Arga Bayu Pratama, mantan prajurit Kopassus, terbangun di kamar kosnya yang sempit.
Tanggal di ponselnya: 10 November 2040 — dua hari sebelum kiamat.
Di kehidupan sebelumnya, ia bertahan selama enam tahun di dunia yang hancur. Ia menyaksikan hujan api menghujani kota, zombie berkeliaran di jalanan, dan manusia saling membunuh demi segenggam beras. Ia mati sendirian, tanpa apa-apa, tanpa siapa-siapa.
Tapi sekarang ia kembali. Dengan seluruh ingatan masa depan di kepalanya. Dan satu kekuatan baru yang membuatnya bisa mendengar pikiran setiap orang di sekitarnya.
"Kali ini, aku tidak akan menjadi yang paling lemah."
Sambil membeli puluhan karung beras, air mineral, dan gas elpiji sebelum dunia runtuh, Arga mulai menyusun rencana: membangun tim terkuat, menguasai kota, dan mencari tahu siapa — atau apa — yang sebenarnya menyebabkan kiamat ini.
Karena kiamat bukan kebetulan. Seseorang sedang menonton dari atas sana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 003 - Kiamat Turun
Alarm berbunyi pada 23.10.
Arga membuka mata.
Di luar jendela, Semarang masih menyala. Lampu jalan, papan reklame, jendela apartemen, lampu rem kendaraan yang merayap di kejauhan. Kota itu tampak lelah, tapi hidup.
Satu menit lagi.
Arga berdiri dari antara tumpukan dus Aqua dan Indomie. Ia memeriksa deadbolt pintu, smart lock, lalu kunci manual tambahan yang sudah ia ganjal dengan kursi makan berat. Setelah itu ia mengambil ponsel dan melihat detik bergerak.
23.10.57.
23.10.58.
23.10.59.
23.11.
Langit pecah.
Air jatuh sekaligus, seperti lautan dituangkan dari atas awan. Kaca setebal itu langsung bergetar dihantam hujan. Suara kota tenggelam dalam raungan putih yang membuat dada manusia bergetar.
Arga berdiri di depan jendela, wajahnya tanpa ekspresi.
Di jalan bawah, motor-motor berhenti mendadak. Mobil menyalakan lampu hazard. Orang-orang berlari mencari atap. Dalam lima menit, genangan sudah menutup trotoar. Dalam lima belas menit, air menyentuh pintu mobil. Dalam tiga puluh menit, jalan Simpang Lima berubah menjadi sungai hitam yang menyeret helm, kursi plastik, pot tanaman, dan tubuh orang yang tergelincir.
Notifikasi ponsel meledak.
BMKG mengirim peringatan cuaca ekstrem.
Pemerintah kota meminta warga tetap tenang.
Grup-grup chat menjerit.
Banjir naik!
Jalan Pandanaran sudah tidak bisa lewat!
Ada yang tahu nomor evakuasi?
Arga mematikan notifikasi.
Tetap tenang?
Di kehidupan sebelumnya, kalimat itu membunuh lebih banyak orang daripada air. Mereka menunggu instruksi, menunggu listrik kembali, menunggu bantuan datang. Ketika sadar tidak ada siapa pun yang datang, air sudah sampai leher.
Satu jam setelah hujan turun, lantai bawah hotel hilang dari pandangan.
Lobi yang kemarin wangi kopi dan pengharum ruangan kini menjadi akuarium gelap. Pintu putar pecah dihantam arus. Mobil-mobil di area drop-off saling bertabrakan, mengambang seperti mainan rusak.
Jeritan mulai naik dari tangga darurat.
Awalnya jauh. Lalu makin dekat.
Pukul 01.20, langkah kaki berlari memenuhi koridor lantai dua puluh satu. Orang-orang dari lantai bawah naik dengan pakaian basah, napas patah, dan wajah pucat. Ada anak kecil menangis. Ada perempuan memanggil nama suaminya. Ada pria memaki petugas hotel karena lift mati.
Seseorang mengetuk pintu suite Arga.
Tok. Tok. Tok.
"Pak! Pak, tolong buka! Kami cuma mau istirahat sebentar!"
Arga duduk di ruang tengah. Di depannya ada sebungkus Indomie yang belum dibuka, sebotol Aqua, dan pisau dapur yang sudah ia asah tadi sore.
Ia tidak bergerak.
Ketukan berubah menjadi pukulan.
"Kami tahu ada orang di dalam! Tolonglah! Anak saya kedinginan!"
Suara perempuan. Napasnya putus-putus. Dari celah bawah pintu, air menetes dari pakaian mereka, membentuk garis basah di karpet koridor.
Arga menutup mata sebentar.
Ia bukan tidak mendengar anak kecil itu.
Ia mendengar semuanya. Karena itu, ia tidak boleh membuka pintu.
Di belakang suara perempuan, ada pikiran-pikiran lain yang jauh lebih keras.
Kamarnya besar. Pasti ada selimut.
Kalau dia buka sedikit saja, dorong masuk.
Aku lihat tadi banyak dus masuk kamar ini. Makanan. Air. Banyak.
Ambil dulu. Urusan pemiliknya nanti.
Telepati membuat kebohongan mereka telanjang.
Arga membuka mata. Suaranya rendah, cukup keras untuk menembus pintu.
"Koridor masih aman. Pergi ke ruang tangga. Jangan berdiri di depan kamar saya."
Hening sekejap.
Lalu suara pria menyahut, kasar, tidak lagi pura-pura sopan.
"Hei! Situ punya banyak barang, kan? Kami semua korban banjir! Jangan egois!"
Pukulan ke pintu makin keras.
BRAK!
Kursi makan yang mengganjal pintu bergeser sedikit, lalu tertahan.
Arga berdiri. Ia mengambil pisau dapur. Kilat putih dari luar jendela memantul di bilahnya.
"Sekali lagi kalian paksa pintu ini," katanya, "orang pertama yang masuk akan mati."
Koridor langsung senyap.
Tapi pikiran mereka tidak.
Dia cuma satu orang.
Kalau listrik mati total, kamera mati. Kita balik lagi.
Tunggu orang lain kumpul lebih banyak.
Arga tersenyum dingin.
Bagus. Setidaknya mereka belajar menunggu.
Hujan tidak berhenti.
Hari pertama berubah menjadi pagi tanpa matahari. Langit kelabu pekat. Air sudah naik melewati lantai sepuluh. Dari jendela, Arga melihat orang-orang berdiri di atap bus, melambaikan kain, lalu satu per satu hilang ketika arus menyeret kendaraan itu ke tikungan.
Ia makan teratur. Satu bungkus Indomie untuk pagi, makanan kaleng untuk siang, air secukupnya. Semua dicatat di buku kecil: konsumsi, stok, posisi barang, suara di koridor.
Menjelang malam kedua, listrik hotel padam.
Satu detik sebelumnya koridor masih diterangi lampu darurat. Satu detik kemudian, seluruh gedung jatuh ke gelap.
Jeritan langsung pecah.
"Lampunya mati!"
"Lift! Ada orang di lift!"
"Senter! Siapa punya senter?"
Arga menyalakan satu lilin, lalu menutup sebagian celah bawah pintu dengan handuk basah agar cahaya tidak terlalu bocor. Tetap saja, garis kuning tipis merayap keluar.
Tidak sampai satu menit, suara langkah berhenti di depan pintunya.
"Di dalam ada lampu..."
"Aku bilang juga apa. Dia punya persediaan."
"Panggil Kepala Security. Dia pasti punya akses."
Nama itu membuat mata Arga menajam.
Tidak lama kemudian, suara lain muncul. Lebih berat. Lebih dibuat berwibawa.
"Pak Arga." Kepala Security mengetuk pintu. "Kami perlu memastikan kondisi Bapak. Banyak tamu membutuhkan bantuan. Mohon kerja samanya."
Di balik kalimat sopan itu, pikirannya lebih busuk.
Buka, lalu tahan dia. Barang dibagi dulu ke orang kita. Kalau dia melawan, bilang saja dia menyerang petugas.
Arga mengambil kursi kedua dan menambah ganjalan pintu.
"Saya hidup," katanya. "Itu cukup."
"Pak, situasi darurat."
"Karena darurat, saya tidak membuka pintu."
Beberapa orang di koridor mulai marah. Ada yang menendang pintu. Ada yang menangis. Ada yang memohon. Semua suara bercampur menjadi satu dinding tekanan.
Arga berdiri di balik pintu dengan pisau di tangan.
Ia pernah membuka pintu di kehidupan sebelumnya.
Waktu itu hanya untuk seorang lelaki tua yang mengaku kelaparan. Lima menit kemudian, enam orang masuk. Mereka mengambil makanannya, mematahkan dua jarinya, dan meninggalkan dia di tangga darurat saat Hujan Api mulai turun.
Pelajaran itu dibayar dengan darah.
Ia tidak akan membayarnya dua kali.
Pintu presidential suite bergetar berkali-kali malam itu, tapi tidak jebol. Reinforced door, deadbolt, kursi berat, dan posisi lantai dua puluh satu melakukan tugasnya. Menjelang dini hari, orang-orang di koridor mulai melemah. Sebagian turun mencari keluarga. Sebagian naik ke lantai lebih tinggi. Sebagian hanya duduk di dinding, menggigil dalam gelap.
Hujan terus menghantam kota.
Hari ketiga, suara manusia semakin jarang.
Makian dan ancaman di koridor padam. Yang tersisa batuk, isak pendek, langkah menyeret, dan sesekali suara benda berat jatuh ke air jauh di bawah.
Arga menghabiskan waktu dengan memeriksa stok, mengisi ulang botol kecil dari dus Aqua, dan memindahkan beberapa makanan ke posisi yang lebih dekat dengan pintu. Jika mereka benar-benar berhasil masuk, ia tidak akan bertarung sambil mencari senjata.
Ia tidak berharap manusia menjadi baik.
Ia hanya menyiapkan diri ketika mereka menjadi jujur.
Malam ketiga, pukul 23.11, hujan berhenti mendadak.
Keheningan yang jatuh setelah tiga hari raungan air terasa lebih menakutkan daripada suara badai itu sendiri.
Arga membuka mata.
Ia berjalan ke jendela.
Semarang sudah tidak lagi tampak seperti kota. Air hitam memantulkan sisa lampu yang mati satu per satu. Gedung-gedung rendah menghilang. Hanya puncak atap, menara, dan lantai atas beberapa bangunan yang muncul seperti pulau-pulau kecil.
Lalu awan di langit bergerak.
Warna kelabu itu retak, memperlihatkan merah gelap seperti bara di balik kulit langit.
Arga menatap pantulan merah itu di kaca.
"Hujan Api," bisiknya. "Akan datang."