NovelToon NovelToon
Tirai Hitam Para Pewaris

Tirai Hitam Para Pewaris

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Reinkarnasi
Popularitas:526
Nilai: 5
Nama Author: Pineapple banana

Sejak kecil, Kiara hidup sebagai anak yang dibenci dan disiksa oleh keluarga yang membesarkannya. Ia tak pernah tahu bahwa semua penderitaan itu berawal dari sebuah pembunuhan yang terjadi dua puluh lima tahun lalu.

Demi merebut harta dan kekuasaan, pamannya membunuh ayah kandung Kiara, mengurung ibu kandungnya selama puluhan tahun, lalu membesarkannya dengan identitas palsu.

Saat kebenaran mulai terungkap, Kiara harus merebut kembali haknya dan membalas semua dosa yang telah merenggut keluarganya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pineapple banana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Di kediaman keluarga Kencana, Pak Seno berencana menemui seseorang di sebuah taman. Ia tidak menggunakan mobil maupun mengenakan jas kerja, melainkan berpakaian olahraga agar tidak menimbulkan kecurigaan. Sebelum keluar rumah, ia meminta izin kepada istrinya untuk lari pagi.

“Ma, Papa mau lari pagi di taman sebentar,” ucap Pak Seno.

“Baik, Pa. Tapi jangan terlalu lama, ya. Ingat pesan dokter, Papa tidak boleh sampai kelelahan.”

“Baik, Ma. Tenang saja.”

Pak Seno pun berangkat sambil membawa earphone nirkabel. Ia berlari menyusuri halaman rumahnya yang sangat luas, hampir seluas lapangan sepak bola. Tak lama kemudian, ia tiba di taman dengan napas yang tersengal-sengal. Ia juga membawa air minum dan obat-obatan pribadi agar penyakitnya tidak kambuh.

Di sana ia tidak sendirian. Seorang pria yang telah menunggunya berdiri tak jauh dari tempat itu, keduanya saling memunggungi satu sama lain.

“Halo,” sapa Pak Seno melalui alat komunikasi.

“Halo juga, Pak Seno,” jawab pria itu dari seberang.

“Bagaimana? Apakah sudah diketahui di mana keberadaan Linda dan anaknya?” tanya Pak Seno langsung pada inti pembicaraan.

“Linda berada di ruang bawah tanah, Pak. Ia telah dikurung di tempat itu selama 25 tahun lamanya,” jawab pria itu.

“Dikurung? Di bawah tanah? Selama 25 tahun?” Pak Seno terkejut tak percaya mendengar kenyataan itu.

“Benar, Pak. Selain itu, kami juga telah menemukan keberadaan anaknya,” lanjut pria itu dengan hati-hati.

“Di mana dia sekarang?” tanya Pak Seno dengan nada penuh harap.

“Anak Bu Linda selama ini diasuh oleh Pak Anton bersama istrinya, Risma. Namun untuk mengetahui kebenaran yang lebih lengkap, sepertinya kita harus menyusup masuk ke dalam lingkungan keluarga Anton,” jelas pria itu sambil memikirkan langkah selanjutnya.

“Aku mengerti. Suruh Juan untuk melamar pekerjaan di sana sebagai sopir. Cari tahu segala hal tentang Risma, dan juga ungkap siapa sebenarnya sosok Angga,” perintah Pak Seno.

“Baik, Pak. Tapi sebentar, mengapa kita harus menyelidiki Risma dan anaknya, Angga?” tanya pria itu penasaran.

“Dulu aku pernah mengawasi gerak-gerik mereka. Namun aku ingin semuanya menjadi jelas dan terang benderang, maka mereka juga harus kita selidiki bersama-sama,” jawab Pak Seno.

“Baiklah, Pak Seno. Bapak tinggal menunggu kabar dari saya. Besok akan ada orang yang datang ke rumah Anton untuk melamar pekerjaan sebagai sopir atau petugas keamanan di sana.”

“Baik, aku tunggu kabar baik itu.”

Sambungan komunikasi pun terputus. Pak Seno dan pria di seberang itu sama-sama berdiri dan berjalan meninggalkan taman tersebut.

.

.

.

 

Pukul tujuh pagi di Kantor Keluarga Kencana, suasana hati Bara sudah membaik dan tidak lagi gelisah seperti sebelumnya. Kini ia sibuk menyelesaikan tumpukan pekerjaan di mejanya.

Tok… tok… tok…

“Ya, silakan masuk,” perintah Bara.

“Bara, apakah kau tidak berencana mencari asisten baru?” tanya Bima, sahabatnya.

“Tidak perlu. Cukup Kiara saja yang menjadi asistenku. Aku akan menunggu sampai ia bisa bekerja kembali di sini,” jawab Bara tegas.

“Tapi kau tahu sendiri alasannya, kan? Kiara berhenti karena tidak ingin membuat ayahnya merasa malu,” sahut Bima, membuat Bara seketika menghentikan kegiatannya.

“Itu hanya alasan yang dibuat-buat oleh ayahnya saja, Bim. Kau juga tahu sendiri bahwa hubungan keluarga kita dan keluarga Om Anton tidak pernah akur sejak dulu,” ucap Bara.

Bima hanya bisa menghela napas panjang mendengar jawaban itu.

“Kalau begitu, apa rencanamu selanjutnya tanpa asisten?” tanya Bima lagi.

“Kan ada kau yang selalu bisa aku andalkan,” jawab Bara santai.

“Kenapa harus aku terus, Bar? Coba andalkan Aryo atau Justin saja!” sahut Bima kesal.

“Jangan banyak mengeluh, atau aku potong gajimu bulan ini!” ancam Bara.

“Siap, Bos! Laksanakan perintah!” jawab Bima langsung seraya bergegas pergi.

Bima sebenarnya tidak keberatan membantu Bara, namun pekerjaannya menjadi semakin menumpuk jika harus merangkap tugas sebagai asisten. Padahal ada Aryo yang biasanya membantu, namun sayangnya Aryo sedang tidak berada di kantor saat sangat dibutuhkan.

.

.

.

 

Di tempat lain, di sebuah gubuk yang letaknya jauh dari pemukiman warga, tinggal seorang wanita dengan rambut acak-acakan dan tubuh yang tampak kurus kering. Namun, pakaian dan kulit wanita itu masih terlihat cukup terawat. Ia dikurung di ruang bawah tanah gubuk itu. Kedua tangannya diikat dan kakinya dipasung, sehingga ia tak bisa bergerak bebas. Kadang ia berteriak histeris hingga kelelahan lalu tertidur kembali. Tak jarang ia tertawa sendiri atau menangis memanggil-manggil nama suami dan anaknya.

Di sana ia tidak sendirian. Ada empat orang pria bertubuh tegap dan berotot, serta seorang wanita paruh baya yang bertugas merawat wanita yang dikurung itu. Sebenarnya hati wanita tua itu merasa iba, namun bayaran yang diterimanya telah menutupi rasa kemanusiaannya.

“Seandainya bukan karena uang, aku pasti sudah menolongmu. Tapi karena aku dibayar untuk melakukan ini, maafkan aku, aku tak bisa menolongmu,” gumam wanita tua itu sambil menatap wanita muda yang kondisinya sudah setengah hilang akal itu.

“Hei, Ibu tua! Apakah sudah selesai memandikan dan mengganti pakaiannya?” tanya salah seorang pria berotot itu.

“Sudah, tidak bisakah kau lihat sendiri bahwa ia sudah bersih dan berpakaian rapi?” jawab wanita tua itu sambil membawa ember berisi pakaian kotor.

“Baguslah. Sekarang cepat keluar dan pulang! Pintu ruangan ini akan aku kunci kembali,” ucap pria itu mengusir wanita tua itu.

“Dasar orang yang tidak sabaran,” gumam wanita tua itu pelan, lalu berjalan pergi meninggalkan tempat itu.

“Hemm… cantik juga sebenarnya wanita ini. Sayangnya aku tak berani menyentuhmu sedikit pun, sebab nyawaku yang menjadi taruhannya,” batin pria itu. Ia sampai merinding membayangkan apa yang akan terjadi jika ia nekat berbuat sesuatu, sebab bosnya tidak akan segan-segan membunuhnya.

Pria itu lalu menutup dan mengunci rapat pintu ruangan itu. Suara kunci yang berputar membuat wanita muda itu terbangun dari lamunannya. Ia menatap kosong ke arah tembok, langit-langit, lampu, dan pintu ruangan itu. Tak lama kemudian, ia tertawa keras lalu berubah menangis tersedu-sedu.

Wanita itu terus memanggil nama suami dan anak perempuannya berulang kali.

“Ma… Mas Yuda… Suamiku…” rintihnya lirih sambil menggerak-gerakkan tangan dan kakinya yang terikat.

“Anakku… Kia… Kiara… Anakku…” teriaknya tiba-tiba sambil mengguncang-guncangkan tubuhnya hingga akhirnya kelelahan dan jatuh tertidur kembali.

Sudah bertahun-tahun wanita itu dikurung hingga akhirnya kehilangan kewarasannya, semua akibat ulah seseorang yang dikuasai rasa haus akan kekuasaan dan harta. Suaminya dibunuh, anaknya dirampas dari pelukannya, lalu ia dikurung di tempat gelap itu entah sampai kapan. Betapa kejamnya hati orang itu hingga mampu melakukan hal sekejam itu kepada wanita malang tersebut.

Bersambung

1
Noviyanti
satu bunga untuk kiara
Noviyanti
semangat Thor, salam kenal
Abyyasdemons: oke KK , salam kenal kembali 😍💪👍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!