Zhao Ryn, gadis manis dua puluh tahun menganggap Sian Lee penerus Lee Group adalah cahaya terang dalam gelapnya hidup.
"Bawa dia pergi!" Perintah dingin seorang Sian berhasil meruntuhkan benteng kokoh Ryn.
"Sian, kumohon tolong aku." Ryn memohon belas kasih Sian agar bisa membantunya namun kembali mendapat penolakan darinya.
"Nona Ryn, mohon kerja samanya." Asisten Jun memberi isyarat agar Ryn bergegas meninggalkan klub nomer satu di kota Jasata.
Bisakah Ryn menemukan kebahagiaan hidupnya? Atau dia benar-benar harus bertahan sendirian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aan Iman, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lmb26
Yuni, entah dari mana dia memiliki kekuatan demi membawa paksa Ryn dari Sian. Rupanya Vick berada di belakang orang-orang yang mendampingi Yuni. Sian berdiri menutupi Ryn dari makhluk berhati iblis yaitu Yuni ibu kandungnya sendiri.
Ryn yang dulu selalu pasrah, membiarkan ibunya menyakiti dirinya kini harus bisa menjaga diri. Ada calon anak mereka yang ingin ia lindungi.
"Dia harus ikut aku menemui papanya." Seru Yuni menatap datar Sian, dia tak akan pernah takut sedikitpun pada kekasih putrinya.
"Semua sesuai keinginan Ryn. Kau tidak bisa memaksanya." Jawab Sian tegas juga enggan dilangkahi meski dia ibu kandung Ryn, cintanya.
"Tidak apa Sian, mungkin aku harus menghadapi semuanya." Bisik Ryn yang hanya bisa didengar oleh Sian.
Sian berbalik menatap Ryn. Ada keraguan jelas disorot matanya. Namun Ryn menganggukkan kepala tanda ia bisa menjaga diri. Sebelum Ryn keluar Sian menarik tengkuk Ryn, tanpa sungkan dan malu melumat bibir Ryn di hadapan semua orang.
"Jangan lupa pulang kerumah kita." Suara Sian serak mencoba menahan agar tidak menghentikan Ryn. Pria itu trauma takut Ryn pergi jauh lagi darinya.
Ryn kembali memeluk Sian, menyerap kekuatan untuk menghadapi setiap masalah yang menanti di depan.
***
"Kau harus bersikap sopan pada papamu Zhao Ryn! Turuti semua apa yang dia katakan." Tegas Yuni memulai percakapan selama menuju kediaman Zhu. Ryn hanya menghela nafas cukup frustasi memikirkan cara menghadapi sang ayah nanti.
Hati Ryn bimbang, rasanya ingin sekali melampiaskan kemarahan atas segala yang terjadi pada dirinya. Ryn butuh menyalahkan Zhu Ma agar rasa sakit juga traumanya bisa sembuh.
"Apa ibu ingin bersamanya? Merebut dia dari keluarganya?" Tanya Ryn tiba-tiba, sedangkan Yuni mendengus sinis setelah tahu pikiran Ryn tentangnya.
"Masalahnya bukan urusanku." Jawab Yuni tegas. Dia tidak pernah sekalipun memaksa Zhu Ma meninggalkan Vennie juga Vick.
'Ryn, andai kau tahu aku sangat malu padamu. Aku hanya berusaha memberimu kasih sayang melalui sosok papa kandungmu. Setelah ini kau tidak perlu lagi menanggung aib karenaku.'
Jauh dalam lubuk hati terdalam Yuni dia masih menyayangi Ryn namun caranya selama ini salah. Membiarkan Ryn terluka agar menjadi wanita kuat sepertinya.
"Ada apa?" Ryn tersadar dari lamunan ketika mendengar kecemasan Yuni yang bertanya pada supir.
"Kita dikejar, kemungkinan lolos tipis." Ungkap pengemudi berdasarkan situasi mereka yang dikepung dari sisi, depan juga belakang.
Brak...
Bagian samping mobil mereka sengaja diserempet salah satu penyerang, Yuni langsung menebak Penn pelakunya. Pria itu pasti masih tidak terima soal perlakuan Sian terhadap dirinya. Atau mungkin Yuri Chen juga ikut andil?
'Tuhan, lindungi kami.' Ryn bergumam, reflek mengusap perutnya dan itu tidak luput dari pehatian Yuni.
Tidak ingin celaka lebih parah supir terpaksa menghentikan laju mobil. Mereka dikepung. Ryn dan Yuni saling berpegangan tangan ketakutan. Bahaya semakin mendekat.
Orang-orang Vick mencoba melawan penyerang, meladeni setiap serangan. Mobil sengaja dikunci dari dalam agar kedua wanita itu tidak menjadi incaran. Sialnya salah satu dari mereka memecahkan jendela mobil menggunakan hammer, sontak Yuni menghalau serpihan kaca agar tidak mengenai Ryn.
Usai pintu dibuka dengan paksa Ryn maupun Yuni ditarik keluar secara kasar. Diseret hingga ke hadapan Penn, dia tidak sendiri karena ada Yuri Chen di sampingnya.
"Bagus, aku suka cara kerja kalian yang cepat. Malam ini dia harus habis ditanganku." Sorot mata Yuri memancarkan kejahatan nyata, dia sakit hati pada Sian dan akan menggunakan Ryn sebagai alat balas dendamnya.
Ryn berusaha melepaskan diri dari cekalan anak buah Penn, dia belum bisa banyak bergerak atau kembali merasakan kram seperti saat di restoran ketika pasukan Yuni menerobos masuk tadi.
"Langkahi dulu mayatku!" Pekik Yuni membuat Ryn tersentak kaget, ini pertama kali dirinya melihat sang ibu berusaha melindunginya. Ryn menangis terharu dalam diam.
Pen memberi kode pada anak buahnya yang memegangi Yuni, ditarik maju mendekati pria kemayu itu.
Plak...
Satu tamparan mendarat keras di pipi Yuni hingga meninggalkan bekas memerah. Yuni hanya tersenyum sinis sebagai reaksi.
"Aku memang bodoh telah menjadi budakmu selama ini Pendi. Kau membuatku menjadi iblis untuk putriku sendiri." Yuni merasa hidupnya mungkin tidak akan selamat malam ini, setidaknya Ryn harus tahu penyesalannya.
"Diam kau!" Potong Penn muak mendengar ocehan Yuni.
"Ck, kalian berisik sekali." Yuri buka suara mulai bosan. Dia berjalan mendekati Ryn yang terus saja bergerak berusaha melepaskan diri.
"Kau tahu Ryn? Kekasihmu memiliki sisi iblis yang tidak banyak orang lihat. Memanipulasi, mengancam bahkan menyingkirkan musuh bukan hal sulit baginya." Tangan Yuri mengelus rambut bergelombang Ryn, sengaja memancing.
"Aku mati ditangannya tidak masalah. Setelah dia melihat jasadmu tentunya hahaha..." Tawa Yuri menyeramkan namun kembali Ryn mencoba bersikap tenang.
"Kau cantik Yuri, kau bisa mendapatkan pria yang mencintaimu." Balas Ryn yang malah menyulut api dalam hati Yuri.
Yuri menarik rambut Ryn hingga ia mendongak. "Sian sudah merusakku!" Bentak Yuri, jelas Ryn tetap terkejut mendengarnya.
Hanya karena Yuri berusaha mencelakai Ryn Sian membalasnya dengan sangat telak. Dan sekarang jika Sian tahu Yuri ingin melenyapkan sang kekasih, bisa saja Yuri lebih dulu dijemput malaikat mautnya.
"Kau harus merasakan apa yang ku alami Zhao Ryn!" Putus Yuri, dia memerintah kedua pria yang memegangi Ryn untuk melakukan sesuatu.
"Tidak Yuri. Lepaskan aku! Kau hanya akan membuat Sian murka." Bukannya mendengar, Yuri malah mengambil ponsel dari dalam tas demi merekam bagaiamana Ryn dilecehkan oleh anak buahnya.
Saat kemeja Ryn hampir dibuka paksa oleh mereka sorot lampu menyilaukan muncul dari arah belakang mobil milik Yuni.
Dor...
Satu tembakan melesat mengenai tangan laknat itu. Nafas Ryn memburu melihat darah bercucuran. Yuni memanfaatkan keadaan yang kacau dengan kabur lalu menarik Ryn menjauh.
Sian dan kelompoknya keluar dari mobil, menyerang anak buah Penn dan Yuri yang hanya berempat itu.
"Ryn, kau kenapa?" Tanya Yuni panik melihat keadaan Ryn, terengah-engah disertai keringat dingin di area kening.
"Bu, sakit." Keluhnya memegangi perut bagian bawah, seketika Yuni teriris melihat darah mengalir dari paha Ryn.
"Kau harus kuat Ryn, aku akan membawamu ke rumah sakit." Yuni memapah Ryn menuju mobil Sian, tidak memperdulikan apapun dan hanya menancap gas putar balik meninggalkan pertempuran yang masih berlangsung.
"Bu, boleh aku tanya sesuatu?" Sejujurnya dia sudah tidak tahan, Ryn hanya berusaha tetap terjaga. Wajahnya semakin pucat dan tangannya semakin dingin Yuni rasakan. Dia menyetir sambil menggenggam sang anak.
"Bicara sesuka hatimu Zhao Ryn! Aku tidak akan melarangmu lagi." Jawab Yuni tanpa melirik demi memperhatikan jalan.
Selama ini Ryn memang tidak pernah bisa mengungkapkan apapun yang ada di hati dan pikirannya. Yuni selalu acuh tak perduli.
"Apakah kau menyayangiku? Kumohon cintai aku juga bu." Yuni menangis terisak mendengar pertanyaan putri kecilnya. Ya, seberapa banyak usia Ryn bertambah dia akan selalu menjadi putri kecilnya.
"Rupanya kau sangat tidak menyukaiku..." Suara Ryn semakin tenggelam kalah oleh deru mesin mobil. Yuni sudah kehilangan genggaman Ryn yang terkulai lemah.
'Jika ada kehidupan lain berikutnya, aku akan tetap memilihmu sebagai ibuku. Hanya aku akan berusaha sedikit lebih kuat demi mendapat cintamu. Cintailah aku bu!'
Di depan ruang tindakan operasi semuanya berkumpul menunggu Ryn. Sian, Yuni, Zhu Ma dan Vick diliputi kecemasan luar biasa. Alea menyusul bersama Jun setelah mendengar kabar Ryn dari sang kekasih. Dirinya baru selesai melakukan kunjungan pasien.
"Sian..." Panggil Alea meminta penjelasan melalui tatapan.
Sian menyeka tetesan air matanya, dia adalah orang yang paling merasa bersalah karena tidak becus menjaga Ryn. Seharusnya Sian memberi penjagaan lebih ketat. Bukan Yuni yang melukainya justru musuh tak terduga. Namun kali ini Sian pantang memberi ampun. Penni di eksekusi ditempat sedangkan Yuri ia buat tak bisa melakukan apapun.
Lampu tanda operasi selesai berubah menjadi warna hijau, Vennie keluar lebih dulu demi memberi informasi mengenai keadaan Ryn.
"Maaf tuan muda, kami harus menyelamatkan antara Ryn atau calon anak kalian." Tepat setelah mengatakan hal menyakitkan itu, brankar Ryn didorong keluar dan akan dipindahkan ke ruang ICU.
"Sementara Ryn masih kritis, dia kehilangan banyak darah dan terjadi beberapa komplikasi." Tambah Vennie, Sian tanpa bisa mengendalikan diri ambruk berlutut di lantai dingin lorong rumah sakit.
"Tubuhnya memberi tanda,,, "
"Cukup!" Potong Sian tak ingin mendengar lebih lanjut penjelasan sang dokter. Dia tahu, Sian hafal betul bagaimana kondisi Ryn yang sudah lemah sejak dulu. Dan dia telah memaksa Ryn untuk hamil anaknya. Suatu tindakan paling egois.
Hujan deras membasahi seluruh sudut kota Jasata, seolah memahami perasaan kehilangan Sian juga orang-orang di sekeliling Ryn.