rusia kayak gini! Gak ada terjemahannya sama sekali di internet," keluh mahasiswa itu dengan wajah panik dan frustrasi, berbicara kepada temannya.

Temannya yang sedang mengetik di laptop ikut menghela napas pasrah. "Ya lagian lu nekat banget ambil jurnal internasional itu. Mana ada yang paham bahasa Rusia di kampus kita, di Google Translate juga bahasanya jadi ngaco kalau buat istilah teknik ekonomi makro begini."

"Gua bener-bener mentok ini, bisa-bisa gak lulus matkul gua semester ini!" kata mahasiswa itu lagi, wajahnya sudah hampir menangis.

Melihat kepanikan yang teramat sangat dari mahasiswa tersebut, hati Bumi yang berniat mengamalkan pesan leluhurnya untuk menolong sesama langsung tergerak. Ia menutup buku komputernya, mengembalikannya ke rak, lalu melangkah santai mendekati meja bundar tempat kedua mahasiswa itu berada.

"Permisi, Mas. Kalau boleh tahu, bagian mana dari buku bahasa Rusia itu yang bikin Mas kebingungan?" tanya Bumi dengan gaya bahasa yang santai namun sopan.

Mahasiswa berjaket almamater itu menoleh ke arah Bumi. Begitu melihat penampilan Bumi yang kumal dengan kaos oblong lusuh seperti kuli pasar, alisnya langsung bertaut heran dan agak tersinggung. "Hah? Lu nanya bagian mana? Emangnya lu ngerti, Bang? Ini buku teori ekonomi kuantitatif tingkat tinggi, ditulis pake aksara Sirilik Rusia. Bukan buku komik."

Beberapa mahasiswa lain yang tadinya sibuk memilih buku juga ikut menengok ke arah mereka, beberapa di antaranya mulai tersenyum meremehkan, mengira Bumi sedang cari perhatian atau melawak di tempat yang salah. Bahkan pemilik toko buku dari meja kasir sampai berdiri untuk mengawasi.

Bumi tidak terpancing oleh nada meremehkan itu. Ia langsung mengulurkan tangannya ke meja, membalik halaman buku berbahasa Rusia tersebut ke halaman yang sedang ditunjuk oleh coretan pulpen si mahasiswa. Begitu matanya membaca deretan aksara Sirilik yang rumit, kemampuan otak supernya langsung beraksi, menerjemahkan dan merangkai isinya menjadi kalimat bahasa Indonesia yang sangat baku dan ilmiah dalam hitungan detik.

"Oh, yang ini ya. Ini bab tentang analisis regresi linier dalam penentuan kebijakan moneter negara berkembang," kata Bumi dengan pelafalan istilah ekonomi yang sangat matang dan lancar.

Ia mengambil sebuah pulpen kosong di atas meja, lalu menarik selembar kertas kosong milik mahasiswa itu. "Buku ini ngejelasin kalau rumus di halaman ini intinya adalah untuk menghitung dampak inflasi terhadap daya beli masyarakat. Sini, saya tuliskan terjemahan lengkap bab ini beserta kesimpulan rumusnya buat tugas Mas."

Tangan Bumi mulai bergerak cepat di atas kertas, menuliskan kalimat terjemahan yang sangat rapi dan struktur rumus ekonomi yang rumit secara detail dari buku berbahasa Rusia tersebut.

Sret... sret... sret...

Mahasiswa berjaket almamater biru itu langsung melongo. Ia buru-buru mendekatkan wajahnya ke kertas, membaca setiap baris terjemahan yang ditulis oleh Bumi, lalu mencocokkannya dengan beberapa grafik di buku Rusianya. Matanya melebar hingga hampir keluar dari bingkainya.

"Ini... ini beneran terjemahannya! Istilah ekonominya pas banget sama silabus kuliah gua! Demi apa, kok lu bisa paham bahasa Rusia, Bang?!" seru mahasiswa itu dengan suara yang bergetar karena syok sekaligus sangat gembira.

Temannya yang memegang laptop juga ikut memeriksa tulisan Bumi dengan mulut menganga. "Gila! Ini akurat banget! Struktur kalimatnya teratur dan runtut, gak kayak terjemahan mesin! Lu kuliah di jurusan sastra Rusia atau gimana, Bang?"

Mendengar kehebohan di meja tersebut, gerombolan mahasiswa dan mahasiswi yang tadi sempat nyinyir dan meremehkan Bumi langsung berbondong-bondong mendekat. Mereka semua menatap kertas tulisan Bumi, lalu menatap sosok Bumi yang berpenampilan seperti gembel dengan pandangan yang berubah drastis, penuh dengan keterkejutan, ketakutan karena salah menilai, dan rasa kagum yang luar biasa besar.

"Seriusan? Dia bisa nerjemahin buku teks bahasa Rusia secepat itu tanpa kamus?" bisik mahasiswi berambut sebahu yang tadi mengejek Bumi, wajahnya kini memerah menahan malu.

Pemilik toko buku bekas itu bahkan sampai berjalan keluar dari meja kasirnya, mendekati Bumi dengan mata berbinar-binar kagum. "Luar biasa... anak muda, saya minta maaf atas sikap skeptis saya tadi. Ternyata kamu adalah orang pintar yang bersembunyi di balik kesederhanaan. Hebat sekali kamu!"

Bumi menyelesaikan tulisan di lembar kedua, lalu meletakkan pulpennya kembali ke atas meja sambil memberikan senyuman santai kepada mahasiswa yang dibantunya. "Nih, Mas, udah selesai semua terjemahan dan rangkuman rumusnya sampai halaman terakhir bab itu. Silakan langsung diketik buat tugasnya, dijamin gak bakal keliru lagi."

Mahasiswa berjaket biru itu menerima kertas tersebut seperti menerima harta karun berharga. Ia langsung menjabat tangan Bumi dengan sangat erat dan penuh rasa hormat. "Aduh, Bang... makasih banyak, banyak banget! Lu bener-bener penyelamat hidup gua malam ini! Kalau gak ada lu, gua pasti udah dapet nilai E semester ini. Makasih banyak ya, Bang!"

"Sama-sama, Mas. Santai aja, sesama orang yang lagi berjuang emang udah tugasnya buat saling bantu," jawab Bumi tulus, mengingat kembali pesan leluhurnya untuk selalu rendah diri.

Bumi kemudian menoleh ke arah pemilik toko buku yang masih menatapnya dengan pandangan takjub. "Pak, saya pamit pulang duluan ya. Terima kasih sudah diizinkan membaca-baca di toko Bapak malam ini."

"Oh, iya, iya, silakan, Mas! Pintu toko ini selalu terbuka lebar buat kamu kapan saja kamu mau datang membaca di sini, gratis!" sahut pemilik toko dengan nada suara yang sangat ramah dan menghormati Bumi.

Bumi mengangguk hormat kepada semua orang di toko yang kini menatap kepergiannya dengan pandangan penuh rasa takjub dan kagum yang mendalam. Ia melangkah keluar dari toko buku bekas tersebut, kembali menyusuri trotoar jalanan malam dengan perasaan yang sangat puas dan bahagia. Tekadnya kini makin membumbung tinggi ke angkasa, kemampuan luar biasa ini benar-benar nyata, dan ia akan terus belajar, belajar, dan belajar untuk menaklukkan kerasnya ibu kota.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!