NovelToon NovelToon
Ponsel Dewa Si Reno

Ponsel Dewa Si Reno

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Komedi / Romansa
Popularitas:299
Nilai: 5
Nama Author: Khusus Game

Berbekal ponsel hitam tanpa merek dengan AI yang sangat sarkastis, Reno mendadak menjadi peretas paling dicari oleh komplotan mafia teknologi. Di tengah pelarian yang menegangkan, Reno tidak hanya harus menghindari peluru, tetapi juga harus menahan malu karena asisten digital di ponselnya yang justru sering menjebaknya dalam situasi paling absurd

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khusus Game, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19: Pertandingan Basket Curang

​Keesokan harinya, ratusan mahasiswa sudah memadati seluruh sudut tribun lapangan basket utama Universitas Megantara pada jam istirahat siang.

​Kerumunan penonton itu sengaja diundang secara massal melalui grup angkatan untuk menyaksikan sebuah pertunjukan penghinaan publik yang dirancang rapi.

​Reno melangkah masuk ke area lapangan dengan kedua lutut yang saling beradu saking hebatnya getaran gugup yang melandanya.

​Ia mengenakan setelan celana pendek olahraga pinjaman Radit yang ukurannya kembali terlihat kedodoran di tubuh kurusnya.

​Di tengah lapangan berlantai beton halus tersebut, Dika sudah berdiri dengan postur tubuh yang luar biasa arogan.

​Pemuda pewaris kekayaan itu mengenakan seragam basket khusus berwarna dominan merah yang terlihat sangat mahal dan memancarkan aura profesional.

​Jari telunjuk kanannya sedang asyik memutar sebuah bola basket berwarna oranye gelap dengan tingkat keseimbangan yang sangat sempurna.

​"Lihat baik-baik, mahasiswa abadi, ini adalah bola basket pintar edisi terbatas yang dilengkapi dengan sensor pelacak statistik digital di bagian dalamnya."

​Dika memamerkan bola tersebut ke arah tribun penonton, sengaja menyombongkan fasilitas teknologi mahal yang selalu menempel pada gaya hidup mewahnya.

​"Sensor giroskop dan cip pelacak di dalam bola ini akan otomatis menghitung setiap putaran dan akurasi lemparanmu melalui jaringan nirkabel ke layar ponsel."

​{Sombong sekali, tapi setidaknya kecintaannya pada barang elektronik berteknologi tinggi ini mungkin bisa menjadi kunci keselamatanku pada siang ini.}

​Reno memaksakan sebuah senyum meremehkan, berusaha keras menutupi fakta bahwa telapak tangannya saat ini sudah basah kuyup oleh keringat kepanikan.

​Tatapannya menyapu cepat area pinggir lapangan, menemukan sosok Luna yang sedang duduk tegak di barisan paling depan dengan raut wajah sangat cemas.

​Kehadiran gadis pujaannya itu kembali memicu ego maskulin Reno untuk segera memutar otak mencari jalan keluar yang paling tidak masuk akal sekalipun.

​Ia memasukkan sebelah tangannya ke dalam saku celana olahraga secara diam-diam, meraba permukaan logam ponsel hitam misterius yang sudah bersiaga sejak pagi.

​"Siri-usly, kau dengar sendiri penjelasan konyolnya tadi, retas sensor bola pintar itu sekarang juga sebelum aku dipermalukan habis-habisan di sini."

​Sebuah getaran mekanik halus langsung merambat dari dalam saku, disusul oleh deretan teks biru yang diproyeksikan secara rahasia ke layar sentuhnya.

​Reno menundukkan wajahnya sedikit, mengintip balasan dari kecerdasan buatan sarkastis itu dengan perasaan lega yang mulai bermunculan di dasar hatinya.

​"Kerja bagus, buat lintasan bolanya terlihat sedikit dramatis agar aku tampak seperti seorang genius olahraga yang selama ini sedang menyembunyikan bakat aslinya."

​||||

​Suara peluit wasit yang berasal dari seorang mahasiswa jurusan olahraga akhirnya berbunyi melengking tajam, menandakan dimulainya pertandingan tidak seimbang tersebut.

​Dika memulai inisiatif serangan pertama dengan gerakan menggiring bola yang luar biasa lincah dan sulit ditebak arah putarannya.

​Pemuda berwajah tampan itu melewati pertahanan Reno dengan sangat mudah, seolah ia sedang berlari santai melewati sebuah patung kayu usang yang tidak bisa bergerak sama sekali.

​Sebuah lompatan tinggi dilakukan oleh Dika tepat di bawah jaring, mencetak angka pertama dengan gaya memukau yang langsung disambut sorakan histeris para penonton wanita.

​Reno hanya bisa berdiri mematung di tengah lapangan, mengatur napasnya yang langsung tersengal-sengal hanya karena berusaha mengejar bayangan pergerakan lawannya barusan.

​{Orang ini benar-benar monster atletik di lapangan, aku sama sekali tidak memiliki kesempatan menyentuh bola jika hanya mengandalkan kemampuan lari lambatku ini.}

​"Giliranmu memegang bola, tunjukkan padaku hasil latihan parkour ekstrem yang selalu kau banggakan di depan Luna pada koridor fakultas tadi pagi!"

​Dika melemparkan bola basket pintar itu dengan sangat keras ke arah dada Reno, sengaja memancing emosi lawannya di hadapan ratusan pasang mata yang mengamati.

​Reno menangkap lemparan kasar itu dengan manuver yang agak kikuk, merasakan tekstur karet bola canggih yang kini telah sepenuhnya berada di bawah kendali asisten digitalnya.

​Ia melangkah perlahan menuju garis batas tembakan tiga angka yang berada cukup jauh dari posisi ring, memancing kebingungan massal dari seluruh penjuru tribun lapangan.

​"Tonton dan pelajari baik-baik, anak pamer, bakat fisik sejati tidak membutuhkan banyak gerakan berlebihan yang tidak berguna untuk sekadar mencetak sebuah poin."

​Reno memejamkan kedua matanya rapat-rapat, lalu melemparkan bola itu menggunakan kedua belah tangan dari atas kepala dengan gaya dorongan yang luar biasa amatir dan kaku.

​Arah lemparan awalnya terlihat sangat melenceng jauh ke arah kiri, membuat seluruh penonton di barisan tribun serentak menahan tawa mereka melihat kebodohan biomekanik tersebut.

​Dika bahkan sudah berbalik badan melipat tangannya untuk menertawakan gaya lemparan konyol itu, yakin seratus persen bahwa bola tersebut hanya akan membentur keras tiang pagar pembatas lapangan.

​Namun, keajaiban anomali fisika seketika terjadi di udara tepat saat bola oranye gelap itu baru saja mencapai titik puncak tertinggi lemparannya.

​Sensor giroskop pintar di dalam bola yang telah dimanipulasi oleh modul peretasan itu mendadak mengubah pusat gravitasinya secara drastis atas inisiatif sepihak.

​Bola tersebut tiba-tiba berbelok tajam di tengah udara kosong dengan lintasan kurva yang sangat tidak masuk akal, mengarah lurus menuju papan pantul dengan kecepatan tinggi.

​Bunyi decitan jaring tali terdengar sangat jernih saat bola itu meluncur masuk mulus menembus keranjang logam tanpa menyentuh besi pinggirannya sama sekali.

​Keheningan total langsung menyelimuti seluruh area lapangan basket utama, tidak ada satu pun mahasiswa waras yang berani mempercayai penglihatan mereka pada detik barusan.

​||||

​Sorakan riuh rendah perlahan mulai pecah menggema dari berbagai sudut tribun penonton, berubah drastis menjadi riuhan tepuk tangan meriah yang luar biasa memekakkan telinga.

​Luna yang duduk di barisan paling depan refleks memajukan tubuhnya dari sandaran kursi, menutup bibirnya dengan sebelah tangan sambil menatap Reno dengan sorot mata penuh kekaguman.

​Wajah arogan Dika seketika memucat pasi kehilangan rona, ia menatap bergantian ke arah ring yang masih berayun pelan dan ke arah postur tubuh Reno dengan mulut yang terbuka separuh tanpa suara.

​"Itu pasti cuma murni kebetulan bodoh yang sangat beruntung, lemparan asal-asalan penuh cacat postur seperti itu tidak akan pernah bisa terulang untuk yang kedua kalinya di lapangan ini!"

​Dika memungut paksa bola tersebut dari bawah ring, lalu melemparkannya kembali ke arah dada Reno dengan raut amarah yang mulai merusak ketenangan mentalnya.

​Reno menangkap bola itu dengan senyum miring yang sangat menyebalkan, ego kelelakiannya kini telah melonjak naik tanpa batas menyentuh langit-langit kepercayaan diri.

​Ia kembali memosisikan dirinya di garis area tiga angka, namun kali ini ia dengan sengaja memutar seluruh postur tubuhnya membelakangi arah posisi ring lawan.

​Reno melemparkan bola tersebut ke arah belakang melewati batas atas kepalanya, sebuah manuver tembakan buta absolut yang persentase masuknya nyaris menyentuh angka nol mutlak dalam hukum probabilitas.

​Sistem peretasan gravitasi di dalam perangkat bola kembali melakukan tugas utamanya dengan sangat sempurna, membengkokkan hukum aerodinamika secara brutal di tengah lintasan udara.

​Bola itu memutar jalurnya melengkung ke bawah dan kembali menembus jaring ring dengan kehalusan yang luar biasa akurat, menambah pundi-pundi angka tiga poin bagi tim mahasiswa abadi tersebut.

​Ratusan penonton di seluruh penjuru tribun benar-benar berteriak histeris melihat pertunjukan keajaiban olahraga aneh yang belum pernah mereka saksikan seumur hidup itu.

​Mereka mulai menyerukan nama Reno secara serentak berulang kali, mengubah atmosfer kompetisi lapangan menjadi sebuah panggung pemujaan dadakan bagi aksi sang peretas amatir.

​Reno terus mencetak angka demi angka dengan berbagai gaya lemparan konyol eksperimental yang tidak akan pernah bisa ditemukan di dalam buku panduan olahraga mana pun.

​Ia mencoba melempar dengan gaya santai dari posisi duduk selonjoran di atas lantai beton, menendang bola tinggi-tinggi ke atas, hingga menggelindingkan bola tersebut bagaikan sebuah permainan boling anak-anak.

​Setiap lemparan absurdnya selalu menemukan trajektori ajaib untuk memantul mulus masuk ke dalam ring, membuat papan skor pertandingannya melesat jauh meninggalkan raihan angka tunggal milik Dika.

​Dika kini hanya bisa berlarian pasrah memungut bola di bawah ring, napas pemuda kaya itu terengah-engah hebat dan seluruh strategi permainannya telah hancur lebur berkeping-keping tanpa sisa.

​Ia sama sekali tidak mampu memahami bagaimana bola mahal kebanggaannya itu seolah memiliki nyawa sendiri yang mengkhianati tuannya lalu memilih memihak pada musuh bebuyutan.

​Reno mengambil kembali bola yang baru saja dikembalikan secara lemas oleh lawannya, bersiap melakukan sebuah manuver penyelesaian akhir yang paling memalukan untuk menutup pertandingan berat sebelah ini.

​Ia memantulkan bola perlahan dan berlari pelan menuju ke arah keranjang, berniat meniru gerakan lompatan memukau dari para pemain liga profesional yang sering ia lihat di televisi.

​{Aku akan menyudahi penderitaan pria sombong ini dengan sebuah lompatan spektakuler yang akan membuat Luna terus mengingat namaku sebagai sang juara sampai hari kelulusan kampus nanti.}

​Reno menolak bertumpu pada lantai dan langsung melompat tinggi menginjak garis zona terlarang, membentangkan sebelah tangannya ke udara sambil menggenggam bola erat-erat menuju ke arah keranjang logam.

​Namun, sebuah getaran peringatan darurat yang luar biasa keras dan menyengat kulit mendadak merambat dari dalam saku celana olahraganya tepat saat tubuh kurusnya melayang melawan gravitasi di udara.

​Reno melirik cepat ke arah saku celananya dengan tingkat panik mendadak, melihat kilatan cahaya merah kritis yang berkedip menembus sangat jelas dari balik lapisan kain tipis tersebut.

​Teks peringatan sistem yang diproyeksikan secara paksa oleh kecerdasan buatan ke permukaan layar sentuh itu sukses membuat seluruh sistem saraf motorik Reno membeku seketika di udara.

1
M Amir
kurang greget aghhh
Khusus Game: gigit...kurang gereget mah.
total 1 replies
Aisyah Suyuti
good
Dragonovic#
let's gooooo
semoga happy ending thor jangan bad ending im already tired for bad ending
Khusus Game: siappp. Abang first komen, LANGSUNG SAJA, ACC.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!