NovelToon NovelToon
Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Dokter Forensik: Aku Bisa Melihat Penyebab Kematian

Status: sedang berlangsung
Popularitas:0
Nilai: 5
Nama Author: Putra

"Arka Pratama hanyalah dokter muda magang di Instalasi Kedokteran Forensik. Gajinya kecil, pangkatnya rendah, dan semua orang meremehkannya. Tapi di hari pertamanya, sebuah sistem misterius bernama ""Kebenaran Forensik"" terbangun dalam dirinya — memberinya kemampuan melihat Label Kematian yang tak kasat mata di atas setiap jenazah.
Kasus yang sudah divonis bunuh diri? Arka melihat label merah: PEMBUNUHAN.
Mulai detik itu, tidak ada kebenaran yang bisa disembunyikan darinya."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 031: Jejak Uang dan Orang Hilang

Dua puluh lima menit Ratna Sari tidak bisa dibiarkan kosong.

Pagi itu, Adira membagi tim di ruang rapat hotel.

"Bambang, cek jalur dari ruang make-up ke panggung dan pintu belakang. Minta CCTV sekitar set, termasuk parkiran. Dokter Arka, ikut saya periksa orang yang berada dekat jalur itu."

"Raka Mahendra?" tanya Arka.

Adira menatap papan. "Dia belum ditemukan. Nomornya mati. Alamat kos dari vendor tenaga harian kosong. Kita mulai dari orang yang masih bisa bicara."

Orang pertama yang dipanggil adalah Bagus Prakoso, koordinator aksi.

Tubuhnya kekar. Kulitnya gelap terbakar matahari. Ia datang dengan wajah lelah dan mata merah karena kurang tidur.

"Saya tidak menyentuh pengait itu hari kejadian," katanya. "Saya hanya cek gerakan pemain dan posisi jatuh. Wiraga dipegang Rafi dan tim teknis."

Adira tidak langsung menekan. "Anda lihat Ratna Sari siang itu?"

Bagus ragu.

Arka melihat label di wajahnya.

[Menahan informasi]

[Bukan pelaku langsung]

[Takut terseret]

"Pak Bagus," kata Arka, "kami tidak mencari orang untuk dipaksa salah. Kami mencari urutan. Kalau Anda melihat sesuatu, urutan itu bisa menyelamatkan orang yang tidak bersalah."

Bagus mengusap wajah.

"Saya tidak mau nama saya masuk infotainment."

"Kalau Anda bohong, nama Anda masuk BAP," kata Adira.

Bagus langsung diam.

Bambang menyandarkan punggung ke dinding. "Pilih yang lebih repot."

Akhirnya Bagus bicara.

"Tiga hari sebelum kejadian, malam. Saya keluar lewat tangga darurat belakang aula. Mau cari kopi di warung depan. Saya lihat Ratna ngobrol dengan laki-laki pakai seragam properti."

"Laki-laki siapa?"

"Saya cuma lihat samping. Muda. Kurus. Pakai topi. Saya pikir kru harian."

Adira membuka foto daftar kru di tablet. "Lihat satu-satu."

Bagus menggeser layar beberapa kali. Jarinya berhenti di foto Raka Mahendra.

"Ini. Kayaknya ini."

"Apa yang mereka lakukan?"

"Ngobrol pelan. Ratna kelihatan marah. Laki-laki itu bilang, 'uangnya belum cukup'. Saya dengar itu saja. Setelah mereka lihat saya, Ratna langsung masuk."

Sistem di wajah Bagus berubah abu kehijauan.

[Keterangan Konsisten]

[Tidak Berbohong Pada Poin Utama]

Arka menulis cepat.

Tiga hari sebelum kejadian.

Ratna bertemu Raka.

Kata kunci: uang belum cukup.

Adira menatap Bagus. "Kenapa baru bilang sekarang?"

"Saya takut dianggap ikut. Dan... saya kira itu urusan pribadi. Di lokasi syuting, orang sering ribut soal uang."

"Sekarang urusannya pidana."

"Saya tahu, Bu."

Setelah Bagus keluar, Adira langsung menghubungi Kevin di Surabaya.

"Mas Kevin, kami butuh data Raka Mahendra. Nomor KTP, vendor, rekening yang dipakai honor, riwayat komunikasi legal yang bisa diminta lewat prosedur."

Dari speaker, suara Kevin terdengar cepat. "Saya sudah mulai. Dia pekerja harian lewat PT Karya Sewa Mandiri. Umur dua puluh empat. Masuk grup enam hari sebelum kejadian, keluar dari daftar absensi dua jam setelah kejadian. Setelah itu tidak ada check-in."

"Rekening?"

"Ada satu rekening bank digital untuk pembayaran harian. Tapi saya butuh surat permintaan resmi untuk mutasi lengkap."

Adira berkata, "Saya kirim sekarang."

Tidak ada jalan pintas.

Mereka membuat surat permintaan. Candra meneruskan ke Polres. Polda memberi nomor koordinasi. Bank menjawab sore harinya karena kasus sudah naik perhatian provinsi.

Hasilnya muncul di layar laptop hotel pukul enam lewat empat puluh.

Raka Mahendra menerima Rp 75.000.000 enam hari sebelum kejadian.

Bambang bersiul pelan. "Untuk pekerja harian, itu mustahil uang lembur."

Kevin di panggilan video menunjuk data. "Pengirimnya rekening perantara atas nama CV Lintas Media Kreatif. Baru aktif tiga bulan. Setelah ditelusuri, kontrak jasanya terkait dengan perusahaan manajemen milik grup Mawar Anggraini. Tidak langsung atas nama Mawar, tapi alamat kantor dan penanggung jawab pajaknya bertemu."

Adira menatap layar. "Shadow account."

"Iya. Tidak bersih, tapi cukup untuk arah penyidikan."

Arka melihat papan.

Ratna punya waktu kosong.

Raka punya akses properti.

Mawar punya uang dan kendali manajemen.

Jika tiga garis itu ditarik, bentuknya mulai terlihat.

"Raka sekarang di mana?" tanya Arka.

Kevin menggeleng. "Nomor mati. Kos kosong. Vendor bilang dia minta berhenti lewat chat singkat: keluarga sakit, pulang kampung. Tapi titik terakhir ponsel sebelum mati ada dekat pintu keluar tol arah selatan."

Adira berkata, "Minta tangkapan CCTV tol."

"Sedang."

Pukul tujuh malam, Mawar datang ke hotel.

Kali ini ia tidak sendirian.

Di sampingnya ada pria berjas gelap yang memperkenalkan diri sebagai kuasa hukum manajemen.

"Kami keberatan dengan cara tim ini memeriksa pekerja produksi," kata pengacara itu. "Ada indikasi tekanan terhadap saksi dan penggiringan opini bahwa klien kami terlibat."

Adira berdiri di depan papan yang sebagian sudah ditutup kertas kosong.

"Semua pemeriksaan tercatat. Jika Anda punya keberatan, ajukan tertulis."

Mawar menatap Arka. "Dokter muda ini terlalu sering menyimpulkan sesuatu dari tatapan orang. Sekarang dia dokter tetap, lalu merasa bisa mengarahkan polisi?"

Bambang maju setengah langkah.

Adira mengangkat tangan, menahannya.

Arka menjawab tenang, "Saya tidak mengarahkan polisi. Saya membaca luka, benda, dan urutan. Kalau urutannya menuju Anda, jalurnya memang menuju Anda."

Mawar tertawa kecil. "Hati-hati, Dokter. Nama Anda sedang naik. Nama yang naik mudah dijatuhkan."

Pengacara menambahkan, "Besok kami akan mengirim laporan ke divisi profesi dan rumah sakit. Kami juga meminta penghentian penyebutan nama manajemen dalam pemeriksaan tidak resmi."

"Silakan," kata Adira. "Sementara itu, kami meminta Saudari Mawar tidak menghubungi Lilis Handayani, Ratna Sari, atau saksi produksi lain tanpa pemberitahuan penyidik."

"Anda tidak berwenang mengatur bisnis kami."

"Saya berwenang menjaga saksi."

Mawar mendekat satu langkah. "Publik tidak akan suka melihat polisi menekan orang yang sedang berduka."

"Publik juga tidak akan suka jika artis dua puluh dua tahun dibunuh lalu disebut kecelakaan."

Kalimat Adira membuat ruangan sunyi.

Mawar tidak bisa membalas tanpa terlihat membela sesuatu yang salah.

Ia pergi dengan wajah dingin.

Satu jam kemudian, serangan dimulai.

Dimas mengirim tangkapan layar ke grup.

Enam akun gosip besar mengunggah narasi hampir bersamaan.

Dokter Forensik Baru Cari Panggung di Kasus Rusa Kecil?

Polisi Surabaya Diduga Tekan Saksi Produksi.

Keluarga Korban Dimanfaatkan Untuk Popularitas?

Nama Arka muncul di tiga unggahan.

Foto lamanya saat apel penghargaan dipotong dan diberi lingkaran merah.

Bambang mengumpat pelan. "Cepat sekali."

Adira membaca tanpa ekspresi. "Ini terkoordinasi."

Kevin menelepon lagi. "Bu, pola unggahan sama. Caption berbeda sedikit, jam upload dekat, beberapa pakai jasa boosting. Saya bisa buat laporan analisis digital awal."

"Buat. Kirim ke humas Polrestabes dan Polda."

"Siap."

Ponsel Adira berdering. Nama Waskito Harjono muncul.

Ia mengangkat dengan speaker.

"Larasati," suara Waskito terdengar berat. "Saya lihat serangan media."

"Siap, Pak. Kami sedang susun klarifikasi prosedural."

"Tidak perlu defensif berlebihan. Sampaikan bahwa penyidikan berjalan berdasarkan bukti fisik, hasil lab, dan pemeriksaan saksi. Jangan sebut materi perkara."

"Siap."

"Dan dengarkan ini baik-baik. Tim tetap bekerja. Tidak ada yang mundur hanya karena akun gosip dibayar."

Bambang tersenyum lebar.

Waskito melanjutkan, "Dokter Arka ada?"

Arka mendekat. "Siap, Pak."

"Dokter, kalau Anda benar, teruskan. Kalau Anda ragu, cek ulang. Tapi jangan berhenti hanya karena orang berteriak."

"Siap, Pak."

Telepon ditutup.

Di ruang rapat kecil itu, udara berubah.

Mawar punya uang.

Tetapi tim punya garis komando.

Arka melihat layar sistem.

[Progres Misi: 31%]

[Jejak Dana Terdeteksi]

[Subjek Raka Mahendra: Hilang]

[Resistensi Eksternal: Meningkat]

[Catatan: Tekanan Publik Menandakan Jalur Benar, Namun Risiko Salah Langkah Meningkat]

Pukul sebelas malam, Kevin mengirim file terakhir.

CCTV gerbang tol menangkap sebuah mobil hitam dengan plat nomor yang setelah dicek tidak sesuai kendaraan.

Di kursi belakang, kamera menangkap wajah seorang pria muda bertopi.

Raka Mahendra.

Mobil itu bergerak ke selatan.

Setelah itu, tidak ada jejak ponsel.

Bambang menatap layar. "Dia kabur atau dibawa?"

Arka memperbesar gambar.

Wajah Raka tidak terlihat lega.

Ia terlihat seperti orang yang duduk di dalam mobil karena tidak punya pilihan.

"Kita harus temukan dia hidup," kata Arka.

Adira menatap plat nomor palsu di layar.

"Karena kalau Mawar mulai menyerang lewat media, mungkin orang yang memegang kikir sudah tidak aman."

Di papan, nama Raka Mahendra diberi lingkaran merah.

Pelaksana mulai muncul.

Tetapi pelaksana yang terlalu jelas sering menjadi korban berikutnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!