NovelToon NovelToon
Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Paksaan Terindah Gadis Konglomerat

Status: tamat
Genre:Konflik Rumah Tangga- Terpaksa Nikah / Obsesi / Tamat
Popularitas:36.1k
Nilai: 4.9
Nama Author: megatron

Mata bulat Clay berkilat-kilat membaca pesan dari Robbin. "Akan ada waktu yang tepat untuk membuatmu bertekuk lutut di bawah kakiku"

Gadis konglomerat itu pun membereskan barang-barangnya lantas menghubungi seorang teman. Dia harus bergerak cepat sebelum Robbin benar-benar pergi.

Penolakan Robbin makin mengungkungnya dalam lingkaran cinta, Clay yang tidak biasa menerima penolakan menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon megatron, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35: Saling Mengenal

"Kak Robbin, Desember kita balik Indo, ya," pinta Clay penuh harap di sela-sela menyesap secangkir teh hangat. Dia mengamati wajah berkharisma Robbin melalui celah bulu matanya yang lentik alami. "Urusan Kak Robbin pasti sudah selesai, 'kan?"

"Kuusahakan sudah selesai sebelum Desember, itu pun kalau Rocky tidak memerlukan aku lagi."

"Aku bisa atur itu—"

"Jangan campuri pekerjaanku!" potong Robbin, dia tidak bisa menoleransi terkait bidang yang digeluti. "Dengar ini baik-baik, aku juga ingin pulang cepat dan bertemu keluargaku, semisal Pak Albert tidak berkeras hati dengan menyembunyikan mereka dan seandainya iya, maka sebagai ganti kamu juga tidak bisa bertemu dengan kedua orang tuamu," tegas Robbin.

Clay tercenung singkat, sebelum menimpali penuturan tegas sang suami. Dia tidak bisa membongkar segalanya sekarang. Tidak sebelum Robbin menjadi miliknya secara utuh. Dengan memikirkan itu saja sudah membuatnya gerah.

Dengan gerakan lambat, Clay meletakkan cangkir kosong di atas piring kecil. Dia beranjak dari duduknya, berjalan santai menuju jendela kamar. Dia menyibak gorden berwarna merah bata itu, mencoba mengalihkan topik pembicaraan. "Kak Robbin, sebelum kembali ke rumah, aku ingin berjalan-jalan sebentar. Mungkin ke taman hiburan atau taman Hyde juga tidak masalah."

Alis tebal Robbin saling bertautan, dia cemas, tetapi tidak diperlihatkan secara gamblang. "Apa kamu betul-betul akan mati kebosanan?"

"Kebosanan?" Clay membeo, "Ada Kak Robbin, mana mungkin bosan, atau ada usul melakukan kegiatan yang lain? Misal berbagai ranjang dan selimut. Ha-ha-ha." Tawa Clay pecah mendapati wajah Robbin bersemu merah.

Renyah gelak wanita itu memenuhi ruangan dan hati Robbin saat ini. Kedamaian seakan-akan merambat keseluruhan jaringan di dalam tubuhnya. Begitu menenangkan jiwa, tetapi sekali lagi, dia tertampar kenyataan yang telah dipaparkan oleh Johanes.

Robbin mendengus, "Tadinya, iya, tetapi kukira itu terlalu terburu-buru," pungkasnya lalu mengambil sebuah buku dari kolong meja.

"Tadinya? Oke, dan sekarang kenapa tidak lagi?" tanya Clay terus terang, dia menyadari perubahan sikap Robbin sejak semalam dan dirinya butuh jawab secepatnya.

Robbin membuang napas, dia berpaling dari tatapan Clay yang terlalu mengintimidasi. Kemudian, meletakkan buku ke atas meja lantas berkata dengan begitu tenang, "Hanya terlalu awal."

"Terus kapan tepatnya awalan ini berakhir?"

Robbin mencari data di dalam kepala, lalu menjawab, "Sampai kamu bisa menjadi istri sejati."

"Istri sejati?" Lagi, Clay membeo bagian akhir kalimat Robbin kemudian duduk di depan pria itu. Dia mengusap-usap alis kanan seraya berkata, "Istilah jawanya, 3M—eem, aku lebih suka yang bagian berkembangbiak."

Kini, giliran Robbin yang tergelak atas pemaparan sang istri, ya, meski bukan orang jawa asli, dirinya cukup tahu istilah itu; masak, macak, manak yang memiliki arti, memasak, berdandan, dan melahirkan. Dia pernah dengar sekali waktu lalu. Namun, sekarang sudah zamannya emansipasi wanita, jadi apa-apa di luar itu boleh dan atau bisa dilakukan.

"Jangan tertawa, oke aku akan coba yang paling dasar dulu, membuatkan kopi Kak Robbin pada pagi hari, juga memasak, aku janji hasilnya akan se-menakjubkan membuat salinan perpaduan dari wajah kita," ocehan Clay membuat Robbin mengulum senyum. "Apa ketawa?"

Robbin masih menahan tawa yang sebentar lagi meledak, dia mengatasi itu dengan menggigit pipi bagian dalam. "Ingat! Tanpa bantuan orang lain."

"Orang lain?"

"Hentikan beoanmu itu!" geram Robbin, kalau bisa jujur, dia merasa gemas terhadap wanitanya, tetapi malah memilih meraih kunci mobil sambil berkata, "Ayo! Ini sudah siang."

"Oke, oke." Clay menggaet lengan Robbin dan berjalan beriringan menuju lobi kemudian menyelesaikan segala urusan administrasi sebelum meninggalkan hotel.

Ketika keluar dari lobi keduanya disambut dingin oleh gerimis rintik-rintik kecil. Sesungguhnya hujan kali ini terasa seperti kehangatan sebab Clay makin merapatkan diri pada Robbin, dan pria itu terlihat nyaman karena sudah terbiasa.

Namun, saat menuruni undak-undakkan teras, sol sepatu Clay tergelincir, hingga Robbin terkesiap, menumpukan lengan di balik punggung istrinya.

"Awal hari yang buruk," umpat Clay seraya menegakkan badan. "Untung aku selalu berpegangan." Ketegangan yang sempat tercetak berubah menjadi senyum ceria di wajah ayu Claymira.

"Yeah, tidak lucu kalau aku ikut jatuh karena terseret olehmu," cibir Robbin lantas menepuk punggung Clay.

"Sekali-kali begitu, kan, tidak apa-apa," seloroh Clay, dia menyenggol bahu Robbin ringan.

Robbin memutar bola mata jengah sembari berbicara, "Perhatikan langkahmu, Nona!"

"Nona? Aku sudah telanjur akrab dengan panggilan—Clay," rengek Clay karena Robbin kembali bersikap formal. Ah, dia membenci situasi seperti ini. Dirinya harus mencari tahu apa masalahnya, ini terjadi sejak terakhir kali makan malam di tempat itu. Dan, Robbin berbincang penuh emosi dengan—kalau dilihat-lihat seperti teman akrab, tetapi di akhir percakapan sang suami tampak marah besar.

Kala mengarah ke parkiran, Robbin mengamati alis Clay yang mengerut, dia berusaha menerobos isi kepala untuk mencari tahu apa yang sedang dipikirkan wanita itu. Namun, nihil. sekeras apapun jelas tidak mungkin. Dia bukan cenayang atau ahli sulap.

"Kak Robbin, boleh tau, pria bule kemarin itu siapa?"

Robbin dibuat terkejut atas pertanyaan tiba-tiba Clay. Dia menoleh sekilas sebelum membuka pintu mobil. "Tidak penting."

"Jawaban yang cukup meragukan." Mata bulat Clay memicing, dia merasa familier dengan seraut wajah orang asing itu, tetapi tidak pasti.

Robbin tidak menggubris dan masuk mobil begitu saja, dan terpaksa Clay menyusulnya. "Kak Robbin." Kali ini berirama menggoda, selembut sutra.

"Kamu tertarik kepadanya?" Robbin tersenyum miring, ada nada sarkastis dalam suaranya.

"Dih, yang benar saja?" bentak Clay, dia jarang bernada tinggi sebelum ini. Dirinya sendiri pun dibuat terkejut. "Biarpun Kak Robbin tidak mengakuiku sebagai istri, aku tetap menganggapmu suamiku! Jadi sudah jelas aku tidak mungkin menyukai pria lain. Emang aku semurahan itu," gerutunya serta bibir cemberut.

Robbin memiringkan kepala juga badannya, dia melihat lekat-lekat paras cantik di depannya seraya berujar, "Kamu kira aku percaya, hah?"

"Kak Robbin kenapa, sih?"

"Gimana aku bisa percaya, sedangkan kamu mengejarku seperti orang gila," geram Robbin.

"Oh, karena itu, cintaku kamu nilai serendah itu?" Clay menutup wajah dengan kedua telapak tangan. "Yah, mungkin aku memang gila, karena mencintaimu secara tidak wajar, bukan begitu?" Lalu, dia menautkan tangan di atas pangkuan. Menerawang jauh ke depan, mengingat semua sikapnya saat mendekati Robbin.

Robbin tampak mengubah posisi duduknya, dia kini menatap kaca depan mobil. Bingung harus menanggapi perkataan Clay bagaimana, dia sejujurnya tersanjung sebab mendapat cinta yang begitu luar biasa. Namun, susah sekali menerima tanpa diikuti bayang-bayang pengkhianatan.

"Kak Robbin, aku sekarang tidak ingin memaksa apa pun terhadapmu," janji Clay seraya mengusap singkat jemari Robbin yang mencengkeram kemudi. "Mari kita saling mengenal satu sama lain dari awal. Betapa pun lamanya, aku siap menunggu."

Udara di dalam mobil seolah-olah menipis hingga Robbin susah memenuhi kebutuhan paru-parunya. Dia menyalakan mesin mobil tanpa berkata-kata. Wanita yang dulu dikenalnya kekanak-kanakan kini bisa berpikir lebih dewasa.

1
pєkαᴰᴼᴺᴳ
sudah buat tato, kalau tidak jodoh gimana wkwkwk
Mega: Kikikik, alamat melekat seumur hidup
total 1 replies
Sweety
Semangat nulisnya thor, aku bawa 28 like mendarat di karyamu di tunggu yah backnya di kedua novel ku 🤗🌹.
Mega: Kak usaha jangan boom like, ya, karena bisa menurunkan POP.
total 1 replies
𝓓𝓮𝓪
hus pergi jgn ganggu
𝓓𝓮𝓪
ciee uhuk uhuk
Zey ✨️
Yakin sekali anda Clay, dan apa yg membuatmu berpikir bahwa Robbin mencintaimu?
Mega: Harus PeDe, kikikii
total 1 replies
💙 Ɯιʅԃα 🦅™📴
Clay bucin banget sama Robin tapi Robin malah cuek bebek
Mega: Mati rasa dia, Kak.
total 1 replies
.
licik kamu robbin
A girl 👸
Segitunya Clay,padahal masih banyk di luar sana yg lebih baik dari Robbin loh
ᄂ⃟ᙚRahma💋🅚🅙🅢👻ᴸᴷ
dasar Robin minta di tonjok tuh orang
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Hem Hanes Hanes, malu sendiri kan
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
wkwkwk damar malu malu ya
N. M. Aksan
Tidak! kesucian Robbin ternoda.
Mega: kikikik
total 1 replies
Rini Antika
Selamat akhirnya tamat jg dan berakhir bahagia..🎉🎉🎉
Rini Antika
Damar suka sama Adiknya Robbin ya?
Mega: Yah, jalaran tresno soko kulino. kikiki
total 1 replies
Rini Antika
udah bucin ya 😜
pєkαᴰᴼᴺᴳ
namanya juga judi harus menerima kekalahan Jangan ngamuk
Mega: Lagi panas pikirannya, Kak. kikiki
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Semakin keren alur ceritanya kak
Mega: Terima kasih
total 1 replies
☠ᵏᵋᶜᶟ🍾⃝𝚀ͩuᷞεͧεᷠnͣ
Luar biasa keren



cerita yang sangat menarik,
semangat dalam berkarya semoga semakin sukses
Mega: Terima kasih
total 1 replies
.
Robbin koq ga bawa cincin pernikahan nya sih
.
ceritanya sangat menarik
Mega: Terima kasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!