Nadila terkejut saat pulang dari butik nya, dia menemukan wanita hamil di rumah nya. Irfan, suami nya Nadila mengatakan bahwa dia adalah Rani, sepupu nya yang baru saja datang dari desa.
Irfan mengatakan bahwa bahwa suami nya Rani baru saja meninggal dunia dan dia tidak punya siapa- siapa di desa.
Itu lah sebab nya dia pergi ke kota, awal nya Nadila percaya dengan semua ucapan suami nya. Tapi tidak berselang lama Nadila menemukan bukti, bahwa wanita itu bukan lah sepupu nya Irfan, melainkan istri sirih nya.
Setelah ketahuan, Irfan membela diri dan mengatakan alasan dia menikahi Rani karena Nadila tidak bisa memberi nya keturunan.
Nadila membalas semua perbuatan Irfan, setelah itu dia membeberkan sebuah fakta yang membuat Irfan menyesal seumur hidup nya.
Ikuti kisah nya di sini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Leni Anita, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Pada dasar nya, Irfan tidak mau mencerai kan Nadila. Karena dia sadar hidup nya di topang oleh Nadila, tapi desakan dari keluarga nya agar dia memiliki keturunan membuat nya gelap mata. Irfan bahkan tidak sadar, bahwa bayi yang di kandung Rani bukan lah darah daging nya.
Irfan sangat jarang memberikan uang nafkah untuk Nadila, sebagian gaji nya dia kirim kan pada keluarga nya di kampung. Dan sebagian lagi di berikan pada Rani, sedangkan semua kebutuhan rumah tangga mereka di penuhi oleh Nadila. Demi cinta nya pada Irfan, Nadila menerima semua nya. Tapi kini malah Irfan mengkhianati nya dengan membawa wanita lain ke dalam rumah mereka.
"Mas, keadaan butik sedang sepi sekarang, pemasukan sudah sangat jauh berkurang. Jadi aku tidak bisa membantu pengeluaran di rumah ini lagi!" Nadila berkata pada saat mereka tengah makan malam.
Uhuk, uhuk....
Irfan langsung tersedak mendengar ucapan istri nya, jika Nadila menolak membantu pengeluaran di rumah ini bagai mana dia bisa menikahi Rani.
"Minum dulu mas!" Rani menunjuk kan perhatian nya dengan memberikan air minum pada Irfan.
"Terima kasih!" Irfan langsung meraih gelas berisi air minum yang di sodor kan oleh Rani.
Irfan meminum isi nya hingga separuh, dan dia langsung menatap Nadila dengan rasa tidak percaya.
"Sejak kapan butik mu mulai mengalami masalah, sayang?" Tanya Irfan pada Rani.
"Sudah hampir 3 bulan ini mas, tapi paling parah nya bulan ini. Bahkan bulan ini belum ada satu pun baju yang terjual!" Nadila mengarang kebohongan agar Irfan percaya.
"Tapi kamu masih punya tabungan kan sayang, gunakan saja uang itu dulu untuk kebutuhan kita semua. Nanti aku janji, aku akan ganti semua nya!" Irfan berkata pada Rani.
"Aku tidak punya tabungan lagi, Mas. Semua tabungan ku di gunakan untuk membayar cicilan rumah ini dan juga untuk kebutuhan kita semua selama 3 bulan ini!" Kembali Nadila mengarang cerita agar Irfan percaya pada nya.
"Bagai mana ya? Mas juga sedang tidak punya tabungan sama sekali!" Irfan mulai bingung dengan semua nya.
"Oh ya mas, besok adalah pembayaran cicilan rumah ini. Aku tidak punya uang untuk membayar cicilan itu, jadi mas yang bayar mulai bulan ini dan bulan - bulan selanjutnya!" Ujar Nadila lagi.
Irfan sangat terkejut mendengar nya, dari mana dia bisa mendapatkan uang untuk membayar cicilan rumah ini. Sedang kan saat ini Rani sedang hamil, dia butuh uang lebih banyak lagi untuk persiapan kelahiran anak nya nanti.
"Sayang, apakah kamu benar - benar tidak punya uang tabungan lagi? Jika masih punya tolong bayar dulu cicilan rumah kita, jika kita tidak membayar nya maka kita bisa di usir dari sini!" Irfan masih berusaha untuk membujuk Nadila.
"Maaf mas, aku tidak punya uang lagi. Dan jika kita di usir dari sini, kita bisa tinggal bersama di rumah Mama. Tapi hanya kita mas, dan untuk Rani dia bisa pulang ke kampung nya lagi!" Jawab Nadila dengan sangat santai nya.
"Benar apa yang di katakan oleh Nadila, Fan. Mama bisa menampung kalian berdua di rumah Mama, tapi tidak dengan keluarga mu yang lain nya!" Mama Nilam berkata dengan tegas.
Mendengar ucapan Mama Nilam, Rani langsung berubah cemberut. Dia tidak mau jauh lagi dari Irfan, jika Irfan tinggal di rumah mertua nya maka dia tidak bisa lagi tinggal bersama Irfan karena Mama Nilam tidak akan membiarkan dia hidup di sana lagi.
"Semua kebutuhan di dalam rumah kita, aku tidak bisa bantu lagi mas. Maaf ya!" Nadila berpura-pura sedih agar Irfan percaya pada nya.
Irfan menjadi pusing sendiri, dia memijit pelipis nya. Besok dia harus membayar cicilan rumah ini, sedang kan dia tidak punya uang lagi. Sementar Nadila dan Mama Nilam tersenyum di dalam hati melihat nya, kini Nadila sudah mulai membalas semua nya.
'Rasakan kamu mas, ini lah akibat nya jika berani macam - macam pada ku. Aku tidak sudi membantu mu lagi, sedang kan uang mu kau habis kan untuk gundik mu itu!' Batin Nadila di dalam hati.
*******
Pagi ini Irfan tampak murung, dan agak berbeda dari biasa nya. Malam ini dia tidak menemui Rani, Irfan tidur di kamar nya dan Nadila. Irfan sedang stres memikirkan cicilan rumah ini, mereka bisa kehilangan rumah ini jika cicilan nya tidak di bayar lagi.
"Sayang, kamu beneran tidak punya uang tabungan ya?" Kembali Irfan bertanya di sela - sela sarapan mereka.
"Beneran mas, tabungan ku udah habis buat bayar cicilan rumah ini bulan - bulan sebelum nya!" Jawab Nadila dengan suara yang di buat sesedih mungkin.
Irfan menghembus kan nafas kasar, di tengah kebahagian nya bersama Rani, kini dia harus menghadapi kenyataan lain yang membuat nya stres.
"Mas ke kantor dulu ya, mas akan cari uang nya buat bayar cicilan rumah kita!" Irfan berkata dengan suara lemah.
"Sarapan nya tidak di habis kan, Mas?" Tanya Nadila.
"Mas sudah kenyang, sayang!" Jawab Irfan dengan nada lesu.
Nadila ingin tertawa melihat Irfan sekarang, tapi dia tahan - tahan saja. Baru satu hari Nadila bertindak, Irfan mulai pusing sendiri. Bagai mana jika Nadila sudah benar - benar membuang nya, bisa jadi gila Irfan nanti nya menghadapi tuntutan kebutuhan hidup nya.
"Sayang, kunci mobil mana? Mas akan berangkat ke kantor?" Irfan bertanya pada Nadila.
Irfan tidak melihat kunci mobil di tempat biasa nya, jadi dia bertanya pada Nadila.
"Mas, mulai hari ini kamu ke kantor pake motor saja, biar lebih hemat. Kan pengeluaran kita banyak!" Nadila menolak memberikan kunci mobil nya pada Irfan.
"Loh kok gitu? Itu kan mobil nya mas Nadila, sudah mana kunci nya mas mau mau berangkat ke kantor!" Nada suara Irfan sudah mulai meninggi.
"Sejak kapan mobil itu jadi mobil mu, Irfan?" Tanya Mama Nilam yang baru saja keluar dari kamar nya.
"Mama, bukan begitu maksud ku, Ma. Tapi aku mau pake mobil nya ke kantor!" Jelas Irfan dengan gugup.
"Mulai hari ini, aku yang akan pake mobil Mas. Kamu pake motor saja, aku harus pergi ke rumah costumer aku yang jarak nya jauh mas. Siapa tahu dia tertarik dengan gaun - gaun rancangan ku, dengan begitu ku harap butik akan kembali rame lagi!" Nadila menjelaskan alasan nya.
Nadila lalu memberikan kunci motor matic milik nya pada Irfan, sangat jelas terlihat Irfan sangat kesal saat ini.
"Tapi,,,!"
"Sudah lah Irfan, kamu bisa pakai motor saja. Biar Nadila yang pake mobil!" Mama Nilam kembali berkata.
Akhir nya Irfan melangkah keluar rumah, dengan sangat terpaksa nya Irfan pergi ke kantor dengan menggunakan motor nya Nadila.