Xue Yao, murid pertama Sekte Yiyuan, kehilangan segalanya ketika Raja Iblis menghancurkan sektenya. Sebagai satu-satunya yang selamat, ia melarikan diri membawa pusaka sekte, Cincin Zhutian, demi membalas dendam.
Namun saat dikepung musuh, ia menghancurkan kultivasi dan memecah kesadarannya sendiri. Takdir justru membuat seluruh serpihan kesadarannya terserap ke dalam Cincin Zhutian dan tersebar ke berbagai dunia. Setelah hampir seratus tahun tertidur, Xue Yao terbangun dan mendapati setiap serpihan hidup dalam penderitaan akibat keterikatan batin yang dapat melahirkan iblis hati.
Kini, dengan kekuatan Cincin Zhutian, ia harus kembali ke setiap dunia untuk menyelamatkan, mengumpulkan, dan menyatukan kembali seluruh serpihan jiwanya. Namun, mampukah Xue Yao mengembalikan dirinya yang utuh... atau justru kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Zhu Ge Liang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Takdir yang Tertukar¹¹
Xue Yao sejak awal memang tidak berniat memaksa Su Chen memberikan jawabannya hari ini.
Lagipula, pada saat ini ia memang harus memberi ruang kepada Lin Ling yang telah menunggu sepanjang malam.
Mengingat gambaran yang dikirimkan oleh jimat mengikuti bayangan yang ia tempelkan pada tubuh Xue Mo. Xue Yao justru semakin menantikan drama besar yang akan segera terjadi.
"Apa yang perlu kusampaikan sudah selesai. Apapun jawabanmu nanti, tetap terima kasih karena hari itu kau telah menyelamatkanku."
Gelas sampanye ditangannya disentuhkan perlahan ke gelas Su Chen yang diletakkan ditepi balkon, menghasilkan bunyi nyaring yang jernih.
Ia meneguk habis cairan didalam gelasnya, lalu meletakkannya kembali dengan tenang sebelum berbalik dan pergi.
Su Chen berdiri disana beberapa saat, seolah sedang memikirkan sesuatu.
Saat ia hendak beranjak pergi, terdengar sebuah suara dari arah pintu balkon.
"Chen."
Itu adalah Xue Mo.
Dibelakangnya tampak seolah ada seseorang yang bersembunyi.
Su Chen mengerutkan kening. Didalam hatinya muncul firasat yang tidak baik.
Benar saja, sosok yang bersembunyi dibelakang itu melangkah maju.
Itu adalah Lin Ling.
"Xue Mo, hari ini adalah pesta ulang tahun adik perempuanmu."
Su Chen berdiri tegak. Kalimat itu sendiri sudah mengandung peringatan yang jelas.
Tidak peduli seberapa dalam perasaan Xue Mo terhadap 'adik' sebelumnya, kini Xue Yao-lah adik kandungnya yang sesungguhnya.
Baik sebagai pewaris keluarga Xue, maupun sebagai kakak kandung Xue Yao.
Terlebih lagi, baru lebih dari satu bulan berlalu sejak Xue Yao nyaris kehilangan nyawanya akibat peristiwa tenggelam itu.
Ini adalah bentuk pengabaian yang terang-terangan, serta sikap meremehkan terhadap Xue Yao.
"Kak Chen, aku datang hari ini hanya ingin menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi hari itu. Semua orang mengatakan bahwa aku sengaja mendorong Xue Yao ke danau, tetapi itu tidak benar. Dia yang mendorongku lebih dulu, hanya saja setelah mendengar langkah kaki kak Chen dan kak Mo, dia lalu memanfaatkan keadaan dan ikut melompat ke dalam air."
"Aku sungguh tidak berniat mencelakainya. Dia adalah anak kandung keluarga ini. Aku bahkan menghormatinya, mana mungkin aku tega menyakitinya? Kak Chen, sekarang dia telah menipu kakek, membuat ayah dan ibu serta kakak tidak bisa mempertahankanku di keluarga Xue. Aku mohon padamu, bisakah kau membantu menjelaskan kepada kakek? Aku tidak meminta untuk kembali menjadi nona keluarga Xue, aku hanya tidak ingin kakek yang telah kuhormati selama bertahun-tahun salah paham terhadapku."
Lin Ling menangis tersedu-sedu, air mata mengalir diwajahnya, kedua matanya memerah. Pemandangan itu membuat Xue Mo disampingnya merasa sangat sakit hati.
"Chen, jangan tertipu oleh penampilan Xue Yao. Sejak kembali ke keluarga Xue, dia terus menerus iri pada Lin Ling dan tidak pernah berhenti menargetkannya. Kau tidak tahu, Lin Ling sebelumnya sudah beberapa kali terluka. Jika bukan karena kebaikan hatinya yang selalu membela Xue Yao, dia sudah lama dimasukkan ke rumah sakit jiwa."
Baru setelah mengucapkan kalimat terakhir itu, Xue Mo merasa ada yang tidak pantas.
Yang ia sesali bukanlah tuduhan terhadap Xue Yao, melainkan penyebutan soal rumah sakit jiwa.
Jika hal itu tersebar keluar, ia pasti akan kembali dimarahi.
Mendengar ucapan Xue Mo yang dingin itu, lalu mengingat bekas luka ditubuh Xue Yao yang tampak seperti akibat sengatan listrik, Su Chen segera memahami segalanya.
Ternyata, Xue Yao benar-benar telah didorong hingga ke titik hampir tak bisa bertahan hidup. Sehingga terpaksa melakukan perlawanan terakhir.
Xue Mo adalah kakak kandungnya, sekaligus pewaris keluarga Xue.
Jika Xue Mo kelak benar-benar mengambil alih grup Xue, akhir hidup Xue Yao sudah dapat dibayangkan.
Dengan kepercayaan dan pemanjaan tanpa batas Xue Mo terhadap Lin Ling, bukan tidak mungkin ia akan mengurung adik kandungnya sendiri dirumah sakit jiwa hingga mati.
Pada saat itu, Su Chen tiba-tiba memikirkan dirinya sendiri.
Ia dan Xue Yao tampak sebagai dua orang yang sama sekali berbeda, tetapi sesungguhnya memiliki banyak kesamaan.
Xue Yao sedang menunjukkan kepadanya melalui pengalamannya sendiri, bahwa mengalah tidak selalu menjadi jalan keluar.
Su Chen menurunkan pandangannya, terdiam tanpa berkata apa-apa.
Namun diamnya itu, dimata Lin Ling justru tampak seperti kebimbangan.
Ia melangkah maju beberapa langkah, berusaha menampilkan kembali sikap lemah lembut yang paling ia kuasai.
"Kak Chen anggap saja demi persahabatan kita sejak kecil, tolonglah aku. Aku tidak bisa membiarkan kakek terus tertipu oleh orang yang berhati licik seperti itu."
"Tidak semua orang mempan dengan caramu. Air matamu mungkin berguna bagi Xue Mo, tetapi tidak bagiku."
Su Chen melangkah kesamping, menghindari sentuhan Lin Ling.
"Kakek Xue adalah orang yang cerdas. Jika memang seperti yang kalian katakan, bahwa beliau tertipu. Apakah mungkin beliau tidak mampu melihat apa yang kalian lihat? Xue Mo mengenang masa lalu itu baik. Tetapi jika berlebihan, justru menjadi kebodohan yang menyakiti orang lain dan diri sendiri."
Su Chen melangkah hendak pergi.
Hubungannya dengan Xue Mo hanyalah sebatas pergaulan karena hubungan antar keluarga. Ia merasa sudah cukup menyampaikan peringatannya.
Lin Ling tidak bisa membiarkan Su Chen pergi. Ini adalah kesempatan terakhirnya.
Tanpa sadar, Lin Ling mengulurkan tangan untuk meraih Su Chen. Namun sebuah suara membuat tubuhnya seketika membeku.
"Tidak kusangka pesta ulang tahunku bisa seramai ini?"
Di pintu masuk balkon, berdiri sambil mendorong kursi roda kakek Xue. Senyum terukir dibibirnya, tetapi sorot matanya dingin membeku.
Ekspresi itu persis sama dengan yang terpampang diwajah Kakek Xue disampingnya.
Di belakang mereka, berdiri Nyonya Xue dengan wajah panik.
Tubuh Xue Mo terasa dingin seketika. Sementara Lin Ling bahkan hampir roboh, terpaksa menopang dirinya pada meja tinggi disamping agar tidak jatuh tersungkur.
"Baik. Sangat baik."
Kakek Xue hanya mengucapkan tiga kata itu dengan tenang. Namun Nyonya Xue yang telah menjadi menantu keluarga Xue selama lebih dari dua puluh tahun, langsung mengerti bahwa beliau benar-benar murka.
Dengan sepatu hak tinggi, ia melangkah cepat kedepan dan menarik Lin Ling dengan keras.
"Ibu."
Lin Ling refleks ingin meminta pertolongan.
Namun pada detik berikutnya, sebuah tamparan keras mematahkan semua harapannya.
Plak!
"Siapa yang mengizinkanmu memfitnah putriku disini? Dan memanfaatkan kebaikan hati Xue Mo untuk membuatnya berbuat salah? Apa yang kurang dari keluarga Xue terhadapmu? Kami membesarkanmu selama bertahun-tahun, memberi kemewahan selama itu. Dan inikah balasanmu?"
Tamparan itu sangat keras hingga separuh wajah Lin Ling terasa mati rasa.
"Ibu, apa yang ibu lakukan?"
Xue Mo terkejut oleh pemandangan itu. Setelah tersadar, ia segera hendak maju menarik Lin Ling.
Namun Nyonya Xue menatapnya dengan sangat tegas.
"Xue Mo, jangan biarkan perasaan persaudaraan masa lalu membutakanmu. Xue Yao adalah adik kandungmu yang sesungguhnya, dan dia baru beberapa hari keluar dari rumah sakit. Apakah kau lupa apa yang dikatakan kakek? Keluarga Xue sudah cukup berbaik hati kepada Lin Ling. Jangan biarkan kebaikanmu dimanfaatkan."
Ia terus memberi isyarat kepada Xue Mo, memintanya memahami bahwa sekarang bukan saatnya bersikap keras kepala.
"Cukup."
Kakek Xue sudah terlalu paham dengan semua sandiwara ini.
Membuat keributan di hadapan orang luar, pada akhirnya memalukan.
Ia mengangguk ramah keoada Su Chen. "Chen, malam ini kami kurang memperhatikanmu. Lain hari biarkan Xue Yao mengundangmu secara khusus."
Su Chen tersenyum tipis.
"Kakek Xue terlalu sungkan. Kalau bagitu, saya pamit lebih dulu. Sepertinya kakek juga sedang mencariku."
Setelah itu ia pergi dengan sopan, meninggalkan balkon dan membiarkan ruang tersebut sepenuhnya menjadi milik keluarga Xue.