Akhirnya ku menemukanmu
Saat hati ini mulai merapuh
Akhirnya ku menemukanmu
Saat raga ini ingin berlabuh
Ku berharap engkau lah
Jawaban sgala risau hatiku
Dan biarkan diriku
Mencintaimu hingga ujung usiaku
Jika nanti ku sanding dirimu
Miliki aku dengan segala kelemahanku
Dan bila nanti engkau di sampingku
Jangan pernah letih tuk mencintaiku
Sepasangan kekasih yang harus terpisah karena keadaan. Namun, dengan berbagai cobaan yang datang, akhirnya mereka di pertemukan kembali dan di satukan dengan keadaan yang berbeda pula.
Raditya Purnomo ♥️ Winda Wulandari.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tarti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 34
Adi dan Radit sama-sama terkejut mendengar suara Winda yang sangat emosional itu. Winda marah melihat kedatangan Adi dan Radit.
"Pergi kalian!"
Kembali Winda mengusir Adi dan juga Radit. Pak Kirno terkejut mendengar Winda seperti itu.
"Kamu kenapa, Winda. Gak sopan seperti itu. Itu kan nak Adi dan juga nak Radit."
"Justru karena mereka yang datang, Winda gak suka, Pak. Winda gak mau melihat mereka lagi. Dasar pembohong! Pergi!!"
Winda berusaha mengambil asbak rokok yang ada di dekatnya untuk di lemparkan ke arah Adi dan juga Radit. Tapi bisa di cegah oleh pak Kirno. Pak Kirno memberi isyarat kepada istrinya untuk membawa Winda ke kamarnya. Setelah Winda masuk ke dalam kamar, Pak Kirno menghampiri Adi dan Radit.
"Maafkan sikap Winda tadi ya Nak. Bapak gak tau kenapa dia bertingkah seperti itu."
"Kami lah yang seharusnya meminta maaf, Pak. Karena kami, Winda jadi seperti ini," kata Radit.
"Maksud nak ...."
"Radit, Pak."
"Oh iya maksud nak Radit apa?"
Radit menceritakan yang sebenarnya terjadi. Mulai dari tujuan Radit menyamar sebagai Gito dan juga saat-saat di mana Radit mengungkap jati diri Gito yang sebenarnya.
"Begitulah, Pak. Kedatangan kami kesini bermaksud untuk meminta maaf kepada keluarga Pak Kirno sekeluarga dan juga pada Winda," Radit mengakhiri ceritanya.
Pak Kirno menghela nafasnya.
"Bapak sama ibu sudah memaafkan kalian. Tapi untuk Winda, bapak rasa kalian harus memberikan dia waktu untuk menenangkan diri. Dari dulu Winda tidak suka di bohongi. Jadi ya harap maklum jika dia bersikap seperti itu tadi."
Di tengah-tengah mereka berbincang-bincang, Winda keluar dan kembali marah-marah dan mengusir Radit juga Adi.
"Kalian masih di sini? Pergi gak! Pergi!!"
Radit berdiri dan bersimpuh di hadapan Winda, mencoba untuk meraih tangannya.
"Dek, aku minta maaf," kata Radit.
"Jangan sentuh aku dan jangan panggil aku adek karena aku bukan siapa-siapa kamu. Pergi!"
Winda mendorong tubuh Radit hingga Radit terjatuh. Pak Kirno terkejut melihat perbuatan Winda.
"Winda, gak sopan kamu. Minta maaf cepat!" Pak Kirno membantu Radit berdiri.
"Gak mau. Kenapa bapak lebih bela dia daripada Winda. Anak bapak kan Winda bukan dia."
Winda berlari masuk kamar dan membanting pintu kamar hingga menimbulkan suara yang bergema.
"Maafkan Winda ya nak Radit," kata pak Kirno.
"Tidak apa-apa, pak. Saya lah yang seharusnya minta maaf karena telah melukai hati dan perasaan Winda."
"Kamu yang sabar ya."
"Iya, pak terimakasih. Kalau begitu, kami permisi dulu. Assalamualaikum."
"Waalaikumssalam."
Adi dan Radit bergantian mencium punggung tangan pak Kirno. Lalu mereka bergegas menuju mobilnya. Di sepanjang perjalanan, Radit lebih banyak diam.
"Kenapa, Dit?" Adi mencoba berbasa-basi dengan Radit. Radit menghela nafasnya. Matanya terus menatap ke luar jendela mobil.
"Segitu bencinya Winda ke gue, Di?"
Adi tak menjawab. Dia pun juga merasa bersalah pada Winda karena tak berterus terang dari awal tentang semua ini.
####
Sebulan telah berlalu. Winda perlahan bisa melupakan sosok Gito yang tak lain adalah Radit. Winda memblokir nomor ponsel Adi, Vika, Gito juga Radit. Hanya Septi dan Sony yang masih sering menghubunginya, sekedar menanyakan kabar.
Pagi itu, Winda sedang membantu ibunya melayani pelanggan warung yang hendak sarapan. Tiba-tiba ponsel Winda berdering. Ada panggilan video call. Winda mengabaikan nya karena nomor itu tak ada di kontaknya. Berkali-kali nomor itu menghubunginya.
"Siapa yg telfon, Win?" tanya Bu Kirno.
"Enggak tau, Bu. Nomor enggak ada 0namanya."
"Coba kamu terima dulu. Barangkali penting."
"Ah, pasti orang iseng aja Bu."
"Kalau memang orang iseng, gak mungkin berkali-kali telfon begitu. Cepat, terima dulu telfonnya."
Winda pun menerima panggilan Videocall itu.
"Assalamualaikum ...." sapa Winda.
"Waalaikumssalam. Alhamdulillah Win kamu mau terima telfon aku."
Winda terkejut melihat siapa yang Videocall. Vika. Winda hendak memutus sambungan telefon tapi keburu di cegah oleh Vika.
"Tunggu, Win. Kamu jangan matiin telfonnya. Kakak mohon."
Winda pun mengurungkan niatnya.
"Ada apa, kak?"
"Sebelumnya atas nama keluarga, kakak minta maaf sudah bikin kamu tersakiti dan juga kecewa."
"Iya, kak. Winda sudah maafin semuanya."
"Terimakasih ya Win."
"Iya, kak."
"Oh iya, kakak mau minta tolong kamu boleh?"
"Minta tolong apa, kak?"
"Mama lagi sakit. Bisa gak kamua menemuinya sebentar?"
Winda terkejut mendengar berita itu.
"Sakit? Sakit apa kak?"
*Setelah tau apa yang terjadi antara kamu dan Radit, mama syok. Mama sering panggil-panggil kamu."
Winda terdiam mendengar perkataan Vika. Selama kenal, Tante Ami sangat baik kepada Winda. Dan Winda pun juga merasa cocok jika sedang berbincang-bincang dengan Tante Ami.
"Winda ..."
Winda menarik nafasnya dalam-dalam.
"Winda enggak bisa."
"Kenapa?"
"Maaf Winda lagi sibuk. , Assalamualaikum."
Tanpa menunggu jawaban dari Vika, Winda menutup telfonnya. Wajahnya terlihat lesu. Bu Kirno yang ikut
mendengarkan obrolan Winda dan Vika, menghampiri Winda dan duduk di sampingnya.
"Siapa, Win?"
"Kak Vika, Bu. Kakaknya mas Radit."
"Ada apa? Kok sepertinya ada yang serius?"
"Mamanya mas Radit sakit. Kak Vika minta Winda untuk datang."
"Ya sudah kamu datang. Siapa tau, dengan kedatangan kamu, beliau sembuh."
"Tapi Bu, Winda males kalau harus ketemu mas Radit lagi."
"Apakah kamu sudah tidak mencintai laki-laki itu lagi? Bagaimana pun juga, dia kan pernah menjadi yang spesial buat kamu."
Winda hanya diam mendengar penuturan ibunya. Dalam hatinya, Winda tak №pmemungkiri bahwa sebenarnya dia masih menyimpan rasa cinta pada Gito yang tak lain adalah Radit.
"Kamu datang jenguk ibu Ami. Seandainya kamu ketemu Radit, ya karena memang dia tinggal di situ."
Winda menarik nafasnya dalam-dalam.
"Ya udah Bu, Winda besok berangkat ke Jakarta lagi, tapi jika bapak mengizinkan. Kalau bapak tidak mengizinkan, Winda enggak akan berangkat."
Ibu Kirno tersenyum dan mengangguk. Sementara itu, Winda menemui bapaknya yang sedang duduk sambil merokok di bale bambu bawah pohon mahoni.
"Pak, besok Winda ke Jakarta ya," kata Winda seraya duduk di samping bapaknya.
"Mau ngapain ke Jakarta lagi?"
"Jengguk Tante Ami."
"Tante Ami? Siapa dia?"
"Mamanya mas Radit. Kata kak Vika, udah seminggu ini beliau sakit, pengen ketemu sama Winda."
"Tapi kamu gak apa-apa ketemu Radit? Bapak takut kamu bakalan emosi lagi."
"Insyaallah enggak, pak. Lagian tujuan utama Winda ke sana buat jengguk Tante Ami."
Pak Kirno mengangguk.
"Tapi kalau bapak enggak ngizinin Winda ke sana juga gak apa-apa kok."
"Lho, mau jenguk orang sakit kok bapak larang."
"Jadi bapak izinin Winda ke Jakarta lagi?"
"Iya, bapak kasih izin, dengan catatan kamu jaga diri baik-baik. Kontrol emosi, apalagi kalau ketemu Radit."
"Makasih ya, Pak. Winda janji gak akan bikin ulah."
Winda merangkul pundak pak Kirno dan mencium pipi bapaknya yang sudah keriput termakan usia. Pak Kirno hanya tersenyum dan menggelengkan kepalanya mendapat perlakuan seperti itu dari Winda.
meluncur ke cerita lainnya