Setelah rencana Mugen Tsukuyomi hancur, Madara Uchiha menemui ajalnya di Perang Dunia Ninja Keempat. Namun, bukannya pergi ke alam baka, ia justru terbangun di pesisir Grand Line yang ganas dalam wujud remajanya yang berusia 16 tahun. Kehilangan ambisi lamanya, sang "Hantu Uchiha" kini hanya ingin hidup bebas dan terlepas dari pertumpahan darah yang tak berarti.
Berbekal sebuah Sistem misterius yang memulihkan kekuatan dewanya secara bertahap, Madara memulai perjalanan barunya. Ironisnya, sikap Madara yang arogan, dingin, dan selalu menolak membunuh musuh lemah malah memicu rentetan kesalahpahaman yang konyol. Dunia dan para pengikutnya—mulai dari Nico Robin, Boa Hancock, hingga Enel—menyanjungnya sebagai sosok penyelamat agung sekaligus penguasa mutlak yang tak tertandingi.
Bersama Bajak Laut "Mugen", eksistensi Madara perlahan meruntuhkan alur takdir lautan. Mulai dari mempermalukan Angkatan Laut, membelah langit melawan Yonko, hingga diakui sebagai "Kaisar Kelima".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Pulau Oohara dan Aroma Penguasa
Suara derit kayu dan benturan lambung kapal dengan dermaga batu menandakan akhir dari pelayaran singkat mereka.
Jangkar besi raksasa dijatuhkan, memecah permukaan air laut dengan suara percikan yang keras. Layar kapal yang bertambal telah digulung rapi oleh para kru yang bergerak cepat layaknya sekumpulan semut pekerja.
Kapal Bajak Laut Taring Berkarat akhirnya bersandar di pelabuhan.
Madara berdiri di atas geladak. Angin pelabuhan yang membawa aroma rempah, ikan segar, dan keringat manusia menerpa wajahnya. Dia melihat ke arah daratan. Bangunan-bangunan batu dan kayu berjejer rapi membentuk sebuah kota pelabuhan yang sangat sibuk.
Sebuah papan kayu besar tertancap di dekat dermaga pelabuhan. Tulisan di atasnya menunjukkan nama tempat ini. Pulau Oohara.
Menurut penjelasan mantan kapten kapalnya, ini bukanlah pulau Ohara yang terkenal akan para sarjananya. Ohara telah dihapus dari peta dunia beberapa tahun yang lalu oleh kekuatan militer mutlak. Tempat ini hanyalah pulau transit, sebuah titik persinggahan bagi kapal-kapal dagang, bajak laut amatir, dan agen-agen pemerintah yang bergerak di perairan West Blue.
Madara melangkah menuju tepi kapal.
Sebuah papan titian diturunkan oleh dua orang kru. Papan kayu itu membentang dari geladak hingga ke permukaan dermaga batu.
Tanpa membuang waktu, Madara melangkah menuruni papan titian tersebut.
Saat telapak kakinya yang beralaskan sandal kayu menyentuh permukaan batu dermaga yang keras, sebuah sensasi lega yang luar biasa mengalir di sekujur tubuhnya.
'Akhirnya,' batin Madara.
Dia diam-diam menghela napas panjang melalui hidung. Rasa mual yang selama dua hari ini mengendap di ulu hatinya perlahan memudar. Bumi yang padat dan tidak bergoyang adalah anugerah terbesar yang tidak pernah dia syukuri ketika masih berada di dunia shinobi.
Dia tidak akan pernah mengakui hal ini kepada siapa pun, tetapi lautan adalah musuh alami yang jauh lebih merepotkan daripada aliansi lima negara besar.
Di belakangnya, mantan kapten bertubuh gemuk tertatih-tatih menuruni papan titian. Pria itu menunduk hormat dengan kedua tangan berada di samping tubuh.
“Tuan Agung,” ucap kapten itu dengan suara pelan. “Kami telah tiba di Oohara sesuai perintah Anda. Apakah Anda membutuhkan kami untuk membawakan barang-barang Anda atau membuka jalan di kota?”
Madara melirik dari sudut matanya.
“Tidak perlu. Kalian tetap di kapal,” jawab Madara datar.
Dia mengingat senjata utamanya yang masih tergeletak di dalam kabin. Kipas perang raksasa berukiran lambang Uchiha, Gunbai. Senjata itu muncul di kabin kapalnya kemarin pagi, entah dari mana.
Saat dia mencoba mengangkatnya, layar biru transparan sempat muncul di depan wajahnya.
[Senjata Legendaris: Gunbai Uchiha. Status: Terkunci. Membutuhkan lebih banyak Poin Reputasi untuk dibuka dan diangkat. Peringatan: Beban senjata saat ini disesuaikan dengan gravitasi penahan.]
Senjata itu terlampau berat untuk diangkat dengan kekuatan fisiknya yang masih tertahan saat ini. Bahkan ketika dia mencoba mengalirkan sedikit chakra, Gunbai itu tidak bergeser satu sentimeter pun dari lantai kayu kabin.
Madara tidak peduli. Dia bisa bertarung dengan tangan kosong. Namun, untuk berjaga-jaga di pulau yang tidak dia kenal, dia membutuhkan sesuatu yang tajam.
Dia merogoh bagian samping pinggangnya. Sebuah pedang baja biasa dengan sarung berwarna hitam terpasang rapi di balik sabuk kainnya. Itu adalah pedang rampasan dengan kualitas terbaik yang bisa dia temukan di kapal ini. Bukan pedang legendaris, tetapi cukup untuk memotong leher manusia.
“Jaga kabinku. Jangan biarkan ada satu orang pun yang menyentuh senjataku di dalam sana. Jika saat aku kembali ada barang yang bergeser dari tempatnya, aku akan menenggelamkan kalian bersama kapal ini,” perintah Madara.
Kapten gemuk itu menelan ludah dan langsung bersujud hingga dahinya menyentuh batu dermaga.
“Nyawa kami adalah jaminannya, Tuan! Kapal ini dan seluruh isinya akan aman di bawah pengawasan kami!”
Madara tidak membalas lagi. Dia membalikkan badan dan mulai melangkah menjauhi area dermaga.
Kota Oohara adalah tempat yang berisik.
Suara para pedagang yang meneriakkan barang dagangannya saling bersahutan. Denting logam dari toko pandai besi terdengar dari ujung jalan. Kereta kuda yang membawa tong-tong minuman keras berderak melewati jalanan berbatu yang tidak rata.
Orang-orang dari berbagai macam ras dan pekerjaan berlalu-lalang. Ada pria bertubuh besar dengan bekas luka di wajah. Ada wanita berpakaian mencolok yang menawarkan jasa di pinggir jalan. Ada pula beberapa tentara berseragam putih dengan lambang burung camar biru di punggung mereka, berpatroli dengan senapan laras panjang.
Madara berjalan menembus keramaian pasar utama.
Postur tubuhnya tegak. Langkah kakinya konstan dan tidak mengeluarkan suara sedikit pun, sebuah kebiasaan yang mendarah daging dari pelatihan pembunuh sejak masa kanak-kanak.
Namun, ada sesuatu yang membuat kehadirannya mustahil untuk diabaikan.
Armor tempur berwarna merah menyala yang dia kenakan terlihat sangat mencolok di tengah-tengah pakaian kain lusuh penduduk pulau. Pelindung dada berbahan pelat logam itu memantulkan sinar matahari siang.
Ditambah lagi, wajah remaja itu terlalu rupawan. Garis rahangnya tegas, hidungnya mancung, dan kulitnya bersih. Rambut hitam panjangnya membingkai wajah yang sama sekali tidak menunjukkan emosi.
Tetapi bukan pakaian atau ketampanannya yang membuat orang-orang menyingkir.
Itu adalah matanya.
Mata hitam kelam itu menatap lurus ke depan, seolah-olah orang-orang di sekitarnya hanyalah patung batu yang tidak bernyawa. Ada tekanan dingin yang menguar dari tatapan tersebut. Sebuah dominasi mutlak yang membuat insting bertahan hidup manusia biasa meronta.
Seorang pedagang buah yang bertubuh besar berniat memanggil Madara untuk menawarkan dagangannya. Dia mengambil napas dalam-dalam dan membuka mulutnya.
Madara secara tidak sengaja melirik ke arah pedagang itu selama kurang dari satu detik.
Seketika itu juga, kata-kata yang ingin diucapkan sang pedagang tersangkut di tenggorokannya. Napas pria besar itu terhenti. Tubuhnya kaku seakan baru saja ditatap oleh seekor monster pemangsa dari dasar jurang.
Pedagang itu mundur perlahan, menyembunyikan dirinya di balik tumpukan kotak apel, gemetar tanpa alasan yang jelas.
Hal yang sama terjadi pada siapa pun yang berada di jalur jalan Madara. Penduduk kota, preman jalanan, hingga beberapa bajak laut yang sedang mabuk, secara naluriah membelah jalan, memberikan ruang yang sangat luas bagi pemuda berarmor merah itu untuk lewat.
Madara sama sekali tidak peduli dengan reaksi mereka.
Dia hanya berjalan mengamati lingkungan sekitarnya. Mencerna setiap informasi visual yang bisa dia dapatkan dari dunia ini.
Senjata api tampaknya menjadi hal yang sangat umum di sini. Dia melihat banyak orang menyelipkan pistol di pinggang mereka. Namun bentuknya sangat primitif, hanya menggunakan peluru timah bundar dan bubuk mesiu yang harus diisi secara manual dari depan laras.
'Teknologi yang aneh,' batin Madara. 'Mereka memiliki kapal laut yang besar dan senjata api, tetapi tingkat kewaspadaan dan kekuatan fisik mereka sangat rendah. Dunia yang bergantung pada benda mati.'
Perutnya tiba-tiba mengeluarkan suara gemuruh pelan.
Madara berhenti melangkah. Dia menyadari bahwa dia belum makan makanan yang layak selama dua hari terakhir karena menahan rasa mual di lautan. Tubuh remajanya ini membutuhkan asupan energi yang padat untuk memulihkan kapasitas chakra dan memelihara otot-ototnya.
Dia menatap ke sekeliling. Pandangannya tertuju pada sebuah bangunan kayu dua lantai yang terlihat ramai. Papan kayu bertuliskan Kedai Burung Camar tergantung di atas pintu ganda yang terbuka lebar.
Aroma daging panggang dan kaldu gandum tercium dari dalam bangunan tersebut.
Madara melangkah masuk ke dalam kedai.
Suara bising dari puluhan pria yang sedang minum dan mengobrol memenuhi ruangan. Asap tembakau mengambang di udara, membuat pencahayaan di dalam kedai terlihat sedikit remang-remang.
Saat Madara masuk, beberapa orang yang duduk di dekat pintu terdiam sesaat, memperhatikan armor merahnya. Namun karena ini adalah pulau transit yang sering dikunjungi orang aneh, mereka segera mengabaikannya dan kembali pada minuman mereka.
Madara memilih sebuah meja kosong di sudut paling dalam ruangan, jauh dari keramaian dan cahaya jendela. Posisi ini memberikan sudut pandang yang sempurna baginya untuk mengawasi seluruh pintu keluar dan masuk.
Seorang pelayan wanita menghampirinya dengan cepat.
“Apa yang ingin kau pesan, Anak Muda?” tanya pelayan itu sambil membersihkan meja dengan kain basah.
“Daging ukuran besar. Dan air putih jernih. Jangan bawa minuman keras berbau busuk ke mejaku,” jawab Madara dengan suara dingin.
Pelayan itu sedikit terkejut dengan nada bicara Madara yang sangat memerintah, namun dia segera mengangguk dan bergegas pergi menuju dapur.
Sambil menunggu makanannya, Madara menyandarkan punggungnya ke kursi kayu. Dia menutup matanya setengah, membuat dirinya terlihat seperti remaja yang sedang beristirahat.
Pada kenyataannya, dia sedang memusatkan chakranya.
Madara mengalirkan sebagian kecil dari chakranya menuju kedua telinganya. Teknik ini dia pelajari saat masih menjadi pemimpin klan di medan perang. Sebuah trik sensorik sederhana untuk memperluas jangkauan pendengaran dan menyaring percakapan penting dari suara bising.
Suara tawa para pemabuk menjadi redup di telinganya. Suara denting gelas perlahan menghilang.
Madara memilah gelombang suara di dalam ruangan itu, mencari percakapan yang mungkin berguna baginya.
Dia mendengar dua pedagang di meja tengah membicarakan harga gandum yang naik. Tidak berguna.
Dia mendengar sekumpulan bajak laut pemula merencanakan pencurian di pelabuhan malam ini. Terlalu bodoh.
Kemudian, pendengarannya menangkap sebuah ritme suara yang berbeda.
Suara itu berasal dari meja yang hanya berjarak dua baris dari tempatnya duduk. Ada tiga orang pria yang duduk mengelilingi meja bundar.
Madara membuka matanya sedikit untuk melirik mereka.
Ketiga pria itu berpakaian sangat rapi, berbanding terbalik dengan pengunjung kedai lainnya. Mereka mengenakan setelan jas hitam yang disetrika licin, kemeja putih kerah tinggi, dan dasi hitam. Di kepala mereka bertengger topi fedora hitam yang menutupi sebagian wajah mereka.
'Pakaian yang sangat tidak praktis untuk bertarung,' nilai Madara dalam hati.
Namun postur tubuh mereka menunjukkan hal lain. Punggung mereka tegak lurus. Tangan mereka berada di atas meja, tidak memegang gelas minuman dengan sembarangan, melainkan selalu berada dalam posisi siap untuk menarik sesuatu dari balik jas.
Orang-orang ini terlatih.
Madara memfokuskan pendengarannya sepenuhnya pada meja mereka. Mereka sedang berbisik dengan nada suara yang sangat rendah, tetapi di telinga Madara, suara mereka terdengar sangat jelas.
“Apakah informasi dari mata-mata pelabuhan itu akurat?” bisik pria berjas hitam yang duduk di tengah.
“Sangat akurat. Sebuah kapal kargo dari arah barat baru saja bersandar satu jam yang lalu. Salah satu penumpang gelapnya memiliki ciri-ciri yang sangat sesuai dengan laporan pusat,” jawab pria di sebelah kirinya.
Pria di tengah mengambil cangkir tehnya, menyesapnya perlahan sebelum kembali berbicara.
“Gadis Iblis dari Ohara. Apakah dia benar-benar berada di pulau kumuh ini?”
“Target sudah dipastikan,” jawab pria ketiga di sebelah kanan. “Nico Robin. Usia remaja. Rambut hitam sebahu. Dia selalu memakai pakaian tebal untuk menyembunyikan wajahnya.”
Madara tetap diam, tangannya bersedekap di dada.
Dia mengingat penjelasan dari kapten kapalnya tentang Pemerintah Dunia. Sebuah organisasi raksasa yang mengatur dunia. Jas hitam dan sikap disiplin ini. Mereka pasti adalah agen rahasia milik organisasi tersebut.
“Pemerintah Pusat menginginkan kepalanya, hidup atau mati,” desis pria di tengah. “Kepalanya bernilai tujuh puluh sembilan juta Berries. Jangan sampai bajak laut atau pemburu hadiah amatir menemukannya lebih dulu. Kita, Cipher Pol, yang harus menyelesaikan tugas ini.”
“Tetapi dia hanyalah seorang anak yang masih remaja,” kata pria di sebelah kiri dengan nada sedikit ragu. “Bounty sebesar itu... apakah dia benar-benar seberbahaya itu?”
Pria di tengah meletakkan cangkirnya dengan sedikit kasar, menimbulkan bunyi benturan kecil dengan meja kayu.
“Jangan pernah gunakan simpati bodohmu dalam misi ini,” tegur pria di tengah dengan nada dingin yang menakutkan. “Dia bukan anak kecil biasa. Dia adalah iblis yang selamat dari penghancuran Pulau Ohara. Dia memiliki kemampuan untuk membaca Poneglyph, batu kuno yang bisa membangkitkan senjata pemusnah massal.”
Kedua rekannya terdiam.
“Eksistensinya adalah ancaman mutlak bagi keadilan dan kedamaian dunia. Pemerintah Dunia tidak akan bisa tidur tenang selama Gadis Iblis itu masih bernapas. Kita harus menemukannya hari ini. Kunci semua jalur pelabuhan. Sisir setiap gang sempit di kota ini. Jika dia melawan, tembak kakinya agar dia tidak bisa lari. Jika dia memberontak terlalu keras, bunuh saja.”
Di sudut ruangan, Madara masih bersandar di kursinya. Wajah remajanya tidak menunjukkan perubahan ekspresi sedikit pun.
Pelayan wanita datang membawakan piring besar berisi daging panggang tebal dan segelas air putih. Dia meletakkannya di atas meja Madara dengan hati-hati lalu pergi dengan cepat.
Madara mengambil pisau dan garpu besi. Dia memotong daging itu perlahan. Bau gurih daging menyapa hidungnya, tetapi pikirannya sedang mengembara jauh meninggalkan kedai ini.
Tujuh puluh sembilan juta.
Dia tidak tahu pasti seberapa besar nilai mata uang Berries di dunia ini, tetapi dari nada bicara para agen berpakaian hitam itu, angka tersebut sangatlah fantastis. Sebuah nilai yang bisa membuat manusia saling membunuh tanpa ragu.
Dan harga itu ditempelkan di atas kepala seorang anak. Seorang gadis remaja.
Madara mengunyah potongan daging di mulutnya. Daging itu terasa hambar di lidahnya.
'Gadis Iblis yang mengancam kedamaian dunia,' batin Madara mengulang kalimat yang diucapkan agen tadi.
Pikirannya langsung ditarik mundur melewati ruang dan waktu. Ditarik kembali ke masa lalunya yang kelam di dunia yang telah lama hancur. Era Sengoku. Era perang saudara yang tidak berujung.
Dia teringat pada sungai Naka yang mengalir deras. Dia teringat pada batu-batu pipih yang dia lemparkan ke seberang sungai.
Dia teringat pada adik kecilnya, Izuna.
Di masa itu, anak-anak tidak diizinkan untuk memiliki masa kecil. Saat seorang anak dari klan Uchiha atau Senju baru bisa memegang kunai, mereka langsung dilempar ke medan perang. Anak-anak berusia delapan atau sembilan tahun saling membunuh atas nama kebanggaan klan. Atas nama kedamaian palsu yang diajarkan oleh para orang tua yang pengecut.
Madara benci pada masa itu. Dia membenci sistem yang memaksa anak-anak untuk memikul kebencian generasi sebelumnya. Dia membenci orang dewasa yang bersembunyi di balik meja sambil memerintahkan darah anak-anak ditumpahkan ke tanah.
Itulah alasan mengapa dia dan Hashirama mendirikan Konoha. Untuk melindungi anak-anak. Untuk memutus rantai kebencian.
Namun, dunia shinobi mengkhianati mimpi tersebut. Desa yang mereka bangun justru berubah menjadi sistem baru yang tidak kalah busuk. Menggunakan anak-anak sebagai alat politik. Mengurung monster berekor di dalam tubuh anak kecil. Menugaskan anak-anak untuk membantai klan mereka sendiri di tengah malam demi stabilitas desa.
Sistem pemerintahan, di mana pun mereka berada, selalu terbuat dari kebusukan yang sama.
Madara mengiris potongan daging keduanya. Pisau besinya menggores piring keramik, menciptakan suara decitan pelan yang tajam.
Dia mendengarkan kembali percakapan di meja agen Cipher Pol tersebut.
Mereka berbicara tentang keadilan. Mereka berbicara tentang kedamaian dunia. Sambil merencanakan perburuan dan penembakan terhadap seorang gadis muda yang keberadaannya dianggap sebagai dosa.
'Sebuah dunia yang menghargai nyawa anak kecil dengan tumpukan uang hanya karena rasa takut,' batin Madara.
Darah di dalam nadi Madara mendidih secara perlahan. Ini bukan kemarahan meledak-ledak. Ini adalah kebencian yang dingin, gelap, dan sangat dalam. Kebencian kuno yang selalu dia rasakan terhadap mereka yang mengaku sebagai penjaga kedamaian, namun menggunakan ketakutan untuk berkuasa.
Dunia ini mungkin dipenuhi oleh air laut dan buah aneh, tetapi sifat manusianya persis sama dengan dunia shinobi. Pengecut dan munafik.
Madara meletakkan pisau dan garpunya. Nafsu makannya hilang sepenuhnya.
Tanpa dia sadari, chakra di dalam tubuh remajanya bereaksi terhadap gejolak emosi di hatinya. Hawa dingin yang sangat pekat menguar dari tubuhnya, menyebar ke lantai kayu kedai dalam radius beberapa meter.
Air putih di dalam gelasnya mulai beriak pelan. Riaknya semakin lama semakin cepat, membentuk getaran kecil yang konstan.
Tiga agen Cipher Pol di meja seberang tiba-tiba berhenti berbicara.
Pria yang duduk di tengah menoleh ke kanan dan ke kiri. Wajahnya menunjukkan kebingungan. Bulu kuduk di lehernya berdiri tegak.
“Kalian merasakan itu?” bisiknya sambil meletakkan tangan di balik jas, tepat di atas gagang pistolnya.
“Udaranya... tiba-tiba menjadi sangat dingin,” balas rekannya, suaranya sedikit bergetar. “Ada niat membunuh di ruangan ini. Sangat pekat.”
Mereka menyapu pandangan ke seluruh ruangan kedai. Para pemabuk masih tertawa. Tidak ada yang terlihat mencurigakan. Mereka tidak melihat ke sudut paling gelap di mana seorang remaja berarmor merah sedang menatap punggung mereka dengan mata sehitam jurang maut.
Madara mengambil gelas air putihnya. Gelas itu berhenti bergetar seketika saat jarinya menyentuh kaca. Dia meminum isinya hingga tandas dalam satu tegukan.
Dia berdiri dari kursinya.
Dia tidak punya urusan dengan gadis buronan itu. Menyelamatkan seseorang bukanlah gaya seorang Uchiha Madara. Penderitaan orang lain tidak ada hubungannya dengan dirinya.
Namun, rasa muaknya terhadap agen-agen berseragam rapi ini telah merusak suasana hatinya. Jika dia berpapasan dengan mereka di luar sana, dan mereka berani menghalangi pandangannya sedetik saja, dia tidak akan ragu untuk menghancurkan mereka.
Madara melempar sebuah keping koin emas, yang dia ambil dari kapal, ke atas meja sebagai bayaran. Koin itu berputar pelan dengan suara berdering nyaring.
Dia melangkah keluar dari sudut gelap itu. Langkah kakinya kembali hening.
Saat Madara berjalan melewati meja ketiga agen Cipher Pol tersebut, dia tidak menoleh sedikit pun. Dia hanya berjalan dengan dagu terangkat dan mata menatap lurus ke pintu keluar.
Namun, tepat pada detik ketika bahu Madara sejajar dengan meja mereka, ketiga agen elit itu berhenti bernapas secara serentak.
Sebuah sensasi mengerikan menghantam pikiran mereka. Seolah-olah sebuah pedang tajam yang tak kasatmata baru saja ditempelkan tepat di urat nadi leher mereka. Mereka bahkan tidak berani berkedip hingga pemuda berarmor merah itu melangkah keluar dari pintu kedai dan menghilang ditelan keramaian jalan.
Pria berjas di tengah menghela napas panjang, baru menyadari bahwa dia menahan napas terlalu lama. Keringat dingin menetes dari balik topi fedoranya.
“Siapa... anak itu tadi?” bisiknya dengan suara serak.
Di luar kedai, matahari siang bersinar terang menyinari jalanan batu.
Madara berdiri di tengah hiruk pikuk kota. Aroma pelabuhan yang tadinya mengganggunya kini terasa sedikit lebih segar.
Dia menatap ke arah gang-gang sempit di antara bangunan batu yang membelah kota Oohara. Ada banyak celah gelap dan jalan buntu yang cocok untuk dijadikan tempat bersembunyi. Atau tempat untuk membunuh.
Madara memiringkan lehernya hingga berbunyi gemeretak pelan. Tangannya dengan santai bertumpu pada gagang pedang di pinggangnya.
'Pemerintah Dunia,' pikir Madara sambil mulai melangkah masuk ke dalam salah satu gang yang sepi. 'Mari kita lihat, seberapa hebat anjing-anjing pelacak kalian dalam berburu.'