NovelToon NovelToon
Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Dibuang Karena Mandul, Dinikahi Konglomerat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Mandul / Balas Dendam
Popularitas:10.7k
Nilai: 5
Nama Author: CHIBEL

Demi melindungi harga diri suaminya yang mandul, Larissa rela menanggung caci maki sebagai wanita mandul. Namun, pengorbanannya dibalas dengan surat cerai dan pengusiran kejam setelah sang suami memalsukan hasil medisnya demi bersanding dengan wanita lain.

Tiga tahun berlalu, dunia terguncang ketika Larissa bangkit sebagai istri dari CEO terkaya dan melahirkan dua anak yang sehat. Saat kebohongan masa lalu mulai terbongkar, giliran Larissa yang memegang kendali untuk membuat mantan suaminya merangkak dalam penyesalan seumur hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CHIBEL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 - Keajaiban atau Kebenaran?

Waktu bergulir lambat membelah transisi musim, membawa perubahan besar yang kian mengokohkan takhta Larissa di salah satu bagian terpenting Megah Crop.

Empat bulan telah berlalu sejak hari pernikahan tertutup yang megah itu digelar. Dalam kurun waktu yang singkat ini, Gedung Filantropi Megah Jaya di bawah kendali Larissa telah berkembang menjadi salah satu institusi sosial paling berpengaruh di ibu kota, sementara posisi bisnis Baskoro Konstruksi milik Bram kian hari kian tercekik di ujung tanduk kebangkrutan tanpa sempat menerima satu pun bantuan finansial.

Kehadiran Larissa sebagai figur ibu telah sepenuhnya merubah kepribadian Elang. Bocah itu kini tumbuh menjadi anak yang luar biasa ceria, aktif, dan tidak pernah sekalipun absen memanggil Larissa dengan sebutan "Mama" penuh kebanggaan.

Hubungan antara Larissa dan Bayu pun tumbuh menjadi sebuah jalinan asmara yang matang dan kokoh.

Malam itu, suasana di ruang makan utama kediaman Bayu terasa begitu hangat dan santai. Hidangan makan malam bergaya masakan rumah kesukaan Elang tersaji rapi di atas meja makan panjang.

"Mama Ica, coba lihat gambar Elang hari ini di sekolah!" seru Elang riang, mengacungkan selembar kertas gambar ke hadapan Larissa.

Wajah bulatnya berbinar. "Elang gambar Papa, Mama, sama Elang lagi main layangan di taman belakang!"

Larissa menyunggingkan senyum yang sangat cantik, berniat meraih kertas gambar tersebut dari tangan sang putra. "Wah, bagus sekali sayang. Sini, Mama lihat lebih—"

Kalimat Larissa mendadak terputus di tengah jalan. Jemarinya yang baru saja terangkat tiba-tiba kehilangan seluruh kekuatannya, membuat garpu perak di tangan kanannya terlepas dan membentur piring dengan bunyi denting yang nyaring.

Prang!

Bayu yang sedang memotong daging steaknya seketika menghentikan gerakannya, matanya bergerak cepat menatap sang istri dengan kening berkerut dalam. "Sayang? Ada apa?"

Larissa tidak menjawab. Seluruh pandangan matanya mendadak berputar hebat, mengaburkan lanskap ruang makan yang hangat menjadi gumpalan bayangan hitam yang pekat.

Rasa pusing yang luar biasa menghantam ulu hatinya, memicu gelombang rasa mual yang begitu dahsyat hingga kerongkongannya terasa tercekat. Wajah cantiknya dalam hitungan detik berubah menjadi sangat pucat, dan keringat dingin mulai membasahi pelipisnya.

Larisa mencengkeram tepi meja dengan gemetar, mencoba menahan tubuhnya agar tidak limbung. "Mas... kepalaku... pusing sekali..."

"Sayang!"

Suara Bayu meninggi karena panik. Tepat saat tubuh ramping Larissa kehilangan keseimbangan dan ambruk ke samping, Bayu dengan refleks langsung bangkit dari kursi, melompati sudut meja, dan menangkap tubuh sang istri tepat sebelum menyentuh lantai marmer yang keras.

Larissa pingsan di dalam dekapan dada bidang Bayu, menyisakan Elang yang mulai menangis ketakutan melihat sang ibu yang mendadak tidak sadarkan diri.

Gedung pusat Rumah Sakit Internasional Medika Utama malam itu gempar. Sang penguasa tertinggi Megah Corp, melangkah lebar membelah koridor instalasi gawat darurat dengan mata yang memancarkan kepanikan.

Di dalam dekapannya, dia mendekap tubuh pingsan Larissa dengan sangat erat, seolah tidak mau membiarkan maut sekalipun menyentuh istrinya. Atas perintahnya dari dalam mobil tadi, seluruh tim medis terbaik di rumah sakit itu telah disiagakan.

"Rian!" geram Bayu dengan suara yang berat menahan amuk batin saat dia meletakkan tubuh Larissa di atas brangkar ruang periksa VIP.

Sesosok pria yang mengenakan jubah putih dokter dengan stetoskop yang menggantung di lehernya bergegas melangkah masuk, dia adalah Dokter Rian.

Beliau adalah dokter keluarga yang dulu sempat datang ke rumah Bayu untuk merawat Elang yang demam dan trauma. Sebagai kepala divisi medis di rumah sakit ini, Dokter Rian langsung mengambil alih penanganan awal untuk istri sahabat karibnya.

"Tenang, Bay! Keluar dari ruangan sekarang dan biarkan timku bekerja!" tegas Dokter Rian, memberikan tatapan menenangkan kepada sahabatnya sebelum menutup tirai pembatas medis dengan cepat.

Bayu melangkah mundur dengan napas yang memburu kasar. Pria itu duduk di kursi tunggu koridor, sementara tangan kanannya merengkuh bahu mungil Elang yang masih sesenggukan di sampingnya.

"Papa... Mama Ica tidak apa-apa, kan?" rintih Elang dengan mata bulatnya yang merah akibat menangis.

Bayu mengecup puncak kepala putranya, mencoba menyembunyikan getaran ketakutan di dalam suaranya sendiri. "Mama tidak apa-apa, Mama hanya sedang lelah. Ada Dokter Rian di dalam."

Di dalam ruang periksa, Larissa menjalani rangkaian pemeriksaan menyeluruh. Sebagai dokter yang berpengalaman, Dokter Rian langsung mencurigai indikasi tertentu saat melihat sampel tes darah digital awal Larissa menunjukkan lonjakan drastis pada kadar hormon hCG.

Menyadari tanda kehamilan yang sangat kuat, Dokter Rian bergerak cepat memanggil dokter spesialis kandungan rekan sejawatnya untuk melakukan pemindaian ultrasonografi (USG) resolusi tinggi menggunakan peralatan medis paling mutakhir.

Satu jam berlalu bagai siksaan bagi Bayu. Tepat saat jarum jam dinding koridor menunjuk angka sembilan malam, tirai pembatas medis akhirnya tersingkap lebar.

Larissa tampak sudah sadarkan diri, berbaring lemah di atas ranjang rumah sakit dengan selang infus yang menancap di punggung tangannya, wajahnya masih tampak pucat namun pandangan matanya sudah kembali jernih.

Dokter Rian melangkah keluar dari ruangan periksa, memegang sebuah map dokumen berwarna biru yang berisi selembar kertas hasil cetak ultrasonografi (USG) hitam-putih serta lembar analisis laboratorium darah terbaru.

Berbeda dengan ketegangan yang menguar dari tubuh Bayu, wajah Dokter Rian justru dihiasi oleh sebuah senyuman lebar yang sangat cerah.

Bayu langsung bangkit berdiri, mengikis jarak di antara mereka dengan langkah lebar. "Bagaimana hasilnya, Rian? Apa yang terjadi dengan istriku? Jangan main-main denganku!"

Dokter Rian menepuk bahu kekar Bayu dengan sangat mantap, mengembuskan napas panjang sebelum memperlihatkan lembar kertas cetak USG di tangannya tepat di depan wajah sang miliarder.

"Selamat, Bay. Istrimu sama sekali tidak mengidap penyakit kronis apa pun. Dia hanya kelelahan fisik dan fluktuasi hormon yang sangat wajar... karena saat ini, dia sedang mengandung," ujar Dokter Rian dengan intonasi suara yang bergetar penuh kebahagiaan.

"Temanku baru saja selesai melakukan USG mendalam. Usia kehamilannya baru saja memasuki minggu keempat. Ada kantung janin yang tumbuh dengan sangat sehat dan sempurna di dalam rahimnya."

Deg.

Kalimat yang keluar dari mulut Dokter Rian terasa bagaikan hantaman petir yang membelah keheningan malam, seketika membekukan seluruh sistem saraf di dalam tubuh Bayu dan Larissa yang mendengar langsung dari atas ranjang perawatan.

"R-Rian... apa kamu bilang?" suara Bayu mendadak tercekat di tenggorokan, sepasang mata elangnya menatap kertas USG itu dengan pandangan linglung yang tidak biasa.

Pria yang biasanya mampu mengendalikan pergerakan bursa saham dalam sekejap itu kini tampak terpaku diam tak percaya. "Larissa... hamil?"

"Iya, Bayu! Istrimu hamil!" tegas Dokter Rian dengan tawa kecilnya yang hangat.

"Rahimnya sangat subur dan kuat. Tidak ada satu pun cacat biologis seperti yang ada di dalam salinan berkas medis lama yang pernah kamu tunjukkan padaku dulu. Dokumen lama dari laboratorium sebulan sebelum pernikahan kalian itu 100% palsu."

Dari atas ranjang rumah sakit, begitu kalimat "istrimu hamil" dan "100% palsu" menggema di udara, seluruh dunia Larissa seolah runtuh, hancur berkeping-keping tanpa sisa.

Oksigen di sekitar wanita itu mendadak lenyap. Dadanya terasa begitu sesak, kedua tangannya yang bergetar hebat perlahan bergerak turun, menyentuh perut ratanya di balik selimut rumah sakit.

Di sana... di dalam rahim yang selama lima tahun ini dicaci sebagai tanah tandus tak berguna... ada sebuah kehidupan baru yang sedang berdenyut halus.

"H-hamil...?" bisiknya, suaranya terdengar begitu parau.

Detik berikutnya, sebuah tangisan yang luar biasa histeris pecah dari bibir Larissa. Bukan tangisan bahagia, melainkan raungan kepedihan yang teramat sangat menyesakkan dada, sebuah jeritan batin yang memuntahkan seluruh rasa sakit, penghinaan, dan trauma yang selama ini dia pendam sendirian.

Bahunya terguncang hebat, dadanya naik turun dengan tidak teratur, dan air matanya mengalir deras tanpa bisa dibendung lagi.

Setiap tangisan Larissa malam itu adalah akumulasi dari memori menyakitkan yang berputar keji di kepalanya, memori saat Ibu Maya melempar dokumen lab palsu ke wajahnya, memori saat Bram menatapnya jijik dan memaki-makinya sebagai wanita cacat pembawa sial, dan memori malam biadab itu saat dia diusir seperti binatang ke jalanan di tengah hujan deras hanya karena dia dianggap tidak bisa memberikan keturunan.

Selama ini di berbohong, dia mengalah, dia rela menanggung malu, dia mengorbankan martabatnya sebagai seorang wanita demi menjaga harga diri Bram, pria yang sebenarnya mandul total sejak awal namun selalu denial keras.

Bayu yang tidak sanggup melihat penderitaan batin istrinya langsung melangkah cepat mendekati ranjang. Pria bertubuh kekar itu duduk di tepi tempat tidur, lalu merengkuh tubuh bergetar Larissa ke dalam pelukannya yang sangat erat. Dia mendekap kepala Larissa di dada bidangnya, membiarkan air mata wanita itu membasahi kaosnya.

"Mas... h-hari itu... mereka mengusirku karena aku mandul..." raung Larissa di dalam pelukan Bayu, suaranya tersedat oleh tangisannya yang kian menyesakkan dada.

"Mereka mencaci rahimku, Mas... mereka bilang aku pembawa sial... tapi ternyata... ternyata mereka menjebakku... mereka memfitnahku sekeji ini..."

Bayu mempererat pelukannya, matanya berkilat murka. Sambil mengusap rambut Larissa dengan lembut, Bayu berbisik dengan suara baritonnya yang berat dan bergetar kaku.

"Aku tahu, Sayang... aku tahu. Menangislah, tumpahkan semua rasa sakitmu malam ini di dadaku. Tapi demi anak kita yang sedang tumbuh di dalam perutmu, aku berjanji... setelah malam ini, air mata mereka akan mengalir lebih deras daripada air matamu. Aku sendiri yang akan memimpin kehancuran keluarga Baskoro sampai mereka bersujud memohon ampun di bawah kakimu."

Larissa mencengkeram erat kemeja Bayu, menenggelamkan seluruh wajahnya di sana sambil terus menangis tergugu. Keajaiban janin yang sedang tumbuh di dalam perutnya malam itu tidak hanya mengeringkan air mata masa lalunya, tetapi juga telah menyalakan api pembalasan terdahsyat di dalam jiwanya.

Dengan kebenaran yang kini telah terbongkar dan kuasa penuh raksasa Megah Corp yang berdiri kokoh di belakangnya, waktu bagi Bram, Vera dan mantan mertuanya untuk membayar setiap tetes air mata dan harga dirinya yang telah mereka injak-injak, kini telah resmi dimulai.

Bersambung

1
sunaryati jarum
Semua manipulatif Bram dan Vera dikuliti publik, rasain
sunaryati jarum
Tanggung jawablah Vera kau kan sudah menikmati Bram dan hartanya, sekarang kau tinggal membayar sebagai penghuni hotel prodeo
YAM
smpe sini terlalu greget ma mc nya bego gampang di tindass😡😡
Sindy Puspita: Hehehehe, hidup kadang emang harus bego dulu kak🤭🙏
total 1 replies
sunaryati jarum
Bu Maya langsung koit
sunaryati jarum
Emak tunggu hasilnya, Larissa
sunaryati jarum
Ingat kamu hamil jangan terlalu emosi
Batara Kresno
makin seru bagus ceritanya lanjut thor
sunaryati jarum
Hanya dengan mengumumkan kehamilan Larissa kebohongan Bram dan Vera terbongkar dengan sendirinya.Jika sejak awal jujur sama Bu Maya, mungkin dia tidak mengecap Larissa mandul,dan cari solusi bersama.Kalau sudah begini kalian sendiri yang hancur, bahkan Bram tidak tahu dirinya menghina Vera juga,lucu .Sudah tahu dirinya yang bermasalah kok melempar kekurangan pada orang lain🤣🤣🤣
sunaryati jarum
Nah bagaimana Bu Maya masih mempertahankan jika Larissa mandul?
sunaryati jarum
Selamat Larissa akhirnya bersama Sultan Sang Penguasa Raja Bisnis kamu hamil, semoga sehat bayi dan kamu
Sindy Puspita
Terima kasih atas dukungannya kak🙏 Ditunggu updatenya besok malam ya
Batara Kresno
masih kurang thor dirunggu upnya ttp semangat trimakasih udah up 3 bab🙏🙏🙏
Batara Kresno
mampus lho bu maya
Batara Kresno
ko cuma 1 tumben pengin liat keluarga bram mampus
sunaryati jarum
Lanjut
sunaryati jarum
Nah,kan tanpa Larissa membalas sakit hatinya, mereka sudah mendapatkan balasan atas kejahatan mereka
sunaryati jarum
Terbongkar kebohongan kamu,ingin hati menutupi kekurangan Bram,namun merugikan diri sendiri
sunaryati jarum
Tidak usah membalas mereka sudah kenaa karma karena ulahnya dan provokasi Vera.Hiduplah dengan bahagia sudah
Emak suka cerita ini , tidak bertele- tele, alurnya runtut
sunaryati jarum
Jatuh mental sekarang , orang yang kalian hina bersanding dengan pria terkaya dan berkuasa
sunaryati jarum
Waah mantap Bos Bayu to the point , langsung gass pool.Langsun nikahin,Bos
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!