Tiga puluh tahun Liana Liem mengabdikan hidupnya untuk keluarga suaminya. Memasak, merawat mertua lumpuh, membesarkan anak — sampai tubuhnya aus dan hatinya kering.
Di usia lima puluh, ia menemukan kenyataan yang menghancurkan: suaminya, Albert Phua, telah berselingkuh selama sebelas tahun. Ada wanita lain. Ada anak lain.
Liana memilih cerai.
Tanpa uang, tanpa pengalaman kerja, tanpa tempat tinggal — Liana memulai hidup dari nol. Tapi takdir punya rencana lain. Sebuah kebaikan kecil membawanya masuk ke dunia Loh Group, konglomerat terbesar di Jakarta. Dan di sana, ia bertemu bosnya: Edwin Loh — pria yang ternyata sudah menunggunya selama tiga puluh tahun.
Tapi rahasia terbesar bukan soal cinta.Kevin, anak angkat Edwin yang selama ini memanggil Liana "Bu" — mungkinkah dia adalah. Lele, putra kandung Liana yang hilang dua puluh tahun lalu?
Siapa yang mencuri anaknya? Siapa yang merusak jodohnya? Dan apakah di usia lima puluh, takdir masih bisa memberikan keadilan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sri Wahyuni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3
Musuh dalam Selimut
Pertanyaan Jessy tidak langsung mendapat jawaban.
Selama dua hari, kalimat itu terus mengikuti Liana. Saat ia mencuci gelas di rumah Phua. Saat ia melewati pintu kamar kecil yang dulu menjadi kamar Dede. Saat Albert pulang malam dan menatapnya seolah ia hanya gangguan kecil yang sebentar lagi bisa dibereskan.
Kamu benar-benar yakin hari itu Dede hilang karena kamu lengah?
Liana tidak yakin.
Yang ia tahu, selama dua puluh tahun, Kim Hwa selalu lebih cepat marah daripada menjawab setiap kali nama Dede disebut. Dulu Liana mengira itu karena perempuan tua itu ikut terluka. Sekarang, setelah melihat bagaimana Albert bisa berbohong sebelas tahun dengan wajah tenang, ia mulai memahami satu hal yang menyakitkan.
Di rumah ini, orang bisa menyimpan rahasia sambil duduk satu meja dengannya.
Pada hari ketiga setelah malam itu, rahasia lain datang bersama suara roda di teras.
Liana sedang merapikan laci dapur ketika mobil Albert berhenti di depan rumah. Pintu dibuka. Suara laki-laki itu terdengar lebih keras dari biasanya, dibuat-buat tenang.
"Pelan-pelan, Ma."
Liana keluar ke ruang tengah.
Kim Hwa berdiri di ambang pintu, satu tangan menggenggam tongkat, satu tangan ditopang Albert. Wajahnya pucat, tetapi matanya tajam seperti pisau kecil. Di belakang mereka, sopir panti jompo menurunkan satu tas pakaian dan sekantong obat.
Liana menatap tas itu.
"Kamu bawa dia pulang?"
Albert melepas sepatu. "Mama ingin bicara."
"Aku tidak diberi tahu."
"Ini rumah Mama juga," jawab Albert pendek.
Kim Hwa menghentakkan tongkat ke lantai. "Kenapa? Aku harus minta izin padamu untuk masuk rumah anakku?"
Liana menarik napas. Dua hari lalu, suara itu masih mampu membuat tubuhnya otomatis menegang. Hari ini tetap sakit, tetapi tidak lagi membuatnya mundur.
"Silakan duduk," kata Liana.
"Aku memang akan duduk." Kim Hwa bergerak menuju sofa utama, lalu menatap ruang tamu seperti hakim masuk ruang sidang. "Panggil Jason. Panggil Tiara juga. Urusan memalukan seperti ini harus diselesaikan di depan keluarga."
Albert tidak membantah.
Tentu saja tidak. Inilah rencananya.
Setengah jam kemudian, Jason datang dengan wajah kusut, masih mengenakan kemeja kantor. Tiara masuk beberapa langkah di belakangnya. Perempuan muda itu langsung menatap Liana. Tidak banyak, hanya sekilas. Namun, dari sekilas itu Liana menangkap rasa khawatir yang ditahan.
"Duduk," perintah Kim Hwa.
Jason duduk di sebelah Albert. Tiara memilih kursi paling ujung, tidak terlalu dekat dengan siapa pun.
Formasi itu sudah menjelaskan semuanya.
Kim Hwa menyandarkan kedua tangan di atas tongkat. "Liana, aku dengar kamu masih keras kepala mau cerai."
"Benar."
Jason menoleh cepat. "Mama..."
Kim Hwa mengangkat tangan, menghentikan cucunya. "Aku yang bicara." Lalu ia menatap Liana lagi. "Perempuan baik-baik tidak menghancurkan rumah tangganya sendiri. Istri ikut suami. Kalau suami punya kesalahan, tugas istri itu menutup aib, bukan membuka pintu keluar."
Liana menatap perempuan tua itu. "Kalau suami punya perempuan lain sebelas tahun, tugas istri masih menutup aib?"
Kim Hwa mendengus. "Laki-laki di luar rumah punya godaan. Itu biasa. Yang tidak biasa adalah istri lima puluh tahun tiba-tiba merasa dirinya paling benar."
Albert diam. Diam yang sudah Liana kenal. Diam yang artinya ia setuju selama kalimat itu menguntungkannya.
"Aku tidak merasa paling benar," kata Liana. "Aku hanya tidak mau lagi diperlakukan seperti pembantu yang bisa dibuang."
"Pembantu?" Kim Hwa tertawa kasar. "Kamu hidup di rumah ini. Makan dari uang anakku. Pakai nama keluarga Phua. Kalau bukan karena Albert, kamu jadi apa?"
Liana melihat tangan Kim Hwa di atas tongkat. Tangan yang dulu ia suapi obat. Tangan yang pernah mendorong mangkuk bubur hanya karena terlalu encer. Tangan yang sekarang menunjuknya seolah ia parasit.
"Aku jadi perempuan yang menyerahkan hidupnya untuk keluarga ini," ucap Liana.
Kim Hwa menyipit. "Jangan membesar-besarkan."
"Aku datang ke rumah ini membawa perhiasan dari keluargaku. Sebagian dijual untuk membantu Albert saat awal kariernya. Aku berhenti kuliah karena kamu bilang menantu harus tahu tempat. Aku merawatmu sepuluh tahun ketika separuh tubuhmu tidak bisa digerakkan. Aku membesarkan Jason. Aku memasak, membersihkan, mengurus semua acara keluarga, mengingat obat, jadwal dokter, cicilan, sampai ulang tahun orang-orang yang bahkan tidak pernah mengingat ulang tahunku."
Ruang tamu menjadi sunyi.
Jason menunduk sebentar. Tiara menggigit bibir.
Kim Hwa membuka mulut, tetapi Liana belum selesai.
"Dan ketika Dede hilang, tidak satu pun dari kalian bertanya aku hancur seperti apa. Kalian hanya menunjukku sebagai ibu yang gagal."
"Karena memang kamu yang membawanya hari itu!" bentak Kim Hwa.
Liana menatapnya tajam. "Aku membawanya. Tapi aku bukan satu-satunya orang dewasa di rumah itu."
Tongkat Kim Hwa bergetar sedikit.
Albert akhirnya bersuara. "Cukup. Jangan menyeret kejadian lama untuk membenarkan sikapmu sekarang."
"Kejadian lama?" Liana menoleh kepadanya. "Dede anakku, Albert. Hilangnya dia bukan catatan kecil yang bisa kamu lipat dan simpan."
Jason mengangkat wajah. "Mama, Papa juga tidak mudah."
Kalimat itu jatuh lebih sakit daripada bentakan Kim Hwa.
Liana menatap anak yang ia besarkan sejak kecil. Ia yang mengompres Jason saat demam. Ia yang menunggu di luar ruang ujian. Ia yang menambal celana sekolahnya, menyisihkan lauk terbaik untuknya, menutupi kesalahan remajanya dari Albert.
"Tidak mudah apa, Jason?"
Jason tampak gelisah, tetapi tetap bicara. "Papa kerja keras untuk keluarga. Kalau ada kesalahan, mungkin Mama juga harus lihat dari sisi Papa. Jangan langsung cerai. Ini akan bikin semua orang malu."
Liana merasa sesuatu di dadanya retak lebih halus.
"Jadi yang kamu takutkan malu?"
"Aku cuma bilang, jangan egois."
Tiara menatap Jason dengan kaget. "Jason..."
"Kamu diam dulu," potong Jason.
Tiara langsung terdiam, tetapi matanya pindah ke Liana. Ada maaf di sana. Ada ketidakberdayaan.
Di pangkuannya, jari-jari Tiara saling meremas sampai buku jarinya memutih. Ia seperti ingin bicara, tetapi takut membuat keadaan semakin buruk. Liana melihat gerakan kecil itu. Dalam ruang tamu yang hampir seluruhnya menekan dirinya, simpati diam Tiara terasa seperti cahaya tipis di sela pintu yang tertutup.
Liana mengangguk kecil, bukan kepada Jason, melainkan kepada dirinya sendiri. Baik. Ia mencatat satu lagi kebenaran malam ini.
Anak yang ia besarkan belum tentu berdiri di sisinya.
Ponsel Albert berdering.
Semua orang menoleh.
Albert melihat layar, lalu wajahnya berubah tegang. Ia hendak menolak panggilan, tetapi Kim Hwa lebih cepat membaca keraguannya.
"Siapa?"
"Tidak penting."
Namun, Jason sudah melihat nama yang muncul. "Yuni?"
Udara di ruang itu seperti berhenti.
Liana menatap Albert. "Angkat."
Albert menggenggam ponsel lebih kuat. "Tidak perlu."
"Angkat," ulang Liana. "Keluarga sedang berkumpul, kan? Biarkan semua mendengar anggota keluarga yang kamu sembunyikan."
Wajah Albert mengeras. Mungkin ia ingin menolak, tetapi panggilan itu terus bergetar. Akhirnya, entah karena panik atau kesal, ia menekan tombol terima. Suara perempuan langsung terdengar dari speaker karena ponsel sempat tersambung ke mode keras.
"Ko Albert? Kamu di rumah? Jayden nanya lagi. Katanya Papa janji mau datang akhir pekan."
Kim Hwa memucat. Jason terpaku. Tiara menutup mulut.
Albert cepat-cepat berkata, "Nanti aku telepon lagi."
Tetapi Yuni sudah mendengar suasana. "Ada Tante Liana di situ?"
Liana berdiri diam.
Yuni tertawa pelan, manis tetapi beracun. "Tante, kalau Tante dengar, aku cuma mau bilang jangan terlalu mempersulit. Ko Albert sudah lama capek. Di usia Tante sekarang, lebih baik pisah baik-baik daripada terus memaksa laki-laki yang hatinya sudah bukan di rumah."
Wajah Jason berubah tidak nyaman. Kim Hwa menggenggam tongkatnya kuat-kuat. Bukan karena marah pada Yuni, Liana sadar, melainkan karena skandal itu kini terlalu telanjang.
Liana mendekati meja, menatap ponsel Albert.
"Yuni," katanya tenang.
Di seberang sana, tawa itu berhenti sejenak. Mungkin Yuni tidak menyangka Liana akan menjawab setenang itu.
"Iya, Tante?"
"Nikmati waktumu. Laki-laki yang bisa membohongi istrinya sebelas tahun juga bisa membohongi perempuan berikutnya."
Yuni terdiam.
Albert membentak, "Liana!"
Liana tidak menoleh. "Dan satu lagi. Jangan ajari aku pisah baik-baik sebelum kamu belajar masuk ke hidup orang lain dengan cara baik-baik."
Tiara menunduk, tetapi Liana melihat bahunya bergetar pelan. Bukan menangis. Seperti sedang menahan sesuatu, mungkin kepuasan kecil yang tidak berani ia tunjukkan.
Albert memutus panggilan.
"Kamu mempermalukan aku," katanya.
Liana menatapnya. "Kamu melakukan itu sendiri."
Kim Hwa tiba-tiba memukul lantai dengan tongkat. "Cukup! Perempuan tidak tahu diri! Kamu pikir setelah punya beberapa bukti, kamu bisa menang? Kamu pikir kamu tahu semuanya?"
Liana menoleh.
Kim Hwa sudah kehilangan kendali. Napasnya memburu, wajahnya merah karena marah.
"Kamu tidak tahu apa-apa. Bahkan waktu Dede dulu..."
Kalimat itu terpotong.
Ruangan membeku.
Kim Hwa menutup mulutnya sendiri, terlambat.
Darah Liana seperti berhenti mengalir. Semua suara menghilang. Yang tersisa hanya nama itu.
Dede.
Pelan-pelan, Liana melangkah mendekat ke sofa.
"Waktu Dede dulu kenapa?" tanyanya.
Kim Hwa memalingkan wajah. "Tidak ada."
"Tadi kamu bilang aku tidak tahu apa-apa."
"Aku bicara karena marah."
"Tidak." Suara Liana turun, lebih dingin daripada sebelumnya. "Kamu hampir mengatakan sesuatu."
Albert ikut berdiri. "Liana, jangan mulai lagi."
Liana tidak memandangnya. Matanya tetap pada Kim Hwa.
"Kim Hwa," katanya, setiap suku kata keluar pelan dan jelas. "Waktu Dede dulu bagaimana? Bicara yang jelas."
Halo kakak2, jangan lupa mampir dikarya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
Temen2, dukung dan baca karya pertamaku.
Judul : cinta di balik gerobak gorengan
Terimakasih 🙏
/Pray/