NovelToon NovelToon
ANAK PEMBALAS DENDAM

ANAK PEMBALAS DENDAM

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Balas Dendam / Action
Popularitas:182
Nilai: 5
Nama Author: MR1991

Joe membawa pesan terakhir pamannya: mencari orang yang menghancurkan keluarganya. Jejak itu menuntunnya bukan ke orang asing — melainkan ke pintu rumah sahabat-sahabatnya sendiri. Saat kebenaran terungkap, ia harus memilih: membalas dendam, atau menyelamatkan persahabatan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MR1991, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PENASARAN

Waktu pun berlalu seperti biasa. Hari berganti hari tanpa ada hal yang mengganggu rencana yang telah disusun dengan matang. Dan hari Sabtu akhirnya tiba — hari di mana tidak ada jadwal perkuliahan sama sekali, memberi waktu luang yang cukup panjang untuk bersiap menghadapi malam yang dinanti. Udara pagi terasa sejuk dan segar, angin berhembus pelan menyapu halaman rumah yang luas, suasana tenang menyelimuti seluruh lingkungan seolah tak ada beban yang menanti di masa depan.

Pagi ini, Joe dan Arthur sedang berolahraga bersama di ruang kebugaran yang ada di dalam rumah milik Arthur. Ruangan itu sederhana namun lengkap dengan berbagai alat latihan yang tertata rapi di setiap sudutnya. Berkat latihan yang tekun dan rutin tanpa putus, tubuh keduanya terbentuk sangat bugar, padat, dan berisi — setiap gerakan memperlihatkan otot-otot yang kokoh namun lentur, terasah sempurna tanpa berlebihan. Bahu mereka lebar dan tegap, lengan kekar dengan otot yang jelas terlihat di balik kulit yang hangat, serta perut dan pinggang yang ramping namun kuat — bentuk tubuh yang lahir dari kedisiplinan, bukan sekadar penampilan. Keringat menetes deras di dahi mereka berdua, menyinari wajah yang tetap tenang meski tubuh bekerja keras. Di sela-sela istirahat singkat di antara latihan, Arthur berhenti sejenak, menyeka keringat di wajahnya dengan punggung tangan yang kekar, lalu menatap lurus ke arah Joe yang berdiri tegap dengan postur tubuh yang gagah dan penuh kekuatan tersimpan.

"Bagaimana rencana loe selanjutnya?"

Joe mengatur napasnya perlahan sambil tetap berdiri tegak, dadanya bidang naik turun teratur, memperlihatkan betapa kuat dan sehatnya tubuh yang ia miliki. Matanya menatap lurus ke depan seakan melihat bayangan masa lalu yang perlahan mendekat. "Nanti malam gue akan pergi ke rumah Rey. Di sanalah gue akan melihat langsung siapa saja orang-orang yang hadir — dan di antaranya pasti ada mereka yang mengkhianati Ayah dulu. Gue akan mengenali wajah mereka satu per satu."

Arthur kembali bergerak melanjutkan latihannya, tubuhnya yang padat dan berisi bergerak luwes namun bertenaga penuh. Ia berbicara dengan nada peringatan yang tenang namun tegas. "Sebaiknya loe tetap berhati-hati. Jangan sampai terlalu percaya pada senyum manis dan kata-kata halus yang mereka ucapkan. Orang yang mampu mengkhianati sahabatnya sendiri biasanya pandai menyembunyikan niat buruk di balik wajah yang ramah."

Joe mengangguk mantap, bahunya yang kuat bergerak tegas. "Gue tahu betul. Gue akan berhati-hati dan tidak akan lengah sedikit pun, jangan khawatir."

Setelah sebentar berhenti bergerak dan mengistirahatkan tubuhnya yang tegap dan berisi, Joe kembali berbicara sambil menyeka keringat di lengannya yang kekar. "Sebelum bersiap-siap, gue mau pergi sebentar ke swalayan terdekat. Membeli rokok dan bahan makanan untuk persediaan di rumah agar nanti tidak perlu keluar lagi."

Arthur hanya mengangguk pelan tanpa menambahkan sepatah kata pun, lalu kembali melanjutkan latihannya dengan tenang, setiap gerakannya mantap dan penuh kekuatan yang terlatih bertahun-tahun.

Joe pun segera mandi, berganti pakaian rapi yang menempel pas di tubuhnya yang padat dan berisi — memperlihatkan bahu lebar, dada bidang, dan pinggang yang ramping namun kuat — lalu bergegas pergi menuju swalayan terdekat. Sesampainya di sana, ia baru saja melangkah masuk melewati pintu kaca yang terbuka otomatis ketika matanya menangkap sosok yang dikenalnya — sosok yang tidak asing sama sekali. Di depan pintu keluar, Ibu Billy sedang turun dari mobil mewahnya yang berwarna hitam mengkilap, didampingi dua orang pengawal berbadan besar yang berjalan di sampingnya dengan sikap waspada. Wanita itu tampak anggun dan tenang seperti biasanya, mengenakan pakaian yang rapi namun pas di badan, memperlihatkan lekuk tubuh yang masih terawat meski usianya tidak lagi muda.

Joe tidak terlalu memikirkannya, ia tetap berjalan tenang menuju pintu masuk swalayan. Tingginya yang cukup dan postur tubuhnya yang tegap, berisi serta padat membuatnya tampak menonjol di antara orang-orang di sekitarnya. Saat berpapasan di lorong yang agak sepi, ia menyapa dengan sopan. Ibu Billy pun berhenti berjalan seketika, menyambutnya dengan senyum lebar yang tiba-tiba, lalu menyapa balik dengan suara yang terdengar lebih lembut dari biasanya — matanya tanpa sadar meneliti dari ujung kepala hingga kaki, memperhatikan betapa tegap dan berbadan kekar pemuda di hadapannya ini.

"Kamu ini anak yang mandiri sekali ya," ucap Ibu Billy sambil tersenyum kagum, matanya tak lepas dari wajah lalu turun ke leher dan bahu Joe yang lebar dan kokoh. "Sudah dewasa dan bisa mengurus kebutuhan sendiri tanpa harus disuruh orang lain. Pasti kamu sudah terbiasa dari kecil ya."

Joe tersenyum tipis lalu menjawab dengan nada rendah yang tenang, "Saya tidak punya siapa-siapa, Tante. Orang tua kandung saya sudah membuang saya sejak masih bayi. Jadi mau tidak mau, saya harus mengurus semuanya sendiri dari yang paling kecil sampai yang paling besar."

Mendengar itu, Ibu Billy seketika terdiam. Tatapannya berubah menjadi lebih lembut dan penuh perhatian yang berlebihan, tangannya perlahan mengulur dan menyentuh lengan Joe yang terasa keras, padat, dan berotot di balik kain kemeja tipis — seketika membuat jantungnya berdegup lebih cepat. "Kalau begitu..." ucapnya pelan, suaranya terdengar lebih rendah dan mendesah lembut dari sebelumnya, "jika suatu saat kamu sedang ada masalah, atau bahkan merasa kesepian dan butuh tempat bercerita — apa saja — Tante siap mendengarkan. Bahkan lebih dari sekadar mendengarkan, Tante bisa memberikan apa saja yang kamu butuhkan."

Sebelum berpisah, ia menambahkan sambil tidak melepaskan pandangannya yang terus menjelajahi bentuk tubuh Joe yang bugar dan berisi, "Oh iya, nanti malam kamu datang ke rumah Rey ya? Acara syukuran jabatan ayahnya. Pasti ramai dan menyenangkan."

"Terima kasih banyak, Tante. Saya pasti datang," jawab Joe dengan senyum yang tetap sopan meski ia sangat paham maksud tersembunyi di balik tatapan wanita itu yang tak lepas dari tubuhnya.

Ibu Billy tersenyum lebih lebar dan menggoda, jemarinya yang halus menyentuh pelan dagu Joe seakan berhak melakukannya, lalu turun perlahan ke lehernya yang kokoh. "Bagus. Tante tunggu di sana ya... jangan sampai terlambat. Tante sudah penasaran sekali mengobrol lebih lama denganmu."

"Baik, Tante," jawab Joe tenang meski sikap wanita itu jelas jauh dari sekadar ramah kepada teman dekat anak.

Mereka pun berpisah dan mulai berbelanja masing-masing. Di tengah kegiatan memilih bahan makanan di rak yang agak jauh, Ibu Billy sesekali melirik ke arah Joe yang berdiri tegap di sana — tubuhnya tinggi, bahu lebar, dada bidang, pinggang ramping, dan seluruh badannya tampak padat berisi penuh kekuatan muda yang segar. Wanita itu menggigit bibir bawahnya pelan sambil tersenyum nakal, membayangkan bagaimana rasanya berada dekat dengan pemuda itu dan seberapa liar Joe di ranjang jika tubuhnya yang bugar dan berisi sepenuhnya menjadi miliknya. Tak lama kemudian, Ibu Billy menyelesaikan belanjaannya dan beranjak pergi meninggalkan swalayan dengan langkah ringan namun pikirannya masih tertinggal pada sosok tubuh Joe yang kuat dan tegap.

Joe yang melihat kepergiannya pun segera membawa barang belanjaannya ke kasir untuk dibayar, lalu bergegas pulang menuju rumah Arthur.

Sesampainya di rumah, ia melihat Arthur sudah duduk santai di sofa ruang tamu sambil memegang gelas berisi jus buah yang masih segar. Meski duduk santai, postur tubuhnya tetap tegap dan berisi — bahu lebar, lengan kekar, seluruh tubuhnya terbentuk padat dan kuat karena latihan bertahun-tahun tanpa henti. Joe meletakkan kantong belanjaan di meja, lalu duduk di hadapannya dan menceritakan apa yang baru saja terjadi — pertemuan dengan Ibu Billy, ucapannya yang manis, sentuhan yang sengaja, serta tatapan dan senyumnya yang jauh dari sekadar ramah, seakan tubuhnya yang bugar dan berisi telah menarik perhatian wanita itu seketika.

"Gue rasa wanita itu bukan sekadar baik hati," ucap Joe dengan nada berpikir serius. "Sikapnya terlalu terbuka, tatapannya terus mengikuti setiap gerakan gue seakan sedang menilai sesuatu yang ingin dimiliki sepenuhnya. Dia bahkan menyentuh lengan dan dagu gue seakan sudah lama mengenal gue dengan sangat dekat. Dia terlihat seperti wanita yang haus perhatian, penuh hasrat yang tak tersalurkan, dan gampang tergoda — tipe yang tidak bisa menahan diri begitu menginginkan sesuatu. Dia terkesan nakal, berani, dan sepertinya tidak pernah puas dengan apa yang sudah dimilikinya selama ini."

Arthur mendengarkan dengan tenang lalu mengangkat bahu yang lebar dan kokoh itu biasa saja. "Kalau begitu, loe harus lebih waspada. Wanita seperti itu biasanya punya cara sendiri untuk mendapatkan apa yang diinginkannya — dan kadang mereka tidak peduli apa risikonya bagi orang lain maupun bagi dirinya sendiri."

Joe hanya mengangguk mendengar penjelasan itu, namun di dalam hatinya ia justru berpikir bahwa sifat wanita itu mungkin bisa menjadi keuntungan baginya — seseorang yang mudah tergoda oleh penampilan dan tubuh yang kuat bisa lebih mudah didekati dan dijadikan jalan masuk ke lingkungan musuh.

Waktu terus berjalan perlahan, mereka melanjutkan kegiatan masing-masing sambil menunggu sore hari tiba untuk bersiap-siap pergi ke rumah Rey.

Belum lama berselang, ponsel Joe yang diletakkan di meja bergetar pelan. Sebuah pesan masuk dari nomor yang dikenalnya — Billy.

"Joe, loe nanti malam tetap ikut ke rumah Rey kan?"

Joe segera mengetik balasan dengan cepat.

"Iya, tetap datang. Kenapa memangnya?"

Tak lama pesan balasan masuk.

"Oke bagus. Ada hal penting yang mau gue bahas sama loe saat sampai nanti."

Joe sedikit mengernyitkan dahi lalu mengetik balasan.

"Hal apa yang mau dibahas sekarang?"

Namun jawaban Billy singkat saja seakan sengaja menahan rasa penasaran.

"Nanti malam kita ngomong yang penting. Sampai sana saja dulu."

Joe tidak memaksa untuk mengetahui lebih cepat. Ia meletakkan ponselnya dan bercerita kepada Arthur tentang pesan singkat dari Billy itu.

Arthur berpikir sejenak sambil memutar gelas di tangannya yang kekar dan berotot, lalu berkata, "Berarti loe harus pergi ke sana malam ini tanpa ragu. Pastikan sendiri apa yang sebenarnya terjadi dan apa yang ingin dia bicarakan dengan serius."

Joe mengangguk setuju. Di dalam benaknya ia berpikir — tidak mungkin secepat ini rencana mereka ketahuan. Belum ada kesalahan yang dilakukan. Namun rasa penasaran mulai tumbuh besar di hatinya. Ia semakin tidak sabar menunggu malam tiba, ingin segera tahu apa sebenarnya hal penting yang hendak dibicarakan Billy.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!