Di pesisir timur Kerajaan Pasir Langit, tepatnya di Kademangan Kerangilo, Kadipaten Pasirawan, ada gugusan batu karang purba yang disebut sebagai Karang Bolong Buana.
Gugusan karang itu memiliki lubang sempurna berdiameter satu depa seperti cincin raksasa. Saat purnama, lubang itu memancarkan cahaya biru redup.
Orang yang pertama yang menemukan keanehan Karang Bolong Buana adalah Purwasaga, putra Demang Bungi Pitam.
Saat berlatih di kala badai pada malam purnama total, Purwasaga tanpa sengaja terseret ombak dan masuk ke lubang bercahaya biru. Ketika si pemuda tersadar, ia sudah masuk ke Negeri Elindra, negerinya Bangsa Penjaga Biru yang bukan manusia.
Berdasarkan keterangan orang Elindra, Karang Bolong Buana terbuka setiap purnama sempurna. Jadi, Purwasaga harus menunggu sebulan lamanya untuk kembali ke alam manusia. (RH)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rudi Hendrik, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KBB 29 Kuis Benar Salah
“Hahahak…!”
Purwasaga untuk sementara tidak mempedulikan suara tawa yang ramai-ramai menertawakannya. Ia mencoba memerhatikan kondisi di sekitarnya di saat dia dalam posisi tergantung terbalik.
Saat ini Purwasaga dalam posisi digantung dengan kepala hanya satu hasta dari air laut. Sepasang kakinya yang berada di atas dililit tali secara penuh hingga paha. Tali itu menggantungnya di sebatang kayu besar yang ujungnya menjorok ke laut dan pangkalnya ada di atas sebuah kapal besar berwarna hijau-hijau.
Ada bendera besar yang berkibar di puncak salah satu tiang kapal yang layarnya sedang tidak berkembang. Bendera putih itu memiliki lukisan kodok warna hijau bermahkota emas dan menggigit golok besar. Gambarnya rapi seperti hasil sablonan.
Kapal itu sangat besar. Orang-orang yang tertawa itu tidak berseragam yang menunjukkan mereka bukan pasukan karajaan atau angkatan laut kerajaan. Terlihat mereka menyandang senjata yang berbeda-beda dengan gaya berpakaian sembarangan dan seperti orang dunia persilatan.
Sepanjang matanya melihat ke sekitar, Purwasaga tidak melihat adanya daratan atau pulau.
Bruss!
Terkejut Purwasaga ketika ada ombak yang lewat di bawah kepalanya dan menyambar sebagian wajahnya, bahkan hidungnya sampai kemasukan air. Purwasaga sempat gelagapan.
Setelah menyimak secara cepat kondisinya dan di mana dia berada, Purwasaga lalu mengerahkan tenaga dalamnya di kedua tangannya yang tidak terikat.
“Apa?!” kejut Purwasaga di dalam hati. Tidak ada tenaga dalam yang keluar. Ia ingin memutus ikatan di kakinya dengan kesaktiannya, tapi ternyata….
“Hahahak…!” tawa para lelaki yang berkumpul di pinggiran kapal. Mereka tahu bahwa Purwasaga berniat mengeluarkan kesaktiannya yang menunjukkan bahwa dia seorang pendekar.
“Lihat di pusarmu, Kisanak!” teriak salah satu dari lelaki di kapal.
Purwasaga saat itu memang dalam kondisi tidak berbaju, tapi masih bercelana. Ia memerhatikan pusarnya.
“Hah!” pekik Purwasaga terkejut lagi. Dia melihat ada binatang yang menempel di pusarnya. Binatang itu seperti ular, tapi terlihat licin. Tepatnya seperti sepotong belut setebal kelingking.
Binatang itu telah masuk separuh badan di pusar Purwasaga dan tinggal buntutnya yang berada di luar.
“Kau tidak akan bisa mengeluarkan kesaktianmu karena belut cinta mengunci pusarmu!” teriak lelaki tadi yang disambut oleh tawa rekan-rekannya.
“Hahahak…!”
“Lepaskan aku! Lepaskan aku!” teriak Purwasaga sambil meronta-ronta seperti kepompong mabuk laut.
Namun, upaya itu tidak membantunya. Teriakannya justru dihentikan oleh ombak yang menyambar kepalanya.
“Siapa kaliap!”
Brusss!
“Uhhuk uhhuk uhhuk!”
“Ahahahak…!”
Air laut yang masuk ke tenggorokan sangat menyiksa dan membuat pemuda putra demang itu terbatuk-batuk. Lagi-lagi para lelaki di atas kapal tertawa menertawakan.
“Eeeh! Kenapa ditertawakan seperti itu?” kata satu suara yang terdengar mengungguli suara tawa tersebut.
Seketika para lelaki berhenti tertawa. Mereka pun bergerak menggeser posisi berdirinya.
Purwasaga dapat melihat seorang lelaki muncul di pinggir kapal. Sosok itu berbadan besar lagi kekar berotot, memakai baju kemeja hitam tanpa kancing, sehingga bajunya itu berkibar-kibar oleh angin. Dia berkumis tebal tapi kepalanya botak tanpa penutup. Orang itu berusia separuh abad.
Sekedar bocoran, lelaki besar yang bisa membuat lelaki lainnya menyingkir itu bernama Denyut Arep. Dia punya julukan, yaitu Penjilat Laut. Entah, bagian mananya laut yang suka dia jilat?
Di sisi kanannya kemudian muncul lelaki lain bertubuh kurus tapi berotot keras. Dia masih muda dan kulitnya masih hitam. Dia membawa sebuah keranjang anyaman bambu di kedua tangannya. Lelaki yang menyandang pedang di pinggang kirinya itu bernama Lepet Sawer. Dia tidak memiliki julukan.
“Siapa namamu, Kisanak?” tanya Denyut Arep.
Saat itu sudah tidak ada yang tertawa, seolah-olah tawa takut kepada Penjilat Laut.
“Purwasaga!” sahut Purwasaga. “Lepaskan aku!”
“Kau akan diangkat menjauhi air jika jawabanmu benar, Pur,” ujar Denyut Arep.
“Iya!” sahut Purwasaga lagi.
“Pertanyaan pertama….”
“Pertanyaan yang kedua, Kisanak!” ralat Purwasaga dengan wajah yang tidak henti-hentinya mengerenyit karena menahan sakit di wajah yang berdarah dan kedua telinganya yang masih ditempeli matahari malam alias bulu babi.
“Iya, iya, iya. Kau benar, Pur. Tapi aku yang berkuasa atas nasibmu,” kata Denyut Arep sambil manggut-manggut. “Pertanyaan pertama….”
Kali ini Purwasaga tidak meralat lagi. Dia memilih mendengar pertanyaan kuis untuknya.
“Kau berasal dari mana, Pur?” tanya Denyut Arep.
“Aku dari Kademangan Kerangilo di Kerajaan Pasir Langit,” jawab Purwasaga.
“Kau benar,” kata Denyut Arep. Lalu perintahnya, “Angkat!”
Bruss!
“Uhhuk uhhuk uhhuk! Hoekkr!”
Namun, sebelum tubuh Purwasaga dinaikkan, satu ombak masih sempat mencapai wajahnya. Purwasaga kembali terbatuk-batuk menderita dan mual ingin muntah, tetapi tidak ada yang keluar dari mulutnya.
Operator gantungan itu lalu menggerakkan kayu gantungan sehingga mengangkat Purwasaga lebih menjauhi air laut. Purwasaga tetap masih digantung.
“Pertanyaan kedua. Kau dari mana sehingga hanyut jauh dari Kerangilo?”
“Dari melaut mencari ikan,” jawab Purwasaga.
“Salah!” kata Denyut Arep.
Dia lalu memasukkan tangannya ke dalam keranjang bambu yang digendong oleh Lepet Sawer.
Set! Tep!
“Aaakk!” jerit Purwasaga saat dadanya yang terbuka bebas tahu-tahu ditancapi oleh matahari malam.
Rupanya sesuatu yang diambil oleh Denyut Arep di keranjang adalah matahari malam. Binatang laut itu langsung dilemparkan ke dada Purwasaga. Matahari malam menancap dan bertahan di kulit tersebut.
“Hahahak!” Kali ini para lelaki kembali tertawa melihat Purwasaga dilempar matahari malam hingga menjerit kencang.
“Jawabanmu salah, jadi benarkan!” perintah Denyut Arep.
“Aku hanyut karena perahuku terbalik dihempas ombak!” jawab Purwasaga lebih berteriak.
“Salah!” seru Denyut Arep.
“Aaakk…!” jerit Purwasaga lebih panjang saat perutnya dihantam matahari malam.
“Hahahak…!” Mereka kembali tertawa terbahak-bahak. Hanya Denyut Arep dan Purwasaga yang tidak tertawa.
“Benarkan jawabanmu, Pur!” perintah Denyut Arep.
“Aku hanyut jauh karena baru pulang dari Negeri Elindra!” jawab Purwasaga lagi.
“Salah!” seru Denyut Arep lagi.
“Benar, aku tidak…. Aaakkk!” teriak Purwasaga cepat, tapi lagi-lagi matahari malam telah menancap di bahu kirinya.
Darah sudah mengalir di kulit Purwasaga dan menetes ke air laut.
“Benarkan jawabanmu, Pur!” perintah Denyut Arep lagi.
“Aku baru pulang dari Negeri Elindra lewat Gerbang Buana, sehingga aku tidak sadarkan diri!” jawab Purwasaga lebih lengkap sedikit.
“Salah!” seru Denyut Arep lagi tidak percaya.
“Tidak! Aku tidak salah. Aku benar. Aku bicara jujur. Aaakkk!”
Lagi-lagi Purwasaga memekik kencang saat matahari malam keempat menancap di perutnya lagi.
“Benarkan jawabanmu, Pur!” perintah Denyut Arep lagi.
“Tadi malam aku menyelam masuk ke Gerbang Buana untuk pulang ke alam manusia. Aku tidak sadarkan diri dan tahu-tahu sudah kalian tangkap!” jawab Purwasaga lebih panjang.
“Salah!”
“Aaakk…!” jerit Purwasaga saat dia melindungi wajahnya dari lemparan matahari malam, sehingga binatang hitam itu menancap di tangan kanannya.
“Benarkan jawabanmu, Pur!” perintah Denyut Arep lagi.
“Buat apa aku menjawab jika kejujuranku tidak kalian percayai!” teriak Purwasaga dengan wajah yang mengerenyit plus ingin menangis.
“Benar!” seru Denyut Arep, akhirnya percaya.
Operator kayu gantungan lalu menaikkan posisi Purwasaga lebih jauh dari air laut, sehingga kini posisinya sejajar dengan Denyut Arep dan yang lainnya.
“Pertanyaan ketiga. Apa itu Gerbang Buana?” tanya Denyut Arep.
“Jalan penghubung antara dunia manusia dan dunia Bangsa Penjaga Biru,” jawab Purwasaga tetap melanjutkan permainan kuisnya.
“Benar!” seru Denyut Arep yang menandakan dia percaya. Lalu perintahnya, “Lepaskan satu matahari malam dari badanmu!”
Purwasaga lalu mencabut satu matahari malam dari tangannya. Dia melakukannya dengan hati-hati agar tidak tertusuk lagi. Matahari malam yang dicabutnya ia buang ke air laut.
“Pertanyaan keempat. Di mana Gerbang Buana itu?”
“Di Pulau Merah.”
“Salah!”
“Aku bicara benar! Akkk!” (RH)
bersatu kita teguh bercerai kita kawin lagi