Namanya Anya Dia baru pindah ke rumah kontrakan lama di riau. Murah banget sewanya. Cuma ada 1 yang aneh: cermin gede di kamar.
Malam pertama, Anya iseng selfie depan cermin jam 12 malam. Pas diliat hasilnya... di foto dia senyum. Tapi di pantulan cermin, dia nunduk.
Dia kira cuma efek cahaya. Besoknya dia dandan buat kerja. Ngaca biasa.
Tiba-tiba lampu kedip. Pas nyala lagi, di cermin dia udah nunduk duluan. Padahal Sari masih natap cermin....
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon glaze dark, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 9
Anya menahan napas. Tangannya menggantung di atas keyboard. Aroma kamper mix tanah basah itu begitu pekat, seolah seseorang baru saja berada belakang tengkuknya. Jantungnya berdegup kencang hingga telinganya berdengung, meredam suara ketikan dari kubikel sebelah. Ia ingin menoleh, tapi logikanya melarang.
Tring!
Bunyi notifikasi pesan masuk dari aplikasi chat internal kantor di pojok bawah monitornya. Anya tersentak. Bahunya mengguncang pelan. Dengan tangan gemetar, ia mengklik ikon gelembung pesan tersebut.
Pesan itu dari Serra.
Serra: Nya, kau beneran oke? Dari tadi kau merem-melek sambil megangin cangkir tegang banget. Terus...wanginya kok mendadak aneh gini ya? Kau pake parfum aroma mistis apaan sih? Wkwkwk.
Anya buru-buru mengetik balasan dengan jari yang masih dingin.
Anya: Ser, tolong temenin aku ke pantry bentar. sekarang.
Belum sempat Serra membalas, sekat kubikel di sebelah kanan Anya bergoyang pelan. Wajah Serra muncul dari balik sekat dengan ekspresi heran sekaligus cemas. "Yuk...! Muka kau beneran makin nggak karuan, Nya."
Anya langsung berdiri, hampir menabrak kursinya sendiri hingga berdecit nyaring. Ia tidak berani melirik lagi ke arah monitor komputernya yang kini sudah kembali menampilkan baris demi baris angka Excel.
Mereka jalan beriringan menuju lantai atas. Langkah kaki Anya terasa mengambang, seperti tidak menapak pada lantai marmer kantor yang dingin. Setiap kali berpapasan dengan rekan kerja lain yang melempar senyum, Anya membalas dengan anggukan kaku. Kepalanya terlalu penuh, hidungnya masih menyisakan sisa-sisa aroma tanah basah yang pekat.
Begitu pintu kaca pantry tertutup rapat. Serra langsung menghadap Anya, melipat tangan di dada dengan dahi berkerut dalam.
"Oke, Nya. Sekarang cerita. Ada apa sebenarnya?" tanya Serra tanpa basa-basi. Suaranya rendah tapi menuntut penjelasan."Jangan bilang kau begini cuma gara-gara rekonsiliasi data kantor pusat. Aku tahu kita baru kenal. Tapi aku udah nganggap kau sahabat."
Anya diam. Tenggorokannya tercekat. Matanya berkaca-kaca. Ia melirik ke arah meja pantry.
"Nya?" Serra maju selangkah. "Kau dari tadi aneh. Pucat. Coba ceritakan."
Anya akhirnya pecah. Air matanya jatuh. "A....aku nggak tau harus mulai dari mana, Ser," bisiknya. Suaranya gemetar. "Ada...? ada yang ngikutin aku. Dari kos."
Serra mengerutkan kening. "Ngikutin? Maksud kau?"
"Cermin, air keruh, rambut panjang." Anya menutup wajahnya."Dan sekarang. Dia...dia muncul dilayar monitorku."
Hening.....Cuma ada suara AC yang berdengung.
Serra mematung. Kata-kata Anya seperti membekukan aliran udara di dalam pantry. Senyum yang biasanya menghiasi wajah Serra hilang sepenuhnya, digantikan oleh kerutan dalam di dahinya yang kian menegang. Ia menatap Anya yang masih menyembunyikan wajah di balik kedua telapak tangan. Bahunya berguncang pelan menahan tangis. Di antara desing AC yang monoton, keheningan di antara mereka terasa begitu mencekam.
"Di... layar monitor?" bisik Serra. Suaranya tercekat, seolah tak percaya dengan apa yang baru saja ia dengar.
Anya mengangguk perlahan. Ia membuka wajahnya. "Iya, Ser. Pas aku lagi nyoba fokus ke Excel, di pantulan layar yang gelap...? aku liat rambut panjang Pas aku merem dan pas buka mata, rambutnya hilang. Tapi bau kamper sama tanah basah ini langsung kecium menyengat banget."
Serra menarik napas panjang. Nggak masuk akal, pikirnya. Pantry yang biasanya ramai sama tawa dan denting sendok kopi, sekarang sepi banget. Dingin. Yang kedengeran cuma dengung AC sama jantung Anya yang makin kenceng.
Perlahan Serra meraih tangan Anya. mau nenangin. Tapi yang dia rasain malah getaran. Kenceng banget. Kulit Anya sedingin es. Kayak abis keluar dari freezer.
"Nya, dengerin aku." Serra maksa suaranya tetap tenang, padahal di dalam dadanya sendiri udah kacau."Tarik napas. Pelan."
Dia mengusap lengan Anya pelan."Kau aman di sini. Ada aku."
Matanya sembab, merah, dan langsung menatap Serra. Di sana ada takut. Bukan takut biasa. Takut yang bikin merinding sampai ke tulang.
"Aku nggak bisa, Ser..."Suaranya serak. "Bau ini...? bau tanah basah campur kamper..."Anya menelan ludah."Semalam ada di kamarku. Pas di cermin jati itu berubah aneh." Dia menggenggam lengan Serra lebih erat. "Sekarang baunya ada di sini juga. Di kubikel kita."
Serra mematung. Genggaman Anya di lengannya dingin banget. Sampai ke tulang, bulu kuduknya langsung berdiri. Otak Serra bilang ini nggak masuk akal. Tapi mata Anya... kosong. Dan itu nyata. Terlalu nyata buat dibilang halu.
Cret... Lampu pantry berkedip sekali. Terus normal lagi. Anya sama Serra sama-sama diem.
"Nggak mati kan?" bisik Serra, setengah bercanda buat nutupin gugupnya.
Anya geleng. Masih megang lengan Serra. Dinginnya belum ilang. "Nggak," jawabnya pelan. "Cuma kedip doang."
Hening beberapa detik. Cuma ada dengung AC. Serra narik napas, terus melepas genggaman Anya pelan. Tangannya masih nempel di lengan Anya, kayak nggak tega lepas.
"Oke," kata Serra, suaranya udah lebih tenang. "Kita nggak ngomongin cermin dulu di sini. Oke?" Dia ngelirik ke pintu pantry yang masih kebuka. Takut ada yang denger.
Anya ngangguk. Matanya masih merah. "Iya..."
Serra ambil tisu di meja, ngusap air mata Anya hati-hati. "Nggak apa-apa nangis. Tapi tarik napas dulu ya." Dia berikan gelas ke Anya."Minum."
Anya nurut. Tangannya masih gemetar pas megang cangkir. Airnya dingin.Tapi Sekarang nenangin."Makasih."
"Jadi gini," Serra duduk di kursi sebelah Anya. Sikunya nempel ke siku Anya. "Habis jam kantor kita ke kos bareng. Aku temenin beresin kamar. Terus kita ngobrol yang bener, ya?"
Anya ngelirik Serra. "Kau tak takut?"
Serra ketawa kecil, padahal mukanya masih tegang. "Takut lah. Tapi masa ninggalin sahabat pas lagi gini." Dia nepuk pundak Anya pelan. "Lagipula, bau-bau mistis itu kan udah ilang dari tadi."
Bener. Bau kamper sama tanah basah udah nggak ada. Gantinya bau kopi sachet sama pemutih lantai.
Anya manggut. Dadanya agak lega.
"Maaf ya udah bikin heboh..."
"Heboh apaan. " potong Serra cepat. "Kita kan teman. jadi harus saling tolong menolong. Walaupun kita baru saling kenal, tak ada salahnya saling bantu."
Mereka saling diam dengan pikiran masing. Akhirnya Serra buka suara."Kerjaan kau gimana?" tanya Serra, coba ngalihin"Excel-nya udah?"
Anya menggeleng."Belum. Aku nggak berani buka laptop lagi."
"Ya udah, titip aku aja. Bilang ke atasan lagi error." Serra nyengir. "Ahli aku kalau urusan ngeles."
Anya ketawa kecil pertama kalinya saat kejadian aneh terjadi.
atau Anya kerja sambil kuliah thor?