Nindi seorang gadis belia yang masih duduk kelas akhir bangku menengah atas. terpaksa harus menikah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Husnel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan kembali
Tinggal lah Ardian dan mami Rasti menunggui Nindi, Ardian kamu cari makanan di kantin, mami lapar nih". perintah maminya.
" iya mi, Kamu gimana sayang. pesan apa". tanya Ardian pada Nindi.
"" Aku mau yang manis aja kak". ucap Nindi.
Ardian pamit sama istri dan maminya.
Sepanjang jalan sampai di kantin Ardian masih bingung dengan pesanan istrinya.
" Hai, Ardian. kamu ada keperluan apa di sini". Tanya seseorang yang menyapa nya.
" Oh, ini aku mau pesan makanan untuk istriku, dia pesan yang manis manis, aku bingung nih".
jawab Ardian tampa menoleh ke arah orang yang bertanya.. dia kira itu orang kantin yang bertanya.. Sely, memukul lengannya, baru Ardian menoleh, dan terpana melihat kehadiran Sely. " Eh, oh... ini.. aku mau pesan makanan untuk istri ku". Jawab Ardian pelan dan terbata.
"Oh.. kamu apa kabarnya, lama tak jumpa.. kamu makin ganteng aja kelihatan nya" , puji Sely dan menghiraukan jawaban Ardian tadi.
Ardian hanya diam, dia di sadarkan oleh buk kantin. " Jadi pesan apa pak". tanya buk kantin.
Ardian kaget, " ini buk nasi goreng 2, oh ya ada makanan yang manis manis ndak buk". Tanya Ardian pada buk kantin.
" salad aja buatkan buk". ucap Sely.
" Boleh juga, pesan 2 ya buk". kata Ardian..
mereka pun mencari tempat duduk sampai pesanan siap,. " kamu gimana kabarnya Ar, kenapa kamu sampai di sini". tanya Sely.
" Aku tinggal di sini, kami punya usaha cabang di sini, dan istri ku tadinya terpeleset di kamar mandi, jadi aku takut dengan kandungannya ". jawab Ardian. Sely diam sejenak, awalnya dia bahagia melihat Ardian, tapi sudah terlambat. Ardian sudah punya istri.
" Selamat ya, aku sangka itu hanya gurauan papaku". ucap Sely.
" Ya, tadi kami sudah bertemu dengan om Syamsul". jawab Ardian formal.
Percakapan yang santai itu, membuat Sely kecewa, namun apa daya, dia yang salah,. dia yang meninggal kan Ardian demi cita- citanya.
Dia yang ambisi dengan karirnya sebagai dokter anak. sekarang apa boleh buat, ternyata cita citanya butuh pengorbanan, dia harus mengubur cintanya pada Ardian.
Tidak mungkin dia memiliki Ardian yang sebentar lagi punya anak.. dengan nafas berat Sely pun mohon pamit pada Ardian, dengan alasan ada pasien, padahal dia ingin menangis.
dia langsung lari ke ruangannya agar tidak terlihat orang, terutama Ardian.
Pesanan Ardian pun siap, dia membawanya ke ruang tempat dimana istri nya di rawat.
" Sayang, ini salad yang ada, di kantin. kamu mau nggak". tanya Ardian pada istrinya.
" Mau kak, seperti nya enak". ucap Nindi semangat..
" Mi, ini pesanan mami nasi goreng ". kata Ardian memberi kan pada maminya.
" Eh kenapa kamu sampai kepikiran salad buat istri mu, padahal tadi kan Nindi minta yang manis saja". tanya mami heran.
" Buk kantin yang bilang". bohong Ardian, takut nanti istrinya marah.
" Sayang, kakak suapin ya". kata Ardian menghindari pertanyaan maminya.
" Mau... " Ucap Nindi manja.
Semenjak tau dia hamil, Nindi berubah manja, padahal sebelumnya dia anak yang mandiri. pikir buk Rasti. Biarlah. itu lebih bagus, pikirnya lagi. dan melanjutkan makan nasi gorengnya.
Ardian menyuapi istrinya dengan telaten, maminya melihat tersenyum senang melihat kemesraan anak dan menantu nya.
" Sayang... apa perutnya tidak apa apa". tanya Ardian sambil menyuapi istrinya.
" Sekarang sudah tidak apa-apa". jawab Nindi santai.
" Tadi dokter ke sini dan memeriksa kondisi Nindi sudah makin membaik, besok pagi di periksa lagi, jika sudah aman, sorenya sudah boleh pulang, jadi istirahat di rumah saja lagi". ungkap mami Rasti panjang lebar.
" Benaran nggak apa-apa mi". tanya Ardian curiga. namun dia sembunyikan dulu.
" Beneran sayang, Tadi aku dengar sendiri, enak di rumah lagi". jawab Nindi menyela..
" Baiklah". ucap Ardian yang pasrah.
" Nomor HP dokter Dina sudah mami simpan di HP Nindi, kamu bisa mengambilnya, nanti kalau ada apa-apa bisa kamu telpon, dan nomor kamu pun sudah mami berikan". ucap maminya
Ardian diam saja, seperti nya maminya menyimpan sesuatu. Setelah siap menyuapi istrinya, Ardian pun makan nasi pesanannya.