NovelToon NovelToon
Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Ditinggal Menikah Dipinang Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:484
Nilai: 5
Nama Author: Anjana

Ketika Zilia mengetahui kekasihnya menikah dengan wanita lain, hidupnya seketika berubah.
Belum sempat menyembuhkan luka, ia justru dijodohkan dengan Rafael, pewaris keluarga Darmawan yang nyaris tidak dikenalnya. Namun, siapa sangka jika Vio datang kembali dan bersumpah akan merebutnya, sementara Rafael terang-terangan bahwa Zilia sebagai calon istrinya.
Di antara cinta lama, perjodohan, kecemburuan, dan rahasia keluarga, Zilia tidak pernah menyangka, bahwa pria yang awalnya hanya dianggap sebagai pengganti, justru akan menjadi lelaki yang mengubah seluruh hidupnya.

Akankah Zilia mendapatkan kebahagiaan? Atau justru ujian hidupnya semakin berat.
Penasaran? yuk ikuti jalan cerita mereka

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 23

Baru beberapa langkah keluar dari restoran...

Zilia masih berjalan di samping Rafael.

Pikirannya masih dipenuhi bayangan pertemuannya dengan Vio beberapa saat yang lalu. Tanpa sadar, langkahnya menjadi tidak fokus.

Saat menuruni anak tangga menuju area parkir...

"Kyaah!"

Kakinya menginjak sisi anak tangga.

Krek!

"Aw!"

Zilia meringis sambil memegangi pergelangan kakinya.

Tubuhnya oleng ke depan.

Beruntung, Rafael dengan sigap menangkap pinggang Zilia sebelum gadis itu benar-benar terjatuh.

"Hati-hati."

"Aku... aduh..."

Zilia menggigit bibir bawahnya.

"Kayaknya kakiku keseleo."

Rafael langsung berjongkok di hadapan Zilia.

"Jangan dipaksa berdiri."

"Aku masih bisa jalan."

"Coba."

Zilia mencoba menapakkan kaki kirinya.

"Ah!"

Rasa nyeri membuat wajahnya langsung pucat.

Rafael menghela napas pelan.

"Keras kepala."

Tanpa meminta izin lagi...

Rafael menyelipkan satu tangan di bawah lutut Zilia, sementara tangan lainnya menopang punggung gadis itu.

"Hah? Apa yang kamu lakukan?"

"Diam."

Belum sempat Zilia protes...

Tubuhnya sudah terangkat dengan mudah ke dalam gendongan Rafael.

"Kamu turunkan aku. Banyak orang."

"Biarkan. Yang penting kakimu tidak semakin parah."

"Tapi..."

"Kamu mau jalan sambil kesakitan?"

Zilia langsung terdiam.

Ia memang tidak sanggup menginjakkan kakinya.

Mau tak mau, ia membiarkan Rafael menggendongnya menuju mobil.

Tak jauh dari sana...

Vio yang sejak tadi mengikuti mereka menghentikan langkahnya.

Refleks, ia sempat ingin berlari menghampiri Zilia.

Tangannya bahkan sudah terangkat hendak memanggil. Namun langkahnya terhenti.

Rafael sudah lebih dulu berada di sisi Zilia.

Bahkan kini, laki-laki itu menggendongnya dengan penuh perhatian. Vio hanya bisa mengepalkan kedua tangannya.

Sorot matanya dipenuhi penyesalan.

"Seharusnya... Orang yang menolongnya adalah aku. Seharusnya... Yang menggendongnya juga aku."

Namun kenyataannya...

Ia tidak lagi memiliki hak untuk melakukan itu.

Di belakang Vio, Aleena berjalan mendekat.

Tatapannya bergantian mengarah kepada Rafael dan Zilia.

"Lihat. Apa sekarang kamu masih belum sadar?"

Vio tidak menjawab.

"Aku tahu tatapanmu. Kamu ingin menghampiri Zilia. Kamu ingin menggendongnya. Kamu ingin menjadi orang yang menenangkannya."

Aleena tersenyum getir.

"Tapi kamu tidak bisa. Karena sekarang... status itu perlahan mulai diambil oleh Rafael."

Vio mengatupkan rahangnya.

"Diam."

"Aku tidak akan diam. Kamu sendiri yang memilih terus mengejar perempuan yang sudah berusaha melupakanmu. Padahal aku ini istrimu."

"Ini semua gara-gara menikah dengan mu."

Vio memejamkan mata beberapa saat.

Dadanya terasa sesak melihat Rafael membuka pintu mobil dengan hati-hati, lalu menurunkan Zilia perlahan ke kursi penumpang.

Rafael kemudian berjongkok di depan pintu mobil.

"Masih sakit?"

Zilia mengangguk pelan.

"Sedikit."

"Tunggu di sini."

"Aku ambil kotak P3K di bagasi."

Tanpa menunggu jawaban, Rafael segera berjalan ke belakang mobil.

Melihat perhatian Rafael yang begitu tulus, Vio semakin yakin akan satu hal.

Jika ia terus terlambat mengambil keputusan...

Mungkin suatu hari nanti, Zilia benar-benar akan menjadi milik laki-laki lain.

Dan saat hari itu tiba... Penyesalan tidak akan lagi mampu mengubah apa pun.

Rafael membuka bagasi mobilnya.

Ia mengambil kotak P3K, lalu kembali menghampiri Zilia yang masih duduk di kursi penumpang.

"Sebentar."

Rafael berjongkok di depan Zilia.

"Boleh aku lihat?"

Zilia mengangguk pelan.

"Hem."

Dengan sangat hati-hati, Rafael mengangkat sedikit kaki Zilia dan meletakkannya di atas lututnya sendiri.

Zilia sontak salah tingkah.

"Kamu... ngapain?"

"Memeriksa kakimu."

"Kalau dibiarkan, nanti bengkaknya makin parah."

Rafael membuka perban elastis, lalu meraba perlahan pergelangan kaki Zilia.

"Sakit di sini?"

"Aw..."

Zilia langsung meringis.

"Iya."

"Berarti keseleo ringan."

Rafael segera mengoleskan obat antinyeri, kemudian membalut pergelangan kaki Zilia dengan perban.

Gerakannya begitu hati-hati, seolah takut membuat Zilia kembali kesakitan.

"Selesai. Jangan banyak jalan dulu."

Zilia menatap Rafael beberapa saat.

"Lho... Kamu bisa juga ya melakukan beginian."

Rafael tersenyum tipis.

"Memangnya menurutmu aku cuma bisa marah-marah?"

Zilia terkekeh pelan.

"Sedikit. Habisnya kamu galak."

"Aku galak karena kamu keras kepala."

Percakapan mereka terdengar ringan.

Namun tidak bagi seseorang yang berdiri beberapa meter dari sana.

Vio.

Ia menyaksikan semuanya.

Mulai dari Rafael menggendong Zilia...

Hingga kini merawat kaki gadis itu dengan penuh perhatian.

Tanpa sadar, kedua tangannya mengepal begitu erat. Rasa cemburu bercampur penyesalan memenuhi dadanya.

Aleena yang berdiri di samping Vio mengembuskan napas pelan.

"Kamu lihat sendiri, kan?"

"Rafael tidak sekadar mengaku sebagai calon suaminya. Dia benar-benar memperlakukan Zilia dengan baik."

Vio tidak menjawab.

Tatapannya masih terpaku pada Zilia.

Di saat yang sama...

Zilia tanpa sengaja mengangkat kepala.

Pandangannya bertemu dengan Vio.

Senyum tipis di wajahnya perlahan memudar.

Rafael menyadari perubahan raut wajah Zilia.

Ia mengikuti arah pandang gadis itu.

Begitu melihat Vio masih berdiri di sana, Rafael langsung bangkit.

Tatapannya berubah dingin.

"Kamu masih mengikuti kami?"

Vio melangkah mendekat.

"Aku hanya ingin memastikan Zilia baik-baik saja."

Rafael berdiri tepat di depan Zilia, seolah menjadi pembatas di antara mereka.

"Kalau sudah melihat... kamu bisa pergi."

Vio menatap Rafael tajam.

"Aku bicara dengan Zilia."

"Dan dia sedang bersamaku."

Ketegangan kembali terasa.

Zilia mengembuskan napas pelan.

Ia lelah melihat kedua pria itu terus berhadapan karena dirinya.

"Vio."

Suara Zilia membuat keduanya menoleh.

"Aku baik-baik saja. Jadi... berhentilah mengikutiku."

Kalimat itu terdengar tenang.

Namun bagi Vio, setiap katanya terasa seperti pisau yang mengiris.

"Apa... kamu benar-benar tidak memberiku kesempatan lagi?"

Zilia terdiam beberapa saat.

Lalu menggeleng perlahan.

"Kesempatan itu pernah ada. Tapi waktu itu... kamu datang ketika sudah terlambat."

Ucapan itu membuat Vio kehilangan kata-kata.

Sementara Rafael membuka pintu mobil dan kembali membantu Zilia duduk dengan nyaman.

Sebelum masuk ke kursi pengemudi, Rafael menatap Vio untuk terakhir kalinya.

"Mulai hari ini. Jangan ikuti Zilia lagi. Karena selama dia berada dalam tanggung jawabku... maka aku tidak akan membiarkan siapa pun membuatnya menangis untuk kedua kalinya."

Kalimat itu diucapkan tanpa nada tinggi.

Namun justru terdengar sebagai peringatan yang tegas.

Vio hanya mampu berdiri mematung, menyaksikan mobil Rafael perlahan meninggalkan area parkir.

Sedangkan Aleena menatap suaminya dengan sorot mata yang sulit diartikan.

Ia tahu...

Semakin hari, Zilia semakin jauh dari jangkauan Vio.

Di dalam mobil...

Suasana kembali sunyi.

Rafael sengaja mengemudikan mobil dengankecepatan sedang agar kaki Zilia tidak terlalu terguncang.

Sesekali ia melirik ke arah Zilia.

"Kakimu masih sakit?"

"Masih. Berdenyut dikit."

"Kalau begitu, nanti malam dikompres."

Zilia hanya mengangguk pelan.

Beberapa menit kemudian, Rafael kembali membuka percakapan.

"Kamu marah?"

Zilia menoleh.

"Marah kenapa?"

"Karena aku bicara seperti itu kepada Vio."

Zilia menggeleng.

"Tidak. Aku justru capek. Capek sama semuanya."

Rafael mengangguk pelan.

"Aku mengerti."

"Tidak. Kamu belum mengerti."

Zilia tersenyum pahit.

"Perasaanku seperti dipermainkan. Di satu sisi aku berusaha melupakan Vio. Di sisi lain... aku harus menerima perjodohan yang bahkan belum sempat kupahami. Aku seperti tidak diberi kesempatan memilih."

Rafael tidak langsung menjawab.

Ia tahu...

Tidak semua luka bisa disembuhkan dengan kata-kata.

"Aku memang tidak bisa menghapus masa lalu kamu. Tapi aku bisa memastikan... masa depanmu tidak akan seburuk yang kamu bayangkan."

Zilia menatap Rafael cukup lama.

"Kamu selalu bicara dengan penuh keyakinan."

"Karena aku tidak suka memberi harapan kosong."

Jawaban itu membuat Zilia kembali memalingkan wajah.

Entah mengapa...

Semakin lama mengenal Rafael, semakin sulit baginya membenci laki-laki itu.

Sementara itu...

Di area parkir restoran.

Vio masih berdiri memandangi mobil Rafael yang semakin menjauh.

Tinju kanannya mengepal begitu kuat hingga urat-urat di tangannya tampak jelas.

Aleena berdiri di sampingnya.

"Kamu masih mau mengejarnya?"

Vio mengembuskan napas kasar.

"Aku tidak akan menyerah."

Aleena tersenyum tipis.

"Kamu boleh mengejar. Tapi jangan lupa. Dia sekarang sudah menjadi tunangan orang lain. Dan seluruh rekan bisnis kedua keluarga sudah mengetahui pertunangan mereka. Kalau kamu terus memaksa... yang hancur bukan cuma nama Zilia. Nama keluargamu juga."

Vio menutup matanya sejenak.

Ia sadar...

Ucapan Aleena ada benarnya.

Namun setiap kali mengingat senyum Zilia bersama Rafael...

Dadanya terasa semakin sesak.

"Aku tidak peduli."

"Aku akan tetap memperjuangkannya."

Aleena tertawa lirih.

"Sayangnya... perjuanganmu dimulai setelah kamu kehilangan dia."

Tak lama kemudian...

Mobil Rafael memasuki halaman megah kediaman keluarga Adrian.

Para pelayan segera membuka gerbang.

Rafael turun lebih dulu.

Ia berjalan ke sisi penumpang dan membukakan pintu.

"Ayo."

"Aku bisa turun sendiri."

"Jangan keras kepala."

Rafael mengulurkan tangannya.

Kali ini...

Zilia tidak menolak.

Ia menggenggam tangan Rafael sebagai tumpuan untuk turun.

Namun saat kaki kirinya menginjak tanah...

"Ah..."

Tubuhnya kembali limbung karena rasa nyeri.

Rafael dengan sigap menopang pinggangnya.

"Hati-hati."

Dari arah teras rumah, Tuan Adrian, Davin, dan Lora yang baru saja keluar sontak menghentikan langkah.

Davin langsung berlari menghampiri.

"Zil! Kenapa kakimu?"

"Saat turun tangga di restoran, dia keseleo," jawab Rafael tenang.

Raut wajah Tuan Adrian langsung berubah khawatir.

"Sudah diperiksa?"

"Sudah."

"Sepertinya hanya keseleo ringan."

"Tetap saja harus dipanggil dokter keluarga."

"Tidak perlu, Om," sela Rafael. "Saya sudah menghubungi dokter keluarga sebelum sampai ke sini. Beliau sedang dalam perjalanan."

Mendengar itu, Tuan Adrian mengangguk puas.

"Terima kasih, Rafael. Kamu benar-benar memperhatikan putriku."

"Sudah menjadi tanggung jawabnya saya, Om."

Ucapan itu membuat Lora menggigit bibir bawahnya.

Tatapannya berganti-ganti antara Rafael dan Zilia.

Rasa iri kembali memenuhi dadanya.

"Kenapa... Kenapa perhatian Kak Rafael selalu tertuju pada Zilia?" batin Lora

Tanpa disadari siapa pun...

Sorot mata Lora mulai dipenuhi tekad.

Ia tidak ingin hanya menjadi penonton.

Dan kali ini...

Ia mulai menyusun rencana baru untuk memisahkan Rafael dari Zilia.

Tak berselang lama...

Mobil dokter keluarga memasuki halaman kediaman Tuan Adrian.

Seorang dokter paruh baya bersama asistennya segera turun membawa kotak peralatan medis.

"Selamat sore, Tuan."

"Silakan, Dok. Tolong periksa putri saya."

Dokter mengangguk, lalu menghampiri Zilia yang masih duduk di sofa ruang tamu.

"Permisi, Nona."

"Boleh saya lihat kakinya?"

Zilia mengangguk pelan.

Dokter memeriksa pergelangan kaki Zilia dengan teliti.

Sesekali Zilia meringis saat bagian yang terasa nyeri ditekan.

"Hmm..."

"Syukurlah."

"Tidak ada luka yang serius. Hanya keseleo ringan. Tapi selama dua atau tiga hari ke depan, sebaiknya jangan terlalu banyak berjalan. Kalau dipaksa, pemulihannya bisa lebih lama."

Tuan Adrian mengembuskan napas lega.

"Terima kasih, Dok."

Dokter kemudian memberikan salep dan beberapa obat antiinflamasi.

"Gunakan sesuai aturan. Kalau bengkaknya bertambah atau nyerinya tidak berkurang, segera hubungi saya."

"Baik, Dok."

Setelah dokter berpamitan, suasana ruang tamu kembali tenang.

Rafael berdiri dari duduknya.

"Kalau begitu, saya pamit dulu, Om."

Tuan Adrian tersenyum.

"Terima kasih sudah menjaga Zilia."

"Itu sudah menjadi tanggung jawab saya, Om."

Ucapan Rafael membuat pipi Zilia sedikit memanas.

Ia memilih menundukkan kepala agar tidak menjadi pusat perhatian.

Saat Rafael hendak melangkah keluar...

"Lho, Kak Rafael mau pulang?"

Suara manja Lora menghentikan langkahnya.

Rafael menoleh sekilas.

"Iya. Masih ada pekerjaan."

"Sebentar saja."

Lora buru-buru menghampiri.

"Temenin Lora ngobrol dulu. Kita kan sudah lama nggak ketemu."

Rafael menggeleng pelan.

"Lain kali saja. Sekarang aku benar-benar harus pergi."

"Tapi—"

"Lora."

Nada suara Rafael terdengar tegas.

"Aku tidak suka dipaksa."

Seketika senyum di wajah Lora memudar.

Di hadapan semua orang, ia hanya mampu mengangguk.

"Iya..."

Rafael lalu menoleh kepada Zilia.

"Istirahat."

"Jangan banyak jalan."

"Kalau ada apa-apa, telepon aku."

Zilia mengangguk.

"Iya, terimakasih untuk malam ini."

Rafael pun meninggalkan rumah itu.

Suara mesin mobilnya perlahan menghilang dari halaman.

Begitu Rafael benar-benar pergi...

Sorot mata Lora berubah.

Tak ada lagi senyum manja.

Yang tersisa hanyalah rasa iri yang semakin membesar.

Di dalam kamar...

Lora membanting barangnya ke lantai.

"Kenapa? Kenapa harus Zilia terus? Semua perhatian tertuju padanya. Papa. Kak Davin. Bahkan Kak Rafael."

Ibunya, Nyonya Mirna, yang baru masuk ke kamar menghela napas.

"Kamu masih belum bisa menerima kenyataan?"

"Aku nggak terima, Ma!"

"Lihat sendiri."

"Kak Rafael bahkan nggak pernah menatapku seperti tadi menatap Zilia."

Nyonya Mirna memegang bahu putrinya.

"Lora. Kalau memang tidak bisa memiliki hati Rafael, jangan memaksakan."

"Tidak!"

Lora menepis tangan ibunya.

"Aku tidak akan menyerah. Kalau Zilia tetap ada... Kak Rafael tidak akan pernah melihatku."

Nyonya Mirna mulai khawatir melihat sorot mata putrinya.

"Kamu mau melakukan apa?"

Lora tersenyum tipis.

Senyum yang kali ini membuat ibunya sendiri merasa tidak tenang.

"Aku belum tahu. Tapi yang jelas... aku akan membuat Kak Rafael menjauh dari Zilia. Bagaimanapun caranya."

1
Leisha
Lanjut thor...
awas y thor kalo gk update
suka ceritanya
Leisha
Ditunggu kelanjutannya kak❤
Anjana
Asiap.... gas pol nyampe end kak. Jangan lupa untuk selalu dukung biar authornya semangat nulisnya😍
Leisha
Semoga tidak gantung ceritanya
awas ya thor kalo gak nyampe end
tak jewer kamu thor😄
Leisha
Bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!