"Gue benci banget sama lo. Tapi kalau lo pergi... gue bisa hancur."
Ini tentang ego yang sama-sama keras kepala, sampai akhirnya sadar kalau kehilangan itu ternyata jauh lebih nakutin daripada ngakuin perasaan sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Azkaqia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sedikit ada Clue
Pagi menjelang siang di penthouse Arsen terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Setelah menerima pesan dari Genta, Arsen hampir tidak mengucapkan sepatah kata pun. Pria itu menghabiskan waktu di ruang kerjanya, beberapa kali menerima panggilan melalui ponsel satelit yang selalu berakhir dengan jawaban singkat dan dingin.
"Pastikan semua jalur keluar diamankan."
"Tingkatkan pengawasan."
"Jangan bergerak sebelum saya memberi perintah."
Senja yang duduk di ruang tengah hanya bisa mendengar potongan-potongan kalimat itu tanpa benar-benar memahami maksudnya.
Untuk pertama kalinya, dia menyadari bahwa kehidupan Arsen benar-benar terbagi menjadi dua dunia.
Di kantor, Arsen adalah CEO Malik Media yang dingin dan perfeksionis.
Di balik pintu penthouse ini, Arsen adalah seseorang yang bahkan bisa memberi perintah kepada puluhan orang hanya lewat satu panggilan singkat.
Merasa bosan, Senja berdiri dari sofa.
Pandangannya berkeliling ke seluruh ruangan.
Selama dua kali datang ke penthouse, dia belum pernah benar-benar memperhatikan isi apartemen itu.
Kini, saat Arsen sibuk di ruang kerja, rasa penasarannya perlahan muncul.
Ia berjalan melewati rak buku yang memenuhi salah satu dinding.
Sebagian besar berisi buku bisnis, ekonomi, psikologi, hingga strategi perang.
"Strategi Perang Sun Tzu..."
"Psychology of Negotiation..."
"Financial Intelligence..."
Senja menggeleng pelan.
"Pantesan orangnya nyebelin. Bacanya beginian semua."
Tanpa sadar ia terkekeh sendiri.
Beberapa langkah kemudian, matanya berhenti pada sebuah piano hitam mengilap yang berdiri di dekat jendela besar.
"Pak Arsen bisa main piano?"
Pertanyaan itu keluar begitu saja.
Suaranya ternyata cukup keras hingga terdengar sampai ruang kerja.
Tak lama kemudian, Arsen keluar.
"Sedikit."
"Sedikit?" Senja memandang piano itu tidak percaya. "Orang beli piano semahal ini cuma buat 'sedikit'?"
Arsen mendekat dengan langkah tenang.
"Itu peninggalan Ibu."
Nada suaranya datar.
Namun untuk pertama kalinya...
Senja menangkap sesuatu yang berbeda.
Ada kesedihan tipis yang selama ini selalu disembunyikan pria itu.
"Maaf..."
Senja spontan merasa tidak enak.
"Saya nggak tahu."
Arsen menggeleng pelan.
"Tidak apa."
Keheningan kembali menyelimuti mereka.
Lalu, tanpa berkata apa pun, Arsen menarik bangku piano dan duduk.
Jemarinya yang biasa memegang dokumen, pistol, atau setir mobil perlahan menyentuh tuts piano.
Nada pertama mengalun.
Lembut.
Tenang.
Namun menyimpan kesedihan yang sulit dijelaskan.
Senja membeku.
Dia sama sekali tidak menyangka pria yang semalam menghajar tiga orang tanpa belas kasihan itu bisa memainkan melodi seindah ini.
Tatapannya tanpa sadar terus tertuju pada Arsen.
Dan untuk pertama kalinya...
Senja mulai bertanya-tanya.
Sebenarnya... siapa Arsen Malik sebelum menjadi monster yang ditakuti banyak orang?
Melodi terakhir perlahan menghilang, larut bersama sunyi yang memenuhi penthouse.
Jemari Arsen terdiam di atas tuts piano selama beberapa detik sebelum akhirnya ia menarik napas pelan dan berdiri.
"Ternyata Bapak jago," gumam Senja pelan.
Arsen menoleh sekilas.
"Saya sudah lama tidak memainkannya."
"Padahal bagus banget."
Ada jeda sesaat.
Senja menggigit bibir bawahnya, ragu apakah pertanyaan itu pantas dia lontarkan.
"Itu... lagu favorit Ibu Bapak?"
Tatapan Arsen perlahan beralih ke piano.
"Iya."
Jawabannya singkat.
Namun kali ini, Arsen tidak langsung menghentikan pembicaraan.
"Ibu saya yang mengajari saya bermain piano."
Senja terdiam, mendengarkan.
"Waktu saya kecil, beliau selalu bilang..." Arsen tersenyum tipis, senyum yang nyaris tak terlihat. "...kalau seseorang masih bisa memainkan musik dengan hati, berarti dia belum sepenuhnya kehilangan dirinya."
Kalimat itu membuat dada Senja terasa sesak.
Sulit dipercaya.
Pria yang dikenal dingin, kejam, dan nyaris tanpa emosi itu... ternyata pernah memiliki masa kecil yang hangat.
"Lalu... sekarang?" tanya Senja hati-hati.
Arsen tidak langsung menjawab.
Tatapannya kembali mengarah ke deretan gedung di balik dinding kaca.
"Saya tidak tahu."
Jawaban itu terdengar begitu pelan.
Nyaris seperti pengakuan kepada dirinya sendiri.
Senja memandangi punggung pria itu cukup lama.
Entah kenapa...
Ia mendadak ingin menghibur Arsen.
Dengan langkah pelan, Senja mendekat.
"Bapak."
"Hm?"
"Menurut saya..."
Arsen menoleh.
"Kalau orang yang benar-benar kehilangan dirinya... nggak mungkin masih bisa main lagu seindah tadi."
Untuk pertama kalinya...
Tatapan Arsen benar-benar melembut.
Selama beberapa detik mereka hanya saling menatap.
Tidak ada kata-kata.
Namun keheningan itu terasa jauh lebih hangat dibanding percakapan apa pun.
Ting.
Suara notifikasi dari ponsel satelit kembali memecah suasana.
Arsen langsung mengambilnya.
Begitu membaca isi pesannya, wajahnya kembali berubah dingin.
Senyum tipis yang sempat muncul menghilang tanpa bekas.
"Ada apa?" tanya Senja.
Arsen mengunci layar ponselnya.
"Genta baru saja mengirim laporan."
"Laporan apa?"
Arsen mengembuskan napas pelan.
"Besok pagi kita harus keluar."
"Keluar?"
"Iya."
"Kita mau ke mana?"
Arsen menatap Senja beberapa saat.
"Menjemput Ibu kamu di vila."
Mata Senja langsung berbinar.
"Serius?"
"Tapi..."
Satu kata itu kembali membuat Senja tegang.
Arsen melanjutkan dengan nada datar.
"Perjalanan kita kemungkinan besar tidak akan semudah itu."
"Kenapa?"
"Genta menemukan indikasi kalau ada kendaraan yang terus memantau jalur menuju vila sejak tadi pagi."
Jantung Senja kembali berdegup lebih cepat.
Arsen memasukkan ponselnya ke saku.
"Kalau dugaan kami benar..."
Tatapan matanya berubah setajam biasanya.
"...besok mereka akan mencoba menghentikan kita."
Senja menelan ludah.
Libur akhir pekan yang seharusnya tenang...
Ternyata baru menjadi awal dari perjalanan yang jauh lebih berbahaya.