Alya Anindita hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak dan membantu keluarganya. Bekerja sebagai asisten eksekutif di perusahaan besar adalah kesempatan yang tidak boleh ia sia-siakan.
Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa atasannya sendiri akan menjadi orang yang perlahan mengacaukan batas antara profesional dan perasaan.
Raka Mahendra adalah direktur yang dikenal dingin, tegas, dan sulit didekati. Tidak ada yang berani bermain-main dengannya, apalagi mencoba masuk ke kehidupan pribadinya.
Namun, bagaimana jika hati tidak pernah mau mengikuti aturan?
Karena terkadang...
cinta datang kepada orang yang salah, di waktu yang salah, tetapi terasa begitu nyata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gek_Nia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KALI INI, AKU YANG MEMILIH
Enam bulan setelah kasus Mahendra Group selesai, kehidupan Alya dan Raka akhirnya terasa normal.
Tidak ada rapat darurat.
Tidak ada penyelidikan.
Tidak ada ancaman.
Tidak ada nama keluarga yang muncul di dokumen rahasia.
Hanya pekerjaan, makan malam, dan pertengkaran kecil yang sekarang justru menjadi bagian dari hubungan mereka.
Namun pagi itu, Alya menerima sebuah email yang mengubah semuanya.
Subject: Penawaran Posisi Direktur Operasional — Mahendra Group Bali Expansion
Alya membaca email itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Dia dipanggil untuk memimpin pembukaan cabang baru Mahendra Group di Bali.
Bukan sebagai asisten.
Bukan sebagai manajer yang bekerja di bawah Raka.
Tetapi sebagai Direktur Operasional cabang baru.
Gaji lebih tinggi.
Wewenang lebih besar.
Dan yang paling penting—
dia akan memiliki tim sendiri.
Alya bersandar di kursinya.
“Ini serius…”
Dia tahu kesempatan itu luar biasa.
Tetapi ada satu masalah.
Jika dia menerima, dia akan bekerja di perusahaan yang sama dengan Raka.
Dan meskipun struktur mereka sudah dipisahkan, posisi Alya sekarang akan membuat hubungan mereka kembali menjadi bahan pembicaraan.
Alya menutup laptop.
Dia tidak ingin keputusan kariernya kembali dikaitkan dengan Raka.
Kali ini dia ingin memilih karena dirinya sendiri.
PUKUL 10.00
Alya masuk ke ruang Raka.
Raka sedang membaca laporan.
“Masuk.”
Alya berdiri di depan meja.
“Saya mendapat tawaran.”
Raka langsung mengangkat wajah.
“Tawaran apa?”
Alya menyerahkan surat tersebut.
Raka membacanya.
Beberapa detik kemudian dia tersenyum.
“Selamat.”
Alya mengerutkan kening.
“Bapak tidak mau membaca sampai selesai?”
“Sudah.”
“Dan?”
“Saya pikir kamu akan mengambilnya.”
Alya terdiam.
“Segampang itu?”
“Kenapa tidak?”
“Karena saya akan tetap berada di perusahaan yang sama dengan kamu.”
“Dan?”
“Orang akan bicara.”
Raka menutup dokumen.
“Biarkan.”
“Saya tidak mau lagi karier saya dianggap naik karena hubungan kita.”
Raka menatapnya serius.
“Kalau begitu jangan biarkan saya yang memutuskan.”
Alya diam.
“Ambil pekerjaan itu kalau memang kamu menginginkannya.”
“Kalau saya menolak?”
“Saya tetap mendukung.”
“Kalau saya menerima?”
“Saya juga mendukung.”
Alya menghela napas.
“Kamu selalu menjawab begitu.”
“Karena ini hidupmu.”
Raka berdiri.
“Kamu pernah marah kepada saya karena terlalu sering memutuskan sesuatu untukmu.”
Alya tersenyum.
“Benar.”
“Jadi sekarang saya belajar.”
Alya menatapnya.
“Belajar apa?”
“Bahwa mencintai seseorang bukan berarti berhak menentukan hidupnya.”
Alya tersenyum.
“Bagus.”
Raka menunjuk surat itu.
“Ambil.”
Alya mengangguk.
“Saya akan ambil.”
SEMINGGU KEMUDIAN
Keputusan resmi keluar.
Alya ditunjuk sebagai Direktur Operasional Mahendra Group Bali Expansion.
Hari pertamanya langsung dipenuhi rapat.
Ada pembangunan kantor baru.
Rekrutmen.
Anggaran.
Target pendapatan.
Strategi pemasaran.
Semua berada di tangannya.
Dan untuk pertama kalinya, Alya benar-benar merasa—
dia berhasil membangun sesuatu atas namanya sendiri.
Namun tidak semua orang menyambutnya.
Seorang direktur senior bernama Hendra menatap Alya dalam rapat.
“Saya rasa posisi ini terlalu besar untuk pengalaman Anda.”
Ruangan hening.
Alya tidak tersinggung.
Dia justru membuka dokumen.
“Boleh saya tahu dasar penilaiannya?”
Hendra terdiam.
“Karena saya ingin memastikan evaluasinya berdasarkan kemampuan, bukan asumsi.”
Hendra menjawab,
“Anda masih relatif muda.”
“Benar.”
“Dan sebelumnya Anda adalah asisten direktur.”
“Benar.”
Alya menatapnya.
“Tapi selama tiga tahun terakhir saya menangani operasional Executive Office, proyek ekspansi, audit internal, dan program pengembangan manajemen.”
Dia menyerahkan dokumen.
“Ini hasil kerja saya.”
Hendra membacanya.
Alya melanjutkan,
“Kalau setelah melihat angka tersebut Bapak masih menganggap saya tidak layak, saya siap menerima evaluasi.”
Dia berhenti.
“Tapi saya ingin dinilai berdasarkan hasil.”
Raka yang duduk sebagai salah satu anggota rapat hanya diam.
Dia tidak membantu.
Tidak membela.
Tidak memberikan komentar.
Dan Alya justru menyukai itu.
Karena untuk pertama kalinya—
dia berdiri sendiri.
TIGA BULAN KEMUDIAN
Proyek berjalan.
Namun hasilnya tidak sesuai target.
Pendapatan cabang baru hanya mencapai 70 persen dari proyeksi.
Beberapa investor mulai mempertanyakan strategi Alya.
Hendra kembali menyerang.
“Seperti yang saya duga.”
Alya menatap laporan.
“Kita masih punya waktu.”
“Investor tidak bekerja dengan harapan.”
“Saya tahu.”
“Kalau target bulan depan tidak tercapai, proyek ini bisa ditunda.”
Alya mengangguk.
“Saya akan perbaiki.”
Rapat selesai.
Alya kembali ke ruangannya.
Untuk pertama kalinya, dia merasa benar-benar lelah.
Pukul 22.00.
Kantor sudah sepi.
Alya masih bekerja.
Ponselnya berbunyi.
Raka.
Masih di kantor?
Alya membalas:
Iya.
Sudah makan?
Belum.
Tidak sampai lima menit kemudian Raka muncul.
Membawa dua kotak makanan.
Alya menatapnya.
“Kamu ngapain?”
“Makan.”
“Saya sedang kerja.”
“Saya tahu.”
“Kalau saya gagal?”
Raka diam.
Alya menatap layar laptop.
“Saya pikir saya bisa.”
“Kamu memang bisa.”
“Angkanya tidak bilang begitu.”
Raka duduk di depannya.
“Angka adalah hasil dari strategi.”
“Dan kalau strateginya salah?”
“Ubah.”
Alya menatapnya.
“Sesederhana itu?”
“Tidak.”
Raka membuka kotak makanan.
“Tapi lebih baik memperbaiki daripada menyerah.”
Alya tersenyum kecil.
“Kamu datang sebagai bos atau pacar?”
“Pacar.”
“Bagus.”
“Kalau sebagai bos, saya akan menyuruhmu pulang.”
Alya tertawa.
“Kalau sebagai pacar?”
“Juga menyuruhmu pulang.”
Alya memukul lengannya.
PERUBAHAN STRATEGI
Keesokan harinya Alya mengambil keputusan besar.
Dia menghentikan dua program pemasaran yang menghabiskan anggaran tetapi tidak menghasilkan penjualan.
Sebagai gantinya, dia mengalihkan anggaran ke kerja sama korporasi dan komunitas lokal.
Hendra tidak setuju.
“Ini terlalu berisiko.”
Alya menjawab,
“Justru mempertahankan strategi yang gagal lebih berisiko.”
Dia mengambil tanggung jawab penuh.
“Beri saya tiga bulan.”
Hendra menatapnya.
“Kalau gagal?”
“Saya siap dievaluasi.”
Keputusan disetujui.
DUA BULAN KEMUDIAN
Angka berubah.
75 persen.
Kemudian 91 persen.
Bulan berikutnya—
117 persen dari target.
Tim Alya bersorak ketika laporan keluar.
Proyek yang sebelumnya hampir dihentikan justru menjadi salah satu ekspansi terbaik perusahaan.
Hendra datang ke ruang Alya.
Dia meletakkan laporan di meja.
“Saya salah.”
Alya menatapnya.
“Pak?”
“Saya menilai Anda dari masa lalu.”
Dia mengulurkan tangan.
“Selamat.”
Alya menjabat tangannya.
“Terima kasih.”
Setelah Hendra pergi, Alya bersandar di kursinya.
Dia tersenyum.
Bukan karena akhirnya membuktikan sesuatu kepada Hendra.
Tetapi karena dia membuktikannya kepada dirinya sendiri.
Dia memang mampu.
Tanpa bantuan Raka.
Tanpa nama Mahendra.
Tanpa perlakuan khusus.
MALAM ITU
Raka menjemput Alya.
“Direktur Operasional.”
Alya tersenyum.
“Jangan mulai.”
“Saya bangga.”
Alya masuk ke mobil.
“Terima kasih.”
Raka menjalankan mobil.
“Besok malam kosong?”
“Kenapa?”
“Makan malam.”
“Di mana?”
“Tempat pertama kita makan.”
Alya tersenyum.
“Restoran waktu saya masih jadi asisten?”
“Ya.”
“Kenapa?”
“Saya ingin mengingatkanmu sesuatu.”
“Apa?”
Raka tidak menjawab.
MALAM BERIKUTNYA
Restoran itu masih sama.
Meja yang sama.
Pemandangan yang sama.
Namun kali ini Alya datang bukan sebagai asisten.
Dan Raka bukan sekadar bosnya.
Mereka duduk berhadapan.
Raka mengambil sebuah kotak kecil dari sakunya.
Alya langsung terdiam.
“Raka…”
“Tenang.”
Dia membuka kotak itu.
Bukan cincin.
Sebuah kartu akses.
Alya mengerutkan kening.
“Apa ini?”
“Rumah.”
Alya menatapnya.
“Saya membeli rumah.”
“Lalu?”
“Rumah itu atas nama kita berdua.”
Alya terdiam.
Raka tersenyum.
“Saya tidak sedang meminta kamu menikah besok.”
Alya tertawa kecil karena lega.
“Saya hanya ingin kamu tahu…”
Raka menggenggam tangannya.
“Kalau selama ini kamu takut hubungan kita hanya bergantung pada pekerjaan, sekarang tidak.”
“Tidak ada jabatan.”
“Tidak ada kantor.”
“Tidak ada kontrak.”
“Tidak ada kewajiban.”
Dia menatap mata Alya.
“Kalau suatu hari kamu memilih hidup bersama saya, saya ingin itu karena kamu memang memilih saya.”
Mata Alya berkaca-kaca.
“Dan kalau saya belum siap?”
“Saya tunggu.”
“Kalau saya berubah pikiran?”
Raka tersenyum.
“Saya tetap menghormati kamu.”
Alya menatap kartu tersebut.
Kemudian mengembalikannya.
Raka terkejut.
“Kenapa?”
“Simpan.”
“Kenapa?”
Alya tersenyum.
“Karena saya belum mau tinggal di rumah itu.”
Raka mengangguk.
“Baik.”
“Tapi…”
Alya menggenggam tangannya.
“Saya mau membangun rumah itu bersama kamu.”
Raka terdiam.
Alya melanjutkan,
“Bukan karena kamu membelinya.”
“Tapi karena kita berdua memilihnya.”
Raka tersenyum.
“Berarti?”
Alya mengangguk.
“Saya serius dengan kamu.”
Untuk pertama kalinya, Raka tidak perlu menunggu.
Tidak perlu takut.
Tidak perlu bertanya.
Alya sudah memilihnya.
TIGA BULAN KEMUDIAN
Rumah itu mulai direnovasi.
Alya memilih desain.
Raka memilih furnitur.
Mereka bertengkar tentang warna dinding.
Berdebat tentang sofa.
Bahkan sempat hampir batal membeli meja makan karena berbeda pendapat.
Namun setiap kali bertengkar—
mereka selalu tertawa setelahnya.
Suatu malam, Alya duduk di lantai rumah yang masih kosong.
Raka duduk di sampingnya.
“Capek?”
“Sedikit.”
“Menyesal?”
Alya menoleh.
“Tidak.”
“Kenapa?”
Alya tersenyum.
“Karena dulu saya hanya ingin mendapatkan pekerjaan yang layak untuk membantu keluarga.”
Dia melihat sekeliling.
“Tidak pernah terpikir saya akan sampai di sini.”
Raka menggenggam tangannya.
“Dan saya dulu hanya ingin punya asisten yang tidak banyak membantah.”
Alya langsung memukul lengannya.
“Bohong.”
Raka tertawa.
“Kamu memang dari awal sudah membuat hidup saya berantakan.”
Alya tersenyum.
“Dan sekarang?”
Raka menatapnya.
“Sekarang saya tidak ingin hidup saya kembali seperti dulu.”
Alya menyandarkan kepala di bahunya.
Untuk beberapa saat, mereka hanya diam.
Tidak ada konflik.
Tidak ada masalah besar.
Dan justru karena itu, mereka mulai memahami bahwa cerita mereka tidak harus selalu dipenuhi badai agar menarik.
Kadang perkembangan terbesar terjadi ketika dua orang akhirnya belajar menjalani kehidupan normal bersama.
Namun malam itu, ketika mereka hendak pulang, Alya menerima sebuah telepon.
Dari ibunya.
“Alya, besok pulang ya.”
“Kenapa, Bu?”
Ibunya diam sebentar.
“Ada yang ingin Ibu bicarakan.”
“Apa?”
“Besok saja.”
Telepon berakhir.
Alya menatap Raka.
“Kenapa?”
Alya menggeleng.
“Tidak tahu.”
Raka berdiri.
“Kita cari tahu besok.”
Alya mengangguk.
Mereka belum tahu bahwa pembicaraan dengan keluarga Alya besok bukan tentang masalah.
Justru sebaliknya.
Keluarga Alya akan datang membawa sebuah kabar yang akan mengubah rencana pernikahan mereka.