Mabuk semalam di Singapura, Kirana menghabiskan malam terpanasnya dengan pria asing paling memukau yang pernah ia temui—lalu kabur subuh, meninggalkan selembar uang di nakas seolah pria itu cuma "bayaran satu malam".
Ia bersumpah takkan pernah bertemu lelaki itu lagi.
Sampai pagi harinya, pria itu berdiri di depan kelas sebagai **dosen pengganti** mata kuliah keuangannya. Prof. Arya Danuwangsa. Delapan tahun lebih tua, dingin, menyeringai seolah tahu persis apa yang mereka lakukan semalam.
*"Sepertinya malam itu kamu cukup puas, ya?"*
Astaga. Kirana baru saja tidur dengan dosennya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 20
Bab 30: Afterparty
Ferdy's lounge menempati lantai tertinggi sebuah gedung di SCBD. Dari jendela, lampu Jakarta terlihat seperti lautan emas yang tidak pernah tidur.
“Malam ini tempatnya ditutup untuk kalian,” kata pemiliknya saat rombongan teater masuk. Ferdy Tanuwijaya mengenakan kemeja hitam dengan lengan tergulung dan senyum orang yang sudah menyiapkan banyak masalah. “Panggil gue Ko Ferdy. Jangan ada yang pulang sebelum toast kemenangan.”
Bima menepuk bahunya. “Jangan racuni mahasiswa.”
“Fitnah. Semua minuman ada labelnya.”
Winda mengatur satu meja panjang untuk kru. Ia memastikan makanan keluar lebih dahulu dan membuat daftar siapa pulang dengan siapa. Arya berbicara singkat dengan petugas keamanan agar lantai privat tetap bebas dari tamu luar.
Sebelum acara dimulai, Ferdy menjelaskan aturan rumah. Gelang hitam untuk kru dewasa yang memilih minuman beralkohol, gelang putih untuk minuman nol alkohol. Setiap meja memiliki air mineral dan makanan berat. Siapa pun yang minum tidak boleh membawa kendaraan sendiri.
“Mobil kalian boleh menginap,” katanya. “Orangnya jangan.”
Winda memeriksa gelang Kirana yang berwarna putih. “Kamu dengar? Jangan tukar gelas.”
“Aku bukan anak kecil.”
“Justru anak kecil biasanya lebih patuh.”
Arya memesan nasi goreng dan sup hangat untuk Kirana sebelum toast pertama. Perempuan itu protes karena masih kenyang oleh euforia pertunjukan, tetapi ia tetap menghabiskan setengah porsi di bawah tatapan pria itu.
Bima berdiri untuk memberikan sambutan. Ia berterima kasih kepada kru, menyebut satu per satu divisi yang jarang mendapat sorotan, lalu menyerahkan plakat kecil kepada Winda sebagai sutradara awal sekaligus executive director.
“Pertunjukan ini berdiri karena dia menolak menyerah bahkan saat jadwal dan pemain berantakan,” katanya.
Winda menerima plakat dengan mata berkaca. “Kalau besok ada yang terlambat evaluasi, tetap saya coret.”
Tawa memenuhi ruangan. Kirana memeluk sahabatnya, lalu melihat Bima dan Winda saling menatap sepersekian detik lebih lama dari seharusnya. Ia ingin menggoda, tetapi musik naik dan Ferdy membawa baki gelas untuk toast berikutnya.
Cindy mengambil satu gelas dari baki dan menyerahkannya kepada Kirana. Warnanya sama seperti mocktail milik Winda. Kirana tidak menyadari gelang kecil pada tangkai gelas berbeda.
Ia baru tahu minumannya mengandung alkohol setelah rasa hangat menjalar terlalu cepat ke perut. Alih-alih berhenti, suasana riuh dan dorongan orang-orang membuatnya meneguk lagi sebelum Arya menyadari kekeliruan itu.
Kirana duduk di antara Winda dan Arya. Ia berniat minum jus jeruk, tetapi Ferdy mengangkat gelas untuk pertunjukan, lalu Cindy mengajak toast kedua untuk poster viral. Toast ketiga datang dari tim lampu, disusul satu gelas manis yang rasanya seperti buah.
“Pelan,” kata Arya.
“Aku baik-baik saja.”
“Kamu bilang begitu setelah gelas pertama.”
Kirana mengangkat gelas yang tinggal setengah. “Ini jus.”
Ferdy lewat dan berbisik, “Jus yang punya gelar sarjana alkohol.”
Arya mengambil gelas dari tangan Kirana. “Cukup.”
“Mas pelit.”
“Saya yang akan mengantar kamu pulang.”
“Berarti aman.”
Logika itu membuat Bima tertawa dari seberang meja. Arya menatapnya sampai ia pura-pura sibuk memotong kue.
Musik berganti lebih riuh. Kru turun ke area dansa, tetapi Kirana tetap di sofa. Wajahnya mulai hangat, sementara seluruh tubuh terasa ringan. Ia menyandarkan kepala ke bahu Arya tanpa memikirkan siapa yang melihat.
“Mas wangi,” gumamnya.
“Kirana.”
“Apa?”
“Minum air.”
Arya menyodorkan gelas. Kirana meneguk dua kali, lalu mengembalikannya dengan bibir mengerucut. “Tidak enak.”
“Itu air putih.”
“Makanya.”
Winda menutup mulut agar tidak tertawa. “Kira kalau mabuk ternyata manja.”
“Aku tidak mabuk.” Kirana duduk tegak selama tiga detik sebelum kembali bersandar. “Aku cuma capek jadi Aluna.”
“Sekarang jadi siapa?” tanya Bima.
Kirana menunjuk dirinya sendiri. “Kirana. Pacarnya...”
Arya cepat menutup mulutnya dengan telapak tangan. “Belum.”
Mata Kirana membesar. Ia menarik tangan Arya. “Kenapa belum?”
Meja mendadak sunyi, lalu Ferdy memalingkan wajah untuk menyembunyikan senyum.
“Karena ada orang yang belum memberi jawaban saat sadar,” kata Arya.
“Orangnya bodoh.”
“Saya tidak mengatakan itu.”
“Aku yang bilang.”
Kirana meraih kerah kemeja Arya dan menariknya mendekat. Pria itu menahan kedua pergelangan tangannya dengan lembut.
“Aku mau kasih jawaban.”
“Besok.”
“Sekarang.”
“Kamu mabuk.”
“Mas terlalu banyak aturan.”
Seseorang di ujung meja mengangkat ponsel. Tatapan Arya langsung berubah dingin.
“Simpan,” katanya.
Mahasiswa itu buru-buru menurunkan ponsel. Ferdy memberi isyarat kepada petugas untuk menutup akses lift, sedangkan Winda mengumpulkan ponsel kru yang mulai terlalu bersemangat.
“Tidak ada yang merekam Kirana,” kata Arya. “Tidak ada satu detik pun keluar dari ruangan ini.”
“Siap, Prof,” sahut mereka hampir bersamaan.
Kirana tidak peduli. Ia sibuk menelusuri garis rahang Arya dengan ujung jari. “Mas marah?”
“Tidak padamu.”
“Jangan marah. Nanti cepat tua.”
Ferdy terbatuk karena menahan tawa. “Terlambat. Mukanya dari lahir sudah seperti komisaris.”
Arya mengabaikannya. Ia membungkus bahu Kirana dengan jas karena perempuan itu mulai menggigil. Kirana menarik kedua sisi jas sampai aroma Arya mengelilinginya.
“Hangat,” katanya puas.
“Kita pulang.”
“Belum. Aku mau bicara.”
“Bicara besok.”
“Besok aku malu.”
Jawaban jujur itu membuat semua orang terdiam. Kirana menatap Arya dengan mata berkabut. “Aku takut kalau sadar, aku ingat umur kita beda. Aku ingat Mas dosenku. Aku ingat semua orang bisa ngomong jahat.”
Arya mengusap rambut di pelipisnya. “Dan sekarang?”
“Sekarang aku ingat Mas pegang tanganku waktu aku lupa dialog.”
Nada suaranya berubah rapuh. “Aku ingat Mas tidak pernah membiarkan aku jatuh.”
Arya tidak menjawab. Otot rahangnya menegang, seolah setiap kata Kirana menarik satu simpul dari kendalinya.
Winda berdiri. “Semua pindah ke area bar. Kasih mereka ruang.”
“Tapi dramanya baru mulai,” protes Ferdy.
Bima menarik kerah belakangnya. “Ko, jalan.”
Mereka menyingkir, tetap cukup dekat untuk memastikan Kirana aman. Arya membungkuk dan berusaha melepaskan jari Kirana dari kemejanya.
“Rana, dengarkan saya. Kamu akan minum air, lalu kita pulang.”
Kirana terpaku pada panggilan itu. “Mas panggil aku Rana.”
“Ya.”
“Panggil lagi.”
“Rana.”
Senyumnya muncul, lembut dan tanpa pertahanan. Ia mengangkat kedua lengan, melingkarkannya ke leher Arya. Tubuh mereka merapat; wajahnya berhenti hanya beberapa sentimeter dari bibir pria itu.
Arya menahan pinggangnya agar ia tidak tergelincir. Napasnya menjadi lebih berat.
“Aku mungkin suka Mas,” bisik Kirana.
“Kita bicarakan saat kamu sadar.”
“Kalau aku lupa?”
“Saya akan mengingatkan semuanya.”
Kirana menggeleng. Hidung mereka nyaris bersentuhan. “Mas Arya...”
“Hm?”
Tatapan Kirana turun ke bibirnya, lalu kembali ke mata gelap yang sejak awal selalu membuatnya kehilangan keberanian.
“Kamu suka aku, kan?”
Tenggorokan Arya bergerak. Lengannya mengencang di pinggang Kirana, dan untuk satu detik yang panjang, seluruh kendali pria itu tampak tinggal seutas benang.