Langit Janet Mathida seakan runtuh ketika dijadikan alat pembayaran Papanya yang terlilit hutang judi dan pinjol. Dia terpaksa tinggal bersama Devan Gevaro yang tidak menginginkannya.
》Setelah sari masa muda dinikmati dan hamil, dia diminta pergi dari kehidupan Devan. Seketika Janet seperti tebu, habis manis sepah dibuang.
》Apakah Janet terima dan berjuang untuk membalas perlakuan Devan?
》Ikuti kisahnya di Novel ini: "Serupa Beda Rasa"
Karya ini didedikasikan untuk yang selalu mendukungku berkarya. Tetaplah sehat dan bahagia di mana pun berada. ❤️ U 🤗
Selamat Membaca
❤️🙏🏻💚
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sopaatta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 14. SBR
...~•Happy Reading•~...
Reaksi spontan Bu Letti memberikan gambaran jelas bagi Gevaro, ada kemufakatan untuk menyingkirkan Janet.
"Tidak, Pak." Bu Letti tergagap menjawab pertanyaan yang tidak diduga. Karena dia tidak siap, dan dia tidak mengira akan berhadapan langsung dengan CEO untuk masalah office girl.
Mendengar jawaban Bu Letti, Gevaro mengambil alih investigasi. Jensen diberikan isyarat untuk merekam pembicaraan mereka. Agar bisa menjadi bukti dalam mengambil keputusan.
Gevaro kembali duduk di kursi kebesarannya untuk memimpin investigasi. "Dari mana anda tahu Janet tidak mencantumkan statusnya yang sudah menikah?"
Bu Letti mencoba tenang. "Dari sekretaris Pak Gevaro." Dia tidak berani berbohong. "Karna bapak tidak masuk kantor beberapa waktu lalu, beliau lakukan penyelidikan terhadap Janet yang gerak geriknya mencurigakan." Bu Letti coba menolong tindakan Valeri.
"Siapa yang tanda tangan surat pemecatan?" Gevaro tidak langsung merespon keterangan Bu Letti tentang Valeri. Dia ingin tahu jaringan dan kaki tangan orang-orang pembuat masalah di bawah pimpinannya.
Dia mulai tahu, ada orang yang mulai bergerilya untuk mengganggu pekerjaannya. Oleh sebab itu, kasus Janet dipecat adalah momen yang tepat untuk lakukan bersih-bersih.
"Pak Mobei di personalia, Pak." Bu Letti mulai panik, sebab jawabannya tentang Valeri tidak ditanggapi Gevaro. Padahal dia berharap Valeri dipanggil untuk mendukung keterangannya.
Dengan dipanggilnya bagian personalia, proses pemecatan Janet akan melebar ke bagian lain. Hatinya mulai menciut dan was-was melihat ketenangan dingin pimpinannya.
"Pak Jensen, panggil Pak Mobei ke sini." Perintah Gevaro, seakan tidak melihat perubahan wajah dan gestur tubuh Bu Letti.
"Siap, Pak." Jensen segera mengotak-atik laptop untuk mencari nama karyawan personalia yang bernama Mobei.
Valeri yang sedang menunggu Bu Letti keluar dari ruang kerja pimpinannya, makin terkejut melihat Mobei dari personalia datang mengetok pintu dan dibuka oleh Jensen. Dia seakan duduk di atas duri, melihat lirikan tajam Jensen padanya, walau hanya sekilas.
"Silahkan duduk Pak Mobei." Jensen mempersilahkan duduk sambil menggerakan tangan setelah Mobei menyapa Gevaro.
Mobei jadi panik melihat Bu Letti gelisah dan tidak menyapanya. 'Apa ini menyangkut proses pemecatan office girl dua hari lalu?' Mobei jadi bertanya dalam hati, sebab hanya itu kebijakan yang baru dilakukan.
"Pak Mobei, anda yang tanda tangan surat pemecatan karyawan yang bernama Janet Mathilda?" Gevaro langsung pada inti persoalan.
"Iya, Pak. Saya yang tanda tangan." Mobei menjawab sambil berpikir ke arah mana maksud pertanyaan pimpinannya.
"Anda lakukan atas permintaan siapa?" Pertanyaan singkat Gevaro mengirimkan sinyal ancaman. Sehingga dia tidak langsung menjawab, tapi melihat Bu Letti yang mengangguk pelan sebagai isyarat untuk menjawab yang sebenarnya. Namun gerak gerik mereka diperhatikan Gevaro.
"Permintaan Bu Letti dan Bu Valeri, Pak." Jawab Mobei pelan dan mulai cemas.
"Anda lakukan sesuai SOP?" Gevaro bertanya singkat untuk memutuskan tali berkelit Mobei.
"Iya, Pak. Bukti-bukti yang ditemukan Bu Valeri dan Bu Letti, sesuai dengan tuduhan. Saudari Janet bertemu dengan pihak perusahaan kompetitor. Dia sengaja disusupkan untuk mengetahui rencana kerja perusahaan." Mobei mengatakan yang belum dikatakan Bu Letti kepada Gevaro.
"Buktinya berupa apa?" Tanya Gevaro singkat.
"Berupa foto dan video, Pak." Jawab Mobei.
"Berikan buktinya kepada Pak Jensen." Gevaro menggerakan kepala ke arah Jensen.
"Ada di meja kerja saya, Pak." Mobei coba menunda berikan bukti, tapi Gevaro sudah tahu.
"Apa status yang tercantum di CV Janet Mathilda?" Gevaro bertanya tentang tuduhan utama. Janet berbohong dengan menyembunyikan statusnya.
"Status, Pak?" Mobei panik. "Saya tidak periksa CVnya, Pak." Jawaban Mobei hampir membuat Bu Letti menepok dahi.
"Lalu berdasarkan apa, dia dituduh menyembunyikan statusnya sudah menikah?" Mobei dan Bu Letti kelabakan dan saling pandang.
Gevaro tidak membuang waktu untuk membiarkan mereka saling memberi kode atau mencari alasan. Dan Gevaro tidak menunggu jawaban Mobei. "Pak Jensen, minta Kabag personalia ke sini. Sekalian membawa CV Janet."
Debaran jantung Bu Letti dan Mobei berdetak kuat dan tidak teratur sama seperti Valeri yang sedang menunggu di luar. Bahkan jantung Valeri seakan berhenti melihat Kabag personalia berjalan cepat menuju ruang kerja CEO.
Karena dia sedang menunggu Bu Letti dan Mobei keluar ruangan untuk mengetahui yang terjadi, justru ada pejabat lain yang dipanggil. Rasa takut seperti menonjok usus 12 jari Valeri, hingga dia lari terbirit-birit ke toilet.
"Selamat pagi, Pak." Sapa Kabag personalia kepada Jensen yang membuka pintu.
"Pagi. Silahkan duduk Pak Satrio." Jensen mempersilahkan duduk. Mobei hanya menunduk, tidak berani melihat atasannya. Jantung Mobei tidak bisa ditenangkan, saat pimpinannya masuk ke ruang kerja.
"Pak Satrio, anda tahu proses pemecatan karyawan bernama Janet Mathilda?" Gevaro langsung bertanya pada tujuan.
"Tidak, Pak. Seminggu ini saya tidak berada di kantor. Saya mengambil cuti besar." Satrio serius menjelaskan, kemudian menatap Mobei yang menunduk diam.
"Pak, saya minta ijin sebentar." Jensen memberikan isyarat kepada Gevaro untuk menjemput Janet di lobby setelah melihat pesan yang dikirim Janet.
"Siapa yang bertanggung jawab di personalia, kalau anda tidak ada di tempat?" Gevaro bertanya sambil menunggu Jensen dan Janet.
"Pak Mobei, Pak." Satrio menunjuk ke arah Mobei yang masih menunduk.
Di luar ruang kerja, Valeri bagaikan disambar petir melihat Janet berjalan dengan Jensen menuju ruang kerja pimpinannya. Darahnya seakan habis dari tubuh yang gemetar ketakutan. Dia kembali ke toilet untuk menenangkan usus dan jantungnya, karena tidak bisa melarikan diri.
Ketika masuk ke ruang kerja, Janet terkejut melihat para pimpinan sedang duduk dalam ruang kerja. Dia menyapa sambil menunduk hormat. 'Apa yang terjadi? Mengapa semua berkumpul di sini?' Janet membatin, sebab Jensen tidak mengatakan apa pun padanya.
"Baik." Gevaro berkata setelah Janet duduk. "Pak Satrio, tolong katakan pada saya. Status Janet yang dicantumkan di CV."
"Menikah, Pak." Satrio langsung menjawab.
"Mengapa anda bisa menjawab dengan yakin?"
"Tercantum dalam CVnya, Pak." Satrio memberikan CV Janet kepada Jensen. "Selain itu, saya sendiri yang menginterview Janet." Satrio menambahkan.
"Lalu mengapa anda mengatakan dia menyembunyikan statusnya?" Tanya Gevaro kepada Bu Letti.
"Karna dia bersikap seperti wanita muda yang belum berkeluarga. Mencari perhatian pria kiri kanan." Bu Letti coba membela diri dengan menggunakan diksi dari Valeri.
"Pak, mohon ijin klarifikasi pernyataan ini." Janet mengangkat tangan kepada Gevaro. Dia tidak peduli akan dimarahi, karena sudah dipecat.
"Tunggu." Gevaro mengangkat tangan, mencegah. "Pak Jensen, panggil Valeri ke sini." Gevaro sudah punya gambaran yang terjadi saat melihat kilatan marah di mata Janet.
"Silahkan klarifikasi anda." Gevaro mempersilahkan Janet setelah Valeri duduk dekat Bu Letti.
"Terima kasih, Pak. Saya tidak terima yang dikatakan Bu Letti, yaitu saya menyembunyikan status, atau mencari perhatian karyawan pria di sini."
"Saya tidak tahu, kalau di perusahaan ini, wanita yang sudah menikah mesti mencap statusnya di dahi atau tulis statusnya di punggung saat bekerja." Ucap Janet berani.
...~▪︎▪︎▪︎~...
...~▪︎○¤○▪︎~...