"Dunia ini riuh oleh nama-nama, sementara aku tersisa di sela-sela kata." Nio tidak memiliki identitas, gender yang jelas, maupun ingatan masa lalu. Dia hanya hidup bersama pendar layar monitor dan residu informasi yang dibuang orang lain.
Ketika sebuah kasus anomali mendatangi meja kerjanya, Nio menemukan bentuk kejahatan yang tidak biasa: seseorang sedang mencabut sejarah manusia hingga tak bersisa. Di balik berkas-berkas mati yang membusuk dalam sistem, sebuah teror berinisial Zero mulai mengawasi setiap geraknya. Berpacu dalam kesepian dan ketakutan, Nio harus memilih: membongkar rahasia yang terkunci, atau menjadi lembaran kosong berikutnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Omni Tales, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehangatan di Sela Kebisingan
Denyut tajam di pelipis kanan membuat pandangan Nio menggelap seketika. Jemari yang tadinya menari lincah di atas papan ketik langsung membeku, meninggalkan ribuan baris kode yang masih berkedip di monitor tua.
'Cih, server keparat. Otak gue rasanya mau meledak!' Nio membatin gusar sambil meremas pinggiran meja.
Nora yang berdiri di sudut ruangan langsung meloncat panik. Kain lap di tangannya jatuh begitu saja ke lantai kayu kedai Kael.
"N-Nio! K-kamu kenapa?!" seru Nora gagap, melangkah tergesa mendekati kursi kerja Nio.
Nio menepis udara kosong di depannya. "Jangan berisik. Cuma migrain."
"Cuma migrain bilangmu?! Muka kamu sudah pucat bagai mayat begini!!" bentak Nora dengan suara melengking penuh kecemasan.
"DIAAAMM!!!" gertak Nio pelan tapi penuh penekanan, menghentikan langkah Nora seketika.
Gadis itu terkuncup, meremas jarinya sendiri dengan napas memburu. Nio memejamkan mata erat-erat, menikmati sensasi nyeri yang menusuk tempurung kepalanya.
Dalam keheningan yang senyap itu, Nio menyusupkan tangan ke saku jaketnya. Jemarinya meraba tekstur lembut selembar kertas kosong—sebuah penyangkalan sederhana untuk meyakinkan presensinya sendiri di dunia.
'Gue belum boleh tumbang sekarang. Kasus si Milo belum selesai, dan si Zero masih berkeliaran.'
Langkah kaki yang tenang terdengar mendekat dari arah dapur bawah. Kael muncul membawa nampan berisi cangkir seng bergambar bunga yang berasap tipis.
Pria tua pemilik kedai itu meletakkan cangkir di samping monitor tanpa banyak tanya. "Seduhan jahe dan kayu manis. Minum sebelum otakmu benar-benar matang direbus komputer itu."
Nio membuka mata sedikit. "Terima kasih, Kael."
"Sama-sama. Jaga anak gadis itu, dia hampir menangis dari tadi," ujar Kael terkekeh pelan sebelum berbalik turun kembali ke lantai bawah.
Nora membuang muka, pipinya bersemu merah karena malu. Namun, kepeduliannya mengalahkan rasa gengsi yang tersisa di dada.
Dia mendekat perlahan, mengambil handuk kecil yang sudah dibasahi air hangat. Dengan gerakan ragu, jemarinya yang gemetar mendarat di dahi Nio.
"Ngh..." Nio mendesah tipis saat rasa dingin membalur dahinya yang membara.
"T-tahan sebentar... ini bisa sedikit meredakan pusingmu..." bisik Nora lembut, mengatur napasnya yang naik turun.
Nio membiarkan wanita itu mengompres kepalanya. Dia menatap lekat wajah Nora yang berjarak hanya beberapa sentimeter darinya.
Tatapan Nio yang tajam dan tak tertebak membuat Nora salah tingkah. Gejolak dominasi murni terpancar dari iris mata Nio, mengunci seluruh pergerakan Nora hingga wanita itu menahan napas.
"Kenapa? Takut gue mati sebelum ngebantu lu menemukan Milo?" bisik Nio dengan nada dingin yang menuntut.
Nora menggeleng cepat, matanya mulai berkaca-kaca. "B-bukan cuma soal Milo... a-aku... aku cuma gak mau kamu kenapa-napa!"
Nio tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang terkesan meremehkan sekaligus memegang kendali penuh atas emosi wanita di hadapannya. Hebusan napas hangat Nio menerpa kulit leher Nora, membuat bahu wanita itu merinding pasrah.
"Ingat posisi lu di sini, Nora. Lu butuh gue, dan gue gak suka klien yang membangkang," tegas Nio seraya mencengkeram pergelangan tangan Nora secara halus tapi mengunci rapat.
"I-iya... n-ngh... aku mengerti... tolong bantu aku..." rintih Nora pasrah, menundukkan kepalanya total di bawah tekanan aura Nio.
Keheningan kembali menguasai ruangan seiring pendar biru monitor yang memantul di dinding. Nio melepas cengkeramannya, lalu menyandarkan punggung ke kursi kayu.
'Cewek ini benar-benar gampang dikendalikan kalau sudah panik. Tapi setidaknya dia jujur.'
Sisa pusing di kepala Nio perlahan mereda. Dia meraih cangkir seng pemberian Kael dan menyesap jahe hangat yang membasahi kerongkongannya.
Di luar, gerimis tipis mulai mengguyur jalanan kota yang dingin. Suara tetesan air menciptakan ritme teratur di atap seng kedai Kael, menghadirkan residu ketenangan yang langka bagi Nio.
Milo tidak lagi sekadar menghilang; eksistensinya telah tereliminasi tanpa preseden. Bagi dunia, adik Nora kini hanyalah sosok nirnama yang terhapus dari sistem digital.
Namun di dalam ruangan kecil di atas kedai ini, bukti keberadaan Milo masih dipertahankan melalui rekaman data mentah yang berhasil direkonstruksi Nio.
Tiba-tiba, suara langkah kaki tergesa dari tangga bawah memecah ketenangan. Kael menaiki anak tangga dengan wajah yang tidak lagi sesantai biasanya.
Pria tua itu memegang sebuah amplop cokelat tebal berdebu yang tampak lusuh. "Nio, ada yang menyatut benda ini di bawah pintu depan barusan."
Nio mengerutkan dahi, merebut amplop tersebut dengan cepat. "Siapa yang mengantarkannya?"
"Tidak ada siapa-siapa. Orang itu hilang bagai bayangan amorf di balik hujan," jawab Kael serius.
Nora mendekat dengan wajah kembali pucat pasi. "A-apa isinya, Nio?"
Tanpa menjawab, Nio merobek segel amplop cokelat itu hingga robekannya berhamburan ke meja. Di dalamnya, terdapat selembar foto cetak berwarna kusam yang tertutup noda tipis.
Mata Nio menyempit seketika saat mengamati foto tersebut. Foto itu menampilkan sudut kedai Kael dari luar pada malam hari, diambil dari jarak jauh secara sembunyi-sembunyi.
Namun yang membuat darah Nio berdesir dingin adalah coretan tinta merah tebal di atas foto tersebut. Sebuah siluet wajah Kael dan Nora diberi tanda silang besar, sementara di bagian belakang foto tertulis kalimat singkat dengan huruf kapital yang berantakan:
'LOKASI TERDETEKSI. PROSES PENGHAPUSAN EKSISTENSI DIMULAI.'
"Zero..." gumam Nio rendah, suaranya sarat akan residu ketegangan.
"A-APA-APAN INI?! DIA TAHU KITA ADA DI SINI?!" jerit Nora histeris sambil menutup mulutnya yang gemetar hebat.
Kael menarik napas panjang, matanya menatap foto itu tanpa rasa takut, namun penuh keheranan. "Jadi ini ancaman yang sering kau ceritakan?"
Nio mengepalkan tangannya rapat-parat. "Zero tidak membunuh tubuh; dia mencabut sejarah dari dada manusia."
'Bangsat! Dia gak cuma mengincar data gue, tapi juga mau meratakan tempat ini!' amuk Nio dalam batinnya yang mendidih.
Pendar dari layar monitor di meja Nio mendadak berkedip-kedip kencang. Seluruh baris kode yang tadinya tersusun rapi tiba-tiba berubah menjadi karakter acak yang tidak terbaca.
Garis-garis merah mulai memenuhi layar monitor satu per satu, menghapus seluruh proses peretasan yang telah dikerjakan Nio selama berhari-hari.
"H-hey! Lihat komputermu!!" teriak Nora menunjuk layar yang kian kacau.
Nio melompat dari kursinya dan meraih papan ketik dengan panik. "Anomali ini... dia meretas balik dari jarak dekat!!"
Sebuah nada dering nyaring dari telepon genggam tua milik Nio memecah kepanikan di ruangan itu. Layar HP murahan itu hanya menampilkan rangkaian angka nol berturut-turut tanpa nama kontak.
Nio menggeser tombol hijau dan menempelkannya ke telinga tanpa mengeluarkannya dari pengeras suara.
"Halo, Nio. Atau harus kupanggil kau sebagai karya gagal yang belum usai?" suara berat bersintesis terdengar dari seberang telepon, dingin dan menekan bagai es batu.
"Zero..." bisik Nio penuh dendam.
"Kertas kosong di sakumu itu tidak akan bisa menyelamatkan presensimu kali ini. Nikmati sisa detik terakhir sebelum namamu tereliminasi selamanya dari ingatan mereka," seru suara itu terkekeh pelan sebelum sambungan terputus seketika.
Tepat saat panggilan mati, seluruh aliran listrik di kedai Kael padam total. Ruangan atas kedai itu tenggelam dalam kegelapan pekat yang senyap, hanya disinari pendar kilat dari luar jendela yang memperlihatkan bayangan seseorang berdiri tepat di depan pintu bawah.